
Di sebuah pertigaan yang menghubungkan jalan menuju arah Pasar tradisional malam dan jalan menuju arah jalan Tol untuk mengunjungi Camelia itu menjadikan tempat dimana Asep menunggu Kala melewati dirinya, Nani menatap layar ponselnya itu. Sebelumnya Nani mendapatkan sebuah pesan dari Askar yang tak lain adalah anak dari Asep itu yang mengatakan bahwa Kala memergoki kepergiaan nya, Asep pun memutar rencana untuk menunggu Kala melewati jalanan tersebut dan Ia tak lupa meminta bantuan teman nya untuk menggantikan dirinya dalam perintah majikan nya itu tanpa mereka ketahui. Asep dan Nani yang sudah berjanji akan menemui Camelia pun berharap Kala tidak mengikuti dirinya, karena semua ini atas keinginan Camelia.
Asep melihat kendaraan Kala yang melewati jalanan dimana Asep bersembunyi, dan seketika itu Asep memutarkan kendaraan nya untuk kembali memasuki jalan tol penghubung kota tersebut dengan kota dimana Camelia tinggal dan itu artinya Asep berhasil mengecoh Kala.
Ponsel Asep berdering, Ia melihat Kala mencoba menghubungi nya dan Asep sengaja tidak menerima panggilan tersebut.
“Nanti besok kalau Mas Kala Tanya bagaimana?”
Asep pun memutar kembali otaknya agar mendapatkan sebuah alasan yang sangat masuk diakal.
“Bilang saja kalau ponsel kita ketinggalan dirumah.” Ucap Asep, “Kita hanya mengantar bahan-bahan yang sudah kita beli untuk Camelia. Besok aku bisa minta tetangga sebelah yang dulunya sanga dekat Bu Eny untuk mengantar Camelia membeli kompor dan alat lainnya. Barang-barang seperti itu sudah sangat tidak layak untuk Camelia pakai.” Sambung Asep.
“Ini sudah pasti tidak akan mereka ketahui Kang?” Tanya Nani.
Asep menganggukkan kepalanya, “Semua ini akan tersimpan seperti aku yang selalu di minta untuk menyembunyikan keberadaan Bu Eny.” Sahut Asep, “Tenang saja, Bu Eny sudah melatihku sedari Aku muda.” Sambung Asep.
“Dan hal ini terulang kembali, namun bedanya Pak Barata mengetahui dimana keberadaan Bu Eny dan Bu Sun lah yang menginginkan ini. Sedangkan Mas Kala, Mbak Ninis dan Amel sangat begitu rahasia.” Ujar Asep kembali.
“Aku hanya mengikuti hati ku saja Kang, aku menyayangi Camelia.” Sahut Nani, begitupun Asep yang juga merasakan hal sama.
Perjalanan dari Rumah Sundari menuju rumah lama Eny berkisar 2 jam lamanya perjalanan, Sampailah mereka tepat di rumah tersebut. Asep keluar dengan barang-barang yang sudah ia timbun sebelumnya, Amel yang menyadari kedatangan Asep dan Nani segera membuka pintu tersebut. Amel pun memeluk Nani dengan erat, “Kamu baik-baik kan disini Mel?” Tanya Nani.
__ADS_1
Camelia berusaha menyembunyikan tangisan nya itu, “Iya Bi, Amel baik kok disini. Amel sudah sangat merepotkan Bibi sama Mang Asep.” Nani dan Asep menukas kalimat itu.
“Tidak sama sekali Mel, oh Iya ini ada beras dan sembako lainnya. Mang Asep sengaja membeli semua ini untuk satu pekan, takutnya ada pembusukan. Lemari pendingin nya masih bisa digunakan loh Mel, Biar Mang Asep cek ya.” Camelia tersenyum mendengar hal itu, Ia mengingat betul bagaimana Ia membersihkan lemari pendingin tersebut.
“Amel sudah bersihkan Mang Asep walaupun sedikitnya membuat Amel muntah. Tetapi lemari pendingin yang sudah 16 tahun tidak terpakai itu masih sangat bagus,” terang Amel.
“Wah, Mang Asep banggadeh sama Amel. Amel memang sangat mandiri.” Puji Asep untuk nya.
Nani pun mengusap pipi Amel, “Ya, Cucu Nani ini sehat kan. Yang kuat ya nak, jangan merepotkan mama mu.” Ucap Nani sembari tak henti mengusap perut Camelia.
“Tapi perut Amel belum besar ya bi, hanya saja mual nya sudah terlalu sering.” Nani tertawa kecil melihat tingkah polos Amel, Nani pun merangkul Amel dan membawanya untuk duduk di atas sofa yang berada di dekatnya.
“Bayi ini membuat Amel mual? Itu tandanya ia sangat aktif untuk berjuang bersama Amel. Bayi ini akan lahir dan menjadi pelindung bagi Amel.” Ucap Nani.
Mendengar hal tersebut, Nani pun tertawa dan Amel merasa terhibur.
Asep dan Nani tidak bisa lama-lama berada disana, Ia takut Jika Kala sedang menunggunya pulang. Asep pun berpamitan kepada Camelia dan meminta Camelia untuk menjaga diri dengan baik, “Mang Asep udah suruh Bunda Alia anak dari sahabat Bu Eny untuk menemani kamu, rumahnya tepat di samping ini.” Ujar Asep, Camelia pun mengangguk. Ia tahu betul Bunda Alia adalah seorang bidan di kampung tersebut, dan beberapa kali Alia selalu menyapa Amel saat Amel menyapu halaman rumah tersebut.
“Iya Mang Asep, terimakasih karena sudah menemui Amel malam-malam. Bi Nani juga, Makasih ya.” Nani memeluk Camelia, begitupun Asep yang juga memberikan pelukan kecil untuk gadis yang sudah ia anggap seperti anak gadisnya. Camelia pun masuk kembali kedalam rumah tersebut, ia melihat beberapa barang yang belum sempat di tata oleh Asep maupun Nani. Lalu saat ia melihat sebuah kotak berwarna hitam, Ia pun membukanya.
Sebuah buku harian yang sempat hilang itu ia temukan di dalam kotak tersebut, lalu sebuah surat balasan yang diberikan oleh Ibunya menandakan bahwa Asep telah berbicara pada Ibunya itu.
__ADS_1
Ya saat itu, hati Sumiati mengatakan bahwa Asep memiliki andil besar dalam kepergiaan Camelia. Sumiati mendesak Asep agar mengatakan jujur dan Sumiati berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Kala maupun Sundari, Asep pun mengatakan yang sebenarnya dan Sumiati merasa lebih tenang. Camelia membuka surat tersebut, “Teruntuk Camelia putri kesayangan Ibu, Ibu tahu sesuatu hal buruk tengah terjadi padamu. Ibu tidak marah bahkan tidak sedikitpun membenci dirimu anak gadis kesayangan Ibu, Ibu hanya ingin berterimakasih karena kamu sudah mau berkorban untuk keutuhan cinta di rumah ini. Ibu mendukung penuh apa yang kamu lakukan, Ibu berharap kamu hidup dengan aman walaupun kamu jauh dari Ibu. Nak, semangat mu akan membesarkan janin itu tertular pada Ibu yang beberapa hari ini sakit karena memikirkan kamu. tetapi Asep meyakinkan ibu bahwa kamu adalah wanita kuat, Ibu menitipkan cinta ini untuk Cucu ibu yang kini kamu kandung. Semoga doa ibu selalu menyertai mu, Ibu sangat menyayangi kamu dan berharap kita dapat bertemu di lain hari. Tertanda, Ibu Sum yang Amel sayangi.” Air matanya jatuh tak beraturan manakala membaca pesan tersebut, hatinya seakan tersayat saat satu persatu kalimat itu dibaca olehnya.
“Bu, Maafkan Amel. Maaf jika Amel sudah membuat Ibu bersedih hingga jatuh sakit. Amel salah tidak memikirkan ibu, akan tetapi Amel akan lebih menyakiti Ibu apabila kebenaran ini terhembus di telinga Ibu Sun. dan Ibu Sun akan membenci Amel juga Ibu, Amel tidak ingin hal itu terjadi.” Ungkapnya sembari memeluk secarik surat yang Ibunya selipkan di dalam kotak hitam itu.
Ingatan akan sosok Ibunya itu terlintas jelas dalam ingatan nya, wajah Ibunya yang tersenyum berseri membuatnya begitu sangat merindukan sosok Ibunya, pelukan hangat nya pun seakan ada dengan nya saat ini. “Ibu…Amel sangat merindukan Ibu…”
~OoooooO~
Beberapa jam pun berlalu, saat ini Asep terlihat memarkirkan mobil tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, Kala menghampiri nya dan bertanya, “Mang Asep darimana sama Bi Nani?” pertanyaan ini sudah sangat Asep duga akan Kala berikan padanya juga Nani, beruntunglah teman yang menggantikan Asep untuk berbelanja itu dengan baik hati menunggu kedatangan Asep dan Asep sudah pasti memiliki jawaban akan hal tersebut.
“Mang Asep tadi kepasar Tradisional di tempat biasa, eh barang yang di inginkan Ibu kosong. Akhirnya Mang Asep cari di tempat lain, kasian sekali Bi Nani sampai tertidur di dalam mobil.” Jawabnya.
Asep berusaha untuk tidak gugup, “Mas Kala belum tidur?” Tanya Asep, Nani menyadari keberadaan Mas Kala. Ia pun segera keluar dan berusah untuk tidak gugup juga, “Nani lanjut tidur saja, biar akang yang bereskan belanjaan nya.”
Kala pun mempersilahkan Nani untuk masuk, Ia masih terdiam seraya memperhatikan gelagat supirnya itu. Lalu bertanya kembali, “Kala belum tidur Mang, sengaja nunggu mang Asep dan Bi Nani. Oh Iya, beli apa saja Mang?”
“Banyak Mas, kalau bahan-bahan basah nanti di kirim jam 9 pagi.” Sahut Asep, Kala pun mengangguk. Ia melihat tidak ada tanda-tanda Asep berbohong atau menutupi sesuatu darinya.
“Ya sudahlah, Kala masuk ya Mang.” Kata Kala.
“Baik Mas silahkan.” Jawab Asep dengan di selipi sebuah senyuman.
__ADS_1
Kala pun masuk kedalam rumah nya dan Asep kembali membereskan barang yang sudah tersimpan di belakang mobilnya itu, “Beruntunglah saya tidak gugup.” Ucap Asep di dalam hatinya.
Kala tidak semudah itu percaya, Kala berniat untuk membayar orang yang nantinya bertugas untuk mengikuti kemanapun Asep pergi dan Kala berharap jika Ia menemukan sebuah petunjuk mengenai keberadaan Camelia.