INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 19


__ADS_3

Di dalam keheningan malam, Kala terdiam seorang diri di hadapan kolam renang rumahnya itu. Betapa terkejutnya ia melihat rekaman pengintai yang berada di sekitar rumahnya itu, ia melihat Camelia berjalan dengan pelan dan menghampiri satu persatu kamar tersebut. Namun, Camelia tidak mengetuk ataupun mencoba masuk kedalam kamar. Ia hanya berdiri seakan kehilangan arah, namun saat ia mencoba mencari sebuah camera pengintai yang berada di area belakang, alat tersebut tak berhasil merekam aktifitas di area tersebut.


Dan Kala berpikir jika kepergian Camelia melalui pintu belakang, Kala pun sempat meminta keamanan setempat untuk memberinya hasil rekaman area tersebut. Dan mereka menjawab bahwa area tersebut sudah lama tidak memiliki akses CCTV.


Kala melupakan perihal rekaman kamera pengintai itu, ia akan fokus mencari tahu dimana keberadaan Camelia saat ini walaupun mungkin saja Kala merasa sulit untuk mendapatkan keberadaan Camelia.


Seseorang berdiri tepat di belakang Kala, "Sudah malam Mas, bisakah kita masuk." Ajak Ninis.


Kala pun segera menoleh, ia beranjak dari duduk lamanya itu. Lalu merangkul Ninis dan mengajaknya untuk masuk, "Mas, Ninis tahu ini gak mudah. Tetapi kita harus berpikir dengan kepala yang dingin, Mas yakin ya kalau kita akan menemukan Camelia." Kala begitu ingin mengatakan hal yang sudah terjadi pada Ninis, akan tetapi Kala tidak tahu apakah Ninis akan menerima Kala atau bahkan Ninis akan melaporkan Kala kepada Ibunya.


"Besok Mas kerja, kita tidur saja ya." Kala menolak untuk membahas mengenai Camelia, Ninis pun menganggukkan kepalanya. Entah mengapa saat ini Ninis begitu sangat memikirkan keberadaan Camelia, Ia pun seakan terus menerus memperhatikan gelagat buruk yang di tunjukan oleh suaminya.


Baru kali ini Ninis merasa jika Suaminya begitu risau akan kepergian Camelia yang secara tiba-tiba, Ninis merasa jika Suaminya terlihat begitu rapuh dan menjadi pendiam.


Saat memasuki kamar mereka, Ninis kembali melihat raut wajah suaminya itu. Kala tidak dapat menyimpan duka yang menyelimuti nya saat ini, "Mas, maafkan Ninis sebelumnya. akan tetapi, semua ini harus Ninis tanyakan agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita." Ucap Ninis dengan sangat hati-hati, Kala pun duduk di tepi ranjang dan Ninis yang berdiri dihadapan nya itu menatap nya dengan lembut.


"Katakanlah istriku, mengenai apa yang akan kamu tanyakan kepada ku." Sahut Kala dengan membalas tatapan lembut Ninis.


Ia memejamkan matanya dan menarik napas nya dalam-dalam, lalu kembali menatap wajah suaminya. Lalu ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya mengenai kedekatan Kala bersama Camelia, "Apa Mas dan Camelia hanya dekat sebagai adik dan kakak saja? Atau mungkin kedekatan kalian sangat spesial melebihi itu, dengan kata lain ada romansa di dalam nya." Air mata Ninis tak sengaja menetes manakala bertanya hal seperti itu.


Kala menarik kedua tangan nya itu lalu menggenggam nya dengan erat, "Apa yang kamu tanyakan Nis, semua ini malah membuat perasaan mu tak karuan."

__ADS_1


"Bahkan jika tidak aku tanyakan hal ini dan aku tidak mendapatkan kepastian mengenai jawaban nya, itu yang akan membuatku resah dan tak karuan Mas." Sela nya, Kala menundukkan kepalanya.


"Boleh kita tidak membahas ini?" Tanya Kala.


Ninis menggelengkan kepalanya, "Tidak mas, Ninis mau kamu jawab jujur!" Desak Ninis dengan tatapan yang kini berubah menjadi tatapan tajam.


Kala terdiam dan enggan mengatakan apapun, pertengkaran ini bermula saat Ninis melihat gelagat aneh saat pertama Sundari mengatakan hal yang sedang terjadi, bahkan sedari tadi Ninis mencoba untuk menahan nya.


Awal mula Ninis tidak pernah berpikir bahwa Camelia adalah orang spesial di hari Kala sebelum Kala menikahi dirinya, walaupun berulang kali Kala tidak sengaja mencetuskan nama Camelia saat bersama dengan nya. Dan saat tadi sore sepulangnya dari Bandara, wajah Kala begitu berubah sedari tenang menjadi risau saat tahu kepergiaan Camelia.


Dan hati Ninis mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi didalam hubungan mereka, apalagi Ia mengingat betul bagaimana sikap dingin Camelia saat melihat kebersamaan Kala dan dirinya dan Hal itu semakin di perkuat mana Kala menyendiri di tepi kolam renang sesaat tadi.


Kala semakin memegang erat tangan Ninis dan sebaliknya Ninis seolah ingin melepaskan genggaman erat tangan Kala, "Please, jangan begini Nis." Bujuknya untuk Ninis.


"Jikalau memang seperti itu mengapa Mas begitu memikirkan nasib Camelia, dan apa alasan dia pergi saat Ibu dan Mas sudah memberinya fasilitas pendidikan yang sangat bagus! Masalah besar pastinya sedang terjadi di dalam diri Camelia, dan aku sangat yakin pernikahan kita adalah dalang nya!" Resah Ninis begitu sangat besar, ia memikirkan semuanya memakai logika di dalam dirinya dan Kala tidak tahu harus mengatakan apa saat melihat Istrinya itu berubah seketika.


"Nis bisakah kita berbicara mengenai ini di lain waktu? Aku capek, aku besok sudah mulai beraktivitas dan aku mohon kamu memahami diriku!" Ninis menatap nya kembali, "Apa kau yakin dengan tuduhan mu kepada ku juga Camelia, kita memang dekat tetapi tidak juga harus memiliki perasaan seperti itu. Dia sudah seperti adik ku dan kalau pun itu terjadi, Aku akan menolak pernikahan ini." Tegas Kala untuk Ninis itu terlihat dari nada bicara serta tatapan tajam yang diberikan Kala untuknya, sebuah perasaan lain muncul di dalam benak Ninis. Ninis merasa jika apa yang ia lakukan sudah sangat keterlaluan dan ia begitu sangat menyesal karena sudah membuat Kala marah seperti itu.


"Baiklah Mas, maafkan Ninis karena Ninis sudah sangat menuduh Mas. Ninis hanya takut jika kehadiran Ninis lah yang membuat Camelia pergi. Jika memang hal itu terjadi, Ninis harus melakukan apa." Ungkapnya, "Ninis tidak mau kehilangan Mas, Mas orang yang sangat Ninis cintai. Ninis gak mau hidup tanpa Mas." Sambung nya, Kala terdiam dan entah mengapa perasaan nya berubah ketika mendengar kalimat yang baru saja Ninis ucapkan.


Walaupun memang sebenarnya Kala masih mencoba untuk mencintai Ninis karena sebuah ikatan pernikahan yang sudah terjadi itu, akan tetapi perasaan nya saat ini seketika berubah menjadi perasaan yang begitu dingin. Atau mungkin saja Kala sedang memikirkan keberadaan Camelia dan berpikir jika memang ada janin yang tumbuh dan Kala harus mempertanggungjawabkan semua itu, Kala yang memiliki sikap tanggung jawab pun merasa jika dirinya harus menemukan Camelia, walaupun begitu sulit menemukan sosok Camelia yang entah pergi kemana.

__ADS_1


Ninis duduk di samping Kala, melihat Kala yang sedikit melamun membuat Ninis yakin kembali mengenai apa yang ada di benaknya saat ini. Ninis memegang tangan suami nya kembali, "Mas, Maafkan Ninis."


Kala beralih menatap nya kembali, "Ya sudah lupakan saja, tidur ya. Esok juga Ninis harus ke rumah sakit bukan?" Tanya Kala.


"Iya Mas."


"Jangan lupa Cek juga siapa tahu Tuhan sudah memberikan kita calon bayi yang sangat lucu." Ninis pun tersenyum dan sedikit mengangguk saat membalas kalimat tersebut.


Mereka pun merebahkan dirinya bersama-sama, Ninis yang merasa sangat begitu lelah pun segera terlelap tidur dan Kala yang masih terjaga itu kembali memikirkan dimana keberadaan Camelia.


Ia memutar ingatan nya saat ia bertemu dengan Camelia di taman, Camelia yang pada saat itu terlihat sengaja menyembunyikan secarik kertas yang mirip dengan kertas hasil pemeriksaan membuat kala curiga bahwa Camelia menutupi sesuatu. Dan saat ini Kala menyadari bahwa benar Camelia sedang dalam keadaan mengandung saat bertemu dengan nya, Ia begitu sangat mengkhawatirkan Camelia, apalagi Kala yakin bayi itu adalah benih yang Kala tanam pada malam itu.


Dalam hatinya Kala berucap kerisauan nya, "Mengapa kau melakukan ini semua Camelia, ini sudah sangat jelas kesalahan yang kamu buat untuk kedua kalinya. Mengapa kamu berkorban untuk pernikahan ku dengan Ninis, mengapa juga kamu berkorban untuk nama baik ku di hadapan Ibu. Mel, Aku harus menemukan dirimu. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lalui saat ini, jangan pernah pergi Mel dalam keadaan seperti itu."


Kala menyadari semua kesalahan nya, apalagi saat itu Kala bersikap jutek pada Camelia dan mengatakan bahwa Kala merasa risih saat Camelia mendatangi kamar nya untuk sekedar mengambil pakaian kotor. Kala menyadari apa yang terjadi murni atas kesalahan besarnya, dan Kala begitu benar-benar sangat ingin menemukan Camelia.


Kala membuka layar ponselnya, ia pun berjalan menuju balkon kamarnya. Dan tak sengaja melihat kepergiaan Asep bersama Nani, Kala merasa curiga akan kepergiaan mereka. Kala pun segera berlari sembari membawa kunci mobilnya dan bergegas untuk mengikuti Asep juga Nani yang sudah terlebih dahulu keluar bersama mobil hitam yang selalu di kendarai oleh Asep.


Kala kesulitan membuka kunci rumahnya, namun setelah berusaha lebih lagi ia pun berhasil membuka kunci rumah tersebut. ia juga bertemu satpam rumahnya dan bertanya kepada Satpam tersebut, "Apa Mang Asep mengatakan sesuatu tadi?" Tanya Kala.


"Katanya mau belanja ke pasar tradisional malam buat kebutuhan di panti, Ibu yang menyuruh mereka." Kala tak begitu saja mempercayai Satpam tersebut, pasalnya kepergian Camelia pun tidak diketahui oleh Satpam tersebut dan yang sebenarnya terjadi Satpam yang tak lain adalah Anak dari Asep pun sangat mengetahui kemana sang Ayah dan Nani membawa Camelia.

__ADS_1


Namun ia mematuhi perintah ayahnya untuk mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu atas kepergian Camelia, Kala berhasil mengeluarkan mobilnya itu dan Ia bergegas untuk menyusul kemana mobil yang dimana ada Asep juga Nani di dalam nya.


__ADS_2