
Beberapa hari kemudian.
"Selamat pagi, tuan." sapa para karyawan.
Erik hanya menganggukkan kepalanya.
"Selamat pagi, nyonya." sapa para karyawan kembali.
"Selamat pagi." jawab Caroline sambil tersenyum.
Perbedaan sepasang suami itu benar-benar begitu mencolok, langkah kaki mereka memasuki hotel.
"Manager, kumpulkan semua anak buah kita. kita akan briefing pagi ini." perintah Erik.
"Baik, Tuan." jawab manager.
"Sayang, aku mau ke lantai 4 dulu." pamit Caroline kepada sang suami.
"Biar elios yang menjagamu." ucap Erik.
"Tidak perlu sayang, aku akan pergi bersama Stella. Lagi pula kamu membutuhkan mereka berdua." jawab Caroline yang kemudian melambaikan tangan kepada sang suami.
Beberapa tamu penting datang ke hotel Regans, hari ini akan ada acara penting di hotel.
"Apakah hari ini ada acara, nyonya?" tanya Stella.
"Iya, hari ini akan ada acara besar di hotel. kata suamiku sih ada acara penting begitu." jawab Caroline.
"Oh.. begitu ya, nyonya."
"Kak Vivi nanti akan ikut ke pesta sama kamu." kata Caroline.
"Tapi Nyonya, buat apa saya ikut pesta, saya kan tidak pantas berada di tempat mewah itu." Stella sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak Vivi nanti akan membawa mobil kemari, Setelah itu kita berbelanja ke butik. Hari ini kita akan berdandan cantik dan datang ke pesta."
Freya yang ada di salah satu ruangan terlihat dia juga sudah bersiap-siap dengan beberapa gaun yang dia beli, hari ini dia akan datang ke pesta, dia akan menunjukkan kepada dunia kalau dia lebih cantik dan lebih mempesona dari Caroline.
Di salah satu kamar yang sudah diberi oleh manajer hotel, Freya terus menatap gaun yang dia beli dengan harga yang lumayan fantastis.
"Pesonaku akan membuat semua pria bertekuk lutut di kakiku, akan kubuat Tuan Erik menatapku, tak ada yang boleh memalingkan wajah dariku." ucap Freya. dia menatap cermin di kamarnya, memutar tubuhnya sembari menempelkan gaun yang ada di tangannya. "Aku benar-benar terlihat cantik." ucapnya.
Gaun merah yang dipilih oleh Freya dengan desain yang begitu seksi, dia ingin sekali membuat para tamu yang ada di tempat pesta nanti menatap tajuk padanya.
Caroline bersama dengan Vivi juga Stella pergi ke butik yang cukup ternama, tiga wanita itu memilih beberapa pakaian sesuai dengan selera mereka masing-masing. Caroline yang tidak terlalu suka warna mencolok, dia lebih memilih warna natural nan lembut.
Vivi memilih warna yang sedikit menantang, sedangkan Stella dia bingung memilih gaun yang akan dia pakai nanti malam.
"Menurut Kak Vivi Stella cocok warna apa?" tanya Caroline.
"Kalau dia lebih cocok pakai yang ini." jawab Vivi.
Gaun berwarna coklat muda itu dipilih oleh Vivi, terlihat gaun itu begitu pas di tubuh Stella bahkan warnanya sangat cocok di kulitnya.
"Tidak usah Nyonya, aku pilih satu gaun saja. Aku tidak terlalu suka pakaian seperti ini." Stella menolak pemberian Caroline. memang dia tidak terlalu suka gaun ribet yang dia pegang.
"Kamu benar, Stella. Aku juga tidak terlalu suka gaun, Aku suka memakai dress sederhana yang bisa dibuat bergerak bebas." tambah Vivi.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan memilih dua gaun, lagian yang satu gaun ini tidak terlalu mewah sih."
Akhirnya tiga wanita itu mengambil pakaian yang cocok untuk mereka, berjalan-jalan di sekitar tempat itu membuat tiga wanita itu begitu kelelahan, supir yang mengantar Vivi diajak keliling pusat perbelanjaan. Caroline juga tidak lupa memberikan pakaian untuk sopir juga anaknya.
"Di Belanda ada nyonya Adeline, di sini ada Freya. Para wanita tidak tahu diri itu kenapa sukanya mengganggu rumah tangga orang ya?"
"Mereka itu para pelakor yang harus dibinasakan, nyonya." tiba-tiba Vivi mengatakan hal itu.
"tepat sekali Kak Vivi, aku yakin Wanita itu sudah merencanakan sesuatu. Jika dia berani melakukannya maka hari ini akan kubuat Dia kehilangan segalanya, aku sudah cukup bersabar selama ini, lagian suamiku tidak ada rasa apapun sama dia." jawab Caroline sembari menyeruput minuman yang barusan datang.
__ADS_1
"Memangnya Nyonya mau melakukan apa?" tanya Stella?"
"Ya tentu saja melakukan sesuatu, tidak mungkin wanita itu diam saja, aku yakin sekarang dia merencanakan kejahatan, dia begitu berani menantangku, dia bahkan sempat mengajakku bertaruh apakah suamiku mencintaiku dengan tulus atau tidak." jawab Caroline.
"Wah mulutnya itu benar-benar harus disetrika ya." ucap Stella.
Beberapa jam kemudian malam sudah menjelang, pesta yang ada di hotel tempat Erik sudah dipenuhi oleh begitu banyak tamu, mereka datang ke tempat itu setelah mendapatkan undangan dari salah satu pengusaha dunia hiburan. Satu persatu tamu telah datang, Freya juga datang dengan memakai gaun berwarna merah warna yang begitu mencolok, hingga membuat gaunnya terasa sinar matahari di pagi hari.
Para tamu undangan menatap seorang wanita yang memakai gaun merah yang begitu seksi, belahan panjang hingga sampai ke pinggul. Freya benar-benar menarik perhatian para tamu undangan, senyumnya begitu merekah.
"Tuan Erik, nyonya Regan." sapa si pengusaha.
Akhirnya Caroline dan Erik juga datang ke pesta itu, pandangan mata para tamu menatap pemilik hotel dan istrinya yang barusan datang.
"Jadi itu Nyonya Regan istri dari tuan Erik?" tanya beberapa istri pengusaha.
"Iya, katanya dia istri Tuan Erik. Lihatlah dia masih muda, dia cantik bahkan penampilannya seperti artis." jawab beberapa wanita yang ada di sana.
Pandangan yang penuh dengan ketakjuban itu beralih menatap Caroline.
"Dasar kurang ajar, beraninya dia melakukan hal ini padaku, aku adalah wanita yang paling cantik di pesta ini. Aku memakai gaun yang sangat indah dan seksi, siapa dia? dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku." ucap Freya dengan penuh amarah.
Tadi para tamu menatapnya dengan begitu memuja, sorot mata mereka benar-benar tidak teralihkan. Namun setelah kedatangan Caroline semuanya langsung memandang dia.
"Hahaha.. aku tidak pernah mengira kalau istri Tuan Regan masih sangat mudah." pengusaha dunia hiburan itu menatap Caroline yang memang masih muda, cantik dan benar-benar menawan.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan. Saya cantik berkat suami saya, dia selalu memanjakan saya dan mencintai saya." jawab Caroline sembari tersenyum kemudian menatap sang suami.
Itulah yang namanya cinta, kata-kata yang terucap itu bagaikan madu yang bercampur dengan racun. Tidak terlihat namun benar-benar terasa manis dan mematikan.
"Lihatlah Tuan Erik, istrimu sangat memujimu, pasti dia begitu mencintaimu." si pengusaha menyanjung Caroline.
"Anda salah, tuan. saya lah yang lebih mencintai istri saya, dia adalah permata yang tidak ternilai harganya." puji Erik.
__ADS_1
Si pengusaha benar-benar tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Erik, pengusaha yang benar-benar sulit disentuh itu sekarang memuji istrinya. "Wow.. anda benar-benar hebat, Nyonya Regan. Anda sudah menundukkan pria kejam ini.":ucap si pengusaha yang nampak tertawa.
**Bersambung**