
Beberapa hari kemudian.
"Nyonya, apa nyonya hari ini mau melakukan sesuatu?" tanya Stella.
Sudah satu minggu ini Caroline tidak pergi ke hotel sama sekali, wanita itu sering sekali merasakan sakit perut karena kesalahannya sendiri yang selalu aktif dalam bergerak.
"Tolong tanyakan pada salah satu pekerja Apakah Debora masih ada di hotel ini." pinta Caroline kepada Stella.
"Debora itu Siapa, nyonya?" tanya Stella kembali.
"Itu artis yang melejit beberapa waktu ini, katanya dia tinggal di sini untuk beberapa hari, makanya aku minta kamu tanya pada mereka apa dia sudah check out atau masih di sini." jawab Caroline.
Stella menanyakan mengenai Debora yang masih ada di hotel atau tidak, Ternyata wanita itu sudah keluar dari hotel sudah beberapa hari yang lalu.
"Kenapa dia sudah pergi? apa karena aku tidak ke hotel selama satu minggu ini ya?" bingung Caroline.
Caroline tidak mengambil pusing mengenai hal itu, karena memang Debora adalah artis makanya Caroline tidak berpikir terlalu jauh.
Caroline sedikit merasa kesakitan di perutnya. "Ada apa, Nyonya?" tanya Stella.
"Beberapa hari ini perutku sering sakit, apa ini baik-baik saja ya." ucap Caroline. dia kembali mengelus perutnya.
"Perut nyonya kan sudah 6 bulan, mungkin mereka sedang aktif." jawab Stella.
"Perutku akhir-akhir ini sering sekali sakit, kadang aku berpikir aku mau melahirkan." Caroline yang kemudian berdiri sembari merilekskan tubuhnya.
SATU BULAN KEMUDIAN.
*HOTEL REGANS*
"Caroline!'' Panggil seseorang saat melihat Caroline.
Caroline menoleh saat dia mendapatkan panggilan, tatapan matanya langsung terkunci ketika dia melihat sosok yang begitu dia benci. sosok menyebalkan yang membuat rasa benci itu benar-benar tidak bisa dia lupakan.
Setelah melihat sang ayah ada di hotel Regans, Caroline langsung pergi meninggalkannya seolah dia tidak mengenal dua orang yang ada di sana.
"Caroline." Panggil Melsia.
__ADS_1
Melihat kedua orang tuanya ada di sana Caroline benar-benar tidak bisa berbicara, sedangkan Benito ataupun Melsia menatap perut membuncit dari putrinya.
"Caroline." Panggil Melsia.
"Kenapa kalian kemari? Apa keperluan kalian ke tempat ini." Caroline menatap tajam kedua orang tua yang sudah menjual putrinya itu.
"Apa yang kamu katakan Caroline, ini adalah ibu, Sayang. apakah kamu tidak merindukan ibu?" dengan kata-kata yang manis Melsia berharap putrinya akan luluh padanya. Apalagi sekarang kondisi Caroline yang sedang hamil, semua wanita yang sedang hamil pasti begitu merindukan sosok orang tuanya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, aku tidak ingin melihat kalian berdua." Caroline berusaha untuk mengusir Benito ataupun Melsia.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu, sayang? kami adalah orang tuamu, Apakah kamu tidak merindukan kami?" tanya Benito dan Melsia, dua orang itu seolah merindukan putrinya, padahal ada sesuatu yang dia inginkan hingga membuatnya berbicara begitu manis.
"Pergilah dari sini, aku tidak ingin melihat kalian." Caroline langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya. bukan Benito dan melsia namanya jika mereka tidak berusaha lebih keras lagi, mereka harus segera mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka harus segera mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.
"Caroline sayang," Melsia berusaha mengejar Caroline yang sudah pergi terburu-buru.
Stella yang melihat raut wajah majikan wanitanya begitu kesal nampak dia sedikit kebingungan. "Siapa Kalian? kenapa kalian mengejar nyonyaku?" tanya Stella yang menghadang Melsia.
"Minggir, dasar tidak tahu diri. Aku itu sedang berbicara dengan putriku!" secara kasar Melsia mendorong tubuh Stella hingga membuat Gadis itu langsung tersungkur.
"Sayang, dengarkan Ibu." Melsia mendekati Caroline. Dia berusaha memegang tangan putrinya.
"Aku sudah bilang kan, sudah dua kali aku memberi kalian kehidupan. satu kalian sudah membuat aku melunasi hutang-hutang kalian, kedua kalian meminta uang padaku dengan jumlah yang sangat fantastis. Aku sudah mengatakan setelah aku memberi kalian itu semua kita sudah tidak ada hubungan. Kau bukanlah orang tuaku, Anggap saja itu adalah bayaran untuk kalian karena kalian sudah melahirkan aku!" dengan sangat keras dan kasar Caroline membentak ibunya. Dia berusaha menolong Stella kemudian mengajaknya pergi.
"Dasar anak durhaka! anak kurang ajar, mentang-mentang kamu menikah dengan orang kaya raya kamu sudah melupakan kami!!" seru Benito dengan sangat keras. Dia berusaha mempermalukan putrinya agar Caroline mau mengakuinya.
Bukan rasa iba yang ditunjukkan oleh Caroline, malah rasa sakit hati itu semakin membesar. "Kalian itu bukanlah manusia, kalian hanyalah binatang!" ujar kalau Caroline di depan wajah ayahnya.
PLAKK!!
Satu tamparan langsung mendarat di pipi Caroline dari Benito, pria itu benar-benar belum berubah sama sekali.
"Dasar anak tidak tahu diri!" seru Benito.
"Panggil keamanan sekarang juga!" teriak Caroline dengan suara yang begitu menggelegar.
Tiba-tiba saja Caroline merasakan perutnya begitu sakit.
__ADS_1
"Ada apa Nyonya?" tanya Stella. Wanita itu melihat majikan wanitanya terus memegang perutnya.
"Telepon suamiku sekarang juga." pintas Caroline.
Dengan begitu panik Stella menelepon Erik, dia juga meminta beberapa pekerja hotel untuk membantu Bos mereka.
"Kalian mencelakai nyonyaku, kalian akan aku buat masuk penjara!" teriak Stella dengan suara yang begitu keras.
Melihat Caroline seperti itu raut wajah Benito ataupun Malaysia tentu saja sangat kebingungan dan ketakutan.
"Sa-sayang." Melsia langsung terduduk. dia berpura-pura begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Mundur kalian! kalian sudah mencelakai Nyonya ku!!" Teriak Caroline.
Beberapa petugas keamanan hotel langsung mendekati Caroline yang terduduk dengan wajah yang sudah pucat. bahkan keringatnya sudah bercucuran.
"Ada apa ini." Erik yang sudah berada di sana.
"Tuan, tuan tolong nyonya." Stella benar-benar ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Erik yang langsung mengusap keringat yang sudah bercucuran di tangannya.
Caroline tidak mengatakan apapun, namun tangannya langsung menunjuk ke arah dua pria yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mata Erik langsung melihat orang yang berdiri di dekat istrinya, dua orang yang begitu dibenci oleh istrinya, dua orang yang benar-benar sudah membuat istrinya merasakan kekecewaan yang teramat dalam.
"Apa yang telah kalian lakukan pada istriku?!" teriak Erik dengan begitu keras.
"Tahan Tuan, tahan." ucap Kelvin.
"Amankan mereka berdua, Elios antar aku ke rumah sakit!" seru Erik dengan sangat keras. seketika pria itu menggendong sang istri dan membawanya ke rumah sakit.
Caroline terus menahan rasa sakit di perutnya, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayi yang ada di kandungannya.
"Sakit..," rintih Caroline.
"Sabar sayang, Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." perasaan Erik benar-benar tidak karuan. Antara kebingungan takut semuanya bercampur aduk.
**Bersambung**
__ADS_1