INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 38


__ADS_3

Malam harinya, Kala yang baru saja datang itu segera menghampiri Ninis yang berada di dalam kediaman Aji. Para pelayat pun datang silih berganti memenuhi rumah Aji, Ninis yang duduk tak jauh dari jenasah Ibunya itu terlihat berlari saat menyadari kedatangan suaminya. Ia memeluk Kala dengan pelukan yang begitu erat, “Secepat itu Ibu meninggalkan Ninis Mas.” Ucap Ninis dengan tangisan terisak.


Kala terdiam dan merasa begitu iba saat melihat kesedihan Istrinya itu, Kala pun mengusap punggung Ninis seraya ia menenangkan hati Istrinya. Kala meminta agar Ninis melepaskan pelukan tersebut dan segera menghampiri jenasah Ibu mertuanya itu, Ia juga sempat melihat Sundari yang duduk berdampingan dengan Sumiati, Kala membuka kain penutup wajah Ibu mertuanya.


Setelah membacakan sebuah doa, Kala kembali menutup kain putih itu dan terlihat segera menghampiri Ayah mertuannya. Dan saat Kala menghampiri Aji, raut wajah Aji tidak dapat menutupi kekesalan nya terhadap Kala. Diam-diam Aji pun masih memiliki orang yang bertugas untuk membuntuti Kala dan Orang baru itu berhasil mengikuti Kala saat menemui sosok Camelia, Aji yang tahu bahwa perselingkuhan diantara menantunya dengan anak dari Asisten rumah tangga di rumah besan nya itu terlihat murka. Kala meraih tangan Aji dan hendak mencium punggung tangan Kala, namun Aji terlihat menepisnya. Hal itu sontak membuat Kala terkejut, “Ikut saya, saya ingin berbicara dengan mu.” PintaAji pada Kala, Kala melirikkan matanya itu kea rah dimana Ibunya duduk sembari memperhatikan dirinya.


Aji pun beranjak menuju ruangan pribadinya itu, Kala mengikutinya dari belakang.


“Sebelumnya Kala meminta maaf karena Kala gak bisa temani Ninis di rumah sakit Pak.” Ucap Kala begitu menghampiri sosok Aji.


Aji membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan satu sama lain. Sorot mata tajam diberikan Aji kepada Kala, Kala pun tak gentar saat melihat sorot mata Bapak mertuanya. Aji mendekati Kala, “Dari mana kamu sebenarnya?” Tanya Aji, tak semudah itu Aji bertanya mengapa Kala menemui sosok wanita di saat Ibu mertuanya sekarat. Mengapa? Aji tetap memikirkan nasib pernikahan anaknya, walaupun Ia tahu bahwa pernikahan Ninis dan Kala sedang dalam ambang kehancuran. Akan tetapi, Aji tahu bahwa Ninis sangatlah berharap untuk tetap menjadi Istri dari Kala. Dan sebagai pewaris tunggal kekayaan Sundar-Barata, Aji tahu betul bagaimana nantinya kehidupan Ninis di kemudian hari.


Kala pun menjawab pertanyaan Ayah mertuanya itu, “Kala memang sedang sibuk di lapangan Pak, Kala sudah mengatakan semuanya pada Ninis dan Ninis menerima keridak-hadiran Kala. Bahkan Kala akan pulang sebelum pekerjaan Kala selesai, tetapi proyek besar ini tidak bisa Kala tinggalkan begitu saja dan itu yang Ninis katakan.” Jelas Kala.


Aji mendengus kesal, Ia tak mengerti mengapa sosok Kala berubah menjadi sosok pembohong besar. Aji pun menepuk bahu Kala, “Bapak Titip Ninis, Ninis sangat terpukul dengan kepergiaan Ibunya dan Bapak sangat yakin hanya kamu yang dapat menenangkan hati Ninis.” Tutur Aji kembali kepada Kala.


Kala terdiam, Ia seakan tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia kabulkan. Kala pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, “Bolehkah Kala menemui Ninis Pak?” Tanya Kala.


“Ya, Silahkan Kala. Bapak masih mau disini, bapak mau mengenang masa-masa Indah dengan ibu mertua mu. Tolong Ingat pesan Bapak ya Kal.” Ucap Aji kembali.


Kala kembali mengangguk pelan tanda Ia merasa bingung dengan sebuah jawaban yang akan ia berikan pada Aji, Kala pun segera menghampiri Ninis, namun Ia tak mendapati Ninis berada di tengah-tengah para pelayat. Sundari menghampiri Kala, “Kamu darimana saja sih?” Tanya nya berbisik, “Ibu hampir malu dengan Bapak mertua mu, bisa-bisa nya kamu gak ada di saat Ninis seperti ini.” Bisiknya kembali.


Kala menarii nafasnya, “Kala kerja Bu, kebetulan Ninis mengabari Kala saat sudah berada di perjalanan. Lagipula kerjaan Kala menumpuk, kalau bukan Kala siapa yang mau urus perusahaan Bapak.” Jawabnya, Sundari menggelengkan kepalanya. Menurut Sundari, semenjak Camelia pergi dari kehidupan nya, Kala sangatlah berubah.


Kala menjadi sosok orang yang tidak betah di rumah, Kala menjadi sosok pembangkang dan emosi nya kadang tidak stabil seperti dahulu.


“Ninis mana bu?” Tanya Kala.


Sundari pun menjawab, “Lah, bukan nya tadi ikuti kamu dan Mas Aji?” Kala mengerutkan dahinya itu, Kala melihat ke kiri serta kanan dimana Ia berdiri. Dan dari kejauhan, Kala hanya melihat Regi yang duduk di luar sembari memegangi ponsel miliknya. Kala pun memilih untuk menghampiri Regi sembari meminta maaf karena dirinya baru menyempatkan datang untuk melihat Ibu mertuanya.

__ADS_1


Kala berdiri di belakang Regi, “Foto siapa itu?” Tanya Kala.


“Cewek Regi ya?” Tanya Kala kembali, Regi pun segera menyembunyikan ponselnya. Lalu menoleh kearah suara milik Kala, beruntunglah Kala yang memiliki minus pada matanya tak mampu melihat jelas sosok gadis dalam foto tersebut.


“Eh Mas Kala, baru datang Mas?” Tanya Regi, “Duduk Mas..” Ia mempersilahkan kakak Iparnya itu untuk duduk di samping dirinya.


Kala pun duduk di samping Regi, “Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Mas pernah merasakan apa yang kalian rasakan, bahkan Mas kehilangan sosoknya saat usia Mas 10 tahun. Dan semenjak itu, hari-hari Mas berlalu dengan hal yang tak biasa.” Ungkap Kala.


“Bedanya Mas kehilangan sosok Bapak, Bapak yang sangat baik dan sangat menyayangi Mas. Bapak tidak pernah mengatur Mas, harus begini lah harus begitulah, beliau orang yang sangat santai dan hanya berharap anaknya memiliki pendidikan yang tinggi.” Tutur nya bercerita, “Namun Tuhan mengatakan hal lain, Bapak mu harus sampai disini dalam menjagamu. Jadilah lelaki kuat dan jaga Ibumu.” Tambahnya.


Ia menepuk bahu adik iparnya sembari sedikit memberikan sebuah rangkulan pada bahu adik iparnya itu. Regi pun mengangguk, “Ibu adalah wanita pertama yang Regi cintai dan setelah itu kakak, Regi nyaris tak ingin menikah karena takut pernikahan Regi seperti pernikahan Ibu dan Bapak.” Ungkap Regi, kala tidak mengerti dengan apa yang Regi katakan, “Regi bukan anak kandung Ibu Mas,” tambah Regi.


“Regi adalah anak dari seorang wanita lain yang di nikahi oleh Bapak, namun Ibu Regi mengantarkan Regi kerumah ini dan menitipkan Regi pada Ibu. Regi memiliki sifat berbeda dengan Mbak Ninis, dan menurut Bapak, Regi adalah pembangkang muda seperti Ibu kandung Regi.” Terang Regi, “Setiap ibu dan Bapak bertengkar mengenai keberadaan Regi, Bapak hanya selalu menyalahkan Regi. Padahal keberadaan Regi di rumah ini sama sekali tidak mengganggu Ibu, Ibu pun selalu meyakinkan Bapak bahwa Ibu sudah memaafkan Bapak dan tidak mau lagi membahas semuanya.” Terang Regi kembali.


Kala tidak menyangka, dan Kala seakan ingin mengetahui latar belakang yang Aji miliki.


‘Kamu masih memiliki Mbak mu yang sangat menyayangi kamu Reg, kamu sangat berharga untuk nya.” Sahut Kala.


“Tetapi untuk Bapak tidak! Kepergiaan Ibu pun adalah kesalahan Regi dan Bapak mengatakan itu kepada Regi.” Sela Regi sembari menitikkan air matanya.


Kala menepuk bahu adiknya kembali, “Kamu masih punya Mas Kala, anggap Mas itu bukan hanya kakak ipar mu melainkan kakak mu sendiri.”


‘jangan lagi meratapi kepergian Ibu, Ibu sudah tenang dan hanya mengharapkan doa yang Regi berikan. Suatu saat Bapak pun akan mengerti, kalian itu mirip loh sebenarnya. Mas pertama lihat kamu itu, Mas langsung sadar kalau wajah kamu itu copy-paste nya Bapak.” Ujar Kala.


“Mas bisa saja.” Tukas Regi yang sama sekali tidak mau di samakan dengan sosok Aji.


“Eh Iya, Mbak mu mana Gi?” Tanya Kala.


“Mbak bukan nya di dalam?” Tanya Regi balik.

__ADS_1


Kala pun seakan berpikir kemana Istrinya pergi, “Mungkin iya dia di dalam, yo Wis Mas masuk dulu ya Gi.” Ucapnya kembali.


Sementara itu, Ninis terlihat sedang berbicara di dalam sebuah mobil yang terparkir jauh dari rumahnya. Tentunya Ia sedang bersama Andre, Ninis meminta Andre untuk datang seakan ingin meluapkan segala kekesalan di dalam dirinya. Akibat kecerobohan Andre dengan nya itulah membuat Kala menjatuhkan talak padanya, Ninis menangis terisak di hadapan Andre.


“Semua karena kesepakatan busuk mu Andre! Kala mengetahui semuanya dan tamatlah riwayat pernikahan ku. Lalu bagaimana jika Bapak tahu dengan apa yang aku lakukan bersama mu!” Teriak Ninis kesal.


Andre meraih tangan Ninis, Ia juga tak gentar memeluk tubuh wanita bertubuh ramping itu.


“Aku akan menikahi mu Nis jika Kala menceraikan kamu.” Ucap Andre seraya meyakinkan sosok Ninis.


Ninis menatapnya, “Hanya itu? Hanya akan menikahi ku?” pungkas Ninis segera.


Ninis mendelikkan matanya, “Aku tidak mau pernikahan ku hancur Andre, dan kau yang menghancurkan semua ini. Ini sudah menjadi rencana mu bukan?” Tanya Ninis kembali, matanya penuh amarah. Andre menggelengkan kepalanya, “Kau menikmati kehancuran ku Andre, dan ini tidak akan pernah kembali. Kala akan jatuh kedalam pelukan Camelia, aku tidak sudi Andre. Aku sangat mencintai Kala, apalagi Bapak sangat mendambakan sosok menantu seperti Kala.” Kalimat itu sontak memancing Amarah Andre.


“Bisa-bisanya kamu mengatakan ini di hadapan ku Nis? Apa kamu tidak merasa hanya aku yang tulus mencintai wanita mandul seperti mu!” Teriak Andre sarkas.


Mata Ninis pun membola, kalimat Andre sangat melukai hatinya.


“Jika kau mencintaiku, kau tak akan mengatakan ini padaku Andre!’ Balas Ninis dengan nada yang semakin meninggi.


Andre mendengus kesal, amarahnya tak dapat ia kendalikan. Ia terlihat memuluk stir kemudi miliknya itu, Ia menyalakan kendaraan miliknya dan terlihat mengemudi dengan kencang. Ninis yang pada saat ini duduk disampingnya merasa begitu takut dengan apa yang dilakukan oleh Andre, “Hentikan Andre kau akan membuat kita mati konyol!!!” Ujarnya sembari memegang kencang kursi yang ia duduki.


“Aku lebih baik mati dibandingkan harus merelakan kamu bersama lelaki bajingan itu!” Ucap Andre yang tak henti menginjak pedal gas kendaraan nya itu.


“Hentikan Andre, Please. Jangan lakukan ini, jika kamu melakukan ini aku akan pastikan kamu tidak akan pernah melihat ku lagi.” Ancam Ninis kepadanya itu membuatnya takut, Ia melihat Ninis yang akan membuka sabuk keamanan yang sedang ia kenakan dan hal itu sangat di takuti oleh Andre.


Andre pun segera menghentikan apa yang sedang ia lakukan, Ia segera menginjak pedal rem dan hal itu membuat kepala Ninis sedikit terbentur. Andre yang sangat mengkhawatirkan Ninis segera melihat sosok kekasihnya itu, “Are you okay Nis?” Tanya Andre, dahi Ninis berdarah dan hal itu sudah dapat di pastikan akan menimbulkan sebuah luka di bagian dahinya.


“Antarkan aku ke rumah Bapak segera!” Pinta Ninis sembari terlihat meringis kesakitan, tanpa menunggu lama ia pun segera menuruti permintaan Ninis.

__ADS_1


__ADS_2