
Camelia terlihat membantu sang ibu dalam mempersiapkan makan malam antara keluarga Sundari dan Aji Brawijaya, terdengar suara perbincangan mereka semua di dalam ruangan lain yaitu ruang tamu. Camelia sendiri terlihat memakai seragam Asisten rumah tangga, kebetulan Ibunya meminta agar Camelia lah yang menjadi petugas untuk menjamu tamu agung majikan nya itu.
Camelia pun menghampiri Sundari dan memberitahu bahwa makanan telah siap di sajikan, Aji melihat sosok Camelia. Ia tersenyum ramah kepada Camelia begitupun Istrinya itu, Sundari mempersilahkan mereka untuk beranjak dan menuju ruang makan. Camelia dan Asisten lainnya terlihat berdiri di belakang Sundari, seperti biasa hal itu memudahkan Sundari atau yang lainnya untuk secepat mungkin mendapatkan apapun yang di butuhkan oleh mereka.
Camelia pun di minta untuk menaruh makanan di atas piring mereka, dan Nani bertugas menyiapkan air yang akan mereka minum. Kala tak lepas memandang Camelia, entah mengapa saat ini Camelia begitu terlihat sangat cantik. Kulit putih dan mulus itu menambah kecantikan nya, Aji pun memuji kecantikan Camelia.
“Siapa ini yang memasak?” Tanya Aji, “Rasanya sangat lezat.” Puji besan Sundari itu membuat Sundari tersenyum lebar.
Sundari pun menjawab, “Sumiati Mas, Mas pasti lupa. Dulu Sum itu bertugas menjaga Kala sewaktu kecil.”
Aji berusaha mengingat Sumiati, lalu ia terlihat seakan mengingat sosok Sumiati.
“Ya, Mas ingat Dek Sun. beliau kalau tidak salah sudah lama ikut dengan Mas Bara ya.” Ucap Aji, Sundari mengangguk pelan.
“Iya Bapak, Mbok Sum sudah seperti orang tua kedua Mas Kala.” Ucap Ninis, “Kalau pagi yang di cari Mbok Sum selain Ibu.” Tambahnya.
Kala tersenyum malu, “Enggak kok sekarang kan ada Ninis.” Celetuk nya.
Aji tertawa kecil manakala melihat cara bercanda di antara anak dan menantunya itu, “Bapak mau Tanya nih, kalian belum siap program anak gitu? Si Sri anak nya Pak Suarman, satu bulan menikah sudah positif joss. Kayanya kalian harus lebih banyak waktu berdua.” Ujar Aji, hal itu membuat Ninis tersenyum. Lalu menarik tangan Bapaknya itu, kemudian mengelus pelan punggung bapak nya itu.
“Bapak doakan Ninis dan Mas Kala ya.” Ucap nya, Aji pun menjawab, “Pasti Ndo, bapak pasti doakan kamu dan Kala agar selalu bahagia.” Tambahnya, Camelia menundukkan kepalanya. Apa yang ia lihat saat ini benar-benar membuat hatinya kembali merasakan sakit.
Waktu sebentar lagi menunjukkan pukul 19.30, makan malam pun terlihat sudah hampir selesai. Banyak perbincangan hangat yang tertuang di dalam nya, Sundari pun mengajak kembali Aji dan Istrinya untuk bercengkrama di ruangan lain. Diam-diam, Sundari dan Aji sedang membicarakan rumah impian kedua anaknya itu. Ibu kandung dari Ninis pun terlihat lebih banyak diam, taka da sepatah katapun kalimat yang terucap. Dan ternyata, hal itu memang karena sakit yang di derita nya. Sudah lima tahun lamanya, Ibu kandung Ninis bisu dan sebelah tangan nya kaku akibat penyakit stroke yang di derita nya.
Sementara itu, Nani meminta Camelia untuk beristirahat. Ia melihat Camelia begitu semakin pucat. Camelia menolak dan mengatakan bahwa dirinya akan tetap membantu Nani, “Bi Nani, Amel gak apa-apa kok. Lebih baik Bi Nani saja dulu yang beristirahat,”
“enggak Mel, biar Bibi yang bersihkan piring dan perabotan. Kamu yang mengantar semua ke dapur kotor ya, biar Bibi yang cuci.” Ucap Nani.
“Iya Bi.” Jawab Camelia, Camelia memang sosok anak yang rajin, dan semua orang di dalam rumah itu begitu sangat menyayangi Camelia. Apalagi kedekatan Camelia dengan Nani yang terlihat seakan mereka bersahabat, Nani juga tak jarang memberikan perhatian layaknya Ibu kepada anaknya.
Saat melihat kesibukan Camelia, Kala pun menghampiri Camelia. Kala mendekatinya, Camelia merasa begitu sangat takut hal itu terlihat oleh Ninis atau yang lainnya dan memunculkan sebuah spekulasi negatif kepada Camelia sendiri.
__ADS_1
“aku tunggu di tempat yang sudah aku beritahukan, sekarang!” ucap Kala, Camelia enggan menjawab apapun. Ia hanya menundukkan kepalanya, Nani yang pada saat itu akan menghampiri Camelia pun sempat melihat Kala berbisik kepada Camelia. Namun, Nani seolah melihat rasa takut dari Camelia dan hal itu ia kembali cocokkan dengan kejadian sebelumnya yang sempat ia lihat. Dan hal itu sudah membuat nya mencurigai sosok Kala, apalagi Kala berdiam diri di hadapan kamar Camelia dan jawaban Kala yang terbata itu semakin meyakinkan bahwa diantara keduanya ada hal yang tidak beres.
Nani melihat kepergiaan Kala, Nani pun segera bertanya kepada Camelia. Sebelum bertanya, Nani menarik tangan Camelia dan membawanya menuju dapur kotor.
“Ada apa Mel?” Tanya Nani.
“Tidak ada bi, Mas Kala meminta di buatkan kopi.” Jawab Camelia sembari menundukkan kepala nya, Ia merasa bahwa Camelia sedang menutupi sesuatu.
“Ya sudah biar Bibi yang membuatkan kopi itu,” ucap Nani, “Bibi juga buatkan Teh untuk semuanya,” sambung Nani. Mendengar hal itu, Camelia seakan mendapatkan celah untuk menemui Kala di tempat yang sudah di tentu kan oleh Kala.
“Amel rasa Amel pusing Bi, Amel mau masuk kamar duluan ya.” Pamitnya, Nani menganggukkan kepalanya. Ia mengusap bahu Camelia, dan tersenyum kepada Camelia.
“Besok bibi antar Amel ke dokter ya.” Ucap Nani.
Amel terdiam dan kembali menundukkan kepalanya itu, “Ya sudah, semoga Amel membaik setelah beristirahat.” Camelia menganggukkan kepalanya dan segera berjalan menuju kamar miliknya, namun saat ia merasa tempat itu sepi. Ia pun segera berjalan menuju kebun belakang, ia berjalan dengan sangat hati-hati.
Rumah Sundari memang begitu sangat luas, halaman nya pun memiliki beberapa lahan parkir serta kebun yang begitu sangat indah. Sungguh rumah mewah yang mungkin hanya orang-orang kalangan atas lah yang memilikinya, dan Kala adalah satu-satu nya pewaris Tunggal kekayaan tersebut.
Sesampainya di tempat tersebut, Ia melihat Kala berdiri dengan satu buah batang rokoo yang sedang ia hisap. Camelia terkejut saat melihat hal tersebut, “Sejak kapan Mas Kala merokok?” Tanya Camelia.
“Aku tidak bisa membuatnya kecewa, apalagi hubungan ku dengan Ninis terselip restu dari Ibu dan aku tidak berdaya.” Sambungnya.
“Amel sudah melupakan itu semua Mas Kala, dan untuk apa Mas Kala meminta Amel menemui Mas Kala. Apalagi malam ini adalah malam istimewa untuk Mas dan mbak Ninis, kehadiran orang tua kalian patut di hargai.” Dengan lantangnya Camelia mengingatkan bahwa apa yang sedang dilakukan oleh Kala tidak menghargai pertemuan diantara Ayah dan Ibu mertuanya dengan Sundari, “Kalau hanya untuk mengatakan itu, Camelia rasa tidak ada guna nya dan sudah seharusnya Mas Kala melanjutkan kehidupan mas Kala dan Mbak Ninis agar selalu mendapatkan kebahagiaan.” Sambung Camelia.
Camelia terlihat membalikkan tubuhnya dan terlihat ingin segera melangkahkan kaki miliknya itu untuk pergi dari hadapan Kala, “Tunggu Mel.” Pinta Kala.
Langkah Camelia pun terhenti, “Aku harus tahu apakah sesuatu telah terjadi atau hanya rasa takut ku saja.” Ucap Kala.
“Sesuatu apa mas?” Tanya Camelia dengan nada yang begitu ketus.
“Apa kau sedang mengandung?” Tanya Kala, Camelia meneteskan air matanya itu.
__ADS_1
“Tolong jawab dan yakinkan aku jika mimpi ku hanyalah rasa takut yang aku miliki.” Ujar Kala yang tak sadar bahwa dirinya juga meneteskan air mata.
Camelia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Mas, Mas hanya merasa takut. Amel minta untuk Mas melupakan semua itu, Mbak Ninis adalah hidup Mas dan biarkan dia merasakan kebahagiaan.” Ungkap Camelia yang tak henti meneteskan air mata, ia juga terlihat segera menyeka air mata tersebut.
“Tidak akan pernah terjadi hal itu Mas, lupakan semuanya dan hiduplah dengan tenang. Amel gak akan pernah pantas dengan Mas Kala. Amel pun berharap hal buruk itu hanya ketakutan semata,” sambung Camelia, Kala menghampiri Camelia. Ia memeluk Camelia dari belakang, entah mengapa rasa itu hadir dengan sendiri nya. Camelia meronta seakan tidak ingin mendapatkan pelukan hangat itu, “Lepaskan Amel Mas, dengan jelas hal ini tidak baik. Dan Amel tidak mau mengulangi kesalahan itu.” Ungkap Camelia kembali.
“Aku ingin memeluk mu untuk terakhir kalinya, Aku akan melupakan mu Mel. Karena sebenarnya, kamu lah orang yang pertama aku cintai. Tidak pernah ada wanita sebelum Ninis karena wanita itu adalah kamu. Akan tetapi, Tuhan tidak mengijinkan cinta itu tumbuh.” Ungkap Kala, Camelia terdiam dan hanya air mata yang mengalir dari membasahi pipinya.
“Aku harap kebahagiaan datang untuk mu Mel.” Kala pun melepaskan pelukan tersebut dan segera meninggalkan Camelia seorang diri, Camelia menangis. Tubuhnya begitu sangat lemah, ia membubuhkan tubuhnya itu. Hujan pun turun membasahi tubuh Camelia, air mata itu tak terlihat sama sekali, semua akibat hujan deras yang turun bersamaan dengan air mata Camelia.
Ia menangis tersedu-sedu, “Benar apa kata ibu, Harapan yang tinggi akan membuat kekecewaan yang tinggi. Ibu, Maafkan Camelia.” Ia pun berteriak seraya membuang rasa kesal dalam hatinya, Ia membungkukkan tubuhnya itu dan kembali meratapi nasib buruk nya.
Sementara itu, Kala melihat keadaan Camelia dari jauh. Ia benar-benar merasa tidak tega dengan apa yang ia lihat saat ini, namun apalah daya Kala tidak dapat melakukan apapun.
Kala memejamkan matanya sejenak, “Maafkan Aku Mel, maafkan aku. Aku hanya orang yang tidak berdaya, aku menyayangi Ibu dan mematuhi segala peraturan nya. Tanpa aku sadari aku mengorbankan mu, bahkan aku mengorbankan cinta ku untuk rasa cinta ku kepada Ibu. Aku harap kamu tidak pernah membenci ku Mel.” Ia berucap dalam hati, Ia pun segera menghampiri keberadaan Ayah, Ibu mertuanya itu dan kembali berkumpul dengan mereka.
Ninis bertanya, “Dari mana Mas kok baju nya basah sih?”
“Tadi ada telepon dari Datuk, aku menghubunginya di taman dan tak terasa hujan turun. Biar nanti saja sekalian mandi aku ganti pakaian nya.” Jawab Kala, Ninis pun menganggukkan kepalanya.
“Gini loh Mas, Bapak minta aku mengambil cuti dan menemui Regi adik ku di Amerika. Aku rasa kita harus jadwalkan cuti bersama, lalu pergi kesana berdua dan anggap saja sebagai bulan madu yang sudah kita rencanakan.” Ujar Ninis, Kala menganggukkan kepalanya.
“Kalau gitu besok lusa saja.” Jawab Kala sembari memberikan senyuman kepada Ninis.
“Nah, Bapak setuju. Adik mu di sana sangat merindukan kamu, ia juga ingin bertemu dengan Kala.” Ucap Aji.
“Ya Mas, kebetulan Regi belum bisa pulang karena dia akan menghadiri acara Wisuda kedua nya.” Timpal Ninis.
“Ibu juga setuju kalau kalian lebih banyak lagi waktu berdua, Ibu dan Bapak mu dulu seperti itu. Dan disitulah kami merasa bahwa seru juga mendapatkan jodoh dari perjodohan.” Ucap Sundari.
“Mas Kala dan Ninis memang sudah merasakan itu Bu, kita berdua juga mau ucapin makasih sama Bapak, Ibu juga Ibu Sun. karena kalian lah Ninis dan Mas Kala dapat bersama, dan Ninis sangat bersyukur untuk itu.” Ujar Ninis kembali.
__ADS_1
Kala terlihat mengosongkan pandangan nya itu, sepertinya hanya Camelia lah yang saat ini ada di dalam pikirnya. Perbincangan mereka pun berlanjut, Kala tak henti berdiam diri dan memikirkan apakah Camelia sudah berada di dalam kamarnya ataukah Camelia masih terdiam di bawah guyuran hujan. Kala melihat secangkir kopi di hadapan nya, ia menyeruput kopi tersebut dan mengatakan bahwa kopi tersebut terlalu manis.
Ninis yang pada saat itu mendengar pun sesegera mungkin untuk mengganti kopi tersebut, hal itu di tolak oleh Kala dan Kala mengatakan pada Ninis biar saja dia yang meminta Nani atau Camelia yang mengganti kopi tersebut. Kala pun meminta ijin untuk menemui Nani sembari mengganti pakaian basahnya, Ninis yang tidak sama sekali mencurigai hal tersebut pun mengiyakan keinginan Kala dan ia melanjutkan perbincangan tersebut.