INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 43


__ADS_3

Sesampainya Regi di halaman kediaman yang ia sewa itu, Regi terlihat sesegera mungkin mengeluarkan semua barang-barang pribadi yang sengaja Ia pindahkan. Camelia menyadari kedatangan Regi, Ia pun terlihat berjalan keluar rumahnya untuk segera menghampiri Regi.


Mereka saling menatap satu sama lain, “Loh Mas Regi bukan nya mau ambil cuti satu minggu, kok malah pulang.” Camelia segera bertanya perihal kepulangan Regi dan Regi terlihat hanya terdiam seraya merapatkan bibirnya, Camelia seakan mengetahui bahawa sebuah masalah sedang menimpa sosok Regi.


Camelia menundukkan kepalanya, “Maafkan Amel ya Mas Regi, Mas baru datang tetapi Amel langsung merundungkan pertanyaan kepada Mas. Duh, Amel beneran gak enak Mas.” Susul Amel sembari menatap wajah Regi, Regi memejamkan matanya sejenak.


“Mas masukin barang dulu ya, setelah itu Mas butuh kamu untuk mendengarkan celotehan Mas.” Ujarnya, Camelia mengangguk. Ia hendak membawa salah satu barang milik seraya membantu Regi untuk membawanya ke dalam rumah Regi, namun Tangan Regi segera menghalangi apa yang akan Camelia lakukan, hal itu sontak membuat mereka saling menatap satu sama lain. Entah mengapa dengan berani Regi menatap gadis yang sedang berbadan dua itu dengan penuh cinta, tangan Regi pun menumpuk di atas tangan Camelia.


“Gak Usah bantu Mas Mel. Ini berat, jangan membahayakan kandungan kamu.” tolak Regi sembari tetap memberikan sebuah tatapan yang tidak biasa.


Amel mengangguk dengan pelan, hembusan nafas Amel itu terdengar lebih gugup dan Regi tahu akan hal itu.


“I-iya Mas..” sahut Amel yang terlihat berusaha melepaskan tumpukan tangan Regi itu, “Tangan Amel gak bisa lepasin koper nya Mas.” Susul Amel kembali.


Regi menyadari apa yang sedang terjadi, Ia semakin gugup di buatnya. Regi pun terlihat melepaskan tangan Amel, “Sorry..” ucap Regi membalas, Amel menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, Amel buat Teh hangat terlebih dahulu.” Regi pun mengangguk tanda ia mengiyakan apa yang akan Amel lakukan, namun baru saja beberapa langkah Amel meninggalkan nya, Regi pun kembali memanggil Amel.


“Mel..”


Amel menoleh..


“Iya Mas?” sahut Amel segera.


“Mas minta secangkir kopi panas saja, dan gak perlu di antar. Biar kita berbincang di rumah mu saja.” Kata Regi dan ia mendapatkan jawaban sebuah anggukkan dari kepala gadis berusia 18 tahun ini.


Camelia segera memanaskan air, menuangkan kopi hitam bubuk dan menyimpan sebuah teh gantung di salah satu gelas lainnya. Tatapan Regi untuknya tadi melintas dalam bayangan nya, tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah mata yang tidak pernah ia lihat lagi, Camelia mengingat jelas sorot mata Kala saat dahulu memandangnya dan entah mengapa Ia merasa gugup seakan rasa gugup itu hadir saat dulu ia berhadapan dengan sosok anak majikan nya itu.


“Mel..” Panggil Regi.


“Iya Mas, sebentar lagi selesai. Tunggu saja di ruang tamu, Amel mau memanaskan brownis yang amel buat sore tadi.” Balas Amel dari dalam.


Regi pun mengiyakan apa yang Amel katakan, Ia duduk di dalam ruang tamu rumah Amel dan sebelumnya ia terlihat membuka lebar pintu rumah Amel.


Ia menatap foto besar yang terlihat masih menempel di dinding, Ia baru menyadari bahwa salah satu sosok wanita di dalam foto itu adalah Sundari. Ia memutar ingatan nya pada saat ia bertemu Sundari di dalam rumah sakit, karena sebelumnya Ia hanya melihat sosok Sundari di dalam foto pernikahan saudarinya.


Ia menilik wajah Sundari itu, tak lama kemudian Amel datang dengan membawa nampan nya.


“Mel, ini Ibu kamu ya?” Tanya Regi kepada Camelia.


Amel menggelengkan kepalanya,”Ini pemilik rumah ini Mas, kenapa?” Tanya Camelia.


“Ah enggak, Cuma Tanya saja. Kayanya gak asing aja gitu.” Jawab Regi sembari memicingkan kedua matanya.


“Kopi khusus Mas Regi, dan Brownis buatan Amel. Semoga Mas regi suka ya.” Ucap Amel dengan senyuman tipis di bibirnya, Regi mengangguk dan segera menyeruput pelan kopi panas tersebut.


“Ibuku meninggal Mel kemarin sore.” Ucap Regi.

__ADS_1


Amel begitu terkejut dengan apa yang di katakan oleh Regi, “Ibu Mas meninggal, tetapi Mas malah pulang? Kok bisa sih Mas?” Tanya Amel sedikit memprotes.


Regi menekukkan bibirnya, Ia mengalihkan pandangan kosongnya itu. Lalu tidak beberapa lama kemudian ia melirik kearah dimana Camelia duduk, “Aku gak akur sama Bapak, Aku pun hidup di Amerika dengan gaya yang sederhana walaupun aku tetap tinggal di dalam rumahnya. Ibu yang sangat mencintai aku, tetapi tidak dengan bapak Mel.” Ungkapnya, “Ibu sudah tidak ada di rumah itu, lantas untuk apa aku masih berada di sana. Keberadaan ku di sana malah membuat Bapak semakin darah tinggi.” Susulnya saat mencurahkan isi hatinya.


“Sing penting, aku sudah menuruti Ibu untuk menjadi seseorang Dokter. Mengikuti jejak Ibu sebagai Dokter Obgyn.” Sambungnya kembali.


Camelia merasa Iba, apalagi saat ini mata Regi terlihat ingin meneteskan air matanya. Camelia memiringkan kepalanya, “Mas tenang ya, sekarang Mas sama Bapak Mas mungkin sedang hanya berbeda pendapat, Amel yakin, suatu hari Mas akan kembali akur dengan beliau.” Sahut Camelia yang berusahan menenangkan suasana hati Regi.


Regi menarik nafasnya dengan berat, lalu ia hembuskan nafas beratnya itu dan kembali menatap sendu ke arah lain.


“Aku dan Bapak tidak akan pernah akur Mel, yang dia sayang hanyalah mbak ku saja.”


Camelia menganggukkan kepalanya, “Jadi Mas berapa bersaudara?” Tanya Camelia.


“Aku hanya berdua dengan kakak ku, kakak ku sudah menikah. Dan sebenarnya kami berbeda Ibu, yang saat ini meninggal itu justru Ibu dari Mbak ku. Mereka memberikan aku kepada Bapak saat usia ku 10 tahun, Ibu kandung ku kejam, Ia mengikat tangan ku dan menyimpan ku di depan pagar bapak.”


“Beruntunglah Ibu Wid itu menerimaku, Ia sangat menyayangi aku dan selalu menerima ku, namun terbalik dengan Bapak. Bapak malah selalu menyalahkan keberadaan ku di saat mereka melakukan sebuah pertengkaran, dan 14 Tahun sudah berlalu Mel. Kini aku memilih membebaskan diriku dari jeratan Bapak.”


Amel mengangguk dengan pelan, Ia mencoba menjadi sosok orang yang setia dalam mendengarkan curahan hati seorang dokter muda bernama Regi itu. Amel pun mengusap tangan Regi, “Mas sabar ya, Ikhlas itu memang sulit. Tetapi percayalah, Tuhan tidak pernah salah dalam menguji umatnya. Amel yakin, Mas tidak akan membalas sikap bapak Mas saat beliau tua nanti. Mas akan menyayanginya, mau atau pun tidak, beliau adalah sosok orang tua untuk kita.”


Regi menganggukkan kepalanya, “Eh Iya Mel, maaf loh Mas mau Tanya..” Belum juga ia bertanya pada Camelia, ponsel Camelia pun berdering dan Regi meminta nya untuk segera menerima panggilan tersebut.


“Bentar ya Mas Regi..” Camelia menerima panggilan tersebut sembari berjalan ke arah dapur, Regi yang begitu penasaran pun segera mengikuti langkah Camelia seraya ingin mendengarkan dengan siapa Camelia berbicara.


“Waalaikum salam Mas Kala..” Balas Camelia sembari meletakan ponselnya itu di telinga miliknya, Regi tidak dapat mendengar dengan pasti dengan siapa Camelia berbicara karena Camelia tidak menyalakan pengeras suara pada ponselnya.


‘Amel lagi berbincang dengan tetangga Amel, Mas Kala sedang apa?” Tanya Amel.


Regi kembali menguping, Ia yakin betul bahwa sosok Kala yang sedang berbicara melalui panggilan suara itu adalah Kala anak dari Sundari yang juga kakak Iparnya saat ini.


“Baik kok, bayi kita sedang tidak bergerak, Mas ingat pesan Amel ya, jaga baik-baik Mbak Ninis. Kasih support dia dan jangan sekalipun Mas membuat nya merasa sendiri.” Kata Amel berlanjut.


“Baiklah, salam dengan Ibu.”


“Waalaikum salam Mas.” Amel terdengar mengakhiri pembicaraan nya itu, dan Amel terlihat segera berjalan untuk menghampiri sosok Regi yang terlihat sedang berduduk santai menunggu Amel.


“Maaf ya Mas Regi lama.”


Regi terlihat kembali mengosongkan pandangan nya itu, ingatan akan perbincangan nya dengan Andre saat siang tadi pun ia sadari bahwa benar yang di katakan oleh Andre. Dan yang paling membuat sakit adalah Ia sudah merasa bahwa Ia jatuh cinta dengan sosok gadis polos bernama Camelia, apalagi Regi sempat mendengar perbincangan diantara Camelia dan Alia mengenai nasihat yang diberikan Alia untuk tetap tegar walaupun Amel melewati kehamilan hanya seorang diri. Isi dalam pikiran Regi pun berantakan serta berkecamuk, entah apa yang telah terjadi dengan rumah tangga kakaknya itu. Rumah tangga yang baru saja 6 bulan di bina harus menelan pahit keadaan yang sebenarnya telah terjadi, mengingat usia kandungan Camelia yang baru menginjak 5 bulan dan itu artinya Kala dan Camelia memiliki janin itu setelah usia pernikahan Kala dan Ninis yang baru di lalui 1 bulan.


Camelia terlihat menepuk tangan Regi dengan pelan, “Mas,” Regi pun kembali tersadar dari lamunan nya.


“Mas tadi mau bertanya apa?” Tanya Camelia.


“Tidak Mel, aku takut pertanyaan ku malah menyinggung kamu.” Sahut Regi.


“Mas pasti mau Tanya kenapa Amel tinggal disini sendirian?” Tanya Camelia, Regi sedikit menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Amel pun menarik nafasnya dalam-dalam, Ia merasa sudah sangat mempercayai sosok Regi walaupun baru beberapa bulan ia mengenalnya.


Ia menatap lurus wajah Regi, “Tetapi Mas janji ya, Mas gak akan mengatakan apapun mengenai ini. Hanya Mas, Bunda dan ketua Rt yang mengetahui hal ini.”


“Ini sebuah amanat kan? InshaAllah aku akan jaga Mel.” Jawab Regi, menurut Regi ia takut jika kedekatan nya dengan Amel malah membawa petaka karena Amel sudah memiliki seorang suami yang katanya bekerja di tempat yang sangat jauh, namun entah mengapa Regi tidak mempercayai sebuah cerita yang di ucapkan oleh Alia. Ia seakan menutupi sesuatu mengenai Camelia.


“Amel lari karena kehamilan yang tidak pernah Amel sangka sebelumnya, Amel pun belum memiliki suami. Dan sepertinya, Amel tidak akan pernah menikah dengan lelaki yang menanam benih di perut Amel.” Ungkap nya di selipi senyuman terpaksa, Regi mengingat betul kondisi medis di dalam Rahim kakaknya dan ia mengira bahwa kakak nya dan Kala dengan sengaja menyewa Rahim Camelia untuk mendapatkan seorang bayi.


Regi pun bertanya, “Apa kamu sedang dalam metode Ibu pengganti?” Tanya Regi.


“Maksud Mas?” Tanya Camelia balik.


Regi pun mengangguk pelan, “Ya, maksudnya sepasang suami dan Istri sedang memakai jasa mu untuk memberikan mereka seorang bayi?” Tanya Regi sembari menyelipkan sebuah keterangan, Camelia menggelengkan kepalanya.


“Tidak Mas, hal itu terjadi begitu saja.” Camelia pun segera menjelaskan apa yang telah terjadi.


“Begini ceritanya Mas….” Regi pun mendengarkan setiap kalimat yang di ceritakan oleh Camelia, tidak ada satu peristiwa pun yang terlupakan oleh Camelia dan Regi memahami isi dalam cerita yang di kisahkan oleh sosok Camelia.


Waktu pun berlalu dengan cukup lama, Regi begitu tidak menduga bahwa pernikahan yang telah di setujui oleh Kala dan Ninis malah memakan korban sosok gadis belia bernama Camelia Azzahra ini. Dan tentunya Camelia mengatakan bahwa sebelum pernikahan itu terjadi sosok Kala tidak pernah memiliki kekasih dan hanya merasa dekat dengan nya saja, Regi merasa iba, namun disisi lain Regi merasa tidak Ikhlas jika Kala kembali dengan sosok gadis yang kini ia sukai.


Regi pun kembali bertanya, “Terus gimana sekarang hubungan kamu dengan lelaki itu? Apa kamu masih mengharapkan dia kembali?”


“Dia baru saja datang kemarin siang, kami berbincang walaupun sebelumnya dengan jelas aku mengusirnya. Ia menyewa seseorang mata-mata yang sudah mengikuti Ibu dan supir nya itu dan ia berhasil menemukan Amel disini.” Jawab Amel kembali.


Regi pun bergumam dalam hatinya, “Amel memang gadis yang baik dan lugu, Ia begitu jujur dan sangat menyesalinya. Ya Tuhan jadikan gadis ini jodoh ku, aku tidak peduli dengan masa lalunya. Jujur, kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta dengan sosok gadis yang baru saja aku kenal.” Camelia terdengar kembali bercerita mengenai kebaikan sosok Sundari, walaupun Camelia tidak mengatakan bahwa sosok itu adalah Sundari, Regi dapat menilai bahwa perempuan tua yang sedang Amel ceritakan adalah sosok besan Ayahnya.


“Amel merasa kasihan dengan Istri lelaki itu, dan Jujur alasan Amel lari karena Amel tidak mau merusak pernikahan mereka. Apalagi menurut Amel, kasta Amel dan wanita sangat jauh berbeda.” Terang Amel kembali.


“Tetapi apalah daya, wanita itu dan Ibunya pasti sudah mengira bahwa Amel menggoda suami dan anaknya.” Lanjut Amel, “Duh maafkan Amel ya Mas, Amel malah yang banyak curhat dengan Mas.” Amel menarik nafasnya dalam-dalam.


“Kalau kamu mau menyelamatkan kembali pernikahan mereka, Mas mau kok nikahin kamu. Esok juga gak apa-apa.” Celetuk Regi.


Amel tertawa, “Mas ada-ada saja, gimana dengan Calon istri Mas Regi, kasihan nanti.” Sahut Amel sembari menatap wajah Regi dengan senyuman nya.


‘Mas belum ada Calon Mel, gak laku kali.” Celetuknya kembali.


“Bukan gak laku, tetapi belum saat nya aja.” Ujar Amel menjawab.


Amel kembali berucap, “Entahlah Amel tidak memahami mengapa hidup Amel jadi seperti ini.”


“Ini sudah takdir Mel, dan sebagai manusia kita hanya harus menerimanya dengan ikhlas.” Sahut Regi kembali.


“Mas janji ya, tidak akan mengatakan ini semua kepada siapapun.” Ucap Amel kembali sembari menatap lekat wajah milik lelaki berusia 24 tahun itu, Regi menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Camelia.


“Oh ya, mengenai tadi yang Masa katakan. Kamu jangan tersinggung ya.”


“Enggak kok Mas, Amel tahu betul Mas hanyalah bercanda.” Ungkap Amel menyusul.

__ADS_1


__ADS_2