
Sementara itu, Kala sedang mengendarai sebuah mobil yang akan membawanya menuju kota Bandung. Kebetulan Kala sedang akan melaksanaan pertemuan bersama beberapa Klien nya, sebuah Proyek pembangunan telah di menangkan oleh Kala dan Proyek tersebut berada di kota Bandung. Sebagai pemilik sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan, tentunya Kala memiliki kesibukan yang sangat padat. Terkadang Kala pun tidak bisa memiliki waktu untuk dirinya sendiri, dan hal itu membuat Ninis merasa jika Kala memanfaatkan situasi tersebut untuk menemui Camelia.
Sebuah alunan musik menemani Kala di dalam perjalan tersebut, sebuah musik yang mengingatkan Kala kepada sosok Camelia. Kala tahu ini tidak baik, memikirkan Camelia sama saja jika dia membunyikan gendering perang untuk batin nya. Walaupun sebenarnya Ia sudah berjanji untuk tidak mencari Camelia, Ia akan tetap mencarinya. Ia akan tetap berusaha untuk menemukan Camelia beserta janin yang menurutnya adalah anak dirinya, perasaan kalut itu semakin menggelayut manakala wajah Camelia dengan jelas terlintas dalam benaknya.
“Ya! Aku tidak bisa melupakan mu. Dan jujur, semakin hari semakin yakin akan cintaku kepada Ninis tidaklah ada. Aku hanya mencintainya dengan kepalsuan, Aku jengah Mel. Karena benar, hanya kamu yang Aku cintai.” Ungkapnya dalam hati, “Aku akan mencari mu kemanapun, Aku akan membawa mu dan bayi itu kehadapan Ibu. Dan mau tidak mau, Aku akan membuat Ibu menerima mu sebagai Ibu dari anak ku.” Sambungnya.
Ia tak henti mengepalkan tangan nya, Ia begitu kesal dengan apa yang terjadi saat ini. Ia pun menyesal karena sempat mengatakan kepada Camelia untuk menjauhi dirinya dan melupakan semuanya. Ia pun berteriak sekencang-kencangnya, “Arggghhhhhhh… Dimana kamu Mel saat ini. Aku merindukan mu, Aku juga sangat mencintai mu! Jangan begini Mel, jangan buat aku menderita dengan memikirkan mu setiap detik! Rasanya Aku lebih baik mati dibandingkan Aku tidak dapat menemukan kamu! dan bayi itu, Itu darah daging ku! Aku harus bertanggung jawab padamu juga pada nya.” Air matanya menetes, Ia sungguh-sungguh merasa jika hatinya tidak kuat jika harus membiarkan Amel menderita atas apa yang sudah ia lakukan.
Kala mencinta Camelia, Camelia pun mencinta Kala. Hal itu di sadari olehnya, Ia pun be=lum jua mendapatkan kabar dari orang suruhan nya.Ia kembali berucap, “Aku akan kerahkan banyak Orang untuk mencari Camelia, Aku harus segera mengatur rencana itu.”
Dua jam berlalu di dalam perjalanan Jakarta-Bandung, sampailah Kala di kota Bandung dan Ia memilih untuk beristirahat sejenak. Ia pun memarkirkan mobil miliknya itu di sebuah kedai kopi ternama di Kota Bandung, saat ia selesai memarkirkan mobil tersebut ia pun keluar dari dalam mobil miliknya itu. Seorang gadis terlihat berjalan di hadapan nya, Ia mengira bahwa gadis itu adalah Camelia Nya.
Ia pun sedikit melangkah lebih lebar seraya menyusul langkah gadis tesebut, Ia berharap jika Camelia berada di sebuah kota yang Ia kunjungi saat ini. Ia kembali mengikuti langkah kaki wanita tersebut, Postur tubuhnya, rambutnya bahkan caranya melangkah begitu mirip dengan sosok Camelia.
Kala pun menepuk bahu wanita tersebut, “Camelia?” Tanya nya saat itu, wanita itu menoleh Dan terlihat begitu terkejut saat Kala menepuk bahunya.
“Maaf Mbak, saya kira Mbak Camelia teman lama saya.” Wanita itu pun menganggukkan kepalanya, “Mbak boleh jalan lagi.” Kala memejamkan matanya dan terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.
Kala berjalan kembali menuju kedai kopi tersebut, langkahnya terhuyung manakala ia menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak memikirkan keberadaan Camelia. Kala pun masuk kedalam kedai tersebut, “Selamat datang Pak, untuk berapa orang Pak?” Sambut serta tanya seorang pelayan wanita di dalam kedai kopi tersebut.
__ADS_1
Kala pun menjawab, “Hanya saya Mbak.”
“Apa mau Area Smoking atau No smoking?” Tanya nya kembali.
“Area smoking saja?” jawab Kala, pelayan tersebut segera mengajak Kala ke sebuah tempat yang memberikan ia udara lebih segar. Lalu Kala segera memesan kopi kesukaan nya itu, “Saya pesan Caramel Machiato sama Honey mustard roast beef focaccia nya 1 ya.”
“Baik Pak, di tunggu ya pesanan nya.” Ucap pelayan tersebut.
Sebuah panggilan mendarat pada ponsel miliknya itu, panggilan tersebut diberikan oleh Ninis Istri dari kala itu. Ia pun segera menerima panggilan tersebut, “Halo, Assalamualaikum Nis.” Sapa Kala yang semakin merasa begitu dingin saat berbicara dengan Istrinya.
“Waalaikum salam Mas, Mas sudah sampai ke Bandung?” Tanya Ninis kepada suaminya itu.
Kala pun menjawab, “Sudah Nis, Mas sampai sekitar 30 menit yang lalu.”
Kala mengatur napas beratnya itu, “Maaf Ya, Mas mungkin kelelahan setelah melakukan perjalanan tanpa beristirahat. Ini saja Mas baru mau sarapan, tadi kan gak sempat makan dirumah.” Terang Kala.
Ninis terdiam dan tak menghiraukan alasan yang diberikan oleh Kala, “Kamu marah karena Mas gak kabari?” Tanya Kala menyusul.
“Halo, Nis?” sambung Kala kembali.
__ADS_1
“Kalau memang tidak menjawab, Mas matikan ya sambungan telepon nya.” Ancam Kala pada Istrinya itu.
“Mas malah begitu!” Protesnya kembali.
“Ya Mas kan lupa, maaf juga sudah bilang. Lalu mau Ninis apa toh?” Tanya Kala kembali.
“Ya harusnya bilang, lain kali gak akan gitu. Mas selalu saja melupakan Ninis semenjak Mas sibuk dengan pekerjaan Mas itu!” Protes Ninis itu semakin membuat Kala kesal.
“Lalu Mas harus apa? Mas banyak kerjaan, dan Mas juga sangat sibuk. Tetapi Mas masih bisa dan sempat menerima panggilan kamu, lagipula ini hanya hal sepele Nis.” Sahutnya.
Ninis menarik nafasnya dalam-dalam, “Gitu aja kok ngambekan sih?” Tanya Kala dengan logat khasnya.
“Enggak gitu, tapi ini sudah sering Loh Mas. Mas tahu gak, Mas tuh aneh semenjak Camelia kabur dari rumah. Dari mulai sering melamun, terus Mas juga sering mengigau manakala sedang tidur. Sekarang sampai lupa mengabari Ninis dimana pun Mas berada. Ninis tuh jadi timbul rasa curiga.” Protes Ninis lagi dan lagi.
Kala yang semakin kesal itu pun membalas nya dengan sebuah kalimat yang lebih tegas, “Kamu sedang tidak baik, kamu sedang meracau dan aku tidak senang dengan semua ini. Aku pergi ke Bandung untuk melakukan pertemuan dengan Klien-klien besar ku, ini semua juga untuk kita, masa depan kita dan anak kita nantinya. Jika kamu ingin selalu mencurigai ku, aku rasa tidak perlu menghubungi ku!” Tegas Kala.
“Karena Jujur Nis, aku sangat tidak suka dengan sebuah perdebatan. Dan kau boleh kembali menghubungi ku di saat kau sudah tenang.” Tegasnya kembali.
“Mas, maksud ku..” Kala memutuskan panggilan nya itu, Kala menarik nafasnya dalam-dalam. Ia begitu kesal dengan tingkah Ninis akhir-akhir ini, apalagi Ninis dengan berani menolak keinginan Kala saat ingin melakukan aktifitas seksual itu.
__ADS_1
Dan entah mengapa akhir-akhir ini Kala memiliki emosi yang tidak stabil saat berhadapan dengan istrinya itu, mungkin karena permasalahan nya bersama Sundari yang tak kunjung selesai dan juga karena ia selalu memikirkan keberadaan serta nasib sial yang di lalui oleh Camelia.
Dan akhirnya, Kala pun menumpahkan semua kekesalan nya pada Ninis yang juga selalu memancing amarahnya. Kala merasa jika tidak nyaman saat bersama Ninis, apalagi semenjak Ninis selalu mencari tahu mengenai perasaan Kala saat tahu Camelia pergi dari rumah itu dan Kala merasa jika Ninis tidak memberinya sebuah kepercayaan.