
Satu Bulan kemudian….
Selama satu bulan ini, hari-hari Camelia di sibukkan bersama Regi juga Alia. Banyak hal yang mereka nikmati secara bersama-sama, bahkan saat ini anak dari Alia pun dekat dengan Camelia dan menganggap Camelia seperti kakaknya sendiri. Camelia merasa bahagia ketika kali ini merasakan tendangan lembut yang diberikan oleh bayi yang sedang ia kandung, bahkan selama satu bulan ini bayi mungil itu terasa aktif saat Camelia melakukan berbagai aktifitas.
Sementara Kala masih saja di sibukkan dengan keseharian nya sebagai pebisnis yang begitu sibuk, hubungan nya bersama Ninis kian hari semakin memburuk. Kala yang selalu bersikap dingin membuat hati Ninis geram. Ibunya Sundari tak mengetahui perihal itu, Ninis masih saja menutupi kekesalan nya terhadap Kala. Akan tetapi hubungan nya bersama Andre semakin harmonis dan Aji tidak mengetahui itu semua.
Dan bagaimana Sundari?
Sundari tetap mencari keberadaan Camelia, Ia meminta bantuan kepada Asep juga para petugas kepolisian untuk menyebarkan foto Camelia dan dimana mereka menemukan Camelia, mereka akn segera memberitahu Sundari. Walaupun Sundari tetap meminta agar pencarian Camelia di laksanakan secara tertutup, Sundari hanya ingin bertemu dengan Camelia dan merawat Camelia yang sedang dalam keadaan hamil itu agar cucunya dapat lahir dengan sehat dan selamat.
Siang itu, seorang lelaki menghampiri Regi yang sedang berada di sebuah klinik balai desa. Lelaki itu adalah suruhan Aji yang akan mengantarkan mobil milik Regi, Regi yang tidak ingin lelaki itu ketahui dimana Regi tinggal pun segera meminta beliau untuk pergi dan mengatakan bahwa Ia dalam keadaan sangat baik. Aji dan Regi memang memiliki permasalahan diantara seorang ayah dan anak sedari dulu, menurut Regi, sosok Ayahnya selalu memberikan tekanan luar biasa kepada dirinya juga Ninis. Dan hal itu membuat sosok anak lelakinya tidak nyaman saat mendengar serta menuruti segala aturan hidup dari sang Ayah, dan itulah penyebab Regi selalu ingin hidup secara mandiri.
Pada saat akan pulang, lelaki itupun berpapasan dengan sosok Camelia yang juga akan melakukan USG sembari membawa rantang makanan untuk Regi. Ia menilik wajah Camelia, orang kepercayaan Aji pun seakan memutar ingatan nya akan raut wajah Camelia. Namun beliau berucap, “Bukan, gadis itu kan kecil dan yang baru saja berpapasan dengan saya bertubuh lebih besar dan juga dalam keadaan hamil. Imbalan Pak Aji membuat saya berpikir bahwa setiap gadis adalah dia.” Ia berjalan sembari menggelengkan kepalanya, dan segera memasuki sebuah mobil lainnya yang juga mengantar dirinya.
“Pak Aji baru saja menghubungi saya.” Ucap salah satunya.
Ia pun menjawab, “Katakan saja bahwa kita dan Mas Regi bertemu di sebuah tempat, jangan buat Mas Regi juga marah. Pak Aji tidak akan tahu jika kita tidak berbicara.” Seseorang di sampingnya pun menganggukkan kepalanya itu, Regi memang cukup dekat dengan sosok Pak Wiram. Bagi Regi Pak Wiram selalu lebih baik dari sosok Ayahnya, dan hanya Pak Wiram lah yang selalu membantunya dalam keadaan apapun.
Camelia menunggu Regi menghampirinya, Ia duduk di area ruang tunggu itu dengan rantang makanan dan ponsel yang ia pegang pada tangan nya itu. Camelia mendapatkan sebuah pesan dari Asep dan ia segera membaca pesan tersebut, “Bagaimana kabar mu? Maafkan Mang Asep yang belum juga menemui kamu di sana. Semoga kamu baik-baik saja, dan jika kamu membutuhkan sesuatu katakan pada mamang Ya.”
Amel membalas, “Alhamdulilah Amel dalam keadaan baik, Mang Asep juga harus selalu dalam keadaan baik ya. Salam hangat untuk Ibu Sum juga Bi nani, Amel sangat menyayangi kalian.”
Beberapa menit kemudian, Regi memanggilnya.
“Amel, masuklah.” Titah Regi.
“Baik Pak Dokter,” jawab Camelia segera, ia pun beranjak dari tempat duduknya itu dan segera memasuki ruangan Regi. Kali ini Camelia datang tanpa di temani Alia, kebetulan Alia sedang bertugas di sebuah puskesmas kampung sebelah dan ia mengatakan bahwa kali ini ia tidak dapat mengantar Camelia menuju Klinik balai desa untuk melakukan pemeriksaan kandungan nya. Dan Camelia sangat memahami hal itu.
Saat ia memasuki ruangan pemeriksaan, Regi yang pada saat itu menyambutnya dengan baik membuat Camelia semakin nyaman saat berada dengan nya. Camelia pun memberikan rantang makanan terlebih dahulu, “Masakan hari ini Amel hanya membuat ayam bakar dengan sayur brokoli hijau, Amel enggak membuat Sambal. Karena Amel tahu kalau Mas lagi sakit perut.” Ujarnya sembari sedikit memicingkan matanya.
“Sepertinya Aku masuk angin Mel, tadi sudah meminum obat. Tetapi tidak apa, kesehatan juga kan sangat penting.” Sahut Regi yang segera membuka tutup pada rantang makanan itu, “Aku makan dulu ya, setelah itu kita bertemu adik bayi kamu itu.” Tambahnya, Camelia menganggukkan kepalanya.
Selama satu bulan mengenal Regi, Camelia belum pernah menceritakan permasalahan nya itu. Bahkan Regi sangat menjaga apapun yang menurutnya sebuah rahasia Camelia, Ia pun tidak pernah bertanya asal Camelia dan mengapa Camelia tinggal seorang diri kepada Alia maupun Camelia. Hal itu ia simpan seorang diri, dan itu artinya Regi tidak ingin memaksa Camelia untuk menceritakan segala hal tentang dirinya.
__ADS_1
Regi menyantap makanan tersebut, Ia selalu saja menghabiskan makanan apapun yang di buat oleh tangan Camelia dan menurutnya makanan-makanan yang di hasilkan dari tangan Camelia sangatlah lezat.
“Lezat sekali ayam bakar ini, nanti kalau Aku mau buka usaha ayam bakar, Aku akan meminta resep ini pada mu Mel.” Kata Regi memuji, “Bumbunya sangat Pas, tingkat kemanisan nya pun pas dan matang nya juga pas. Bahkan Ayam nya sangat lembut dan saya sangat menyukainya.” Pujinya kembali.
Mendengar hal itu, Camelia begitu senang. Camelia pun menanggapi sebuah pujian tersebut, “Alhamdulilah jika Mas memang menyukai ini semua, saya senang.” Regi pun mengangguk lalu menyelipkan sebuah senyuman saat menatap Camelia, “Oh Iya Mas, Amel mau Tanya sesuatu.” Ucapnya menyusul.
“Tanya apa? Katakan saja.” Sahutnya.
“Mas nyaman tidak tinggal di rumah itu, kebetulan hari minggu sekarang, Amel mau mengajak Mas untuk mengecet rumah itu. Tapi jika tidak lelah, jikalaupun lelah biar Amel meminta bantuan tukang saja.” Tutur Camelia.
Regi pun menjawab, “Gak usah, biar aku aja Mel. Selain profesi ku dokter kandungan, aku juga bisa kok menjadi tukang. Uang kamu simpan saja, biar nanti cat nya aku beli dan kamu pilih warna nya.”
“Tidak usah Mas, rumah itu kan harus membuat Mas nyaman. Lagipula, Amel juga berandil di dalam nya.” Tolak Camelia kembali.
Regi tetap menolak dan Ia tetap akan membeli cet itu dengan memakai uangnya, jika tidak Regi tidak akan menyetujui pengecetan rumah itu. Camelia pun menuruti keingina Regi dan Regi merasa sangat senang.
“Sudah selesai, aku cuci tangan dulu ya Mel.” Kata Regi, Camelia menganggukkan kepalanya.
“Ini Amel di dalam sudah terlalu lama apa tidak akan bermasalah?” Tanya Camelia.
“Tenang saja, tidak akan ada yang protes dengan apa yang aku lakukan padamu. Mereka semua tau kalau kamu adalah sepupu ku.” Susul Regi berujar.
Regi meminta Camelia untuk merebahkan dirinya di atas ranjang pemeriksaan, setelah itu Regi mempersiapkan Alat tersebut.
“Maaf ya,” kata Regi saat membuka sedikit baju Camelia, ia juga tak lupa untuk menutupi tubuh Camelia dengan menggunakan kain putih. Ia memperlakukan Camelia seperti pasien yang lainnya, dan seorang perawat yang bertugas untuk menjadi assisten Regi pun menghampiri mereka.
“Tolong bantu catat ya sus,” kata Regi, Suster itu pun membantu Regi untuk mencatat perkembangan bayi Camelia. Regi mulai memeriksa bayi Camelia itu, sebuah layar menunjukkan kemajuan yang lebih baik untuk bayi Camelia.
Regi pun berucap, “Bayinya memang sangat aktif dan sehat, gerakan nya juga sangat bagus dan posisi bayi ini berada di posisi transverse lie. Itu artinya, Letak kepala berada di samping kanan atau kanan perut kamu Mel. Posisi wajah menghadap ke bagian atas perut.” Kata Regi menjelaskan.
“Sudah memasuki minggu keberapa Dok?” Tanya perawat tersebut.
“Usianya pas, 21 minggu.” Jawab Regi, Camelia hanya mendengarkan apa yang Regi katakan saat ini. Hatinya cukup bahagia saat mendengar keadaan baik si jabang bayi, “Kamu selalu tidur dengan posisi apa Mel?” Tanya Regi kembali.
__ADS_1
“Kadang menyamping, kadang terlentang.” Jawab Camelia singkat.
Regi menatap nya dengan lekat, lalu menggelengkan kepalanya itu.
Camelia pun bertanya pada Regi, “Apa gak boleh ya? Soalnya kadang sesak kalau sudah tidur terlentang seperti itu.”
“Posisi terlentang adalah posisi tidur Ibu hamil 5 bulan yang tak dianjurkan, karena bisa menimbulkan sejumlah masalah kesehatan baik kepada Ibu maupun janin. Jadi sangat tidak baik dan tidak di anjurkan, posisi itu juga akan menyulitkan si janin untuk bernapas.” Terang Regi kembali.
“baik kalau begitu Mas.” Celetuknya, Regi mengedipkan matanya itu seraya meminta Amel untuk tidak keceplosan saat memanggilnya. Camelia pun menarik nafasnya itu, Regi pun kembali melihat keadaan si jabang bayi itu.
“Oke, kepalanya pas ya. 25 CM, sudah pas untuk usia 21 minggu atau kadang kita bilang usia 5 bulan. Dan semangat ya Mel, hpl nya kurang lebih 4 bulan lebih 10 hari lagi atau kadang sebelum 9 bulan lebih sedikit.” Terangnya kembali.
Camelia pun mengangguk, “Semoga gak Operasi atau sering di bilang Op sesar.” Celetuk Camelia.
“Melihat posisi si bayi dan kesehatan kamu juga bayi ini sih saya yakin kamu akan lahiran normal, akan tetapi kita juga harus menyerahkan semuanya pada Tuhan Mel. Kamu banyak berdoa dan jangan stress udah gitu aja.” Terang nya kembali, “Oke selesai, nanti bulan ke 7 kita lakukan Usg lagi ya.” Tambahnya.
“Bulan depan kita libur Usg dan hanya pemeriksaan saja.” Sambungnya.
“terimakasih Pak Dokter.” Ucap Camelia, “Terimakasih juga Sus.” Tambahnya.
“Oke sama-sama Mel.” Sahut Regi.
“Sama-sama Ibu, sehat terus ya.” Timpal Suster tersebut.
Lalu Regi kembali berucap, “Oh Iya, semoga saja benar ya. Kelamin bayi kamu laki-laki. Kalau memang begitu, pantas saja si jagoan ini kuat dan gerakan nya cepat.”
“Alhamdulilah, Amel gak muluk-muluk Mas. Amel hanya ingin sehat saja.” Sambut Camelia.
Regi mengusap pelan bahu Camelia, “Pasti, Aku juga akan mengikuti perkembangan bayi mu Mel.” Sahutnya, Camelia tersenyum kepada Regi.
Susternya berucap, “Ini pasien terakhir ya Dok, laporan kesehatan nya saya ambil dulu nanti saya berikan pada Dokter kembali.”
“Baiklah Sus, terimakasih ya.”
__ADS_1
Regi pun memberikan sebuah resep berupa vitamin untuk Camelia, Camelia membawa obat tersebut sembari menunggu Regi yang bersiap untuk pulang dan mereka akan pulang secara bersama-sama.