
Erik langsung membawa sang istri masuk ke dalam rumah sakit, dia begitu panik saat melihat raut wajah sang istri yang mulai pucat.
"Dokter! dokter!" teriak keras Erik ketika dia sampai di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar begitu tidak berdaya.
"Ada apa, Tuan?" tanya salah satu suster.
"Tolong, istri saya." jawab Erik yang sudah menggendong sang istri.
Para perawat mengambil ranjang dorong.
"Sakit." ucap lirih Caroline yang begitu lemah.
"Kelihatannya istri anda mau melahirkan, tuan." jawab dokter.
"Tapi, usia kandungan Nyonya masih 7 bulan, suster." Stella memberitahu suster.
"Kelihatannya bayinya akan lahir lebih awal." jawab perawat.
Salah satu dokter langsung menghampiri para perawat yang membawa pasien.
"Tolong istri saya, Dokter. Tolong istri saya." Erik terus memegang erat tangan dokter.
"Kami akan menangani ini, Tuan. Tolong tuan isi data istri anda, Kami akan membawanya ke ruang persalinan." pinta Erik tidak menghiraukan itu. Dia meminta Elios dan Stella untuk mengurusnya, pria itu langsung berlari mengejar istrinya yang dibawa ke ruang persalinan.
"Tenang Sayang, tenang. Aku akan selalu ada di sisimu." ucap Erik yang begitu panik.
Raut wajahnya tidak bisa dikatakan lagi, jantungnya terasa terhenti ketika melihat wajah tidak berdaya dari istrinya.
"Kelihatannya kami akan melakukan tindakan operasi, tuan." dokter yang kemudian meminta Erik untuk menandatangani persetujuan operasi.
"Lakukan Apapun, Dokter. Tolong selamatkan istri dan anak saya." minta Dokter.
kedua kakinya benar-benar tidak bisa dibuat untuk berdiri, begitu lemah, pikiran yang begitu terombang-ambing.
"Tuan." Panggil Elios.
"Kenapa seperti ini, Elios. kenapa?" ucap Eri.
"Ini semua gara-gara kedua orang itu, Tuan. ini semua gara-gara kedua orang itu." berulang kali Stella mengatakan itu.
"Lakukan sesuatu, Elios. Aku ingin masalah ini segera selesai. Berani sekali mereka membuat istriku seperti ini." ucap Erik yang kemudian berdiri memegang pintu ruang operasi.
Hatinya begitu kacau, wanita yang dia cintai berjuang antara hidup dan mati. Apalagi dia melihat wajah pucat dari sang istri.
"Tuan, apa Tuan mau saya belikan kopi." tanya Stella.
"Aku tidak ingin apapun, Aku hanya ingin istriku." jawabnya. Kedua tangannya terus mengepal, dia meletakkan kepalanya di pintu ruang operasi.
__ADS_1
Tak berselang lama terdengar suara tangisan bayi yang sedikit lirih, Erik yang menyandarkan kepalanya di dinding ruang operasi dia langsung terkejut.
OEKK!!
OEKK!!
"Anakku." ucapnya kembali.
"Tuan, bayinya sudah lahir." Stella begitu bahagia ketika mendengar suara tangisan bayi.
Tak berselang lama terdengar kembali suara tangisan bayi, 2 bayi sudah keluar, mereka mengira kalau dua bayi itu sudah cukup. Namun tak berselang lama diantara rasa pilu dan takut itu terdengar kembali, suara tangisan begitu bahagia walaupun usia kandungan istrinya masih 7 bulan.
Suara tangisan itu terdengar tak berselang lama, salah satu dokter keluar dari ruangan itu.
"Tuan Erik." Panggil dokter.
"Iya dokter." jawab yang mendekati dokter.
"Tuan, anda mempunyai bayi kembar." jawab dokter.
"Terima kasih, Tuhan..," ucap Erik.
"Tapi..," perkataan dokter sedikit terhenti.
"Tapi apa dokter?" tanya Erik.
"Salah satu dari empat bayi kembarmu tidak bernafas?" jawab dokter yang membuat jantung Erik terasa tersentak luar biasa.
"Kondisi istri Anda masih lemah, Tuan Erik. kami akan berusaha untuk menyelamatkan salah satu bayi kembarmu." jawab dokter.
Kabar yang diberikan oleh dokter membuat hati Erik sedikit hancur, Bagaimana jika istrinya mengetahui hal itu? sekitar satu jam kemudian ranjang Caroline sudah dibawa keluar, 2 ranjang plus satu keranjang kembar di bawah dokter keluar.
"Sayang." Panggil Erik saat melihat sang istri dibawa keluar.
Hanya senyum yang ditunjukkan oleh Caroline sembari memegang tangan sang suami, pria itu berlari mengikuti ranjang yang dibawa oleh para perawat ke salah satu ruangan tempat Caroline. terlihat wanita itu masih sangat lelah.
"Biarkan istri anda beristirahat sebentar, tuan." pinta dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya, dokter?" tanya Erik.
"Nyonya Caroline membutuhkan waktu untuk pemulihan pasca operasi." jawab dokter.
"Lalu bagaimana anak saya, dokter?" tanya Erik kembali.
3 ranjang bayi itu diperlihatkan kepada Erik di ruang bayi. "Berkat istri anda Putri satu-satunya yang anda miliki berhasil selamat, tuan. Hati seorang ibu memang mampu menyelamatkan bayinya." jawab dokter.
Di ruang bayi Erik menatap 4 bayi kembarnya yang begitu lucu, salah satu tangannya memegang kaca seolah dia mampu menyentuh bayi-bayi mungilnya.
__ADS_1
"Tuan." Panggil Stella.
"Tolong kamu jaga istriku sebentar, Stella. Aku ingin melihat bayi-bayi kecilku." minta Erik.
"Baik, Tuan." jawab Stella yang kemudian berjalan ke ruangan Caroline.
3 jam kemudian Caroline sudah terbangun, tubuhnya begitu sakit pasca operasi. Tatapan matanya menatap ruangan tempatnya berada, di sana ada sang suami yang dari tadi memegang tangannya.
"Kamu baik-baik saja, sayang? Bagaimana perasaanmu?" tanya Erik.
Hanya kedipan mata sebagai isyarat bahwa dia baik-baik saja.
"Di mana bayi-bayi ku?" tanya Caroline.
"Ada di ruang bayi, kata suster nanti dibawa kemari setelah kamu sadar." jawab Erik.
Caroline tersenyum begitu bahagia, Walaupun dalam keadaan prematur Caroline terpaksa melahirkan bayi bayinya.
"Apakah mereka sehat-sehat saja?" tanya Caroline.
"Iya, kata dokter mereka butuh perawatan di sini untuk beberapa hari." jawab Erik.
Betapa bahagianya Caroline, Dia sekarang sudah sempurna menjadi seorang wanita. Dia menjadi wanita yang dikaruniai 4 bayi lucu. di suasana harum biru serta rasa takut juga kebingungan. Kelvin dan Elios hendak pergi ke rumah sakit.
Sedangkan Benito dan Melsia dibawa ke kantor polisi.
"Kenapa kami di bawah ke kantor polisi, kami tidak bersalah!" seru Benito.
"Kalian harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kalian lakukan! kalian sudah mencelakai Caroline." jawab McQueen. dengan dua tangannya sendiri pria itu memborgol orang tua Caroline, dia juga sudah mendengar mengenai Caroline yang di bawah ke rumah sakit.
"Lepaskan kami, lepaskan kami!" seru Melsia yang sudah berada di balik jeruji penjara.
Kelvin dan Elios sudah berada di rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Nyonya, Stella?" tanya Kelvin saat melihat Stella berada di depan pintu rumah sakit.
"Masuklah." jawab Stella yang kemudian mengajak 2 pria itu ke ruangan Caroline.
Mereka berdua akan mendapatkan sebuah kejutan yang benar-benar sangat istimewa.
"Kenapa kamu diam saja, Bagaimana kondisi Nyonya?" tanya Elios.
"Kondisi nyonya sudah lebih baik." jawab Stella.
Elios dan Kelvin nampak bernafas lega, setelah mereka naik lift menuju lantai 3 Mereka berjalan ke salah satu ruang VVIP.
"Oh ya Nyonya melahirkan bayi apa? perempuan atau laki-laki?" tanya Elios.
__ADS_1
"Nanti kalian lihat saja." jawab Stella yang memang sengaja memberi kejutan kepada dua pria itu. saat masuk ke dalam ruangan terlihat Caroline sedang disuapi oleh Erik.
**Bersambung**