
Setelah mendengar sedikit Informasi mengenai suaminya itu, Ninis sedikit merasa kebingungan. Di satu sisi, Andre dinilai memiliki keinginan untuk memisahkan Kala dengan dirinya. Akan tetapi apa yang dikatakan Andre sama persis dengan apa yang sedang terjadi, bahkan delapan puluh persen yang di katakan Andre adalah kenyataan.
Ninis yang sedang berjalan menyusuri lorong Mall itu berjalan dengan mata yang terlihat kabur, ia melamun di dalam keheningan tempat menuju dimana mobil itu terparkir.
"Apa benar Mas Kala yang membuat Amel pergi?" Tanya nya dalam hati, "Apa benar Mas Kala yang menyembunyikan Amel?" Tanya nya kembali di dalam hatinya itu.
Ia membatin sedih, ia tak tahu harus mengatakan apa saat nantinya ia melihat Kala di hadapan nya. Ingin sekali rasanya ia menunjukkan foto yang di miliki Andre tersebut, akan tetapi Andre belum memberikan foto itu dan tidak ada bukti yang harus Ninis tunjukkan kepada Kala mengenai pertanyaan nya kelak.
Langkah nya terhenti manakala ia keluar dari pintu Mall yang menghubungkan dirinya dengan mobil miliknya itu, "Ya Tuhan tolong berikan petunjuk bagi ku, apa benar Mas Kala menyembunyikan Amel? Lantas untuk apa? Ada apa diantara mereka berdua. Dan mengapa Mas Kala tega memiliki rahasia sebesar itu, kami baru menikah, dia baru menerima keberadaan ku! Tetapi ia sudah memberikan luka seperti ini padaku!" Batinnya kembali.
Setelah puas memikirkan hal tersebut, Ninis pun segera berjalan menuju mobil miliknya. Ingin sekali ia pulang menuju rumah sang Ayah, akan tetapi bukan hal yang baik jika Ninis pulang dalam keadaan seperti ini.
Ninis memasuki mobil miliknya, ia duduk di dalam kursi kemudi dan suara ponsel memecahkan segala sesuatu yang sedang Ninis pikirkan. Ninis melihat ponsel miliknya itu, "Mas Kala menelpon ku." Melihat Kala yang sedang menghubungi dirinya itu, ia pun segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, Assalamualaikum Mas." Sapa Ninis.
Kala pun menjawab, "Waalaikumsalam Nis, Mas cuma mau mengabari kamu saja. Sepertinya hari ini Mas tidak dapat pulang, besok pagi Mas mau ketemu sama Klien di daerah Depok. Ini Mas juga sedang mencari penginapan, maaf lupa mengabari Ninis."
Hatinya begitu takut jika Kala sedang berusaha membohongi dirinya, "Nis.." Panggil Kala.
"Ah Iya Mas, Mas dimana sekarang?" Tanya Ninis.
"Di perbatasan Depok, kebetulan lokasi Proyek di sekitaran sini." Sahut Kala, "Kenapa Nis?" Tanya Kala kembali.
"Mas gak bawa pakaian ganti?" Tanya Ninis.
Kala pun terdengar menarik napasnya dengan berat, "Mas?" Tanya Ninis kembali.
"Gimana Nis? Ini Sinyalnya jelek sekali." Kata Kala.
__ADS_1
"Mas menginap di sana memangnya membawa pakaian untuk besok? Kalau Ninis menyusul Mas boleh gak?" Tanya Ninis.
Kala pun menolak, "Jalanan kesini sangat membahayakan keselamatan Nis, alangkah baiknya kalau Ninis menunggu di rumah. Bukankah besok Ninis bertugas di rumah sakit?"
"Iya Mas, Ninis hanya takut jika Mas tidak membawa perlengkapan Mas besok."
"Enggak kok, Mas kan sudah biasa selalu menyiapkan pakaian bersih di dalam mobil. Ninis baik-baik ya di rumah, besok kalau sudah selesai Mas pulang." Sahut Kala dan setengah hati Ninis seakan tidak mempercayai suami nya itu.
Ninis pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh suaminya, "Ya sudah kalau seperti itu Mas, Mas juga baik-baik ya di sana. Kabari Ninis kalau besok Mas pulang, kebetulan besok Ninis ada jadwal untuk Operasi Sesar dan 3 jadwal sekaligus. Jadi takutnya Ninis juga pulang malam." Ucap Ninis kembali.
Panggilan pun berakhir, Ninis yang semakin merasa menaruh rasa curiga pun seketika kembali memikirkan perkataan Andre. Seseorang mengetuk pintu kaca samping kemudi dan Ninis terkejut dengan seseorang tersebut, dan seseorang itu adalah Andre.
"Kok masih disini?" Kata Andre di balik kaca tersebut, Ninis membuka kaca jendela mobilnya itu.
Ninis pun menganggukkan kepalanya, "Aku mau pulang, tadi muter-muter dulu sekalian cari yang lagi aku mau. Kamu Ndre kok belum pulang?" Tanya Ninis.
"Belum, tadi ketemu juga sama Mantan Pasien." Kata Andre menjawab.
Ninis menjawab pertanyaan Andre, "For What?"
"Untuk membicarakan perihal suami mu lagi." Jawab Andre singkat.
Ninis menaikkan kedua bahu nya itu, "Entahlah apa aku harus mempercayai suamiku atau mempercayai kamu Ndre, Aku bingung."
Andre terdiam, "Kalau kamu mengijinkan aku untuk membawa bukti itu, apa kamu akan memberikannya padaku?" Tanya Ninis.
"Maksud mu foto mereka yang ini?" Foto lain yang berada di dalam ponsel Andre di berikan olehnya kepada Ninis, dimana foto itu menunjukkan Camelia dan Kala yang berpelukan satu sama lain. Sebuah foto yang semakin terlihat begitu intim itu ditunjukkan Andre kepada Ninis, "Ini waktu Kala baru saja selesai mengantar kamu ke rumah sakit, ia balik arah dan menemui Camelia di Taman dekat rumah mu. Camelia memeluk Kala, lihat mereka serasi bukan?" Paparnya yang sengaja ingin membuat Ninis semakin merasa penasaran.
Ninis berusaha meraih ponsel milik Andre, namun Andre berhasil menepisnya.
__ADS_1
"Eits.. ada syarat untuk mendapatkan ini." Tegas Andre.
Ninis mendelik kesal, "Kamu mau mencoba memfitnah suamiku? Menyebarkan rumors tidak baik dan memeras ku Andre?" Tanya Ninis.
"Tidak, untuk apa aku lakukan itu Nis?" Tanya Andre, "Justru aku ingin menyelamatkan mu dari pernikahan Palsu, Camelia lah yang sangat Kala cintai. Dan kamu pun, hanya aku yang sebenarnya mencintaimu. Syaratnya hanya satu, Aku merindukan dirimu dan kamu sudah mengerti maksud ku bukan?" Ninis menggelengkan kepalanya itu.
"Sudahlah Andre tidak perlu melakukan negosiasi dengan ku! Aku tidak membutuhkan itu." Ia menutup kaca mobilnya itu dan segera pergi meninggalkan Andre, mantan kekasih nya itu hanya tersenyum saat melihat sikap yang diberikan oleh Ninis.
Ia memasuki mobil pribadi miliknya, "Dasar kamu ya Nis, kamu tuh masih saja angkuh seperti dulu. Gengsi mu tinggi, bahkan kamu selalu saja bisa menutupi itu." Andre memutuskan untuk mengikuti Ninis dari belakang, ia sengaja melakukan hal itu karena merasa mengkhawatirkan keadaan Ninis.
Sementara di tempat berbeda, Kala sedang mencari sebuah penginapan yang berada di kota Depok. Ia memang sedang mengurusi sebuah proyek besar pembangunan hotel dan resort di sebuah perkampungan di perbatasan Depok dan Bogor, karena keterbatasan jarak rumah nya dengan tempat tersebut Kala memilih untuk mencari sebuah penginapan yang akan ia gunakan pada malam itu.
Ia pun menemukan hotel yang ia cari, lalu segera memasuki hotel tersebut dan memesan kamar untuk nya itu.
Dan di dalam kamar luas itu, Kala kembali memikirkan Camelia. Berulang kali Kala mencoba menghubungi ponsel Camelia, namun sepertinya ponsel Camelia mati dan tidak dapat tersambung.
"Kemana kamu Mel? Apa kamu pergi karena kamu ingin menyembunyikan kehamilan mu?" Tanya nya bermonolog, ia melihat keindahan kota Depok itu. Sebuah rasi bintang pun menampak di sana, Kala mengingat masa kecilnya bersama Camelia manakala saat itu melihat sebuah rasi bintang bersama Mendiang Ayah Camelia dan juga Ayahnya.
Suara Camelia seakan sayup terdengar, "Bapak lihat Mas Kala lucu." Bayangan masa kecil itu tergambar di balik kaca kamar hotel itu, "Iya, Mas Kala memang lucu. Kamu juga tak kalah lucu." Kata Barata kala itu.
"Sudah besar harus melindungi Amel ya Mas." Timpal ibunya dari belakang, "anggap Amel sebagai adik mu!" Sambung Bapak Barata menimpali kalimat Istrinya.
Kala bermain bersama-sama dengan Camelia, keceriaan diantara mereka berdua begitu nyata hingga saat ia mengetahui bahwa malam itu Sundari mengatakan bahwa Kala akan dijodohkan dengan seseorang gadis yang tak lain adalah Ninis. Dan hal itu membuat Camelia bersikap dingin, bahkan Camelia selalu ingin mengingatkan dirinya bahwa dirinya hanyalah anak seorang Art.
Ia selalu bekerja dan jarang sekali menemui Kala, Kala yang juga sibuk dengan pekerjaan nya pun selalu saja tidak sempat untuk berbincang dengan Camelia.
Ingatan itu pun mulai kabur di saat suara ponsel berdering dengan nyaring, Kala segera melihat ponselnya itu. Ninis terlihat melakukan panggilan Video untuknya, namun Kala seolah membiarkan Istrinya itu dan kembali menatap langit yang kelabu.
"Mel, kau memang sudah mencintaiku sedari dulu bukan. Kau bohong dan pandai menutupi itu semua, kau bisa menyembunyikan perasaan mu padaku demi masa depan ku, tetapi mengapa hal itu terjadi Mel. Tuhan seakan ingin menyatukan kita namun dengan keadaan yang salah! Dan bagaimana aku menebus itu semua Mel, aku menyesal meminta mu untuk menjauh dari ku malam itu!" Ia berucap mengenai kegundahan dirinya, tak terasa air mata itu jatuh dan membasahi pipi miliknya. Entah harus bagaimana caranya menemukan Camelia, yang jelas, Kala akan terus mencoba dan terus mencoba.
__ADS_1
Ia akan memastikan bahwa Camelia bersama calon anaknya berada dalam keadaan baik, walaupun ia harus mengorbankan pernikahan nya dengan Ninis di depan Sundari serta Ayah dan Ibu mertuanya itu.