
Pagi ini Yoona, Haru, Jina, dan Chan berangkat ke sekolah. Tetapi untuk hari ini mereka hanya akan belajar sampai istirahat ke 1 saja. Karena kak Lia sang wakil ketua OSIS mengadakan rapat untuk acara sekolah.
“Ku pikir hari ini akan menjadi hari yang melelahkan,” kata Haru yang sudah lemas padahal masih pagi.
“Mau bagaimana lagi, kita juga enggak bisa keluar dari OSIS ini,” jawab Jina sambil memakan bekal karena dia tidak sarapan sebelumnya.
“Sudahlah kita harus terima, lagipula sebelumnya malah kita yang berharap untuk menjadi OSIS.” Balas Aiera sambil fokus membaca novel yang dia bawa dari rumah.
Tidak lama kemudian Shiro, Jihoon, dan Jinyoung datang dengan muka sangat sedih. Chan yang duduk di sebelah Jinyoung mencoba mengajak Jinyoung berbicara. Bukannya menjawab Jinyoung malah menaruh mukanya ke meja dan mencoba untuk tidur.
“Ro,” panggil Jina dari tempat duduknya membuat Shiro menoleh.
“Mereka kenapa?” tanya Jina lagi kepada Shiro sambil menunjuk Jinyoung dan Jihoon yang mencoba tidur.
“Nanti saja,” jawab Shiro seadanya membuat Jina lebih pingin tau apa yang terjadi kepada mereka.
Beberapa menit kemudian jam pelajaran dimulai dan semua murid sudah masuk ke kelas. Tempat duduk yang sebelumnya kosong kini sudah terisi penuh. Mereka menyelesaikan jam pelajaran secara teratur seperti biasanya. Tapi kini tidak dengan Yoona yang malah ingin ke toilet.
“Jin, ikut ke toilet yuk,” ajak Yoona kepada Jina yang berada di sebelahnya. Dengan segera Jina mengganggukkan kepala karena dia sudah bosan dengan materi yang dijelaskan oleh gurunya.
Jina dan Yoona segera berjalan ke arah toilet. Sesampai di toilet Yoona segera masuk dan Jina menunggu di depan wastafel sambil mencuci tangannya. Tidak sengaja Jina mendengar beberapa obrolan dari luar toilet dan obrolan tersebut membuat Jina sangat ingin tau.
“Jadi kita akan melakukannya?” tanya seseorang dari luar toilet kepada temannya.
“Tentu saja, kita sudah merundingkan ini dengan Shiro.” Jawab temannya membuat Jina terkejut dan memikirkan apa yang mereka rundingkan.
__ADS_1
“Yakin?” tanya temannya lagi untuk memastikan.
“Iya, sudahlah ayo katanya mau ke toilet.” Ajak temannya dan cepat-cepat Jina masuk ke salah satu bilik toilet untuk bersembunyi.
Untuk bersembunyi Jina berlari ke arah toilet paling ujung belakang yang di sebelahnya ada Yoona. Lalu beberapa detik kemudian ke dua orang yang sebelumnya berbicara di depan toilet masuk ke bilik kamar mandi. Di dalam kamar mandi Jina menulis dikertas sticky note yang selalu berada di sakunya dan menyuruh Yoona untuk jangan keluar terlebih dahulu. Setelah menulisnya Jina menaruh kertas ke bilik kamar mandi yang Yoona tempati lewat pembatas pintu bagian bawah. Sampai 3 menit berlalu barulah ke dua orang ini mencuci tangan lalu keluar dari kamar mandi. Setelah Jina merasa mereka sudah pergi baru dia keluar dan segera memanggil Yoona.
“Kenapa Jin?” tanya Yoona kepada Jina karena dia tidak betah di dalam bilik kamar mandi yang membuatnya merasakan deja vu.
“Tidak apa-apa, maaf ya Yoon kamu sampai pucat begitu.” Kata Jina meminta maaf kepada Yoona dan segera mengajak Yoona ke kelas.
Sesampai di kelas Yoona dan Jina dimarahi oleh guru mereka, karena mereka sangat lama di toilet. Untung saja wajah Yoona pucat dan Jina membuat alasan bahwa mereka ke uks sebentar untuk meminta obat sebentar dan dengan mudahnya guru percaya kepaa Yoona dan Jina. Kemudian pelajaran dilanjut sampai jam istirahat tiba.
"Ayo ke kantin teman-teman," ajak Haru paling bersemangat. Tidak lupa Haru mengajak Jihoon, Jinyoung, Chan, dan Shiro ke kantin.
Para perempuan menunggu makanan mereka yang dipesankan oleh para laki-laki. Mereka mengobrol tentang rapat OSIS yang akan mereka ikuti sebentar lagi. Tidak lama laki-laki datang sambil membawa nampan yang berisi banyak makanan.
"Jina," panggil Haru sedikit teriak karena sudah berkali-kali Haru memanggil Jina.
"Apa?" tanya Jina kepada Haru yang membuatnya terkejut.
"Kenapa enggak makan? Terus kenapa melamun?" tanya Haru bertumpuk-tumpuk membuat Jina memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Jina, kenapa Jin?" tanya Jihoon mulai khawatir kepada Jina yang memegang kepalanya sendiri.
Tidak lama Jina pingsan membuat teman-temannya khawatir heboh. Saat yang lain heboh Jihoon berhenti makan dan segera menggendong Jina dan membawanya ke uks. Di uks dia segera meletakkan Jina lalu menunggu di luar dan membiarkan petugas uks untuk merawat Jina.
__ADS_1
"Jina kenapa ya?" tanya Haru mulai ingin tau.
"Enggak tau, dari tadi dia juga sedikit aneh," balas Yoona.
Tidak lama bel masuk berbunyi membuat mereka segera ke ruang OSIS untuk mengikuti rapat. Sedangkan Jihoon menemani Jina, karena Haru akan meminta ijin kak Lia bahwa Jihoon ijin untuk tidak ikut rapat. Untung saja Haru dekat dengan kak Lia jadi dia mudah diijinkan olehnya.
.
Sementara yang lain rapat, Jihoon masih setia menunggu Jina sampai bangun. Beberapa detik kemudian keringat dingin keluar dari dahi Jina membuat Jihoon khawatir dan segera memanggil petugas uks. Saat Jihoon ingin memanggil petugas uks Jina memegang tangannya dalam keadaan tidak sadar membuat Jihoon kembali duduk. Jihoon mengambil kain yang ada di meja dekat ranjang yang Jina tiduri lalu mengusap keringat dingin yang keluar dari dahi Jina. Tidak lama kemudian Jina meneteskan air mata dan membuat Jihoon tambah khawatir tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Jina sendirian.
"Jihoon maafkan aku," kata Jina yang masih belum sadar tetapi membuat hati Jihoon sedikit tersentuh. Dengan segera Jihoon memegang tangan Jina dengan erat. Dia kembali ingat tentang masa lalu mereka dulu. Saat itu Jihoon sedang sakit dan Jina menunggunya sampai Jihoon sadar.
"Jihoon aku benar-benar minta maaf, dan untuk saat ini aku harus pergi kamu harus rela dan harus ikhlas." Kata-kata yang Jina ucapkan membuat Jihoon segera mencoba membangunkannya dan dengan seusaha apapun Jihoon mencoba membuat Jina bangun. Dia mengambil minyak kayu putih dan meletakkan tepat di depan hidung Jina sehingga Jina menghirup aromanya dan kembali bangun.
Saat Jina bangun dia terkejut dan segera melihat ke sampingnya yaitu Jihoon. Jina segera memeluk Jihoon sambil meneteskan air mata yang tidak kunjung berhenti.
"Tenang Jina, aku masih di sini," kata Jihoon membalas pelukan Jina dan mengusap kepala Jina halus.
.
.
Bersambung...
Terima kasih untuk para pembaca...
__ADS_1
Jangan lupa buat like 👍🏻, klik favorit ❤, rating ⭐, komen atau saran 💌, vote 💎, dan follow author.
-from Author🌺