ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
Benito dan Melsia


__ADS_3

"Sayang, aku sangat lapar." ucap Melsia.


"Kamu tenang saja, aku akan mencoba untuk mencari sesuatu." jawab Benito.


Nasib sudah menjadi bubur, semua yang sudah mereka lakukan mungkin begitu menyakiti hati anak-anaknya. Benito ataupun Melsia tidak akan berani pergi ke tempat Caroline karena mereka sudah hampir membuat putrinya meninggal. Tidak ada satu kabar pun yang mereka dapatkan dari kedua putrinya.


"Kita benar-benar jahat ya, sayang. kita benar-benar jahat kepada anak-anak kita, seandainya kita tidak melakukan itu mungkin sekarang ini aku sudah menggendong cucu-cucu kita. Bagaimana nasib Caroline dan Avara?" ucap Melsia.


"Berada di penjara hampir enam tahun lebih membuat kita merasakan bagaimana sesaknya hidup ini, kita selalu mencoba menyakiti putri-putri kita. kita selalu menganggap mereka barang yang tidak berguna sama sekali." jawab Benito yang benar-benar merasa menyesal.


Setiap dia menatap orang-orang sebayanya menggendong cucu, bercanda guru bahkan terlihat mereka begitu bahagia.


"Bagaimana kondisi Caroline, suamiku? Apakah dia baik-baik saja? bagaimana kondisi bayinya? seandainya dia kehilangan bayinya dia akan sangat membenci kita." air mata menetes dari kelopak mata Melsia. Sebagai seorang ibu dia tidak bisa melindungi anak-anaknya, tidak bisa membuat mereka nyaman.


"Sudahlah, lebih baik kita mencari sesuatu terlebih dahulu. Setelah kita mendapatkan sesuap nasi baru kita mencari informasi mengenai Caroline. Entah di mana keberadaan Putri pertama kita, Bagaimana kondisinya dan apa yang terjadi padanya."


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Benito ataupun Melsia begitu menyesali, apa yang sudah mereka lakukan kepada anak-anak mereka hanya karena mereka perempuan. Mereka tidak disamakan dengan anak laki-laki, semuanya mereka halalkan untuk mendapatkan kekayaan.


Di tempat lain Avara dan putranya sedang berjalan-jalan di sekitar tempat mereka, senyum yang begitu mengembang dengan raut wajah yang benar-benar begitu bahagia.


"Mama." panggil Putra Avara yang bernama Peter.


"Ada apa, Sayang." jawab Avara.


"Mama, nanti kalau kita sudah sampai di rumah. Kita membuat kejutan untuk papa ya." ucap Peter.


"Tentu saja sayang, kita akan membuat kejutan untuk papa karena hari ini adalah hari ulang tahun papa. Jadi kita akan membuat kejutan yang sangat luar biasa." jawab Avara.


"Mama." panggil Peter kembali.


"Ya sayang, seandainya tante Caroline ada di sini mungkin kita semua akan bahagia kan?" tanya Peter dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Perkataan yang keluar dari mulut Peter membuat Avara langsung sedih, dia tidak tahu bagaimana kabar dari adiknya tersebut.


"Tentu saja sayang, tentu saja. Jika tante Caroline ada di sini pasti akan sangat menyenangkan, Dia adalah seorang wanita yang begitu luar biasa. Walaupun tingkahnya sangat barbar dia begitu menyayangi mama."


"Apakah tante Caroline sudah menikah, mama?" tanya Peter.


"Seharusnya sudah, aku yakin tante Caroline sudah menikah." jawab Avara.

__ADS_1


"Lalu, apakah dia menikah dengan paman Ruhan?" tanya Peter terus menerus.


"Mama tidak tahu sayang, Mama juga tidak mendengar mengenai informasi dari Paman Ruhan. Bagaimana dia dan apa yang terjadi setelah dia menolong mama dan tante Caroline."


"Mama sudah menganggap Paman Ruhan sebagai saudara kan? Lalu seperti apa paman Ruhan?'


"Sudah-sudah, kamu ini dari tadi bertanya terus. Mama sampai kebingungan menjawabnya, lebih baik kita segera kembali. kita buat makanan enak kita beri kejutan sama papa. oke!"


"Oke!" jawab Peter yang kemudian menggenggam erat tangan mamanya.


Langkah kaki yang begitu ringan itu terhenti ketika mereka melihat dua orang yang sedang mengoyak sampah.


"Apa yang mereka lakukan, mama?" tanya Peter saat melihat ada seseorang yang mencari sesuatu di tempat sampah.


"Entahlah sayang." langkah kaki ibu dan anak itu terhenti. sedangkan dua orang yang sedang mencari sesuatu di tempat sampah itu terlihat begitu letih.


Sesaat kemudian wanita yang juga mencari sesuatu itu tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Mama, orang itu pingsan Mama." ucap Peter.


Avara dan putranya berlari untuk memberi bantuan kepada dua orang yang tadi mencari sesuatu di tempat sampah. sedangkan yang satunya tersungkur pingsan.


"Kami lapar, kami lapar." ucapnya berulang kali.


"Istrimu pingsan, Apakah kalian belum makan sesuatu sama sekali?" tanya Avara.


"Belum." jawab si pria dengan raut wajah yang begitu lesu dan brewok yang menutupi wajahnya.


"Rumahku di dekat sini, tolong kamu angkat istrimu." minta Avara.


Benito tidak melihat wanita yang berusaha menolongnya itu, dia mengangkat istrinya dan mengikuti ibu dan anak yang ingin menolongnya. Ketika mereka sampai di depan rumah ternyata Jason sudah ada di sana.


"Ada apa Sayang?" tanya Jason.


"Ini sayang, istri pria itu pingsan di jalanan. katanya mereka kelaparan." jawab Avara.


"Ya sudah kalau begitu bawa mereka masuk." jawab Jason yang meminta dua orang itu masuk rumah mereka.


"Sayang, bangun sayang." Benito berusaha membangunkan istrinya. Tetap saja Melsia masih belum bangun karena kelaparan.

__ADS_1


"Sayang, aku buatkan coklat panas dan sedikit makanan ya." ucap Jason.


Avara menganggukkan kepalanya, dua orang itu masih belum melihat sosok pria yang terus menggosok tangan istrinya itu.


"Kalian dari mana? Kenapa kalian sampai kelaparan?" tanya Avarah.


Benito begitu ketakutan, sesaat kemudian dia ingin mengatakan sesuatu kepada wanita yang tadi menolongnya. Tatapan mata Benito seketika terdiam, dia melihat sosok wanita yang ada di depannya.


"Avara." ucap lirih Benito. pria itu melihat Putri yang dia cari selama ini, sosok itu sekarang ada di depannya, membantunya dengan begitu tulus.


"Ada apa, tuan?" tanya Avara.


Karena brewok yang menutupi wajah ayahnya, Avara tidak mengenali pria itu.


"Ada apa?" tanya Jason.


"Entahlah Sayang, mungkin dia sedang mengingat seseorang. Mungkin dia mengingat keluarganya." jawab Avara.


Benito menundukkan kepalanya, dia benar-benar tidak mengira Kalau hari ini dia menemukan salah satu putrinya. air matanya tiba-tiba menetes, guratan kesedihan itu nampak jelas di wajahnya.


"Makanlah dahulu, tuan." Jason memberikan makanan kepada Benito. pria itu juga tidak mengenal sosok pria yang ada di depannya.


Sesaat kemudian terlihat Melsia sudah terbangun, dia melihat sekelilingnya. tatapan matanya menatap seorang wanita yang ada di depannya, seorang wanita muda yang begitu dia rindukan, dia cari dengan semua informasi selama ini.


Karena begitu lemah Melsia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, air matanya menetes, wanita itu meminta tolong untuk dibangunkan dia menatap suaminya. Sesaat kemudian tangan itu meremas tangan Benito.


"Putri Kita, Putri kita." mungkin itulah yang ingin dikatakan oleh Melsia saat melihat Avara.


Karena begitu lemah Benito tidak mampu untuk berucap kembali, dia memakan makanan yang diberikan oleh menantunya. perlahan-lahan Dia memasukkan ke mulutnya, air mata itu menjadi saksi kebahagiaan yang sudah didapatkan oleh putrinya.


*Bersambung*


Mohon dukungannya untuk karyaku.


*Isteri bar-bar bos mafia


*Air mata dan pembalasan


*My jodoh duren(duda keren)

__ADS_1


Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊


__ADS_2