ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
HARUS KABUR


__ADS_3

Satu hari telah berlalu, Caroline berada di tempat Fabio. satu hari itu pula dia terus memikirkan cara untuk kabur dari tempat itu, entah dia berada di mana, Seperti apa tempatnya dan lain sebagainya.


"Jaga baik-baik tempat ini, jangan sampai wanita itu bisa lolos!" suara dari anak buah Fabio yang berada di luar ruangan Caroline.


"Beraninya dia melakukan hal ini padaku, lihat saja kalau aku sudah bisa keluar dari sini aku pasti akan membalasnya." tangan yang masih terikat itu digerakkan oleh Caroline perlahan-lahan.


Dulu sempat dia belajar cara meloloskan diri dari sergapan salah satu penjahat. pamannya dahulu selalu melatih Caroline untuk melepaskan diri jika suatu saat ada seseorang yang menculiknya atau dia disekap.


"Waktu itu saja aku bisa kabur, sekarang aku harus bisa kabur kembali. Aku tidak ingin berada di sini." salah satu tangannya berusaha untuk membuka ikatan, dengan begitu sabar dan kegigihannya Caroline berusaha untuk melepas tali yang mengikat tangannya.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya ikatan itu lepas. "Baguslah kalau begitu, aku harus segera pergi dari sini, aku harus mencari jalan untuk kabur." tubuh yang masih terikat itu akhirnya terlepas. dua bola matanya mencari celah dan berusaha untuk mengamati tempat itu.


Erik sendiri yang berada di tempatnya dia semakin menggila, sudah satu hari lamanya dia masih belum dapat mencari keberadaan sang istri.


"Kenapa kalian bodoh sekali!! kalian tidak bisa melakukan apa yang aku perintahkan!!" teriak Erik sangat murkah.


"Tenanglah Tuan, tenang. pasti Nyonya Caroline bisa ditemukan." Freya sudah berada di tempat Erik. Mulut manisnya berusaha untuk menenangkan Erik, namun dalam hati dia terus berdoa agar Caroline tidak ditemukan bahkan segera dibunuh oleh para penjahat itu.


"Pergi kalian semuanya!!" teriak Erik dengan sangat marah.


"Tenang tuan, tenang." Freya terus mencoba menenangkan Erik.


"Pergilah dari sini sebelum aku juga memberikan hukuman padamu!" seru Erik.


Freya berusaha untuk mendekati Erik, di saat seperti ini malah membuat pria itu semakin murka.


"Tenanglah tuan, saya akan membantu tuan untuk menenangkan diri." ucap Freya.


"Keluar dari tempatku!!" seru Erik.


Niatnya untuk mendapatkan perhatian dari Erik hari malah pria itu terus membentaknya.

__ADS_1


"Keluarlah Freya." Kelvin sedikit mendorong tubuh Freya keluar dari kamar Erik.


"Aku ingin menemani Tuan Erik." Freya terus membantah perkataan Kelvin.


"Apa kamu mau kepalamu itu aku benturkan ke tembok!" sarkas John yang sudah berada di tempat itu.


Mendengar suara John seketika Freya langsung terdiam, John bukanlah orang yang suka memberi peringatan dua kali, jadi Freya memilih untuk mundur dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tengah.


Erik terus murka, dia terus membanting barang-barang yang ada di tempat itu, namun sesaat kemudian tatapan matanya menatap sesuatu yang dipakai oleh istrinya juga.


"Ini..," ucap Erik saat menatap anting dari sang istri.


"Kelvin, Elios!" Panggil Erik dengan suara yang begitu keras.


Seketika dua pria itu berlari masuk ke kamar Erik. sedangkan Freya yang hendak berdiri itu langsung dihadang oleh John. "Satu langkah maka aku akan membenturkan kepalamu ke dinding hingga kepalamu itu pecah." ancam John yang membuat Freya langsung terdiam.


"Ada apa Tuan?" tanya Kelvin yang sudah masuk ke kamar Erik.


Erick melakukan hal itu karena beberapa kejadian bahkan dulu istrinya sering mencoba kabur. Hal itu membuat Erik harus waspada tingkat dewa.


"Tuan, apa tuha sudah menemukan keberadaan nyonya?" tanya Elios.


"Aku pasti akan menemukan keberadaan istriku." jawab Erik yang kemudian meminta Kelvin untuk segera mempersiapkan seluruh anak buahnya.


"Tuan, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Elios.


"Dengarkan Aku baik-baik, istriku memakai anting-anting yang aku beri pelacak, jadi kita akan menemukan keberadaan istriku." jawab Erik.


Sedikit senyum ditunjukkan oleh Kelvin dan Elios setelah mendengar perkataan Bos mereka.


Seluruh anak buah akhirnya dikumpulkan, dengan cepat Erik memerintahkan seluruh anak buahnya untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Caroline yang berada di markas Fabio dia melihat keluar dari jendela yang ada di tempat itu, dia menatap jendela kaca yang ada di kamarnya, pemandangan beberapa gedung tinggi. Yang terlihat di sana gedung-gedung terbengkalai itu sudah ditinggal selama bertahun-tahun.


"Gila, sekarang aku ada di mana ini." ucapnya. Caroline terus menatap tempatnya berada, tempat yang begitu asing, tempat yang tidak dia ketahui di mana itu.


Mata Caroline terus mencari sebuah barang untuk melarikan diri, dia harus sesegera mungkin kabur dari tempat orang yang benar-benar membuatnya sedikit bergidik ngeri. "Ini lantai berapa ya? kalau aku terjun dari sini dan jatuh ke bawah alhasil aku akan mati gentayangan. Kalau keluar dari lewat pintu pasti aku ditangkap." matanya terus menatap ruangan itu. kakinya berjalan memutari ruang kosong yang hanya ada ranjang ruangan kosong. "Kok ada ranjangnya, ini ruang eksekusi atau ruang apaan?"


Sebuah pipa besi tergeletak di ruangan itu, sedikit senyum ditunjukkan oleh Caroline saat melihat potongan pipa besi yang berukuran lumayan panjang. "Kalau buat memukul lumayan juga." ucapnya. sprei yang masih membungkus cantik ranjang itu ditarik olehnya, dia memutuskan untuk kabur dari tempat itu dengan cara melompat lewat jendela.


"Turun perlahan-lahan nanti akhirnya sampai ke bawah juga, mungkin ini lantai 2 atau lantai 3? tidak mungkin ini pasti lantai 3 atau lantai 4." dia mengukur ketinggian tempatnya berada ke lantai dasar.


Ceklek..


ketika hendak melarikan diri malah pintu ruangannya dibuka oleh anak buah Fabio, dua orang itu saling menatap satu sama lain.


"Kamu mau ke mana?!" seru anak buah Fabio.


"Ya jelas kabur lah." jawab Caroline yang terlihat memutar tubuhnya kemudian menendang kepala si pria.


Sekali tendangan pria itu masih berdiri, dua kali tendangan pria itu masih bisa bertahan, namun kemudian senyum mematikan itu diberikan oleh Caroline. tangan yang memegang besi itu seketika dilayangkan ke tubuh si pria hingga dia langsung tidak sadarkan diri.


"Dipukul satu kali masih bertahan, di pukul 2 kali masih bertahan, ya kamu harus merasakan pukulan besi ini." langkah kaki Caroline berjalan ke pintu.


Melihat ke kanan ke kiri tidak ada orang yang menjaga, senyumnya sedikit mengembang, langkah kakinya berjalan keluar dari ruangannya. Pintu ditutup agar tidak ada orang yang curiga. "Kamu harus menemaniku, besi Sayang. kalau perlu pukul kepala mereka dengan sangat keras, beraninya mereka menculikku." ucap Caroline dengan keberanian yang dia kumpulkan.


"Kamu mau ke mana?!" seru beberapa anak buah Erik yang melihat Caroline sudah lepas.


"Jangan mendekat!" Caroline langsung mengangkat pipa besi di tangannya.


"Tangkap wanita itu!" perintah dari salah satu anak buah Fabio kepada teman-temannya.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2