
Setelah memastikan Ninis masuk kedalam gedung Rumah sakit, Kala pun sesegera mungkin menghampiri Camelia yang pada saat itu duduk di area Taman dekat komplek. Sesampainya di sana, Kala melihat Camelia hendak beranjak dari kursi tersebut, cukup lama Camelia duduk seorang diri di tempat yang begitu menurut Kala sangat sepi. Camelia berjalan meninggalkan Taman tersebut, namun Kala secepat mungkin berlari menghampiri dirinya.
“Mel..” Panggil Kala yang berdiri tepat di belakang Camelia, Camelia terkejut saat mendengar suara Kala. Ia tetap berdiri membelakangi sosok Kala, ia juga terlihat segera memasukkan sebuah kertas kedalam saku jaket yang ia kenakan.
“Apa itu Mel?” Tanya Kala yang saat itu berjalan mendekati Camelia.
Camelia memutarkan badan nya, kini ia berhadapan dengan sosok Kala.
“Kertas belanja yang Ibu berikan untuk Amel, Mas.” Jawabnya dengan nada yang terdengar gugup.
Kala pun terdiam sejenak, “Aku mau kita gak canggung kaya gini Mel, aku gak mau mereka curiga bahwa sesuatu telah terjadi diantara kita. Aku mohon.” Ucap Kala kepada Camelia.
Lagi dan lagi Camelia menunduk kan kepalanya, Ia begitu terlihat tertekan dengan kalimat yang baru saja Kala katakan. Menurutnya bagaimana mungkin Ia akan melupakan begitu saja dan beranggapan sesuatu yang buruk itu tidak pernah terjadi, walaupun sebenarnya Camelia menginginkan hal itu. Ia begitu ingin melupakan kejadian itu, tetapi Ia sudah coba dan menurutnya sangat begitu sulit untuk mencoba melupakan semuanya.
Kala kembali berucap, “Pernikahan ku dengan Ninis tidak boleh hancur karena malam yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya,”
“Ninis dan Ibuku sangat berharga untuk ku saat ini, dan aku harap kamu mengerti Mel.”
Napasnya terdengar berat, entah mengapa Kala dengan tega mengatakan hal yang membuat hati Camelia kembali terguncang. Kala juga berkata, “Kamu dan malam itu menjadi bayang-bayang kelam untuk ku bahkan untuk hubungan ku bersama Ninis, Aku takut saat melihat kehadiran mu dan melihat keadaan kita yang seakan tidak mengenal satu sama lain.”
“Hal itu membuat semua orang akan mencurigai kita.” Tambahnya.
Mendengar kalimat itu, Camelia memberanikan dirinya untuk menatap mata penuh kebohongan milik Kala. Ia memajukan satu langkah kakinya agar sebisa mungkin menjawab apa yang baru saja Kala katakan, “Aku pun tidak menginginkan malam itu, bahkan semua yang telah terjadi adalah kesalahan yang berujung dengan kata rudapaksa! Kau memperkosa aku, kau yang membuat aku seperti ini. Dan Amel tidak menyangka bahwa hal ini menjadi hal sepele untuk Mas Kala.”
__ADS_1
“Tetapi Amel tidak begitu terkejut, karena Amel sadar jika Amel bukanlah wanita dari kalangan Mas Kala. Dan apa yang Mas Kala katakan semalam, itu tidak akan membuat Amel merasa bangga. Mas tidak menyukai Amel, Mas hanya mencoba menenangkan Amel. Berhentilah memiliki rasa takut, Amel bukan wanita yang dapat memanfaatkan keadaan. Amel tidak akan menuntut apapun, walaupun Amel adalah salah satu korban menurut Mas.” Ungkap Camelia, “Berjanjilah untuk tidak lagi membahas peristiwa malam itu, lagipula tidak ada saksi mata. Dan Amel tidak akan pernah bisa membuktikan itu semua.” Tambahnya.
“Jadi untuk apa Amel meronta, meminta keadilan untuk apa yang sudah hilang dalam diri Amel?”
Ia mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh di hadapan Kala, Ia menarik napasnya dalam-dalam. Lalu kembali berucap, “berbahagialah Mas Kala dengan Mbak Ninis, hanya itu yang dapat Amel berikan untuk mengingat betapa banyak jasa Ibu Sun untuk Amel dan Ibu Amel.” Sambungnya, Ia pun membalikkan tubuhnya itu, lalu berjalan meninggalkan Kala.
“Amel..” Kala menarik tangan Camelia dan Camelia kehilangan kendali hingga menyebabkan Camelia terjatuh. Namun hal itu belum sampai terjadi karena Kala lebih dulu menyanggah tubuh Camelia, mereka pun saling menatap satu sama lain.
Dan beberapa detik kemudian Camelia meronta agar Kala melepaskan tubuhnya, apalagi saat ini mereka sedang berada di tempat umum. Camelia juga memiliki sedikit rasa trauma akan kejadian malam itu, wajah nya kembali pucat, irama detak jantungnya pun terdengar begitu cepat dan napas Camelia sedikit tersengal saat ia mengalami hal yang baru saja terjadi.
Camelia sedikit berlari untuk meninggalkan Kala, Kala terdiam kembali dan hanya memperhatikan kepergiaan Camelia. Sesaat ia sudah tidak lagi melihat Camelia, Ia pun berteriak kesal. Bahkan Ia tak henti menendang mobil miliknya, Ia juga tak henti memukul mobil tersebut. Ia menunjukkan perasaan Frustasi nya itu, pantas sajalah itu terjadi, semua karena ketidakberdayaan Kala kepada kehidupan yang selama ini di atur oleh sang Ibu dan hal itu membuat Kala kehilangan kehidupan yang bebas.
Bebas memilih, bebas melakukan hal bahkan mungkin saja bebas berpendapat. Kehidupan nya semua atas kekuasaan sang Ibu, dan Kala hanya mampu menuruti apapun yang Ibunya katakan.
Sementara itu di tempat berbeda dan di waktu yang berbeda, seseorang sudah berdiri di hadapan Aji. Seseorang itu tak lain adalah Andre, mantan kekasih dari Ninis. Andre memang saat ini bekerja dengan Aji, semua karena permintaan Andre sebelumnya yang mengatakan bahwa dirinya lah yang berhak dan pantas bersanding dengan Ninis. Namun Aji tidaklah yakin, makadari itu Aji meminta Andre untuk mencai kesalahan dari menantunya. Yang menurutnya sang menantu sangatlah baik dan tidak memiliki cacat apapun, namun berbeda dengan kenyataan nya, Ia melihat banyak sekali rahasia yang dimiliki oleh Kala dan ia sangat ingin mengetahui apa saja yang Kala tutupi dari Ibunya.
Salah satunya kisah cinta Kala sebelum bersama Ninis, Aji pun terlihat memperhatikan beberapa foto hasil temuan Andre. Bahkan diam-diam, Andre tengah menyadap segala percakapan Kala dengan orang-orang yang memasuki panggilan bersama Kala.
“Malam saat Om Aji makan malam bersama Ibunya, Aku juga sempat melihat Kala berjalan kearah taman belakang. Kebetulan taman belakang Kala itu dapat di akses melalui samping Komplek. Mereka juga bertemu disana Om.” Aji melihat adegan percakapan hingga hujan turun dan melihat begitu sedihnya Camelia meratapi hasil pembicaraan bersama menantunya itu.
“Mungkin saja memang Kala sedang memarahi wanita ini.” Ucap Aji, “Sudahlah Ndre, anak ku sangat bahagia dengan Kala. Tidak mungkin Ia membohongi aku, lagipula ini hanya akal-akalan mu saja untuk mendapatkan Ninis kembali.” Seru Aji kepada Andre.
“Kalau begitu, mengapa Om Aji meminta ku menguntit kebiasaan Kala selama tidak bersama Ninis?” Tanya Andre, “Aku akan mengatakan hal mengenai Ninis yang Om tidak tahu, tetapi sebelum itu akupun akan mencari tahu bagaimana buruk nya Kala. Karena menurutku hanyalah aku yang dapat menerima kekurangan Ninis.” Aji terlihat murka saat kalimat terakhir terucap dari bibir Andre.
__ADS_1
“Kekurangan apa menurut mu?” Tanya Aji dengan mata yang membola.
“Itu akan aku sampaikan Nanti setelah om yakin bahwa Kala dan keluarganya memiliki rahasia yang akan membuat Ninis kecewa.” Ucap Andre, “Aku sangat yakin telah terjadi sesuatu diantara Kala dan anak pembantunya itu.” Ujar Andre kembali.
“Om lihat foto terakhir ini.” Tunjuk Andre pada Aji, Ia menunjukkan dua buah foto dan foto tersebut membuat Aji terlihat begitu marah terhadap Kala.
Satu foto menunjukkan pada malam di taman belakang, Kala memeluk Camelia dari belakang dan Camelia terlihat tidak melepaskan pelukan Kala. Dan foto kedua adalah foto pada pagi hari di sebuah taman tadi, Kala terlihat kembali memeluk Camelia. Walaupun pada sebenarnya Kala mencoba menyelamatkan Camelia saat akan terjatuh karena ia sempat menarik tangan nya itu, Aji mengepalkan tangan nya.
“Aku harus bertanya pada Kala mengenai hal ini!” Ucap Aji penuh Amarah.
“Tunggu dulu Om, kita harus terus mencari tahu mengenai ini semua. Dan tugas Om hanyalah satu..” Ucap Andre.
“Apa itu?” Tanya Aji.
“Om harus lebih sering mengunjungi Ninis dan mencari tahu keberadaan wanita ini, kalau perlu Om harus memperhatikan gelagat wanita ini saat melayani Om sebagai tamunya dan di tempat yang sama ada Kala yang juga melihat situasi itu.” Ucap Andre, “Apa ada yang aneh dari mereka saat berada di tempat yang sama, atau mereka tetap bersikap seakan tak ada apa-apa?” sambung Andre.
“Baiklah, kita lihat nanti.” Aji pun mengingat betul pada malam ia dilayani oleh Camelia dan asisten rumah tangga lainnya. Ia baru saja ingat bahwa Camelia selalu berusaha tenang dan Kala yang terlihat begitu tidak tenang dengan kehadiran Camelia, bahkan Ia mengingat betul pada saat Kala kembali dengan pakaian yang begitu basah. Kala pun menjawab bahwa dia baru saja menerima sebuah panggilan dari rekan bisnisnya dan berakhir kehujanan, Aji menggelengkan kepalanya.
Andre kembali berucap, “Aku akan membuktikan bahwa hanya Aku lah yang tulus mencintai Ninis, Aku percaya bahwa Ninis pun masih mencintai Aku.”
Aji hanya terdiam, dan setelah itu Andre terlihat berpamitan kepada Aji. Aji mempersilahkan kepergiaan Andre, Ia pun kembali memikirkan nasib buruk yang akan menimpa anak perempuan yang sangat ia sayangi. Ia tidak mau jika anaknya menderita, Ia juga tidak mau jika anaknya kehilangan sosok Kala yang menurutnya adalah lekaki yang memiliki masa depan yang cemerlang. Bahkan kekayaan Kala diatas kekayaan dirinya dan Ia sangat yakin bahwa Ninis tidak akan pernah kekurangan dalam materi.
“Saya tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaan anak saya!” Ucap Aji sembari mengepalkan tangan nya, "Siapa wanita itu, berani-berani nya ia berniat untuk merenggut kebahagiaan anak ku. Wanita rendahan seperti mu hanya akan hidup menderita!" susul Aji dengan mata yang semakin membola, terdapat sebuah amarah besar di dalam nya dan Aji memang terkenal dengan sikap galak serta tegas yang membuat orang-orang di sekitarnya takut.
__ADS_1