
Mereka saling memandang satu sama lain, pertemuan nya bersama Kala saat ini hal yang tidak pernah Camelia duga sama sekali. Matanya tak henti membelalak saat melihat Kala berdiri di hadapan nya, “Akhirnya aku menemukan kamu Mel.” Ucap Kala saat pertama kali menyadari bahwa Camelia menyebut namanya, “Tolong ijinkan aku menyelesaikan ini semua, Aku mohon.” Ucap Kala sembari menatap lekat wajah Camelia.
“Untuk apa Mas mencariku? Jangan biarkan kita menambah lagi sebuah penyesalan. Amel tidak berharap Mas menemukan Amel!” sahutnya dengan tatapan yang begitu sarkas.
Mendengar hal itu, Kala sama sekali tidak merasa tersinggung bahkan ia tidak merasa terganggu dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Camelia. Kala meraih tangan Camelia, namun Camelia menepis tangan Kala. Camelia menarik nafasnya dalam-dalam, bahkan Ia sedikit memejamkan matanya sejenak seraya ingin menenangkan hatinya itu.
“Aku tahu aku bersalah Mel, tetapi setelah aku tahu kamu pergi. Aku sangat yakin kau sedang menyembunyikan sesuatu padaku juga pada orang-orang di sekitar kita, Aku tahu kamu melakukan ini pun untuk menyelamatkan pernikahan ku!” tutur Kala kepadanya.
“Bukankah ini yang Mas mau? Mas mengatakan pada Amel untuk melupakan peristiwa itu. Amel coba lakukan, tetapi Tuhan tidak mengijinkan semua itu karena hadirnya janin ini.” Tandas Camelia saat mendengar sebuah pengakuan itu, “Jangan pernah mendatangi Amel, Amel sudah bahagia disini. Biarkan Amel hidup tenang tanpa memikirkan kembali Mas. Jangan buat Amel memiliki beban karena sudah menyakiti hati mbak Ninis, Jangan Mas. Amel mohon..” Lirihnya kembali.
“Tidak Mel, tidak seperti itu. Justru Tuhan membuka semuanya, Tuhan lah yang memberikan Mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mas tidak mau berdosa pada anak kita, Mas akan mempertanggung jawabkan semuanya. Mas mohon.” Amel menggelengkan kepalanya itu, “Ibu sudah mengetahui semuanya, Mas sudah mengakuinya.” Sambung Kala.
Camelia pun menukas kalimat itu, “Tetapi Ibu tidak menginginkan ini semua dan Amel tahu!” tegasnya Camelia sembari menatap sarkas kea rah wajah Kala, “Mas harus tahu jikalau kita hanyalah Matahari dan Bulan yang gak akan pernah bisa bersatu, Kita beda Mas! Kita gak bisa memilih seperti untuk merasakan kebahagiaan bersama. Tolong Mas pahami semua ini.” Sambung Camelia sembari menangis tersedu-sedu.
“Tidak Mel, Aku akan berusaha untuk itu. Aku akan berusaha untuk menjadi Ayah yang baik untuk bayi kita. Tolong Ijinkan aku menyelesaikan apa yang sudah aku lakukan, Akupun tidak mau jika hanya kamu yang menanggung ini semua.” Ungkap Kala sembari berusaha meraih tangan Camelia kembali.
“Pergilah Mas, kembalilah pada Mbak Ninis dan lupakan peristiwa itu sesuai dengan apa yang Mas katakan dulu pada Amel. Jangan memperkeruh air yang sudah mulai jernih, Biarkan Amel bahagia disini walaupun tanpa Mas dan yang lainnya!” Camelia mencoba menutup pintu rumah tersebut, namun Kala secepat itu menahan nya.
“Biarkan aku masuk, aku mau kita berbicara layaknya calon Ibu dan Ayah untuk anak kita.” Pinta Kala seraya memohon kepada Camelia, “Tolong Ijinkan Aku masuk walaupun hanya sebentar.” Pinta Kala kembali, Camelia tetap berusaha menutup pintu itu.
“Pergilah Mas, Camelia mohon.” Kekeuh Camelia.
Kala pun bersikukuh untuk tetap masuk, “Tidak Mel, selama beberapa bulan ini Aku sudah menghabiskan waktu ku untuk memikirkan kemana kamu pergi dan aku tidak akan semudah itu membuat kamu pergi kembali. Aku tidak akan menyerah!” kekeuhnya dengan tegas, Camelia merasa jika sang jabang bayi tidaklah merasa nyaman saat ini. Bayi yang sedang ia kandung tak henti menendang dan membuat perut Camelia kesakitan, tubuhnya pun ambruk sembari tangan nya memegangi perut buncitnya.
Camelia meringis kesakitan dan Kala yang mengetahui hal itu pun merasa sangat panik, Kala berhasil membuka pintu tersebut. Ia segera mengangkat tubuh Camelia dan merebahkan tubuh Camelia di atas sofa ruang tamu tersebut, Ia tak menyadari sebuah foto yang menempel di dinding rumah itu adalah foto keluarga dirinya.
“Dimana Obat mu Mel?” Tanya Kala.
Amel yang sedang merasakan sebuah tendangan itu pun tak hentinya meringis, “Ini hanyalah sebuah tendangan dari bayi kuat ini, tak perlu obat hanya perlu Mas Kala keluar dari rumah ini. Itu sudah sangat cukup.” Kala terdiam, “Amel mohon Mas, jangan menambah masalah dengan Ibu Sun.” Lanjut Camelia saat itu juga.
__ADS_1
Kala terdiam, kini pandangan nya terlihat tertuju pada sebuah foto berukuran besar itu. Ia melihat Bapak juga Ibunya yang sedang menggendong dirinya, bahkan sosok wanita lain yang berada dalam rangkulan bapaknya itu tersenyum seakan sedang merasakan kebahagiaan. Camelia menarik nafasnya kembali, mau tidak mau Camelia harus menjelaskan apa yang akan Kala tanyakan mengenai foto tersebut. Apalagi Kala tidak pernah melihat foto tersebut, bahkan wanita itu, Ia sama sekali tidak mengenalnya.
Camelia menundukkan kepalanya, “Mengapa ada foto bapak, Ibu yang sedang menggendong ku. Dan siapa wanita itu Mel?” Tanya Kala, kebetulan Kala memiliki foto lain yang menunjukkan Barata dan Sundari sedang menggendong dirinya tanpa adanya wanita itu.
Belum juga masalah diantara dirinya dengan Kala itu selesai, kini Camelia tersandung masalah baru dan bagaimana bisa Camelia menjelaskan semuanya sedangkan permasalahan yang sangat rahasia ini harus di tutup rapat-rapat dan Camelia sendiri sudah berjanji pada Asep untuk menutup semua ini.
Kala menatap Camelia, “Dia siapa Mel, dan mengapa kamu menempati sebuah rumah yang terdapat foto Bapak, Ibu juga wanita itu?”
“Tolong jelaskan padaku Mel, Aku mohon.” Camelia melambaikan tangan nya seraya tak ingin Kala bertanya padanya, “Kenapa Mel? Apa yang tidak Aku ketahui di dalam keluargaku Mel, tolong katakan padaku.” Sambungnya dengan segudang pertanyaan kepada Camelia.
“Hentikan Mas, pergilah dan jangan pernah kembali kerumah ini.” Lagi dan lagi Camelia mengusir Kala, Ia berusaha untuk beranjak dari atas sofa itu. Namun Kala menghentikan apa yang akan Camelia lakukan, “Tatap mata aku Mas, Aku harap Mas mengerti. Pergilah, jangan lagi memperdulikan diriku.” Tambah Camelia. Kala menggelengkan kepalanya, Ia menggenggam penuh kedua tangan Camelia.
“Aku tidak bisa kembali pada Ninis, Aku tidak bisa. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai kamu Mel.” Ungkap Kala, “Aku sudah mencoba untuk mencintai Ninis, tetapi aku tidak bisa.” Sambungnya.
“Dia istri Mas, Aku tidak mau menjadi duri di dalam rumah tangga Mas. Dan Mas tahu siapa Amel, sampai kapan pun Ibu tidak akan menyetujui kita berdua. Tolong paham dengan keadaan kita semua.” Camelia berusaha untuk membujuk Kala agar segera kembali ke pelukan Ninis, namun Kala tetap bersikukuh untuk membawa Camelia menuju rumah nya dan segera mempertanggung jawabkan perbuatan nya beberapa bulan yang lalu.
Kala pun menatap lekat wajah Camelia, “Ninis sudah mengkhianati ku! Ninis juga tidak mencintai ku! Dan jujur, setelah kepergiaan mu. Semua berubah, Aku selalu berusaha mencari tahu. Ninis pun begitu,”
“Tidak mungkin Mas, ini semua hanyalah akal-akalan Mas saja. Mbak Ninis wanita baik-baik.” Sanggah Camelia, Kala merogoh saku celananya itu dan segera menunjukkan sebuah foto-foto kemesraan Ninis bersama mantan kekasihnya yang bernama Andre. Camelia sama sekali tidak menduga semua akan terjadi, “Mas hanya sedang mencari celah kesalahan mbak Ninis saja, dan Mas berniat menutup kesalahan Mas padanya!” sanggahnya kembali.
“Ninis sudah mengetahui apa yang terjadi diantara kita.” Ungkap Kala sembari memejamkan sejenak kedua matanya, “Aku sudah mengakui semuanya, dan malam tadi aku sudah menjatuhkan talak untuknya.” Sambung Kala.
Kalimat yang Kala katakan saat ini membuat Camelia merasa terkejut, Camelia menatap wajah Kala. Ia juga tak lupa menggelengkan kepalanya saat mendengar sebuah pengakuan yang di ucapkan oleh Kala, “Akan lebih sakit jika pernikahan aku dan Ninis di lanjutkan, Ninis juga akan lebih menderita dan aku tidak bisa memaafkan perselingkuhan diantara Ninis dan lelaki itu.” Terang Kala kembali.
“Dan inilah yang aku maksud dengan Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu, Tuhan mengijinkan aku untuk memperbaiki semuanya.” Sambung Kala.
Camelia merasa kebingungan di satu sisi apakah ia harus mempercayai semua yang Kala ucapkan, atau tidak sama sekali. Namun hatinya selalu yakin jika Kala tidak pernah bercerita mengenai sebuah kebohongan, Ia tahu betul siapa Kala.
Kala memegang tangan Camelia, Ia menggenggam nya dengan erat. Tatapan nya begitu lembut, Kala juga mengusap ujung kepala Camelia.
__ADS_1
“Mel, Aku mengerti mengapa kamu seperti ini. Aku juga tidak akan memaksa mu untuk menjelaskan mengenai foto itu juga mengapa rumah ini yang kamu tuju sebagai tempat persembunyian mu, Aku akan menunggu kamu dengan sukarela menceritakan semua ini. Bahkan Aku tak akan mengatakan kepada siapapun mengenai pertemuan ini,” Ucap Kala, Camelia menundukkan kepalanya itu.
“Amel tetap tidak mau jika Mas berpisah dengan Mbak Ninis dan penyebab perpisahan itu karena Amel.” Sahut Camelia,
“Sungguh Mel, tidak seperti itu. Semua ini murni karena hatiku yang tidak bisa mencintai Ninis, bahkan Ninis yang terbukti melakukan perselingkuhan dengan sengaja.” Jelas Kala kembali.
“Lalu nasib pernikahan Mas dengan Mbak Ninis?” Tanya Camelia.
“Semua sudah berakhir, Aku sudah menjatuhkan talak kepadanya. Aku tidak peduli Ibu akan memarahi ku, atau mungkin Ibu tidak akan menganggapku sebagai anaknya. Yang aku mau Anak ini tumbuh tanpa tahu permasalahan Ibunya, dan anak ini tumbuhan di dalam pelukan Ayah juga Ibu kandungnya.” Terangnya kembali, “Ijinkan Aku untuk menyelesaikan terlebih dahulu perpisahan ku dengan Ninis, kebetulan Ibu dari Ninis sedang anfal. Dan aku tidak bisa menyelesaikan ini semua sekarang juga, tetapi Mel, tolong ijinkan aku untuk datang dan memastikan bahwa kamu dan calon bayi kita dalam keadaan baik.” Sambung Kala.
“Ijinkan Aku untuk mengetahui perkembangan nya, Ijinkan aku mengusapnya sebagaimana seorang bapak yang menantikan kehadiran anaknya.” Pinta Kala kembali.
Air mata Camelia mengalir dengan deras, Ia tidak dapat memungkiri bahwa hatinya merasa terharu dengan keseriusan Kala untuk memperbaiki semuanya. Dan benar, Anak ini sangat membutuhkan kasih sayang bahkan elusan dari Ayah biologisnya.
Camelia ingin mengatakan Ya, tetapi Amel tidak tahu apakah ini benar-benar tidak akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi atau memang sebaliknya jika Ia mengatakan Iya pada Kala.
“Mel, jawablah. Ijinkan aku untuk semua itu.” Ucap Kala kembali.
Camelia mengangguk dengan pelan, “Amel punya syarat kepada Mas.”
“Apa syaratnya?” Tanya Kala kembali.
“Mas boleh mengunjungi Amel disini, tetapi Amel mohon Mas tidak boleh datang pada malam hari. Apalagi sampai menginap di rumah ini, tolong hargai semua yang ada disini. Amel gak mau menimbulkan masalah dengan warga sekitar, bahkan sampai melakukan hal yang tidak baik untuk kedua kalinya.” Jawab Camelia, Kala mengangguk pelan.
“Dan mengenai rumah ini, bahkan foto itu. Biar Amel memikirkan nya terlebih dahulu, Amel takut jika Mas tidak bisa mengontrol emosi Mas.” Sambungnya.
“Baiklah, Mas setuju dengan apa yang kamu katakan.” Sahutnya, “Tetapi Amel harus janji pada Mas untuk tidak pergi lagi dan membawa jauh calon bayi Mas.” Sahutnya kembali.
Amel menganggukkan kepalanya itu, Kala tersenyum dan tetap menggenggam tangan Camelia. Sebuah kesepakatan diantara mereka telah di buat, Kala hanya berharap jika dirinya dapat membawa Camelia ke sebuah ikatan pernikahan dan hidup bahagia bersama calon anak-anaknya.
__ADS_1