ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
CACING ALASKA


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Beberapa hari setelah Erik kembali dari rumah sakit dia sudah kembali ke salah satu hotel miliknya, dia akan memantau tempat itu karena ada beberapa laporan mengenai seseorang yang berusaha memblokade sistem hotel.


Rapat terbatas antara karyawan hotel dan Erik membuat beberapa orang takut jika tiba-tiba pria itu murka.


"Nyonya." Panggil Stella.


"Iya Stella." jawab Caroline.


"Nyonya, apa Nyonya mau saya ambilkan sesuatu?" tanya Stella.


Setelah kejadian penculikan itu Caroline meminta Stella selalu menemaninya jika sang suami tidak berada di sampingnya. karena itu mulai sekarang Stella akan selalu bersama dengan Caroline.


"Mungkin hari ini atau besok Kak Vivi akan datang kemari." ucap Caroline.


"Wanita yang Nyonya ceritakan waktu itu?" tanya Stella.


"Iya, Kak Vivi adalah orang yang sangat baik. Kalau dia sudah di sini kamu akan menjadi teman yang sangat cocok baginya." jawab Caroline sembari tersenyum.


Perbincangan dua wanita itu membuat beberapa pria yang ada di sana melirik seorang wanita cantik dengan memakai dress berwarna cream dengan bunga berwarna merah.


"Nyonya." Panggil Stella.


"Iya, ada apa." jawab Caroline sembari meminum jus apel yang tadi dia minta.


"Beberapa pengunjung yang ada di hotel ini dari tadi melihat Nyonya." jawab Stella.


"Biarkan saja, Stella. ngapain juga harus mengurusi mereka, kalau kamu mau kamu goda saja mereka. lagian kalau aku melakukan hal itu.. namanya aku mencari masalah. Kalau kamu mau menggoda mereka, kamu goda saja."


"Tidak ah nyonya." jawab Stella sembari tersenyum.


"Ih.. aku tahu deh, kamu kan diam-diam terus melirik Elios kan? aku tahu kamu pasti naksir ya sama dia." goda Caroline yang membuat wajah Stella sedikit memerah.


Ponsel Caroline berdering, dia melihat nama yang tertera di ponsel itu. "Ada apa Elios?" tanya Caroline.

__ADS_1


Orang yang baru saja mereka bicarakan malah menelpon Caroline. "Oh begitu ya, aku ada di restoran bersama Stella. Kamu ke sini aja, jangan lupa bilang sama suamiku. jangan khawatir aku di sini juga diawasi oleh beberapa pengawal kok."


Setelah mengatakan itu Caroline mematikan ponselnya, Dia sedikit memutar tubuhnya menatap para pria yang dari tadi melihatnya sembari tersenyum.


"Benarkan, Nyonya?" tanya Stella.


"Para pria seperti itu prianya buaya darat, Kalau kita bermain-main sama mereka itu namanya kita bunuh diri. setelah mereka mendapatkan kita pasti mereka akan membuang kita ke jalanan." jawab Caroline.


"Bagaimana Nyonya tahu?" tanya Stella.


"Kamu lihatlah sorot mata mereka, cara gerak bibirnya juga raut wajahnya yang menyebalkan itu." sedikit senyum ketika Caroline mengatakannya.


"Wah.. Nyonya benar-benar hebat. Nyonya bahkan tahu seperti apa mereka." Stella sedikit bangga dengan majikan wanitanya itu.


"Kalau kamu mencari pria carilah sosok pria yang sangat mencintaimu, jangan sampai kamu mencintainya setengah mati. Jika kamu mencintainya mungkin cinta itu hanya akan bertepuk sebelah tangan, lebih baik kita dicintai karena cinta itu akan sangat berharga. Tapi ketika kita yang mencintai kebanyakan kita yang akan merasa sakit sendiri, cinta itu adalah suatu kebebasan, rasa ingin memiliki juga anugerah yang sangat indah. Tapi mencintai tanpa balasan itu akan membuat kita mati sendiri."


"Nyonya seperti seorang pujangga saja." Stella sedikit tersenyum.


Salah satu pria terlihat memberanikan diri untuk mendekati Caroline, dia hendak duduk di tempat itu namun sayangnya Elios lebih dulu datang.


"Saya hanya ingin berkenalan dengan dua wanita ini." jawab si pria.


"Jika kamu mau hidup segera pergi, jika kamu ingin mati duduk saja di sini." ancaman maut langsung dilontarkan oleh Elios yang membuat si pria langsung pergi dari tempat itu.


Caroline tersenyum melihat raut wajah ketakutan dari pria yang hendak berkenalan dengannya itu. "Kalau punya pasangan seperti suamiku itu enak kita aman, bahkan dua anak buahnya ini juga ketularan. Kalau kamu punya pasangan seperti dia bisa terjaga kamu." Caroline semakin menggoda Stella hingga membuat Stella menunjukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Elios, sedangkan Elios sendiri dia sedikit bingung dengan kata-kata yang diucapkan oleh majikan wanitanya.


"Memangnya ada apa nyonya?" tanya Elios.


"Tidak apa-apa, Oh ya. kamu ngapain kemari? Apakah ada sesuatu?" tanya Caroline.


"Tuan meminta saya untuk menemani nyonya, Tuan bilang rapat akan berlangsung sedikit lama, Nyonya." jawab Elios.


"Ya sudah kamu duduk aja di sini, lagian kita ngobrol bertiga kan lebih seru, Iya kan Stella?" Caroline sedikit mengedip-ngedipkan matanya. Hal itu membuat Stella malah semakin menundukkan kepalanya tak berani menatap Elios sama sekali.


"Nyonya, apa Nyonya sudah mendengar kabar mengenai cacing Alaska?" tanya Elios.

__ADS_1


"Cacing Alaska? memangnya siapa cacing Alaska, Nyonya?" tanya Stella yang bingung.


"Siapa lagi kalau bukan Freya, wanita tidak tahu diri, tidak tahu malu, tidak punya harga diri, tidak punya martabat, tidak punya muka tidak punya sesuatu yang dibanggakan, tidak punya etika itu benar-benar membuatku sangat kesal." jawab Caroline panjang lebar.


"Panjang banget perumpamaannya, nyonya." ucap Elios.


"Ya kamu pikir aja bener nggak ucapanku tadi? dia itu benar-benar wanita yang tidak mempunyai hati sebagai seorang wanita, sudah berapa kali dia ditolak suamiku eh malah nantang aku. Dia nggak tahu kalau aku sudah marah." jawab Caroline.


Stella hanya tersenyum menatap majikan wanitanya, Elios tidak pernah berbicara dengan begitu bebas kepada siapapun, namun berbeda ketika dia berbicara dengan majikan wanitanya. Pria itu terlihat begitu bebas tak ada batas, bahkan mereka seperti orang yang sudah kenal begitu lama.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Stella?" tanya Caroline.


"Tidak ada apa-apa, Nyonya." jawab Stella.


"Oh ya, Memangnya ada apa Elios?' tanya Caroline.


"Tuan meminta John untuk menjaga Kasino, dia akan menggantikan Freya untuk selamanya." jawab Elios.


"Lalu, cacing Alaska itu akan ditaruh di mana?" Caroline penasaran.


"Mungkin akan ditaruh di hotel, dia akan menjadi wakil manager." jawab Elios.


"Wah hebat banget dong, kalau begitu aku bisa bermain-main. Aku akan ke hotel setiap hari, lagian Siapa yang meminta dia untuk pindah kemari? Apakah suamiku sendiri yang memindahkan dia?" tatapan mata penasaran membuat Elios menelan ludahnya sedikit susah.


"Kemungkinan dia meminta sendiri, Nyonya. dia tahu kalau tuan Erik akan berada di hotel ini." jawab Elios.


"Biarkan saja dia mau melakukan apa, lagian kalau dia berada di sini itu artinya aku akan mempunyai mainan baru." jawab Caroline.


Hari ini Freya akan dipindahkan ke hotel, dia akan menjadi bawahan dari sang manager Anggap saja jabatannya sudah turun 2 pangkat. langkah kakinya terlihat berjalan dengan begitu gemulai, wajah arogan dan sombongnya masih tetap ditunjukkan. Dia selalu berpikir kalau dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, padahal itu Semuanya hanyalah angan yang belum tentu dia dapatkan.


"Selamat datang Freya." sapa manager hotel.


"Terima kasih manajer, mulai sekarang aku akan membantumu di hotel ini." jawab Freya sembari tersenyum.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2