
Setelah kejadian yang ada di sekolah tempat si kembar, Caroline memutuskan untuk melengserkan kepala sekolah dan memberi hukuman kepada tiga wanita yang sudah menyakiti anak-anaknya.
Siang itu Caroline berada di butik tempatnya, karena selalu keluyuran dan tidak ingin istrinya melakukan berbagai macam hal yang berbahaya. Erik memutuskan untuk memberi istrinya kesibukan.
"Nyonya." Panggil salah satu pekerja.
"Ada apa." jawab Caroline.
"Nyonya, ada tamu yang ingin mencari Nyonya." jawab pegawai.
"Kalau ada tamu, tolong kamu minta kak Vivi atau Stella mengurus mereka." jawab Caroline.
"Tapi, nyonya. dia ingin bertemu dengan nyonya.
"Aku kan sudah bilang aku tidak ingin menemui tamu siapapun, tolong minta kepada Kak Vivi atau Stella untuk menemuinya. Aku ingin mengistirahatkan diriku, tubuhku benar-benar capek." Caroline yang kemudian membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kantornya.
"Selamat siang gadis pembuat rusuh." Panggil seseorang yang ada di tempat itu.
Mendengar sebuah panggilan yang begitu familiar di telinganya, Caroline langsung membuka matanya, dia menoleh dengan sangat kencang. di sana sudah berdiri seorang pria yang begitu dikenal oleh Caroline.
"Ruhan!!" teriak Caroline dengan sangat kencang. Dia yang terbaring langsung terbangun, dia berdiri kemudian melompat memeluk Ruhan.
"Hai hai hai, kelakuan apa ini." Ruhan merentangkan tangannya. Kalau sampai ada Erik di sana bisa kehilangannya nyawa itu orang.
"Senang sekali melihatmu, Ruhan." ucap Caroline yang masih menempel seperti cicak di tubuh Ruhan.
"Caroline turun dari tubuhku, kalau sampai suamimu melihat ini semua.. bisa dicincang habis aku ini." jawab Ruhan.
Caroline langsung melepas pelukannya, Wanita itu menatap Ruhan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Wah.. wah wah, kamu ini benar-benar tidak berubah ya. Kamu masih tetap tampan seperti dulu." puji Caroline yang kemudian menarik tangan Ruhan.
"Dari dulu sampai sekarang mulutmu itu sangat manis, pandai berbicara dan merayu pria.
"Jangan seperti itu dong, semenjak kapan aku pandai merayu? aku itu tidak suka merayu." Caroline tetap membela diri.
Entah seperti apa suamimu saat menghadapi kelakuanmu yang seperti tadi?" Ruhan yang kemudian duduk.
"Sudah lama kamu tidak menemuiku, Sudah berapa tahun kamu disuruh kemari malah tidak menggubris perkataanku." Caroline kesal.
"Kamu tahu kan, Caroline. Aku harus mengurus beberapa pekerjaan yang aku miliki di tempat kita itu, karena ada beberapa insiden akhirnya aku harus kehilangan semuanya." jawab Ruhan.
"Apa yang terjadi?" tanya Caroline.
"Salah satu rival bisnisku menghancurkan usahaku, Kamu tahu kan perusahaan yang aku rintis kecil-kecilan itu sedikit demi sedikit mulai berkembang. Apalagi bengkel yang aku miliki itu juga begitu banyak pelanggan." ucap Ruhan.
__ADS_1
"Ya seperti itulah para pengusaha, mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi mereka, mereka tidak peduli menghancurkan atau menyakiti. Yang ada di otak mereka itu menyelamatkan diri sendiri sih."
Ruhan menatap sahabatnya itu, ada senyum tipis terlihat di wajahnya.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Ruhan.
"Setelah menikah dan mempunyai anak kamu sudah berubah banyak ya." ucap Ruhan.
"Tentu saja aku harus berubah, pria itu selalu membuatku tertekan. Kamu tahu kan sifat cemburunya itu melebihi batas wajar, aku keluar tidak boleh, ke Casino tidak boleh. Bahkan aku seperti orang bodoh yang berkeliaran." jawab Caroline.
"Suamimu itu sangat mencintaimu, karena dia cinta dia paham betul bagaimana sifatmu. sifat yang urakan suka melihat pemandangan indah dan pecicilan itu. Tentu saja membuatnya harus waspada tingkat dewa." Ruhan tersenyum menatap sahabatnya.
"Bagaimana pernikahanmu?" tanya Caroline
Ruhan tersenyum kemudian menundukkan kepalanya. "Setelah aku bangkrut istriku meminta cerai, dia meninggalkanku dengan semua rasa sesak yang aku rasakan."
"Aku kan sudah bilang wanita seperti itu kenapa masih kamu banggakan, wanita seperti itu hanya menyukai hartamu saja. Walaupun aku seperti ini aku setia kok sama suamiku." Caroline tersenyum setelah mengatakan itu.
"Ya aku harus akui kalau kamu itu setia, walaupun matamu pecicilan tapi kamu ada lah wanita yang sangat luar biasa."
"Oh ya, dalam beberapa tahun ini aku hanya bisa melakukan video call dan telepon saja. Bagaimana kondisi anak-anakmu? terkadang mereka menelponku tengah malam."
"Ya.. seperti biasanya, mereka itu selalu membuat keributan. Tiada hari tanpa keributan." Caroline yang kemudian meminta bekerja di butik untuk mengambilkan Ruhan sesuatu.
"Oh ya, kamu kemari ada apa?" tanya Caroline.
"Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahu aku?.
"Aku kurang tahu, tanya saja suamimu. Dia memintaku untuk menemuimu terlebih dahulu. Katanya kamu masih mencari informasi mengenai keberadaan Avara?" tanya Ruhan.
Caroline menganggukkan kepalanya.
"Sudah 5 tahun ini aku mencari keberadaan Avara di negara kita dan di beberapa negara. Aku tidak tahu dia pergi ke mana, Aku begitu merindukannya." jawab Caroline.
Ruhan mengambil ponselnya, dia memperlihatkan sesuatu kepada Caroline.
"Apa?" tanya Caroline.
"Lihat saja." jawab Ruhan.
Sebuah gambar terlihat di sana, foto seorang wanita yang begitu dirindukan oleh Caroline.
"Avara?" Caroline terkejut saat melihat foto Avara di ponsel Ruhan.
"Iya, itu adalah Avara. dia sudah menikah dengan Jason dan memiliki satu anak." jawab Ruhan.
__ADS_1
Senyum begitu lebar dan mengembang ditunjukkan oleh Caroline. "Dia berada di mana? Bagaimana kondisinya?" tanya Caroline.
"Avara ada di negara ini, kamu tahu tidak mungkin kita memang berjodoh di negara ini. Aku sempat menghubunginya, kata Avara dia tinggal di salah satu tempat yang tidak jauh dari sini." jawab Ruhan.
Air mata menetes dari mata Caroline saat dia mendapatkan kabar yang begitu membahagiakan. "Kamu pernah menemuinya?" tanya Caroline kembali.
Ruhan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu aku akan menelpon suamiku terlebih dahulu." Caroline langsung mengambil ponselnya. Dia menelpon sang suami untuk memberitahu mengenai kabar bahagia ini.
Sebenarnya Erik sudah mengetahui kabar keberadaan Avara, namun Erik ingin Ruhan yang memberitahukan kepada istrinya. Beberapa hari ini istrinya itu sering uring-uringan bahkan marah-marah tanpa sebab. Erik berusaha memberikan yang terbaik kepada istrinya, Dia akan memberikan apapun yang membuat istrinya bahagia.
"Sekarang kamu ikut aku ke rumah, Ruhan." Caroline langsung menarik tangan Ruhan.
"Kamu mau ke mana, Caroline?" tanya Vivi.
"Aku mau balik dulu Kak Vivi." ucap Caroline.
Vivi menatap seorang pria yang sering sekali diceritakan oleh Caroline, seorang pria yang sekarang ditarik entah dibawa ke mana. Beberapa hari ini memang Caroline selalu uring-uringan, Tapi saat bersama pria itu raut wajah bahagia terlihat begitu jelas.
"Jadi ini hadiah yang diberikan oleh Tuan Erik." ucap Vivi.
"Ada apa Kak Vivi?" tanya Stella.
"Ternyata Tuan Erik memberi hadiah yang sangat unik." jawab Vivi.
"Maksud Kak Vivi?" tanya Stella.
"Sahabat terbaik sekaligus pria yang dianggap saudara oleh nyonyamu itu dibawa kemari oleh Tuan Erik." jawab Vivi.
"Maksudmu pria yang selalu diceritakan oleh nyonya Caroline?" tanya Stella.
Vivi menganggukkan kepalanya.
"Wah Tuan Erik benar-benar mencintai istrinya." Stella tersenyum bahagia.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
*My jodoh duren (duda keren)
__ADS_1
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊