
Hari pemakaman pun sedang di gelar, dari kejauhan sosok Kala melihat sebuah plester menempel di dahi milik wanita yang sudah Ia nikahi selama 6 Bulan ini. Ia begitu aneh dengan sikap Ninis setelah beberapa jam menghilang, Kala berusaha untuk tidak mengatakan bahwa dirinya sempat mencari keberadaan Ninis. Dan Ninis seakan tidak mengira bahwa Kala mengetahui kemana Ninis pada Malam perbincangan Kala dengan Ayah mertuanya, "Dari mana dia Malam tadi dan setelah pulang, Ia malah masuk ke kamar gadisnya tanpa mengajak ku berbicara." Kala mencoba mencermati Perilaku Ninis, bahkan Kala menyadari bahwa sosok Andre berdiri jauh di belakang Ninis, Andre sengaja tidak berada di dalam kerumunan para pengantar jenazah itu.
Kala yang masih memfokuskan diri pun berniat untuk menghampiri sosok Andre, Kala menundukkan kepalanya dengan sengaja Agar Andre tidak memperhatikan keberadaan nya.
Sementara itu, Regi dan Ninis sedang menabur bunga di atas makam Widia. Seseorang meminta agar Kala juga menaburkan bunga tersebut, "Berikan bunganya pada Mas Kala, beliau menantu satu-satunya Ibu Widia saat ini." Ninis menatap mata Suaminya, lalu memberikan tempat bunga itu kepada Kala.
Satu persatu orang-orang yang mengantarkan Widia pun berpamitan pulang, kini tersisa hanya Kala, Ninis, Regi, Aji dan Sundari. Sundari berbisik pada Kala, "Temui Ibu saat kamu sudah selesai, Ibu menunggu mu di rumah." Kala menganggukkan kepalanya, Sundari pun berpamitan kepada Aji juga Ninis. Ia tidak lupa memeluk Ninis, "Tidak usah bersedih, kamu masih memiliki Ibu. Jangan Sungkan jika membutuhkan sesuatu, Ibu akan selalu siap untuk membantu mu." Ungkap Sundari,
Ninis pun menjawab, "Terimakasih Bu, Ibu akan selalu menjadi Orang Tua Ninis. Ninis beruntung memiliki Ibu mertua seperti Ibu."
Sundari tersenyum, lalu sedikit menganggukkan kepalanya. Sundari berpamitan kepada mereka semua, Kala meminta ijin Untuk membawa Ibunya dari pemakaman itu seraya mengantarnya menuju mobil yang terparkir, namun sepertinya Bukan itu yang menjadi niat dari Kala.
Setelah Kala mengantar Ibunya, Kala terlihat menghampiri sebuah mobil berwarna hitam yang sedang terparkir tidak jauh dari pemakaman. Mobil tersebut adalah mobil Andre, Kala tahu Andre telah meninggalkan lokasi pemakaman bersama orang-orang pengantar itu.
Kala mengetuk kaca samping kemudi dimana Andre duduk di dalam nya, Andre pun membuka kaca tersebut.
"Ada Apa ya Mas?" Tanya Andre yang sengaja berpura-pura tidak mengenal sosok Kala.
Kala mendengus, "Aku butuh berbicara dengan mu! Dan kau tidak perlu bertanya ada apa, sampai kau berpura-pura tidak mengetahui ku." Tuturnya dengan nada yang begitu tegas.
Kala menarik nafasnya, Ia memegang pinggang nya itu dengan menggunakan kedua tangan nya.
"Dokter Andre Safi, Lulusan Amerika yang bertugas di Rumah sakit Umum di Daerah Jakarta Pusat. Aku mengenal mu! aku tahu hubungan mu dengan Istri ku belakangan ini. Um.. Maaf Mantan Istriku mungkin... " Papar Kala dengan nada yang angkuh, "Aku tidak akan melaporkan perselingkuhan kalian kepada siapapun, termasuk kepada Petinggi kalian. Yang aku inginkan, Kita bicara secara baik-baik." Sambung Kala.
Andre terdiam sejenak, "Baik, tetapi apakah baik jika kita berbicara disini Tuan Kala?" Tanya Andre pada Kala, Kala melihat sekeliling nya itu. Dari kejauhan keluarga kecil Istrinya sedang berjalan meninggalkan area pemakaman, "Dimana kita bisa berbicara?" Tanya Andre.
"Di Burst Cafe, Aku menunggu mu jam 7 malam." Ucap Kala, Andre pun menganggukkan kepalanya.
"Pergilah, Jangan sampai Ninis melihat kita berbincang." Lanjutnya saat itu, Andre kembali menganggukkan kepalanya itu. Tanpa menunggu lama, Andre pun pergi dan Kala terlihat menghampiri Istri dan Bapak mertuanya itu.
"Apa kita pulang sekarang?" Tanya Kala pada Ninis, Ninis mengangguk pelan. Regi pun mengangguk, mereka benar-benar terlihat sangat lemah. Regi mengendarai mobilnya seorang diri dan Kala terlihat mengendarai mobil yang juga membawa Aji dan Ninis di dalam nya.
"Lihatlah, anak itu mana mau berubah. Apalagi saat Ibu tidak ada, Ia tidak akan datang saat Bapak Mati." Gerutu Aji sembari menatap sinis kearah mobil yang Regi tumpangi.
Dada Ninis terasa sesak saat mendengar ocehan sang Ayah, "Ninis mohon Pak, tolong jangan melakukan pertikaian dengan Regi. Regi cukup terpukul dengan kepergiaan Ibu, dan apakah Bapak ingat pesan Ibu?" Tanya Ninis, "Seharusnya Bapak berlaku adil pada Kami, sehingga Regi tidak berpikir bahwa Bapak hanyalah menyayangi Ninis. Kasihanilah dia Pak," Ungkapnya kembali.
"Terserah anak itu mau berpikir apa tentang Bapak!' Oceh nya kembali, Ninis memegang sebelah kepalanya dengan menggunakan salah satu tangan nya. Entah harus mengatakan apalagi kepada Ayahnya itu, yang jelas Aji memiliki sikap keras kepala melebihi keras nya batu.
__ADS_1
"Aku sangat menyesal karena menikahi wanita itu dan ia harus melahirkan anak muda pembangkang seperti dia! Maafkan aku Widia, karena Ulah ku kamu harus mengurusnya. seharusnya kamu tidak perlu menerima dia di rumah itu, Anak Wong Edan!" Gerutunya kembali, Ninis menggelengkan kepalanya itu.
Ninis pun mengusap tangan Ayahnya yang duduk di kursi belakang kemudi, "Bapak, Ingat toh bapak gak boleh banyak kesal. kesehatan Jantung Bapak sangat penting, Ingat ya." Aji Brawijaya itu pun mengangguk manakala sang Putri mencoba mengingatkan dirinya.
Ninis menoleh kearah wajah suaminya itu, "Mas Kala sudah makan Mas?" tanyanya dengan raut wajah yang ramah, Kala tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
Melihat ke tidak-ramahan Kala membuat Ninis merasa kembali sakit hati, Ninis pun memilih untuk tidak lagi banyak berkomunikasi kecuali sosok Kala yang mengajaknya berbincang terlebih dahulu.
Dalam hatinya, Kala pun bergumam.. "Pantas saja, Ayahnya sempat menyelingkuhi Ibunya. Dan kini, Ninis mengikuti jejak Ayahnya.
Sampailah Kala di halaman kediaman Ninis, Kala tidak melihat mobil yang di tumpangi oleh adik iparnya terparkir di halaman tersebut. Kala enggan memikirkan hal itu, Kala pun keluar dari dalam mobil itu.
Kala bertanya pada Aji, "Apa akan ada acara berdoa bersama untuk Ibu?" Tanya Kala.
Aji menjawab, "Ya, namun di dalam keluarga kami tidak mencapai 7 hari. Hanya sekali di saat pemakaman selesai." Kala pun memahami kebiasaan di dalam keluarga Ninis, karena saat Anggota keluarga dari keluarganya selalu mengadakan acara doa bersama sampai 7 hari setelah itu mereka kembali melakukan Acara doa bersama di hari kepergian ke 40.
"Apa kamu akan menginap di sini Nis malam ini?" Tanya Aji.
Ninis menoleh kearah wajah suaminya, "Ninis boleh menginap disini Pak, tetapi sepertinya Kala akan pulang." Aji menolak apa yang Kala katakan.
"Tidak, tidak boleh. Pamali." Tukasnya, Kala mengerutkan dahinya itu. Lalu Aji kembali berucap, "Menginap lah bersama Ninis disini, satu hari saja." Aji terlihat mengatupkan kedua tangan nya, Aji seakan memohon kepada Kala.
Aji menganggukkan kepalanya, “Baiklah, temui Ibumu dulu. Setelah itu kamu harus kembali, berjanjilah pada Bapak.” Ucap Aji, Kala menganggukkan kepalanya.
Kala berpamitan kepada Aji, namun Ia lupa untuk mengatakan kepergiaan nya pada Ninis dan hal itu menunjukkan bahwa hubungan nya bersama Ninis benar-benar dalam keadaan tidak baik. Aji pun memanggil Kala yang terlihat sudah membuka pintu kemudi nya, “Kala…”
Kala menoleh, “Iya Pak..” jawab nya saat itu juga.
“Acara doa bersama pukul 4 Sore, jangan lupa ikuti Acaranya.” Kala mengangguk kan kepalanya.
Sementar itu, di tempat lain Regi terlihat menghampiri Andre yang berada di dalam rumahnya. Andre keluar dan menemui sosok Regi, “Apa kabar Dek?” Tanya Andre.
“Seperti yang Kak Andre lihat, Regi dalam keadaan baik. Walaupun Kak Andre tahu betapa terpukulnya aku mengenai kehilangan sosok Ibu, tetapi Kak ada hal yang mengganjal benak Regi.”
‘Apa itu?” Tanya Andre.
“Apa yang Kak Andre lakukan tadi malam dengan Mbak? Apa Kak Andre masih menjalani hubungan dengan Mbak Ninis di belakang kami?” Tanya Regi, “Dan, Regi sadar bahwa tadi Kak Andre berada di sekitaran Pemakaman.” Tambahnya.
__ADS_1
Regi menganggukkan kepalanya, “Kau tahu jika aku tidak bisa melupakan kakak mu!” Ucap Andre.
“Ya, Aku tahu. Tetapi apakah Kak Andre sadar jika kakak ku sudah bersuami?” Tanya Regi kembali, sorot mata nya tajam dan seperti nya Regi memang sedang dalam keadaan marah.
Andre menarik nafasnya dengan kasar, “Dia tidak bahagia hidup dengan lelaki itu! Pilihan Bapak mu salah! Dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Ninis.” Ucap Andre pada mantan calon adik iparnya itu, “Banyak Hal yang tidak kamu ketahui Regi, Banyak hal yang Mbak mu sembunyikan dari mu.” Sambung Andre.
“Maka beritahu aku!” Ucap regi dengan nada yang cukup tinggi.
Andre sedikit menundukkan kepalanya, lalu ia terlihat mencoba menenangkan dirinya. Andre memang memiliki sifat tempramen dan Ia sama sekali sulit untuk mengontrol emosinya itu, “Aku tidak bisa mengatakan hal yang menurut Ninis tidak perlu kamu ketahui, Jika kamu mau, kamu boleh tanyakan pada Ninis!” Regi terlihat begitu kesal saat mendengar jawaban yang di berikan oleh Andre, “Pergilah Regi, keluarga mu sangat membutuhkan kamu saat ini. Tolong, jangan buat kakak mu selalu bertikai dengan Ayah mu karena keegoisan kalian berdua.” Tambah Andre, sepertinya Andre memang banyak mengetahui keadaan di rumah Ninis. Ya, tentu saja. Andre dan Ninis memiliki hubungan yang cukup lama.
Regi menatap lekat wajah mantan calon kakak iparnya itu, tanpa mengatakan apapun Regi kembali masuk kedalam mobil miliknya. Lalu Andre menghampiri Regi, “Inga tapa yang terjadi pada kakak mu, akan menjadi sebuah masalah untuk keluarga Barata. Mereka tidak akan bisa menerima apa adanya kakak mu, karena hanya aku yang akan mengerti keadaan nya.” Ungkap Andre.
“Keluarga Barata sangat menginginkan Cucu dan Mbak mu tidak akan pernah bisa memberikan nya! Lebih baik, Mbak mu mundur sedari sekarang, sebelum rasa sakit itu semakin membesar.” Sambung Andre, Regi terlihat memalingkan wajahnya. Ia juga mengetahui keadaan medis kakak nya itu, dan hal itu sempat ia ragukan saat sang kakak menerima perjodohan yang di tawarkan oleh Ayahnya.
Regi pun memilih untuk segera pulang, ingin sekali rasanya ia membahas perihal ini. Dan benar, Regi melihat adanya kebahagiaan palsu yang di tunjukkan oleh Kala maupun Ninis. Apalagi semenjak ia pulang dari Amerika, Ninis sering sekali menunjukkan mata bengkak sehabis menangis saat melakukan panggilan Video bersamanya dan Regi hanya berharap bahwa dugaan nya mengenai hubungan rumah tangga yang tidak harmonis itu salah.
Sesampainya Regi di halaman rumahnya, Ia melihat Ninis yang duduk di teras rumahnya seorang diri dengan lamunan yang sangat berat. Regi segera keluar dari dalam mobilnya itu, lalu menghampiri kakaknya itu.
“Mbak..” Sapa Regi, Ninis yang baru saja tersadar dari lamunan itu terlihat begitu terkejut dengan kehadiran adik nya.
Ninis pun sedikit memaksakan senyuman sembari menyipitkan matanya, “Ya Tuhan Dek, Mbak kaget loh.” Regi tersenyum, Ia pun duduk di samping kakaknya itu.
“Mbak, lagi apa sih? Mas Kala mana?” Tanya Regi.
Ninis pun menjawab, “Mas Kala pulang dulu, katanya mau berbincang bersama Ibunya.”
Mendengar jawaban itu, Regi terlihat mengerutkan dahinya.
“Kaya gak ada hari esok saja.” Pekiknya, Ia mengingat dimana ia melihat sosok sundari. Ia coba mengingat terus menerus, namun rasa lelah hendak melanda. Ia pun tidak ingat dimana Ia pernah melihat sosok Sundari, “Regi besok balik ke Bogor ya, boleh?” Tanya nya pada Ninis.
“Kamu cuti satu minggu kek, Mbak kasihan sama Bapak. Kita temani dulu Bapak, bisakan?” Rengek Ninis pada adiknya itu, Regi menggelengkan kepalanya.
‘Bapak gak butuh Regi, Udah Mbak aja yang temani Bapak. Nanti Mbak kan bisa kabar-kabaran sama Regi.” Ucapnya sedikit menolak, Ninis menganggukkan kepalanya. Ia memegang tangan adiknya itu, “Mbak jangan kebanyakan sedih ya, kalau ada apa-apa itu cerita nya sama Regi. Jangan sama orang lain.” Pinta adiknya itu, Regi sengaja mengatakan hal itu agar Ninis tidak menceritakan permasalahan hidupnya pada Andre.
‘Adek jangan lupakan Bapak, jangan lupakan Mbak juga. Jangan ambil hati kalau Bapak menggerutu atau memarahi adek. Sebenarnya bapak tuh sayang sama Adek, hanya saja kalian itu lahir di hari yang sama. Konon katanya kalau begitu suka kaya musuh.” Celoteh Ninis sembari tersenyum, Regi menganggukkan kepalanya.
“Iya Mbak, Regi masuk dulu ya. Semalaman Mas Kala ajak Regi ngobrol jadi Regi gak tidur sama sekali.” Keluhnya itu dengan manja, Ninis tersenyum dan mengangguk dengan pelan seraya mengijinkan adeknya untuk mengistirahatkan matanya.
__ADS_1
“Ya udah nanti Mbak bangunin ade ya, jangan lupa mandi. Kalau kata Bapak, pamali Dek kalau dari makam gak mandi dulu. Nanti kesambet.” Regi mengangguk, sebuah kecupan kecil ia berikan di ujung kepala kakaknya dan hal itu diam-diam terlihat oleh sosok Aji.
Aji bergumam, “Mereka memang saling menyayangi, namun entahlah mengapa hatiku selalu membenci anak tak berdosa itu. Kau benar Widia, kau saja bisa menerimanya dan mengapa aku tidak. Aku yang jelas-jelas adalah ayah biologisnya!” Aji merasa bersalah, akan tetapi kerasnya hati aji tidak mampu membuat aji menuju kebaikan kepada anak lelakinya itu.