Incident On The 3rd

Incident On The 3rd
Kecurigaan


__ADS_3

Kini Yoona, Jina, Haru, Aiera, teman-temannya, dan kakak kelasnya telah kembali berkumpul di tenda OSIS. Mereka sedang mendinginkan pikiran yang sudah lelah karena kejadian sebelumnya. Tapi bagaimanapun juga mereka tidak boleh lelah maupun lengah. Saat ini Jinyoung sedang menatap Jina dengan pertanyaan yang cukup menumpuk dipikirannya. Haru yang berada di sebelah Jinyoung mengikuti arah mata Jinyoung dan penglihatannya berakhir pada Jina yang sedang menutup mata untuk menenangkan diri. Saat ini Haru tidak sadar atas apa yang dilakukannya tadi, karena dia dirasuki oleh Nara yang sebelumnya marah hingga Haru yang kena imbasnya.


Karena Haru tidak tau apapun dia menyenggol lengan Jinyoung, "kenapa kamu melihat Jina seperti itu?" Jinyoung menoleh dan mengelus kepala Jina sambil tersenyum. Karena perlakuan Jinyoung yang tiba-tiba membuat pipi Haru memerah malu.


"Lagi dalam masalah, kenapa kalian malah romatisan begini," Jihoon melirik Haru dan Jinyoung yang duduk bersebelahan dan tangan Jinyoung berada dipundak Haru membuat mereka seperti berpelukan. Daniel, Lia, dan Yena menoleh ke arah Jinyoung dan Haru sambil tertawa hambar. Haru yang merasa tidak nyaman, dia segera menjauh dari Jinyoung dan berpindah ke sebelah Yoona.


"Kak Lia, aku minta maaf atas nama Haru terhadap kelakuan teman kakak tadi. Saat itu Haru tidak sengaja melakukannya, jadi tolong maafkan dia dan bantu dia keluar dari penjara teman kakak." Jina memohon kepada Lia sampai terduduk di bawah, sedangkan Haru bingung karena dia tidak sadar waktu dia dirasuki oleh Nara. Yoona yang tidak tau apapun melirik ke arah Sanha berharap Sanha menjelaskan semuanya. "Aku yang merasuki Haru," kata Nara sambil menunduk seperti orang yang berbuat salah. Mata Yoona melebar, kini dia benar-benar bingung tapi dia juga cukup paham dengan apa yang dimaksud oleh Nara.


Lia menyuruh Jina untuk berdiri, "tenang saja, dia tidak akan dikeluarkan dari sekolah kok. Jadi tidak usah khawatir Jina dan sekarang lebih baik kita fokus dengan masalah ini dulu." Lia mencoba menenangkan Jina supaya dia tidak memikirkan masalah itu lagi.


Saat ini Daniel, Yoona, Haru, Shiro, serta yang lain sedang berpikir siapa yang bisa melakukan ini semua. "Kenapa kita tidak mengecek cctv pagar sekolah semalam atau cctv yang terletak di dekat sini." Shiro memberikan usul sambil menunjuk beberapa cctv yang terpasang untuk berharap bahwa acara akan berjalan lancar. Daniel segera mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon satpam yang kemarin mendapatkan jadwal berjaga di sekolah hingga pagi ini. Dia mengobrol dengan satpam tersebut, sehingga teman-teman serta adik kelasnya berharap ada seseorang yang muncul.


Tut!

__ADS_1


Daniel memberitahu kepada teman-temannya bahwa satpam mengatakan tidak ada yang kembali saat malam itu. Tapi saat semua sudah pulang ada 2 orang yang berada di sekolah untuk mengambil barang. Karena menurut ke 2 orang ini barang ini sangat penting, jadi karena itu satpam mengijinkan mereka untuk mengambil barang tersebut yang ada di dalam sekolah.


"Kita harus cek cctv saja," Jina segera berdiri dan pergi begitu saja. Tapi dia tidak kemana-mana melainkan ke ruang cctv diikuti Daniel dan Lia yang segera menyusul Jina dengan berlari. Sedangkan Yena, Yoona, Haru, Aiera, dan yang lain tetap di tenda untuk berjaga-jaga.


"Sebentar lagi potong kue dimulai, apakah kita ke sana?" tanya Yoona karena dia tidak begitu tau apakah itu penting atau tidak. Yena menggelengkan kepala sebagai tanda mereka tidak akan ke sana untuk saat ini. Mereka akan menunggu informasi dari Lia.


Di sisi lain, Lia, Jina, dan Daniel sudah berada di ruang cctv. Kini Daniel yang ahli komputer langsung melihat cctv kemarin malam. Jina terkejut saat melihat seseorang di cctv, dia benar-benar sangat terkejut. Pakaian seseorang yang ada di cctv mengingatkannya dengan orang yang sangat dibencinya. He Xin dan Eunha mereka terpampang jelas di cctv sehingga membuat mereka tersangka utama. Lalu tidak hanya saat di pagar, Daniel juga mengecek cctv yang berada di panggung. Di sana terlihat 2 orang yang sedang menyusun rencana, mereka juga menaruh ember tepat di atas panggung.


"Mereka anggota OSIS, tapi mengapa mereka melakukannya? Ini sepertinya tidak mungkin," Lia tidak percaya dengan apa yang ditampilkan di cctv. Dia segera keluar tapi ditahan oleh Daniel yang mencoba untuk menenangkannya. Daniel yakin bahwa mereka tidak bersalah, karena kalau dipikir-pikir mereka juga tidak ada hubungannya dengan masa lalu.


"Tapi kalau itu mereka bagaimana?" Lia sedikit curiga kepada Jina yang seakan-akan menutupi sesuatu. Jina menoleh, "tentu saja itu bukan mereka, pertama tinggi mereka tidak setinggi orang di dalam cctv. Kedua waktu di panggung dengan saat mereka keluar sama. Berarti ada 2 orang yang tinggal dan mengenakan pakaian yang sama, supaya mereka tidak ketahuan dengan kita dan membuat kita terbodohi." Jina mengambil nafas sejenak dan mulai berpikir, siapa dalang dibalik kejadian ini semua.


Tring!

__ADS_1


Ponsel milik Lia berdering menandakan ada telepon yang masuk. Lia segera mengangkat teleponnya dan sedikit menjauh dari suara Daniel dan Jina yang masih mengobrol. Beberapa menit kemudian Lia memberitahu Jina dan Daniel mengajak mereka pergi dan segera ke tenda OSIS. Tadi Yena menelepon karena ada petunjuk lagi dari lawan mereka, jadi secepat mungkin Lia mengajak Daniel dan Jina segera kembali.


Saat ini acara pemotongan kue sudah selesai dan berganti dengan acara berikutnya. Jina, Lia, dan Daniel juga sudah berada di tenda OSIS bersama Yoona, Haru, Yena, dan yang lain. Mereka menemukan petunjuk jika permainan akan dimainkan hanya 2 ronde saja. Menurut pendapat Jina permainan adalah mangsa atau orang yang akan terbunuh termasuk mendapatkan kejadian yang tidak menyenangkan. Saat ini mereka hanya bisa menunggu sampai permainan ke 2 dimulai.


Tuk!


Sebuah pesawat mainan mendarat di atas kepala Jina. Jina segera mengambilnya dan mulai mencari siapa seseorang yang telah melemparkan pesawat itu kepadanya. Dia benar-benar ingin tau dan ingin mencari masalah. Tiba-tiba satu tetes darah turun dari pesawat kertas tersebut dan Jina segera membuka kertas dan mulai membacanya dengan sangat seksama.


Muka Jina mendadak berubah dan matanya membuka lebar. Dia menoleh ke arah Sanha yang saat ini berada di sampingnya. Jina mengirimkan telepati kepada Sanha supaya Sanha segera mengelilingi sekolah bersama Nara, karena anak panah berikutnya segera dimulai.


"Satu buah panah mulai meluncur," ucap Jina dan kertas tersebut mendadak jatuh dari tangan Jina. Jina segera berlari mengelilingi sekolah, membuat teman-teman sekaligus kakak kelasnya juga ikut berlari. Jadilah tenda OSIS tersebut kosong dan tidak ada yang menjaganya.


Bersambung

__ADS_1


Tetap ikutin ceritanya ya teman-teman, terima kasih.


__ADS_2