
Beberapa hari kemudian, terlihat sebuah mobil memasuki kediaman Sundari. Mobil yang saat ini di kemudikan oleh Asep pun terparkir tepat di hadapan tubuh Sundari, Kala pun keluar dari dalam mobil tersebut. Sundari menyambut baik kepulangan Kala bersama Istrinya, “Alhamdulilah Ya Allah kalian selamat Nak sampai ketemu Ibu lagi. Ibu sangat senang dan sangat berterimakasih pada Tuhan.” Ungkap Sundari. Kala pun tersenyum saat melihat raut wajah Ibunya, sang Ibu memeluknya erat lalu beralih memeluk Ninis.
Waktu menunjukkan pukul tiga siang, cuaca begitu sangat panas dan membuat mereka segera masuk kedalam rumah. Para pegawai berjajar seraya menyambut kedatangan Kala, namun hanya Sumiati dan Camelia lah yang tidak hadir dalam penyambutan kedatangan Kala. Hal ini memang sudah biasa jika Kala ataupun Sundari baru bertolak dari Negara manapun, Kala menyadari ketidak-hadiran Camelia dan Ibunya.
Tanpa berbasa-basi, Kala pun segera menanyakan keberadaan mereka.
“Mbok Sum dan Camelia kemana?” Tanya Kala.
Semua menundukkan kepalanya, “Mas sudah makan? Makan dulu yuk, nanti biar Ibu cerita sembari Mas dan Ninis makan.” Kata Sundari, Sundari memberikan sebuah gerakan tubuh rahasia kepada Nani agar Nani membawa mereka semua masuk. Mereka pun masuk dan Nani terlihat menyiapkan makanan yang akan Kala makan.
“Nan, tolong lihat Sum ya setelah ini.” Nani pun menganggukkan kepalanya, raut wajah Nani pun terlihat kusam dan tak bersemangat mungkin karena setiap hari memikirkan keadaan Camelia yang hanya seorang diri di tempayt yang menurutnya sangat jauh itu.
Kala pun duduk begitupun Ninis yang sedari tadi tidak mengatakan apapun, “Ada apa ini Bu?” Tanya Kala.
Sundari terlihat tidak menjawab, Ia membawa piring milik Kala itu. Kala menolak, “Kala tidak lapar bu, biar Ninis saja yang makan. Selama di Pesawat, Ninis tidak mau makan sama sekali.”
Mendengar hal tersebut, Sundari mengira bahwa Ninis tengah mengandung. Sundari pun beranjak dan mengusap ujung kepala menantunya, “Mungkin saja kamu sedang mengandung, nanti Ibu suruh Nani beli alat tes kehamilan ya.” Ninis mengangguk pelan.
Dan, “Bu, Kala mohon tolong jelaskan kenapa dengan Mbok Sum? Dan Camelia?” Tanya Kala kembali.
Ninis menimpali kalimat yang baru saja Kala ucapkan, “Iya Bu, apa sesuatu hal terjadi pada Camelia saat kami pergi? Apa Amel sudah selesai menjalankan Acara itu?” Tanya Ninis, Sundari pun duduk kembali di kursi utama meja makan. Mata Sundari seakan menunjukkan sesuatu, ada hal yang membuatnya sulit untuk mengatakan apapun.
“Camelia pergi dari rumah 9 hari yang lalu.” Ucap Sundari dan hal itu membuat Kala merasa terkejut, “Kami sudah mencarinya kemanapun, mungkin saja Camelia melarikan diri dengan kekasihnya. Hanya saja kami tidak tahu siapa lelaki yang membawa Camelia.” Sambung Sundari.
Kala menundukkan kepalanya, “Ibu juga merasa aneh dengan sikap Camelia satu bulan ini, bahkan semenjak ia sakit.” Mendengar kalimat tersebut, Kala semakin yakin bahwa mimpi nya tempo lalu sudah menjadi kenyataan. Kala sempat bermimpi bahwa Camelia sedang mengandung anaknya dan Camelia dengan jelas menandas semua tuduhan Kala, “Kala, kamu kenapa? Apa kamu tahu bahwa Camelia sedang dekat dengan seseorang lelaki?” Tanya Ibunya itu.
__ADS_1
Kala menggelengkan kepalanya, “Tidak bu, setelah Kala menikahi Ninis. Amel membuat jarak dengan Kala, kala sempat bertanya dan Ia mengatakan bahwa dirinya sangat menghargai Ninis.” Sahut Kala, “Lalu kenapa dengan Amel bu?” Tanya Kala kembali.
“Mungkin itu yang masih menjadi misteri Mas,” Ujar Ninis menimpali.
“Ya, tetapi kita harus memecahkan misteri kepergiaan Camelia. Ibu takut sesuatu hal telah terjadi padanya, namun dia tidak mau kita tahu.” Papar Sundari yang mencurigai bahwa Camelia sedang memiliki masalah besar, “Dan Sumiati seakan tidak mau mencari keberadaan Camelia setelah tujuh hari kepergiaan nya, Ia meyakini bahwa Camelia sedang dalam keadaan baik. Namun setelah itu, Sumiati sakit-sakitan dan Ibu sangat mengkhawatirkan Sumiati.” Sambung Sundari.
Kala segera beranjak dari tempat duduknya itu dan segera menghampiri Sumiati yang masih dalam keadaan tidak baik, Ia benar-benar merasa sangat bersalah atas kepergiaan Camelia.
Sesampainya di hadapan pintu Sumiati, Kala melihat betapa rapuhnya keadaan Sumiati yang tertidur sembari memeluk foto cantik anaknya. Kala mendekati Sumiati, lalu meraih tangan Sumiati dan hal itu membuatnya terbangun.
“Mas Kala.” Lirih Sumiati sembari menangis, Kala memeluk pun memeluk Sumiati. Kala memang sangat menyayangi Sumiati seperti Kala menyayangi Ibunya, “Amel Mas..” Lanjut Sumiati, Kala mengangguk pelan seraya mengiyakan bahwa ia tahu mengenai kepergiaan Camelia.
“Kala akan berusaha menemukan Amel Mbok.” Bisiknya lembut di telinga Sumiati, “Kala berjanji akan menemukan dia.” Ucap Kala kembali.
Ingin sekali rasanya Sumiati membicarakan apa yang ia ketahui mengenai kehamilan Camelia, namun rasanya tidak baik membuka aib anaknya itu. Yang Sumiati takuti perihal Mr Key bukanlah Kala, Sumiati pun mengurungkan niat nya untuk memberitahu Kala mengenai buku harian Camelia yang terjatuh. Ninis datang menyusul Kala, Ninis juga menghampiri Sumiati dan mencoba menguatkan sosok Sumiati.
Sumiati menolak, “Tidak usah Mbak Ninis, biarkan dia pulang sesuai keinginan dia. Mbok tidak mau kalau kepergiaan Camelia atau hilangnya Camelia membuat nama baik Bu Sun tercoreng. Nanti malah banyak media, petugas kepolisian bahkan para tetangga komplek akan ikut membicarakan kepergiaan Camelia itu. Mbok tidak mau kalau harus menyeret nama baik Ibu kedalam masalah pribadi yang mungkin sedang Amel alami saat ini.” Ungkap Sumiati sembari menatap lekat wajah Ninis.
“Kalau memang Mbok mau seperti itu, kami akan secara diam-diam mencari Amel.” Ujar Ninis kembali, “Iya kan Mas?” Tanya Ninis kepada Kala.
Kala seakan larut dalam lamunan nya, Ia sungguh-sungguh tidak mampu menyembunyikan kekhawatiran nya terhadap Camelia. Dan Ninis memahami itu semua, “Mas,” Ninis memegang bahu kanan suaminya itu, “Sekarang mas lebih baik beristirahat dulu ya, kita kan baru saja sampai. Nanti setelah tenang kita rencanakan kembali pencarian Camelia.” Kala menganggukkan kepalanya itu.
Kala kembali memeluk Sumiati, “Mbok Kala mohon, Mbok juga harus memperhatikan kesehatan Mbok ya. Kala minta sekali sama Mbok agar Mbok kembali sehat, biar Kala yang berpikir cara untuk mendapatkan informasi dimana Camelia saat ini.”
Sumiati mengangguk dengan pelan, Kala merogoh sakunya itu lalu mencoba menghubungi seseorang yang tak lain adalah Asep. Asep pun datang menghampiri Kala dimana ia berada, “Mang Asep tolong bawa Mbok Sum menuju rumah sakit. Kalau perlu di rawat, rawat saja Mas. Nanti Kala menyusul setelah selesai beristirahat.” Asep pun mengiyakan keinginan Kala.
__ADS_1
Setelah berbicara pada Asep, Kala pun kembali menatap wajah Sumiati.
“Mbok jangan pernah menolak keinginan Kala, Kala hanya ingin Mbok sembuh dan mendapatkan perawatan terbaik. Dan Kala berjanji akan menemukan dimana keberadaan Camelia, Kala janji Mbok.” Sumiati menganggukkan kepalanya, Ia tidak mampu menolak apa yang Kala inginkan. Asep pun membawa Sumiati menuju rumah sakit, sebelum kepergiaan itu. Hati Asep seakan tersayat saat mendengar apa yang Kala katakan, diam-diam Asep dan Nani menyimpan rahasia besar kepergiaan Camelia. Bahkan kedua orang itu ikut andil dalam membantu pelarian Camelia, dan di sisi lain Asep merasa tidak tenang karena Camelia seorang diri tinggal di rumah tersebut.
Sementar itu Camelia sibuk membersihkan dapur, Ia juga melihat sebuah lemari pendingin yang sudah tidak dipakai bahkan tidak tersambung pada listrik di dalam rumah itu. Camelia memilih untuk mencoba membersihkan terlebih dahulu lemari pendingin tersebut, lemari pendingin yang sudah tua dan sangat mewah pada jaman nya itu membuatnya kewalahan karena bau tidak terpakai dan alhasil Camelia memuntahkan semua isi perutnya.
“Ya Tuhan… Tolong Amel.” Ia kembali memuntahkan isi perutnya itu.
Setelah selesai memuntahkan isi dalam perutnya, Ia pun terkulai lemas dan duduk di atas lantai dapur. Air matanya kembali menetes, “Amel tahu Amel salah, tetapi rumah ini cukup baik untuk Amel dalam membesarkan perut Amel. Tapi tolong Tuhan, mudahkan segalanya agar Amel mampu hidup seorang diri tanpa menyusahkan Mang Asep dan Bi Nani.” Camelia menangis dan merasa bahwa semua begitu berat, Ia tak tahu harus bagaimana. Dan karena kejadian itu, Camelia pun lebih memilih untuk kembai memasuki kamar nya.
Rumah itu memang Tua, tetapi tidak terlalu kotor hanya saja beberapa barang disana sudah tidak dapat di gunakan. Camelia pun hanya makan makanan instan, walaupun tidak semua makanan itu di cerna dengan baik oleh perutnya.
Sebuah pesan mendarat pada ponsel milik Camelia, “Mel, bagaimana keadaan mu?” Tanya Nani.
“Baik Bi Nani, ini Amel sedang rebahan di atas ranjang.” Balas Camelia yang dengan sengaja berbohong.
Nani membalas, “Kamu pasti membutuhkan banyak kebutuhan, Bi Nani akan mencari cara agar bisa pergi pada malam hari bersama Mang Asep. Kamu sabar dulu ya Mel.”
Amel menjawab, “Terimakasih bi, maaf jika Amel sangat merepotkan bibi.”
Nani menjawab, “Tidak sama sekali Mel, Amel sangat bibi sayang. Baik-baik disana, jangan mengkhawatirkan Ibu mu. Bibi pun akan ikut menjaganya.” Melihat pesan terakhir itu, Camelia mengubah posisinya itu. Ia tidur ke samping dengan tubuh yang menekuk, lalu menangis tersedu-sedu.
“Ya Tuhan ini memang berat dan Amel sudah katakan ini semua memang berat, tetapi Tuhan Amel tidak tahu harus seperti apa. Amel hanya ingin merawat bayi yang sedang Amel kandung dan tidak membuat masalah besar dalam pernikahan Mas Kala. Tetapi rasanya sangat berat saat tidak ada Ibu di samping Amel, Amel merindukan ibu. Sangat, sangat merindukan nya.” Rintihan itu menunjukkan bahwa gadis seusianya memang benar-benar mencoba untuk kuat bahkan sangat kuat, Amel yang membuat keputusan bahkan ia harus siap menerima apapun yang akan terjadi.
Sementara itu, Andre terlihat memperhatikan keadaan kediaman rumah Sundari. Ia melihat Asep yang pergi dengan Sumiati, ia pun mengikuti kemana Asep pergi. Dan sesampainya di tempat tujuan dimana mobil yang Asep kendarai itu berhenti, Andre menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ku Kira mereka akan menemui si Amel itu.” Celetuknya, Ia pun memutar otak untuk membuat rencana baru dan Ia akan segera memikirkan itu. Dalam benaknya, hanya menghancurkan Kala lah yang sangat baik ia lakukan agar Ninis dapat kembali bersama nya. Dan hal itu sudah dapat ia pastikan akan ia lakukan, walau bagaimanapun caranya.
“Maaf Om Aji, seperti nya foto-foto yang aku miliki sudah seharusnya sampai ke tangan Ninis atau Ibu dari Kala yaitu mertua kesayangan Ninis dan besan yang sangat Om hormati. Aku tidak dapat semudah itu mempercayai mu Om, Aku harus bergerak sendiri dalam menjauhkan Ninis dari Kala dan mendapatkan Ninis kembali. “ Ungkap Andre saat itu, entah rencana apa yang akan Andre lakukan, yang jelas semua ini akan membahayakan hubungan Kala bersama Ninis.