ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
FREYA DI USIR


__ADS_3

"Tapi, tuan." ucap Freya.


Erik masuk terlebih dahulu ke dalam mobil sedangkan Kelvin menjaga mobil itu, Freya diusir oleh John keluar pagar mansion.


"Jangan sampai wanita ini kembali lagi, ingat itu." perintah John kepada para penjaga rumah.


"Baik, Tuan." jawab para pengawal.


Caroline melihat Freya yang begitu bersih kuku untuk mendapatkan suaminya, wanita itu berjuang mati-matian, dia tidak peduli Erik sudah mempunyai istri atau tidak. Namun dia begitu ngotot ingin mendapatkan perhatian darinya.


"Sedekat apa tuanmu dengan wanita itu?" tanya Caroline kepada Stella.


"Tuan bersikap biasa kepada seluruh anak buahnya, nyonya." jawab Stella.


"Apakah Mereka terlihat begitu dekat?" tanya Caroline kembali.


Stella menggelengkan kepalanya.


"Kelihatannya wanita ini begitu berambisi untuk mendapatkan suamiku, lihat saja.. pagi siang malam dia selalu mengejarnya. Aku sampai pusing menghadapi wanita seperti ini." sedikit senyum ditunjukkan oleh Caroline hingga membuat Stella kebingungan.


"Lalu kenapa Nyonya tersenyum?" tanya Stella.


"Wanita seperti dia itu adalah lalat yang mengganggu, ibarat kata kita sedang makan Dia mengganggu di sekitar kita. Lalu apakah itu tidak akan membuat kita naik darah?" tanya Caroline yang membuat Stella menganggukkan kepalanya. dia baru paham apa maksud yang dikatakan oleh wanita itu.


Caroline kembali masuk ke dalam mansion, Dia meminta para pelayan juga pengawal yang ada di tempatnya untuk selalu bersiap siaga. dua kejadian yang dia alami membuatnya sedikit trauma juga takut.


Caroline mengumpulkan beberapa pelayan wanita dan pengawal pria, Dia meminta mereka untuk menceritakan Seperti apa majikannya dan juga tiga pria kepercayaan pria itu. Antara berani dan tidak mereka sedikit terdiam.


"Aku itu cuma bertanya bukan ingin mengintrogasi kalian, aku itu tidak terlalu tahu seperti apa suamiku. Jika aku tahu dia seperti apa aku juga harus berjaga-jaga kan? aku tidak mau mati konyol seperti kemarin." ucap santai Caroline yang membuat salah satu dari mereka membuka mulutnya.


Perlahan-lahan mereka menceritakan mengenai sosok Erik, sekitar beberapa jam kemudian Caroline akhirnya mengerti siapa suaminya.


"Hehh..," nafas yang berhembus sedikit kasar juga berat.


"Baiklah kalau begitu kalian harus dengar baik-baik ya, Entah berapa lama aku akan tinggal di sini bersama suamiku. Tapi aku mohon kerjasamanya dari kalian, Oh ya para pelayan wanita ini ada berapa yang bisa ilmu beladiri? berkelahi atau bermain kasar?" tanya Caroline yang membuat para wanita yang ada di sana saling menatap satu sama lain.


"Maksud nyonya?" tanya Stella.

__ADS_1


"Ya maksudku itu kalian bisa bermain kasar? berkelahi, menghajar meninju atau membanting?" pertanyaan itu kembali membuat para wanita sedikit kebingungan.


"Kalau kalian cuma mengandalkan para pria yang ada di sini bisa mati mengenaskan dong."


"Tapi Nyonya, pekerjaan kami hanya sebagai pelayan, pembantu di rumah ini." ucap Stella kembali.


"Baiklah kalau begitu, mulai besok setelah kalian selesai mengerjakan pekerjaan kalian, aku akan meminta para pengawal pria untuk melatih kalian. Bagaimana cara tinju menjotos menghajar memukul menendang membanting pokoknya pekerjaan kasar lah." jawab Caroline yang kemudian tertawa terbahak-bahak.


Takut kehilangan itulah yang dirasakan oleh Caroline sekarang, jika suaminya adalah orang yang bergelut di bidang yang sangat gelap maka dia harus berusaha untuk mengamankan dirinya sendiri. Dia tidak ingin mati konyol, dia masih menginginkan mempunyai keturunan, mempunyai anak banyak yang membuat hidupnya sempurna. terkadang Caroline memikirkan mengenai Avara, di mana keberadaannya dan Bagaimana kondisinya sekarang ini.


Jari jemari lentik itu mulai berselancar di dunia maya, Caroline terlihat menatap beberapa model pakaian. "E..," ketika melihat beberapa model pakaian mata Caroline langsung tertuju kepada salah satu model yang memakai pakaian itu. "Kenapa model ini wajahnya sangat mirip seperti Avara?" kedua matanya terus menatap model yang benar-benar mirip dengan saudaranya.


"Nyonya." Panggil Stella.


"Ada apa Stella?" tanya Caroline.


"Nyonya, apa nyonya ingin melakukan sesuatu?" tanya Stella kembali.


"Aku tidak ingin melakukan apapun, kamu tahu kan gara-gara kejadian beberapa waktu yang lalu aku dimarahi Suamiku karena aku menghajar para pria itu." jawab Caroline.


Keesokan hari Caroline pergi bersama Erik melihat beberapa perbaikan di kasino. "Apa Tuan tidak ingin melihat perkembangan hotel milik Tuan?" tanya Kelvin.


"Rencananya aku memang mau ke sana, Kelvin. Aku mau melihat bagaimana perkembangan tempat itu, tapi kamu tahu sendiri kan aku juga harus mengontrol beberapa pekerjaan di Kasino, tempat ini masih dalam tahap perbaikan karena serangan waktu itu." jawab Erik.


"Apakah hotel tempat milikmu jauh dari sini sayang?" tanya Caroline.


"Memangnya kamu mau ke sana, Sayang?" tanya Erik kembali.


"Iya, aku ingin melihat hotel yang katanya sangat besar itu." jawab Caroline.


Karena sang istri menginginkan melihat hotel akhirnya Erik memutuskan untuk mengajak istrinya ke tempat itu.


REGANS HOTEL


"Wow...," tatapan mata penuh ketakjuban saat melihat bangunan super megah yang ada di depannya.


"Ayo masuk Sayang." ajak Erik.

__ADS_1


Hotel Regans adalah hotel yang memiliki beberapa cabang di beberapa negara, hotel yang didirikan pertama kali oleh Philip Regan, Ayah angkat dari Erik.


"Selamat datang, tuan." manager hotel menyambut kedatangan Eri.


"Bagaimana, Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Erik.


Hari ini salah satu tempat yang ada di gedung ini disewa untuk acara salah satu pengusaha, Tuan." jawab manajer hotel.


"Ya sudah kalau begitu aku akan ke tempatku dulu, nanti selesai ini istriku ingin melihat-lihat tempat ini."


"Baik, tuan." jawab manajer hotel.


Erik mengajak sang istri, Kelvin dan Elios juga ikut. Mereka tidak terlalu takjub dengan tempat itu karena mereka sudah terbiasa berada di sana.


"Tuan Erik." sapa salah satu tamu hotel.


Erik menoleh menatap pria itu.


"Tuan Diablo." Erik yang kemudian menjabat tangan pria itu.


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu, Tuan Erik. senang melihatmu kembali." Diablo sedikit menepuk bunda pundak.


"Saya sedikit ada urusan di tempat ini Tuan, jadi sekalian saya melihat hotel."


Senyum sedikit ditunjukkan oleh Caroline ketika melihat pria yang dikenal oleh suaminya.


"Anda datang bersama Siapa, tuan? kekasih Tuan atau...," perkataan yang tidak dilanjutkan oleh Diablo. pria setengah bahaya itu menatap Caroline dengan tatapan mata yang tidak menyenangkan.


"Dia ada istri saya, tuan. anda jangan macam-macam, saya bisa membuat anda tidak bernyawa hari ini juga." ancaman langsung dikeluarkan oleh Erik. pria itu tidak akan membiarkan siapapun melihat istrinya dengan pandangan jelek.


"Maaf maaf tuan Erik, Saya tidak tahu. Saya kira dia kekasih Anda atau cuma teman kencan anda."


Setelah berbicara sedikit Erik mengajak istrinya, memeluk pinggangnya dengan begitu erat. siapapun tidak ada yang boleh melakukan sesuatu kepada wanita yang dia cintai.


Diablo menatap Erik yang memperlakukan istrinya begitu istimewa. "Aku tidak pernah mengira Kalau pria itu bisa jatuh cinta juga, aku kira dia cuma pria pendiam yang tidak terlalu mengurus wanita." ucap Diablo yang kemudian pergi dari tempat itu.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2