
"Tuan." Panggil Elios dan Kelvin.
"Kalian sudah datang? masuklah." jawab Erik yang masih menyuapi sang istri.
Caroline tampak tersenyum menatap dua orang kepercayaan suaminya itu.
"Di mana bayinya, tuan?" tanya Kelvin yang begitu bersemangat.
"Iya Tuan, Kenapa bayinya tidak ada? apa sedang dimandikan?" tanya penasaran dari Elios.
"Sebentar lagi dibawa kemari, tadi lagi diambil oleh suster." jawab Erik.
Senyum manis yang ditunjukkan oleh Caroline membuat Elios dan Kelvin sedikit penasaran. Apakah arti dari tatapan mata juga senyuman itu, ketika mereka berbincang dan tertawa lepas salah satu perawat masuk ke dalam kamar Caroline.
"Tuan." Panggil salah satu suster.
"Iya." jawab nya.
"Bayinya akan kami taruh di sini." suster yang kemudian membawa masuk satu box bayi.
"Wah ternyata Tuan mempunyai Putra." Kelvin dan Elios terlihat begitu bersemangat. Mereka memandang bayi tampan yang ada di depan mereka.
"Tuan." Panggil seorang suster kembali.
"Ya suster." jawab Erik kembali.
"Tuan, kami akan membawa masuk semuanya." ucap suster yang membuat Kelvin dan Elios saling memandang.
"Semua?" tanya mereka berdua.
Setelah itu 3 box bayi di bawah masuk ke ruangan Caroline, satu persatu box bayi itu dibawa masuk hingga membuat Kelvin dan Elios saling memandang satu sama lain. bahkan Elios dengan spontan memegang dadanya.
"Ya Tuhan." ucap spontan Elios.
"Kenapa Elios?" tanya Caroline.
Senyum kikuk ditunjukkan oleh Elios ketika dia ditanya oleh majikannya.
"Hahaha.. hahaha..," tawa bingung yang dapat di berikan oleh pria itu. Sedangkan Kelvin dia memejamkan matanya, berulang kali mengucek matanya kemudian menatap 4 box bayi yang ada di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Stella kepada Kelvin dan Elios.
Wajah segar bugar yang tadi masuk seketika berubah menjadi pucat, mereka hanya mengambil nafas kemudian mengeluarkannya berulang kali.
"Kita benar-benar tidak akan selamat." ucap lirih Kelvin.
"Alamat tiap malam kita akan bergadang." jawab lirik Elios sembari memegang pundak Kelvin.
"Kenapa kalian berbicara seperti itu? berbisik-bisik seperti pasangan suami istri yang lagi bahagia." Caroline dapat melihat keterkejutan dua pria itu.
"Tidak apa-apa nyonya, hanya saja kami sangat terkejut, kami kira bayinya cuma kembar dua.. ternyata ada 4." jawab Kelvin sembari tertawa bingung.
"Aku kira bayinya memang cuma ada dua, ternyata yang dua lagi ngumpet, waktu keluar mereka berebut gitu." jawab aneh Caroline.
senyum Kelvin dan Elios benar-benar menunjukkan kalau mereka masih belum siap.
"Apakah kalian sudah bersiap-siap?" tanya Stella di belakang tubuh Kelvin.
"Yang harus lebih bersiap-siap itu kamu, kamu harus bersiap-siap untuk bergadang." jawab Kelvin.
Dari tadi Stella sudah bersiap-siap, melihat 4 bayi kembar itu terasa dunianya makin melebar luas, langkah kakinya terasa semakin jauh.
Beberapa hari kemudian Caroline sudah kembali ke rumah besarnya, setiap pagi dia membuat seluruh pekerja yang ada dimension berhamburan karena tangis bayinya yang terkadang tidak mau berhenti.
*5 TAHUN KEMUDIAN*
"Kak Vivi!" seru Caroline.
"Iya Nyonya." jawab Vivi.
"Kak Vivi, tolong buatkan mereka minuman. satu dikasih minum yang 3 menangis, tanganku cuma dua tidak bisa melayani mereka semuanya!" teriak Caroline.
Begitu pula dengan Vivi, tangannya cuma dua, tangannya menggendong satu yang satunya memberikan susu. "Sama, Nyonya. tanganku cuma dua." ucap Vivi.
Akhirnya orang-orang yang ada dimension dibuat berhamburan oleh suara teriakan majikan wanita mereka di setiap pagi siang sore hingga malam.
"Tuan." Panggil Kelvin yang berada di kantor hotel.
"Ada apa Kelvin." jawab Erik.
__ADS_1
"Tuan, apa Tuan tidak telat menjemput si kembar?" tanya Kelvin.
"Elios sudah menjemput mereka, Kelvin. kamu sudah mempersiapkan semua makanannya kan?" tanya Erik yang kemudian meletakkan bolpoinnya.
"Sudah, tuan. semua makanan sudah saya persiapkan." jawab Kelvin.
"Oh ya, jangan lupa anakmu dan anak Elios itu juga harus makan di sini, bawa mereka kemari." minta Erik.
Kelvin dan Elios sudah menikah, Kelvin menikahi Vivi dan mempunyai anak berusia sekitar 2 tahun setengah. Sedangkan Elios lebih dulu menikah dengan Stella, anak mereka sudah berusia 2 tahun. Usia anak Kevin dan Elios terpaut 6 bulan karena Vivi lebih dulu hamil.
"Kalian harus bersiap-siap, bilang kepada para pekerja untuk bersiap-siap. Aku yakin ruang santai ku akan hancur berantakan hari ini." Erik yang kemudian mempersiapkan pakaian berwarna hitam.
Setiap hari Jika keempat anaknya ke hotel Erik selalu mengganti pakaian kemeja putihnya menjadi kaos hitam. Erik terkadang dibuat pusing oleh anak-anak kembarnya karena mereka selalu membuat kemeja putihnya itu kotor.
"Kalau begitu saya mau ganti pakaian dulu juga tuan, kalau tidak ganti pakaian kemeja saya bisa berwarna pelangi juga wajah saya." Kelvin yang kemudian pergi ke kamarnya yang ada di hotel untuk berganti pakaian.
Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar, hari ulang tahun yang kelima. Caroline meminta petugas hotel untuk mempersiapkan acara ulang tahun anak-anak mereka, tiga anak laki-laki satu anak perempuan, setiap mereka datang ke sana selalu membuat keributan.
Anak pertama Erik bernama Daniel Regan, anak keduanya bernama David Regan, anak ketiganya bernama Joshua Regan dan anak keempatnya bernama Jesselyn Regan.
"Mama mama." Panggil David.
"Ya Sayang." jawab Caroline.
"Mama, Lihatlah ada seorang wanita yang sangat cantik. Apakah aku boleh berkenalan dengannya?" bocah berusia 5 tahun itu benar-benar sangat genit. Masih kecil selalu memandang anak-anak gadis seusianya.
"Dasar anak kecil, masih kecil sudah mata keranjang, kalau besar kamu ini mau apa. bocah kecil sepertimu ini sudah menjadi kadal buntung, besar sedikit kamu mau jadi buaya buntung." Caroline terus mengoceh panjang lebar akibat kelakuan dari salah satu anak kembarnya itu.
Elios yang belakang tubuh Caroline nampak Dia hanya bisa menghela nafasnya berulang kali. "Bagaimana tidak sama, pasti ini keturunan asli dari Nyonya, masih kecil sudah pandai menggoda, anak seperti itu nanti kalau besar mau jadi apa ya?'' Elios malah ikut mempertanyakan hal itu dalam hatinya.
"Paman." Panggil Jesselyn sembari menarik pakaian Elios.
"Iya Jesselyn." jawab lembut Elios.
"Paman, Kenapa semuanya harus lahir laki-laki sih? ketiga kakakku laki-laki, anak Paman laki-laki, anak paman Kelvin juga laki-laki. Kenapa aku perempuan sendiri?" tanya Jesselyn yang membuat Elios juga memikirkan hal itu.
"Kamu benar sekali, Kenapa semuanya harus laki-laki ya? tiga kakakmu laki-laki, anak paman juga laki-laki anak paman Kelvin juga laki-laki. Kenapa kamu perempuan sendiri?" Elios malah berbalik bertanya kepada Jesselyn.
"Paman ini ditanya kok malah bertanya, Lalu siapa yang akan menjawab." dengan wajah kesal Jesselyn langsung meninggalkan Elios.
__ADS_1
**Bersambung**