
"Tuan, akan sangat berbahaya jika kita meledakkan makam itu. jika sampai beberapa orang yang tidak kita kenal bermunculan, Apa itu tidak akan membahayakan nyawa tuan Fabio?" tanya anak buah Fabio.
"Aku ingin Erik marah, Aku ingin Erik murka, aku tidak peduli dengan semuanya, jika aku sudah menginginkan sesuatu kalian lakukan sesuai perintahku." jawab Fabio yang kemudian memerintahkan anak buahnya untuk pergi.
Mentari di pagi hari menyusup celah jendela yang tertutup gorden tipis di kamar Caroline dan Erik.
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Erik yang masih berbaring di atas ranjang namun matanya sudah terbuka.
"Sudah siang ya?" tanya Caroline.
"Iya." jawab Erik yang masih memeluk erat istrinya.
"Kalau sudah siang kenapa tidak bangun?" tanya Caroline kembali.
"Tidak usah bangun seperti ini saja."
"Kamu ini cepat bangun, ayo mandi."
"Tapi sayang, Aku ingin bermanja seperti ini denganmu." Erik kembali menarik tubuh sang istri dan memeluknya.
"Sudah-sudah cepat bangun." tangan cantik itu kemudian mencubit dada Erik hingga membuatnya sedikit terkejut.
Di dapur lantai 1 Caroline melihat beberapa pelayan sudah melakukan semua pekerjaannya.
"Nyonya, apa Nyonya mau saya buatkan sesuatu?" tanya salah satu pembantu.
"Tidak usah, aku akan membuatnya sendiri." tangan terampil itu mulai membuat suatu makanan yang biasa dia buat dahulu.
Terasing di rumahnya sendiri membuat Caroline tidak terlalu bahagia, hidupnya yang diatur sendiri itu terkadang begitu menyedihkan. Kurang kasih sayang dari orang tuanya juga membuat Caroline tidak terlalu mementingkan apa yang akan dia lakukan.
"Apa Nyonya sudah terbiasa masak sendiri?" tanya salah satu pelayan kembali. Dia melihat majikannya masak dengan begitu terampil, kedua tangannya memotong beberapa bahan makanan juga membuat masakan.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri, walaupun aku mempunyai pembantu tapi aku melakukannya sendiri." jawab Caroline.
"Apa nyonya tidak mempunyai keluarga?" tanya pembantu kembali.
"Punya." jawab Caroline. Senyum yang dia tunjukkan membuat pelayan itu sedikit merasa terenyuh, senyum itu ada gambaran kesedihan yang begitu besar.
__ADS_1
"Apa Nyonya mau saya bantu?" tanya si pelayan.
"Tidak usah, Oh ya kalau aku kembali ke Belanda apa kamu mau ikut denganku?" tanya Caroline kepada pelayan yang bernama Stella.
Stella nampak terdiam dengan pertanyaan Caroline, tidak pernah ada satu orang pun yang memperlakukan pembantu sebaik Caroline.
"Di tempatku yang ada di sana ada namanya Kak Vivi, dia sudah ku anggap sebagai kakak yang selalu menjagaku. kalau kamu ikut denganku ke Belanda aku yakin kamu akan cocok dengan Kak Vivi." ucap Caroline kembali.
Stella terdiam menatap wanita cantik yang terlihat begitu baik kepada orang-orang yang ada di sana. "Nyonya begitu baik." ucap Stella sedikit terharu.
Beberapa menit kemudian Erik sudah turun ke lantai 1, dia menatap sang istri yang sedang memasak di dapur.
"Tuan." beberapa pelayan menyapa Erik.
Tak Ada jawaban, hanya sedikit anggukan yang menjadi isyarat jawaban iya. "Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Caroline.
"Kamu sedang memasak apa?" tanya balik Erik yang melihat istrinya memasak sesuatu.
"Aku rindu dengan masakan ini, sudah beberapa hari kita di sini." tangan lincah itu kemudian mematikan kompor. masakannya sudah selesai, dua piring seafood sudah dibuat oleh Caroline.
"Kenapa harus memasak? biar para pelayan yang melakukannya." ucap lembut Erik.
Pagi cerah dan indah itu menjadi menyebalkan saat Freya kembali menampakkan dirinya di mansion.
"Tuan, Nyonya." pelayan datang ke ruang makan.
"Ada apa?" tanya Erik.
"Nona Freya datang kembali, tuan." jawab pelayan. "Hehh..," Erik menghela nafasnya sedikit kasar. Hembusan nafas itu benar-benar membuatnya hilang selera makan.
"Suruh dia tunggu di ruang tamu saja, jangan perbolehkan dia masuk, bilang padanya kalau aku dan Erik sedang makan." minta Caroline.
"Baik, nyonya." jawab pelayan wanita.
"Aku akan pergi untuk melihat gudang ku yang sedang bermasalah, sayang. Kamu bisa di sini sendiri kan, karena aku akan mengajak John, Kelvin dan Elios." ucap Erik.
"Makan dulu Sayang, setelah makan kita bicarakan." sepasang suami istri itu makan dengan begitu lahapnya sedangkan di ruang tamu.
__ADS_1
Freya terus menunggu kedatangan Erik, dia benar-benar tidak tahu malu sama sekali, mengejar suami orang pagi siang dan malam.
"Kenapa Tuan Erik tidak mau keluar?" tanya Freya.
"Tuan sedang makan bersama nyonya, nona Freya." jawab pembantu.
"Biasanya kalau aku datang tuan Erik langsung menemuiku. Lalu kenapa sekarang tuan Erik tidak mau menemuiku? ah, kalau begitu biar aku menemui Tuan saja." Freya berdiri hendak ke tempat Erik berada.
"Lebih baik kamu tunggu di sini saja, Freya. kamu tidak inginkan perabotan yang ada di dapur mengenai kepalamu!" seru Kelvin yang datang bersama Elios dan John.
"Aku hanya ingin berbicara dengan Tuan Erik, Kelvin. Memangnya ada yang salah?" tanya Freya.
"Tentu saja salah, kamu tahu kan Kalau tuan tidak ingin diganggu, jadi kamu tunggulah di sini." jawab Kelvin.
"Kalau begitu aku akan menemaninya di sini, Kelvin. Kamu dan elios masuk saja." John langsung menekan pundak Freya hingga membuatnya langsung terduduk kembali.
John adalah pria yang memang tidak suka dengan Freya dari dulu, sikapnya begitu arogan sombong bahkan dia seolah menunjukkan kalau Erik memperlakukannya begitu istimewa.
"Apa yang kamu lakukan John! kamu tidak sopan sekali!" bentak Freya.
"Tuan sudah bilang kan tidak ingin diganggu, kamu ini benar-benar tidak mempunyai sopan santun ya. Kamu ini di sini juga pelayan sama sepertiku, jadi Jangan bersikap sebagai tuan rumah di sini." John mulai membentak Freya. suaranya begitu keras hingga membuat orang-orang yang ada di mansion milik Erik langsung bubar jalan.
John adalah pria yang begitu tegas, dia tidak suka perintah yang diberikan oleh Erik dibantah oleh siapapun. dulu John menghormati Freya karena Erik, namun sekarang Erik sudah membawa seorang wanita yang diakui sebagai istrinya. Hal itu membuat John sudah tidak menganggap Freya berharga di mata bosnya.
"Kamu tahu siapa aku, John? Aku adalah wanita kepercayaan tuan jadi biarkan aku menemui tuan." Freya terus bersikukuh.
John kembali menekan pundak Freya hingga membuatnya terduduk. "Apa kamu mau kepalamu itu aku benturkan ke dinding? Aku tidak mempunyai belas kasihan, aku tidak peduli kamu itu pria ataupun wanita. Jika kamu memaksaku melakukan hal itu maka jangan salahkan aku jika kamu tewas di tanganku." ancam John yang membuat Freya langsung terdiam.
"Lebih baik kamu pergi sekarang juga Freya." Elios mendatangi Freya yang ada di ruang tamu.
"Kenapa aku harus diusir? aku kan tadi bilang kalau aku ingin bertemu dengan Tuan Erik." Freya dia masih pergi untuk bertemu dengan Erik.
"Kami akan segera pergi, Freya. sekarang aku minta kamu tinggalkan rumah ini." Kelvin datang bersama dengan bosnya.
"Tuan, Saya ingin berbicara dengan tuan." Freya berusaha mendekati Erik.
"Pergilah Freya, Aku ada urusan penting." jawab Erik yang membuat John mendorong tubuh Freya untuk keluar dari mansion besar.
__ADS_1
**Bersambung**