ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
FREYA MENEMUI ERIK


__ADS_3

Erik berada di kantornya, dia masih berada di hotel miliknya. Beberapa laporan hotel banyak yang tidak benar, hal itu membuat Erik meminta Elios dan Kelvin serta manajer untuk mengumpulkan seluruh laporan hotel selama beberapa tahun itu. Tiga Pria itu benar-benar dibuat sibuk oleh perintah Erik.


"Kita harus mencari beberapa laporan dari beberapa tahun ini, orang brengsek mana yang sudah melakukan korupsi." ucap Kelvin.


"Saya tidak tahu, Tuan. karena bukan saya yang mengelola hotel, saya kan bertugas sebagai manajer. Saya cuma memerintahkan anak buah saya dan mengatur hotel ini, untuk urusan lebih dalam kan ada staf-staf hotel yang mempunyai tugas masing-masing." jawab manajer.


"Itulah gunanya kamu dipekerjakan, Seharusnya kamu lebih teliti, kalau perlu ada sesuatu yang mencurigakan itu harusnya kamu langsung sigap." Elios memarahi manager.


"Kok jadi aku yang dimarahin, aku kan tidak tahu apa-apa." raut wajah manajer seketika ketakutan. tentu saja dia takut jika tiba-tiba dipecat atau dia dipersalahkan atas masalah yang terjadi.


"Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Kelvin.


"Pasti dia takut dipecat, iya kan?" tanya Elios.


Manager menganggukkan kepalanya dengan begitu cepat.


"Seperti dugaanku." Elios sedikit tersenyum melihat wajah ketakutan manajer.


Langkah kaki seorang wanita memasuki hotel. Senyum yang begitu lebar nampak di wajahnya, memakai rambut pendek serta blazer panjang dengan pakaian yang lumayan seksi. Freya masih belum kapok saja, dia datang ke hotel setelah beberapa hari lalu habis mendapatkan pelajaran dari Caroline.


Hari ini dia memakai penyamaran agar tidak diketahui oleh Caroline atau para penjaga keamanan hotel. Senyumnya terlihat begitu puas setelah dia menipu para penjaga keamanan dan orang-orang hotel.


Di lantai 3 wanita itu membuka pintu lift, Dia berjalan begitu anggun dengan beberapa aksesoris yang dia pakai. "Mereka bodoh sekali, mereka benar-benar terkecoh dengan penampilanku."


Selama beberapa hari ini Freya lebih memilih untuk bersembunyi, dia merawat dirinya dengan beberapa perawatan kulit akibat dapat tamparan juga tinju dari Caroline. "Hari ini akan kubuat Tuan Erik kehilangan segalanya, akan ku buat wanita itu tidak bisa berkutik sama sekali." di depan pintu kamar sekaligus kantor Erik, Freya mengetuk pintu ruangan itu.


Tok..


Tok..


Erik yang sedang fokus berada di kantor sebelah kamarnya nampak dia mendongakkan kepalanya. "Siapa yang mengetuk pintu kantorku? bukankah tadi 3 orang itu sudah pergi? Lalu kenapa mereka mengetuk pintu? mereka kan punya kuncinya." Erik sedikit bingung.


Merasa ada seseorang yang ingin menemuinya pria itu melihat CCTV yang berada di depan pintu kantornya. "Mau apa lagi wanita ini." Erik melihat Freya. seorang wanita yang sangat dikenal oleh Erik, Walaupun dia memakai penyamaran tapi mata jelly Erik tidak dapat tertipu sama sekali.


Salah satu tangan Erik mengambil ponsel, mengambil foto Freya yang ada di depan kantornya kemudian dia kirim ke istrinya. "Urusan wanita biar diselesaikan wanita saja." ucap Erik sembari tersenyum.

__ADS_1


Caroline yang berada di lantai bawah Dia melihat ponselnya yang bergetar, dia menatap ponsel itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Ada apa Nyonya?" tanya Stella.


"Ada pesan dari suamiku." jawab Caroline yang kemudian membuka ponselnya.


Betapa terkejutnya Caroline saat melihat seorang wanita sudah berada di depan kantor suaminya.


"Ada apa Nyonya?" tanya Vivi yang melihat raut wajah Caroline sedikit aneh.


"Kenapa di depan kantor suamiku ada seorang wanita?" tanya Caroline kepada dua wanita yang ada di depannya.


"Entahlah Nyonya." jawab Stella.


Sesaat kemudian pesan dari Erik kembali masuk. "Cacing Alaska ada di depan kantorku, sayang." bunyi pesan dari Erik.


Kedua mata Caroline seketika membulat sempurna. "Dasar tidak tahu diri, dia masih tetap tidak ingin menyerah juga." ucap Caroline yang sedikit keras.


"Ada apa nyonya?" tanya Vivi.


"Kenapa Nyonya tidak jadi pergi?" tanya Stella yang bingung.


"Sebentar." jawab Caroline yang kemudian mulai berselancar di ponselnya untuk mengirim pesan kepada sang suami.


Pasti Nyonya mempunyai rencana balas dendam.


Vivi dan Stella menatap Caroline yang mengotak-atik ponselnya sembari tersenyum. sesaat kemudian mereka saling menatap satu sama lain. "Pasti Nyonya mempunyai rencana." ucap serempak Vivi dan Stella.


Setelah mengirim pesan kepada suaminya Caroline kembali duduk di kursinya.


"Kenapa Nyonya kembali duduk?" tanya Vivi yang bingung.


"Sebentar saja, kak Vivi. setelah itu kita akan melihat siaran langsung." jawab Caroline sembari tersenyum begitu licik.


"Siaran langsung? Memangnya ada siaran langsung apa?" bingung Stella dan Vivi.

__ADS_1


Di kantor Erik sendiri pria itu membuka pintu kantornya, dia juga sudah memberi pesan kepada Elios juga Kelvin.


"Kamu siapa?" tanya Erik yang berpura-pura tidak tahu siapa ya wanita yang masuk ke kantornya.


"Tuan, apa Tuan sudah melupakan saya?" tanya Freya yang kemudian membuka kacamata hitamnya.


"Maaf, apa aku mengenalmu ya?" Erik kembali berpura-pura.


"Tuan sudah melupakanku? padahal aku benar-benar begitu merindukanmu, tuan." Freya kemudian membuka rambutnya palsunya.


Wanita itu tersenyum begitu genit kepada Erik, tersenyum begitu penuh godaan.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Freya?" tanya Erik yang kemudian kembali duduk.


Freya berjalan mendekati Erik, dia berusaha untuk menyentuh pria itu.


"Jaga batasanmu, Freya." Erik menarik diri.


"Tuan, Memangnya apa yang salah? kenapa Tuan selalu menolak saya?" tanya Freya yang berusaha mendekati Erik.


"Aku sudah bilang Kan kalau aku tidak ingin mempunyai hubungan denganmu, hubungan kita hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Namun sayangnya kamu menginginkan lebih dari itu." jawab Erik.


"Apakah salah jika saya menginginkan tuan?"


"Tentu saja salah, itu benar-benar salah karena aku mempunyai wanita yang aku cintai. Kamu hanyalah wanita yang aku percaya menjadi karyawanku, tidak lebih dari itu." jawab Erik.


Selalu saja jawaban seperti itu, padahal Freya sudah berangan-angan menjadi wanita yang dicintai oleh Erik.


"Aku sudah mencintai tuan semenjak lama, cinta ini benar-benar begitu tulus. Mengapa Tuan tiba-tiba membawa wanita itu?" membawa wanita yang tidak seharusnya Tuan nikahi." semakin lama Freya semakin tidak tahu diri. Dia terus berusaha menghancurkan perasaan yang dimiliki.


"Cinta tidak bisa ditentukan, cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak akan mungkin mencintaimu, Freya. Karena cintaku bukan untukmu." jawab Erik yang meminta Freya untuk keluar dari kantornya.


Sedangkan Caroline yang berada di tempatnya, dia sudah melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu. Siaran langsung itu benar-benar dilakukan oleh Erik atas perintah istrinya, di salah satu media sosial Apa yang dilakukan oleh Freya sudah tersebar secara langsung.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2