
Sementara itu di tempat yang berbeda, sebuah layar menunjukkan aktifitas janin yang sedang Camelia kandung. Regi tersenyum saat membantu Camelia dalam melakukan USG untuk anaknya itu, “Ini kepala nya Mel, ini kaki dan dia masih sangat kecil. Dia tumbuh kembang dengan sangat baik. Kamu tidak perlu khawatir Mel. Dia kuat.” Papar Regi yang menjelaskan bahwa keadaan bayi Camelia sangatlah sehat.
“Dia perempuan atau laki-laki Mas?” Tanya Camelia.
“Sepertinya bulan depan baru bisa saya kabari, saya gak yakin dengan jenis kelamin nya saat ini. Dan usia kandungan masih sangat kecil,” jawab Regi kembali.
Alia pun mengusap bahu kanan Camelia sembari tersenyum kepada Camelia, “Bayi kamu masih berusia 4 bulan, itu pun belum pas 4 bulan dan itu artinya 5 bulan lebih lagi bayi itu akan lahir.” Ungkap Alia.
“Ya, betul.” Timpal Regi kembali, Ia membersihkan Jelly untuk melancarkan tehnik USG itu. Lalu kembali menutup perut milik Camelia, “bulan depan periksa lagi, tetapi jangan juga terlalu sering melakukan USG.” Sambung Regi.
Camelia tersenyum, “Amel gak sabar mau gendong dia.” Ungkap nya saat itu juga.
__ADS_1
“Percayalah anak ini sangat sehat, tensi darah mu juga sehat dan nanti saya akan ambil darah kamu. biar perawat membawanya menuju Lab di rumah sakit besar kabupaten.” Kata Regi yang segera memberitahu.
Camelia menatapnya, “Tes darah untuk apa Mas?” Tanya Camelia kembali, Regi cukup senang dengan apa yang selalu Camelia tanyakan. Rasa ingin tahu Camelia begitu besar, dan bagi Regi seseorang yang memiliki sikap seperti itu adalah seseorang yang sangat cerdas.
Regi pun kembali menjelaskan kepada Camelia, “Semua itu sangat wajib, kita harus tahu apakah ibu yang sedang mengandung tidak memiliki riwayat yang akan membahayakan atau mungkin bisa saja memiliki riwayat tersebut. Kita tidak bisa hanya mengecek di luar saja, kita juga harus mengecek bagian dalam juga dengan melakukan cek darah.”
“Amel pernah melakukan itu Mas.” Ucap Camelia.
“Saat Amel tahu hamil?” Tanya Regi kembali.
“Hasilnya apa? Apa masih ada?” Tanya Regi kembali.
__ADS_1
Amel menjawab, “Ada Di rumah Mas. Nanti Amel tunjukkan ya.”
“Baiklah, kamu memang wanita yang sangat cerdas. Beruntung sekali suami mu memiliki mu.” Sambut Regi, Camelia menunduk ragu saat mendengar kalimat yang di katakana oleh Regi. Alia pun mengusap punggung tangan Camelia seraya menenangkan hati Camelia, “Semoga Mas juga kelak mendapatkan wanita yang cerdas seperti mu.” Pujinya kembali.
Camelia menunjukkan raut wajah yang begitu kikuk saat mendengar pujian yang di berikan Regi untuknya, “Oh Iya, Mas mau makan dulu masakan buatan kamu. kalau bisa, Amel dan Bu bidan juga ikut makan. Ini cukup banyak untuk saya, dan jika tidak habis sangat di sayangkan.” Ujar Regi kembali.
“Kebetulan saya sudah makan, biar Amel saja yang makan. Ibu hamil harus banyak asupan gizi baik,” Selorohnya saat itu.
“Em.. Enggak Mas, Amel masih sangat kenyang.” Tolak Camelia segera.
Regi mengernyitkan dahinya itu, “Saya kecewa, tadi Amel sudah janji akan menemani saya makan dan berbincang. Sebagai sahabat baru, itu sangat tidak di anjurkan.” Lontar Regi sembari mengerucutkan bibirnya itu.
__ADS_1
Amel tertawa kecil saat mendengar sebuah kalimat yang di lontarkan oleh Regi, “Kalau begitu baiklah, tetapi hanya sedikit saja ya.” Kata Amel, “Bunda makan satu kotak berdua dengan Amel ya.” Lanjutnya dan Alia mengangguk dengan pelan. Pertemuan mereka menjadi awal persahabatan mereka, entah mengapa kali ini Camelia merasa nyaman dengan orang-orang yang menurutnya sangat asing untuk dirinya dan mengingat sifat Camelia yang selalu saja dapat membuat orang menyayangi nya pun membuat ia tidak lama dalam beradaptasi.
Camelia bergumam dalam hatinya itu, “Bu lihatlah, Ibu selalu mengajarkan Amel untuk selalu mendapatkan kasih sayang dari orang yang mengenal Amel. Amel bahagia bu disini, Amel akan tetap membesarkan anak ini dengan apa adanya Amel. Semoga Tuhan selalu menjaga Amel juga Ibu yang kini hidup berjauhan dengan Amel, Amel sangat menyayangi Ibu. Amel juga sangat merindukan Ibu, Amel berharap Ibu selalu ingat dan selalu memaafkan Amel.” Ait mata nya menetes begitu saja, dan sebelum Alia juga Regi menyadari hal itu, Camelia pun segera menyeka air mata yang sempat menetes itu.