
Keesokan harinya, CAmelia terlihat menyibukkan dirinya di dalam dapur. Ia membuat sarapan untuk Regi yang akan memulai pekerjaan nya di balas desa sebagai Dokter kandungan di desa tersebut, Ia membuat dua buah roti panggang dengan 1 buah omelet keju dan satu buah apel yang sudah terkupas dengan rapi. Setelah ia rasa siap, ia menyimpan semuanya di atas nampan dan hendak memberikan sarapan yang telah ia buat itu kepada Dokter Regi. Ia pun berjalan hingga sampai di teras Paviliun rumahnya itu, Ia mengetuk pintu itu dan setelah menunggu beberapa menit Regi pun keluar sembari melinting kemeja nya itu.
“Eh Mbak Amel, maaf ya saya sangat merepotkan Mbak.” Kata Regi yang terlihat begitu kesusahan saat melinting kemeja yang sedang ia kenakan.
“Tidak apa-apa Pak Dokter, ini kan sesuai perjanjian kita.” Kata Camelia, Regi tetap tidak bisa melinting kemeja bagian tangan nya itu. Lalu Camelia pun meminta ijin untuk memberikan bantuan kepadanya, “Jika boleh, biar saya bantu Pak Dokter. Maaf bukan nya tidak sopan, tetapi agar Pak Dokter terlihat lebih rapi.” Regi tersenyum dan juga segera memberikan tangan nya, Camelia pun segera membantu Regi untuk melinting kemeja tersebut.
“Wah, Mbak Amel memang selalu siap sedia ya.” Puji Regi kembali.
“Saya hanya terbiasa melinting bagian tangan kemeja saat menyetrikan milik Mas Ka..” kalimatnya terhenti, Ia memang begitu polos dan hendak mengatakan nama Kala di hadapan Regi. Regi yang pada saat itu sempat mendengar sebuah inisial pada nama yang akan di sebutkan oleh Camelia terlihat mengerutkan alisnya, “Maksud saya, saya terbiasa menyetrika sembari melinting tangan kemeja itu, dan hal itu meringankan waktu bapak saya saat berpakaian.” Tuturnya berbohong.
“Kalau Mbak Amel jadi Istri saya, saya itu sudah pasti manja banget.” Celetuknya, “Maaf maksud saya bukan..” Amel menunduk segan, kalimat Regi pun terpaksa Regi hentikan.
“Ya sudah, Pak Dokter silahkan di santap sarapan nya. Saya kembali lagi nanti siang hari untuk memberi makan siang untuk Pak dokter,” Ucap Camelia, “Dan jangan panggil saya Mbak, panggil saja Amel. Saya lebih nyaman di panggil Amel.” Sambung Camelia.
“Baiklah Amel, terimakasih ya. Kalau bisa gak usah memikirkan makan siang, biar malam saja Mel.” Kata Regi. Amel pun menganggukkan kepalanya, “Jangan Panggil Pak Dokter kecuali lagi di klinik Balai desa, panggil saja Mas Regi atau boleh juga Kang Regi apapun itu, tetapi jangan Pak Dokter ya.” Tutur Regi dan Amel kembali menganggukkan kepalanya. Amel melangkah dengan langkah pelan saat meninggalkan rumah yang di tempati oleh Regi. Sepertinya ada hal lain yang mengganjal pikiran nya itu, Amel seakan ingin menanyakan sesuatu pada Regi. Regi pun berjalan keluar dan hendak memakan sarapan itu di teras paviliun tersebut, melihat Camelia yang terdiam membelakangi dirinya.
“Amel..” Panggil Regi.
Amel menoleh, “Iya Mas?” balasnya saat itu.
“Apa ada sesuatu hal yang terbesit dalam benak Amel kepada saya?” Tanya Regi, Amel pun mengangguk dengan pelan. Regi pun kembali berucap, “Kemarilah, temani saya duduk. Siapa tahu ada hal yang ingin Amel bicarakan mengenai kehamilan, saya akan siap menjelaskan.” Amel pun berjalan dengan pelan, Regi yang memulai menyantap sarapan tersebut segera meminta Amel untuk membicarakan kegelisahan di hatinya.
“Bicaralah, apa Amel merasakan sesuatu saat ini?” Tanya nya.
“Tidak, saat ini perut Amel dalam keadaan aman sekali Mas. Tetapi, semalam saat Amel pulang dari rumah ini bersama Bunda Alia itu, perut Amel bergetar hebat dan membuat pusar Amel terasa linu. Apa tidak akan terjadi sesuatu pada Amel?” Tanya nya pada Regi.
Regi tertawa kecil saat melihat raut wajah polos Amel, “Maaf Mel, bukan maksud saya mentertawakan keadaan Amel. Hanya saja saya melihat raut wajah yang begitu polos ada pada diri Amel.” Jawab Regi, “Pertama, saya akan bertanya. Apakan ini kehamilan pertama kalinya?” Tanya Regi.
Amel menganggukkan kepalanya, “Kedua, berapa usia Amel saat ini? Saya harus bertanya mengenai Usia terlebih dahulu.” Ujar Regi menyusul.
“Usia Amel di bulan Mei ini 18 tahun, Amel memang baru pertama kali hamil.” Jawab nya lebih santai.
“Oh Pantas saja,” Tutur Regi, “Mel, hal itu hal yang wajar. Amel merasa terkejut karena ini adalah kehamilan pertama Amel, perut yang sedang bergetar itu karena sesuatu hal yang terjadi pada pergerakan janin, bahkan bisa saja terjadi jika janin itu memiliki tumbuh kembang yang sangat baik. Amel tidak perlu khawatir, hanya saja Amel harus tetap menjaga pola makan dengan baik dan jangan memikirkan hal yang membuat Amel stress.” Terang Regi, Regi memberikan sebuah keterangan yang begitu jelas kepada Camelia dan Camelia begitu sangat senang.
“Jadi Amel gak perlu khawatirkan perut Amel kan Mas?” Tanya nya kembali.
__ADS_1
Regi menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, kondisi janin kamu sangat baik apalagi detak jantung yang terdengar begitu sangat kuat dan hal itu menandakan bahwa bayi mu sangat kuat.” Jelas Regi kembali.
“Oh ya, nanti jam makan siang. Kamu ke Klinik ya, kalau memang tidak merasa di repotkan. Saya akan kosong kan jadwal untuk melakukan Usg pada jam tersebut dan sebagai balasan nya, kamu harus menemani saya makan siang. Saya akan menjelaskan cara untuk menjaga janin agar tetap sehat, kamu cukup mendengarkan dan menyimak dengan baik.” Ucap Regi.
“Terimakasih Mas Regi, saya merasa beruntung bertemu dengan Mas. Jujur satu bulan ini, saya hanya seorang diri disini dan banyak yang saya tidak tahu mengenai kehamilan ini.” Ucap Camelia.
“Saya senang kok membantu kamu, saya harap kamu dan bayi mu sehat serta bahagia. Karena kebahagiaan merupakan cara agar bayi kamu sehat, dan ingat jangan sungkan anggap saja saya kakak mu atau bahkan sahabat mu.” Ucap Regi, Camelia menganggukkan kepalanya itu.
“Terimakasih mas sekali, Amel pamit masuk dulu ya.” Kata Amel berpamitan, Regi pun menganggukkan kepalanya. Dan sesaat setelah Camelia pergi, kakaknya Ninis pun menghubunginya melalui panggilan Video.
Regi menerima panggilan Video tersebut, “Halo… Assalamualaikum.” Sapa Ninis yang juga bersama-sama dengan Ibu dan Bapaknya.
“Hai, Waalaikum salam. Bapak, Ibu maafkan Adek. Adek belum sempat pulang.” Ucap Regi kepada Bapak dan Ibunya itu.
“Jangan sampai tidak pulang karena takut bapak jodohkan.” Celetuk Ibunya yang bernama Widia itu.
“Tidak Bu, kalaupun begitu Regi dengan keras menolak perjodohan itu. Lagipula, Regi masih mau sendiri.” Katanya membalas kalimat yang baru saja Ibu lontarkan, “Ibu bapak Sehat kan?” Tanya Regi kembali.
“Ya Bapak mu ini sehat, tetapi Ibu ya begitu tetap saja sama.” Kata Aji kepada anaknya itu, “Dimana ini Dek?” Tanya Aji kembali.
“Di Jasinga Bogor Pak, tepatnya kabupaten Bogor. Ibu harus sehat dong, nanti Regi pulang kalau sudah memiliki waktu yang santai.” Sahutnya.
“Tidak perlu Pak, Regi kan juga bekerja disini. Bukan main-main, Regi janji minggu ini pulang ke rumah. Kita bertemu di sana saja ya.” Ucap Regi menolak apa yang Bapaknya katakan, “Jaga saja Ibu di sana, Biar Regi saja yang menghampiri Bapak dan Ibu.” Sahutnya.
“Beneran toh Dek?” Tanya Ninis menimpali.
Regi menganggukkan kepalanya, “Iya benar, Eh Mas Kala kemana?” Tanya Regi kembali.
“Lagi keluar kota, ke Bandung katanya.” Jawab Ninis, “Adek kok belum berangkat, masih sarapan ya?” Tanya Ninis balik.
“Iya, ada gadis baik yang kasih Adek sarapan.” Jawabnya dengan polos.
Mata Ninis terlihat begitu penasaran, “Siapa? Cantik gak?” Tanya Ninis.
“Cantik lah, namanya A…” Kalimatnya terhenti karena ia senang membuat sang kakak penasaran, “Nanti saja deh. Siapa tau dia sudah memiliki kekasih dan nantinya Regi malah berharap.” Sambungnya.
__ADS_1
“Ih, kenalin dong sama Mbak.” Kata Ninis memohon.
“Enggak Ah, Udah ya Egi mau pergi dulu. Hari pertama ini harus semantat, biar selanjutnya juga semangat.” Ujar nya kembali.
“Ya sudah sana.” Titah Ninis kembali.
Regi melambaikan tangan nya, dan Aji, Ninis juga Widia ikut membalas lambaian tangan Regi yang juga sebagai tanda Regi akan mengakhiri panggilan Video tersebut. Regi pun segera membereskan piring kosong yang baru saja selesai ia habiskan, Ia juga segera mengantarkan piring kosong tersebut ke tempat Camelia.
Dan sesampainya di depan rumah Camelia, pintu rumah itu sedikit terbuka dan Regi melihat Camelia yang sedang duduk dengan buku tebal yang sedang ia baca.
“Assalamualaikum Mel.” Salamnya pada saat itu.
Camelia membalas salam tersebut, “Waalaikum salam Mas, sudah selesai ya.” Camelia beranjak dari sofa tersebut dan segera membawa piring kosong yang berada di tangan kanan Regi.
“Terimakasih Mel, saya berangkat dulu ya.” Ucap Regi.
“Iya Mas, Mas berangkat dengan menggunakan apa?” Tanya Camelia.
“Sepertinya Pak Suro menjemput saya, tadi sempat mengirim teks katanya sedang menuju kesini.” Ucap Regi, Camelia pun mengangguk dan beberapa saat kemudian Pak Suro yang bekerja sebagai orang yang membantu di Klinik Balai desa itu menjemput Regi. Regi kembali berpamitan kepada Camelia, namun saat ia akan pergi Camelia melihat ada setitik noda di bagian dada kemeja yang di pakai oleh Regi.
“Mas Regi,” Panggil Camelia yang juga membawa dua helai tisu untuk menyeka nya, Ia sedikit berlari. Namun sayang Ia hampir saja terjatuh karena tersandung sebuah bongkahan batu yang tidak sempat ia lihat, Regi pun dengan cepat menyanggah tubuh Camelia dan hasilnya Regi melihat dengan jelas wajah Camelia dan mata mereka salinh bersahutan. Dalam hatinya Regi begitu memuji kecantikan Camelia, namun berbeda dengan Camelia yang wajahnya terlihat begitu memerah.
Regi Segera melepaskan Camelia, ia sadar bahwa Camelia terlihat risih saat tubuhnya dan tubuh Regi menyatu.
”Maaf Mel, saya tidak sengaja..” Kata Regi meminta maaf.
Camelia pun menukas permintaan maaf yang di berikan oleh Regi, “Justru saya yang harusnya meminta maaf, maaf karena sudah membuat waktu Mas terbuang sia-sia karena sudah membantu saya.” Sahut Camelia saat itu.
“Ini Mas..” Camelia menyeka kemeja yang terlihat bernoda akibat lelehan keju pada Omlet yang ia masak untuk Regi.
“Biarkan saya saja yang menyeka nya.” Kata Regi yang takut bahwa nantinya Camelia merasa malu kembali, Regi pun segera membersihkan noda tersebut.
“Biar saya cuci kemeja Mas, Mas ganti pakaian saja.” Ujar Camelia kembali.
Regi menolak, “Tidak usah Mel, Mas bisa membawanya ke Laundry. Mas sudah banyak merepotkan Amel.” Kata Regi kembali.
__ADS_1
“Tidak merasa begitu kok Mas, Amel ikhlas kok.” Regi melihat jam yang melingkari tangan nya itu, seperti nya jika ia harus mengganti pakaian itu, hal itu akan membuatnya terlambat.
Regi pun memutuskan untuk tidak mengganti pakaian tersebut dan kembali berpamitan kepada Camelia.