INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 24


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Semenjak perbincangan Kala bersama Sundari itu, Sundari tak pernah lagi menyantap sarapan bersama-sama dengan Kala. bahkan dimanapun Kala berada, Sundari menghindarinya. Dan hal itu membuat Ninis merasa kasihan terhadap Kala, Ninis mengetahui apa yang terjadi diantara Kala dan Sundari.


Dimana semua itu adalah Ulah Ninis dan Andre, sepulang dari Mall itu, Ninis menghentikan kendaraan tersebut. Lalu ia menghubungi Andre yang berada di dalam mobil lainnya, "Berhentilah dahulu, Aku ingin berbicara kembali." ucap Ninis saat menghubungi Andre.


Andre pun keluar dari dalam mobilnya itu, Ia masuk kedalam. mobil Ninis dan mereka melakukan kesepakatan bersama, "Aku mau Ibu mertua ku melihat Foto itu." Kata Ninis sembari menunjukkan foto yang sempat di tunjukkan Andre kepada dirinya.


"Aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan, tetapi apa balasan atas itu?" Tanya Andre.


Ninis terdiam dan napasnya terdengar lebih berat dari biasanya, "Apa yang kamu inginkan dariku Andre?" tanya Ninis kepada Andre.


Senyuman nya menyeringai, "Aku ingin tetap menjalin hubungan baik dengan ku, Aku ingin memiliki waktu satu hari penuh dengan mu. Aku berjanji akan membuat Camelia dan Kala berpisah!" Ucap Andre yang saat itu terlihat mencoba mencuci pikiran Ninis, yang Ninis ketahui Kala lah yang menyembunyikan Camelia dan mereka melakukan hubungan gelap di belakang Ninis.


Andre sengaja membuat Ninis berpikiran seperti itu agar merasa bahwa Kala bukanlah lelaki yang baik untuknya, Ninis terdiam dan tak mengatakan apapun.


Andre pun kembali bertanya, "Bagaimana Ninis? kamu akan bernilai baik di mata Sundari, Kala pun akan merasa kasihan dengan mu karena dia telah membohongi mu dan Kala akan meninggalkan Camelia?"


Mendengar hal itu, Ninis pun mengangguk pelan.


"Kau menyetujui nya? " tanya Andre kembali.


Ninis mengangguk kembali, "Ya, Aku setuju. Tetapi tidak jika harus mengkhianati Mas Kala, kita hanya bertemu, makan bersama dan berbincang di waktu senggang. selebihnya, Aku tidak akan melakukan apapun."


Andre tersenyum lebar, "Esok aku akan mengirim semua foto itu, dan Aku yakin Kala akan menyangka bahwa Camelia lah yang mengirim semua foto itu. Kala akan menganggapnya sebagai Teror dari Camelia."


Ninis memutar ingatan nya akan perjanjian bersama Andre, namun hal itu membuatnya merasa kasihan dengan keadaan suaminya saat ini.


"Mas, mau kopi?" Tanya Ninis yang pada saat itu melihat Kala sedang melamun, tidak ada jawaban sama sekali dari bibir nya itu. Ninis pun memegang punggung belakang suaminya dan kembali menawarkan kopi, Kala tersadar dari lamunan nya itu, namun Ia tak mendengar apa yang Ninis katakan.


"Apa yang kamu bicarakan tadi Nis?" Tanya Kala kembali.


Ninis duduk di samping Kala, Ia menarik tangan Kala. lalu bertanya, "Mas mau Ninis buatkan kopi?" Kala menggelengkan kepalanya, "Baiklah jika tidak mau, Ninis akan pergi ke rumah sakit. hari ini Ninis akan sangat sibuk, jika Mas membutuhkan sesuatu, Mas kabari Ninis saja ya." sambung Ninis.


Kala pun menganggukkan kepalanya, "Kamu bawa mobil sendiri? " Tanya Kala.


"iya Mas. Kasihan Mas kalau harus mengantar jemput Ninis, Mas juga mau ke Kantor kan?"


Kala menarik napasnya dalam-dalam, "Iya, Mas mau ke Kantor dan kemungkinan hari ini juga akan sibuk." Ucap Kala kembali.

__ADS_1


Ponsel Ninis berdering dengan sangat nyaring, "Siapa?" Kata Kala bertanya.


"Regi." jawab Ninis singkat, Ninis segera menerima panggilan tersebut.


"Halo Dek,"


"Halo Mbak?" Sapa Regi, "Tebak Regi ada dimana?" Tanya Regi kembali.


"Dimana memangnya?" Regi tertawa nyaring, dan Ninis merasa kebingungan dimana saat mendengar Regi tertawa dengan cukup riang. Ninis kembali bertanya, "Memangnya kamu dimana? Di tanya Yo Jawab bukan nya tertawa seperti itu, nanti kualat loh!"


Regi pun menjawab, "Di Indonesia, Tepatnya di Bandara."


"Kamu serius? Kok tidak mengabari Mbak sih?" Protesnya sekaligus bertanya.


"Ya ngapain juga mengabari Mbak, kalau mengabari bukan kejutan dong!" Pekiknya saat itu.


"Ye! kamu ini. Terus sekarang Mbak jemput kamu kalau begitu."


Regi menolaknya, "Gak usah, Lagian Regi langsung pergi ke tempat dimana Regi nantinya bekerja."


"Iya Mbak ku yang Bawel."


perbincangan itupun selesai, Ninis yang pada saat itu hendak menyimpan ponsel miliknya kedalam tas nya itu kembali melihat Kala yang sedang melamun. Ninis pikir bahwa Kala sedang memikirkan nasib nya bersama Camelia, Ninis enggan bertanya dan terlihat menarik tangan Kala seraya membuat Kala tersadar.


"Mas mau berangkat bekerja sekarang?" Tanya Ninis kembali.


"Iya, tadi ada apa Regi?"


Ninis tersenyum, "Tau tuh Regi udah di Indonesia saja, padahal aku udah janji mau menjemputnya bersama kamu Mas." Sahut Ninis kembali.


"Ya sudah syukurlah kalau Regi sudah berada di Jakarta." jawaban Kala begitu sangat datar, Ninis berusaha untuk tidak bertanya mengapa dengan sikap Kala saat ini, semua itu karena Ninis tahu beban pikiran serta di hatinya sangatlah berat.


Walaupun sebenarnya, Ninis begitu sakit saat mendengar cerita yang diberikan Andre mengenai Kala dan Camelia.


Mereka pun pergi bersama-sama tanpa melakukan sarapan bersama, semua itu karena saat Kala dan Ninis berjalan melewati ruang makan, tak ada Sundari di sana dan hanya ada makanan yang mereka buat untuk Kala dan Ninis.


**

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, sebuah taksi itu berhenti tepat di hadapan rumah Camelia. Camelia yang saat itu terlihat sedang mengurus tanaman pun terlihat memperhatikan orang yang berada di dalam taksi tersebut, seseorang pun keluar dari dalam taksi tersebut.


"Permisi Mbak, saya mau tanya kalau Rumah nya Bidan Alia sebelah mana ya?" tanya Lelaki yang tak lain adalah Regi, Regi bertanya kepada Camelia dan Camelia yang terlihat sedang berdiri itu segera menghampiri Regi.


"Bidan Alia ya Mas, ini tepat di samping rumah ini." Jawab Camelia sembari tersenyum kepada Regi.


"Oh ini ya Mbak?" Tanya Regi kembali.


"Iya Mas, tapi sepertinya Bidan Alia sedang tidak berada di rumah. Apa Mas sudah memiliki janji dengan nya?" tanya Camelia kembali.


Regi terlihat kebingungan, "Saya dari Amerika, baru saja sampai ke Indonesia pukul 9 pagi tadi. kebetulan jalanan macet, dan saya kehabisan baterai untuk menghubungi Bidan Alia. Dan sebenarnya, Saya sudah mengatakan bahwa hari ini saya akan mengecek lokasi untuk Acara besok."


Camelia terdiam, Ingin sekali Camelia membantunya. Akan tetapi, Sosok lelaki ini adalah orang asing baginya.


"Saya Dokter Regi yang akan menjadi Dokter utama pada Acara pemeriksaan kandungan gratis di Balai desa Esok hari,"


Ia menunjukkan sebuah berkas yang menunjukkan siapa dirinya, "Bolehkah saya meminta tolong untuk mengisi baterai ponsel saya? atau jika tidak, saya ingin meminta tolong untuk beristirahat di teras sampai Bidan Alia pulang." Sambung Regi, wajah Regi terlihat begitu tidak asing baginya. Dan bagi Camelia, Wajah Regi menunjukkan bahwa Regi adalah orang baik.


Camelia pun membuka gerbang tersebut, "Silahkan masuk Mas, maaf jika hanya menunggu di Teras." Ucap Camelia, Regi mengangguk dengan pelan dan merasa bersyukur atas tawaran yang diberikan Camelia kepadanya.


"Tidak apa-apa Mbak." Jawab Regi, "Terimakasih sudah mau membantu saya." Sambung Regi kembali.


Camelia mengangguk pelan, "Mas mau mengisi baterai, biar saya bantu." Regi pun dengan sigap memberikan ponsel serta kabel cas tersebut, Camelia masuk kedalam rumahnya dan terlihat membuatkan secangkir teh manis hangat untuk Regi. Lalu, Ia membawa ponsel miliknya itu untuk menghubungi Alia seraya memberitahunya mengenai kedatangan Regi.


"Teh manis nya Mas." Sembari menyelipkan senyuman yang cantik, Camelia memberikan secangkir teh manis kepada Regi.


"Aduh terimakasih Mbak, Maaf sekali jika saya sangat merepotkan Mbak." Jawab Regi sembari membalas senyuman nya itu.


Camelia pun membalas, "Oh tidak sama sekali Mas, maaf hanya ada secangkir Teh hangat."


"Justru hanya secangkir Teh hangat dengan tulus yang akan membuat perut saya merasa hangat." balas Regi, "Nama Mbak siapa?" Tanya Regi, "Maaf sedari tadi saya lupa bertanya dengan siapa saya berbicara." sambung Regi sembari mengulurkan sebelah tangan kanan nya.


Camelia pun tersenyum dan menyambut tangan Regi, "Camelia Mas, tetapi panggil saja saya Amel." sahut Camelia.


Camelia segera menghubungi Alia dan mengatakan bahwa Seseorang bernama Regi tengah menunggunya, hal itu sontak membuat Alia merasa tenang karena sosok Camelia menyambut Dokter muda itu dengan baik. Pasalnya kekurangan komunikasi diantara Alia dan Regi membuatnya tidak dapat menyambut kedatangan orang penting itu.


Perbincangan diantara mereka pun berlanjut, Regi mengatakan bahwa dirinya akan menetap di tempat yang sama dengan Camelia untuk beberapa bulan ke depan dan Camelia merasa senang karena di kampung tersebut belum terdapat seorang Dokter hebat melainkan hanya ada Bidan Alia.

__ADS_1


__ADS_2