
Senyum yang begitu bahagia ditunjukkan oleh Freya ketika dia dipindahkan ke hotel, kabar mengenai Erik yang akan memegang hotel Regans sendiri membuat Freya benar-benar berencana untuk pindah ke sana.
"Apakah kamu mau kamar tetap di sini atau kamu pulang ke rumah, Freya?" tanya manager.
"Mungkin aku minta satu kamar saja, kalau pulang terlalu malam aku bisa menginap di sini." jawab Freya.
"Baiklah kalau begitu, Aku akan memberikanmu kamar khusus karyawan." jawab manajer.
"Kenapa kamar khusus karyawan? aku bisa kan meminta kamar di dekat tempat Tuan Erik?" tanya Freya.
Sikap arogan dan sombongnya itu terlihat kembali, manajer yang mendengar itu tentu saja dia tidak akan berani melakukannya. "Tempat dekat dengan Tuan Erik?" tanya manajer yang bingung.
"Iya, aku kan orang kepercayaan tuan Erik, Jadi bisa kan aku minta kamar dekat dengan tuan Erik?" tanya Freya kembali.
Manajer sedikit tersenyum dengan permintaan Freya. "Hahaha.., Tentu saja itu tidak bisa Freya, kalau kamu meminta kamar dekat dengan tempat Tuan Erik itu tidak mungkin. Tuan Erik pemilik tempat ini, kamarnya kamar istimewa, Jika kamu meminta kamar di sana.. Apa itu tidak akan lucu, karena kamu bukan apa-apa di sini. Bahkan jabatanmu saja ada di bawahku." kata manajer.
Perlahan-lahan sikap yang dimiliki oleh Freya harus diturunkan, dia menganggap dirinya istimewa Itu juga harus dihilangkan.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu? Aku adalah orang kepercayaan tuan Erik, Jadi aku bisa dong minta kamar istimewa?" terlihat sekali kalau Freya memaksa manajer untuk memberi kamar di sekitar tempat Erik.
"Kalau kamu mau minta kamar di sana, jabatanmu itu sebagai apa? jabatan rendahan sepertimu meminta kamar di dekat Tuan Erik. Apa kamu mau meloncat tinggi ke langit?!" seru Elios yang sudah berada di sana.
Mulut pedas pria itu pasti akan membakar Freya, yah 11 12 lah dengan Caroline.
"Bukan begitu Tuan Elios, aku kan hanya meminta tempat di dekat Tuan Erik. Andai kata tuan Erik membutuhkan saya, jadi saya bisa segera ke sana." jawab Freya.
"Kenapa Tuan harus membutuhkanmu? di sana ada aku dan Kelvin juga Nyonya ada di sana, ngapain juga Tuan harus membutuhkanmu? Memangnya kamu ini apanya? tukang bersih-bersih? bahkan tukang bersih-bersih khusus kamar tuan Erik pun sudah ditunjuk." jawab Elios.
Sedikit perkataan dari Freya dibalas 1000 cacian dari Elios. terlihat sekali kalau pria itu memang tidak suka dengan kesombongan yang selalu ditunjukkan oleh Freya.
Freya diam tanpa bisa mengatakan apapun, jabatannya sudah turun sekarang, dulu pemegang jabatan tertinggi di kasino sekarang wakil manager. Artinya jabatan itu tidak ada gunanya sama sekali. Freya terdiam, dia menatap Elios dengan begitu kesal.
"Saya akan memberikan kamar khusus bagi para pekerja saja, tuan." kata manajer.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu mau beri dia kamar apa? apa kamu mau berbagi kamar dengannya? kalau kamu mau sih ya tidak apa-apa." cibir Elios.
"Ya tidak mungkinlah, Tuan. Saya sudah punya istri dan anak, saya mencintai istri saya. Saya tidak mungkin menghianatinya apalagi istri saya itu pendiam baik tidak menyebalkan seperti dia." jawab manajer yang membuat Freya begitu kesal pada pria itu.
"Kamu berani melawanku, manajer?" tanya Freya dengan amarah yang ingin dia keluarkan.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, kamu mau melawanku? sekarang ini aku itu atasanmu, jika kamu mau melawanku ya tidak apa-apa." jawab manajer yang kemudian memberikan kunci kamar karyawan untuk Freya.
"Oh ya Tuan Elios, bisa saya bicara sebentar tidak?" manajer mengajak Elios pergi. sedangkan Freya menatap dua pria itu dengan begitu kesal. Dadanya kembang kempis merasakan kekesalan yang begitu dalam, ingin sekali dia memukuli dua pria itu namun jika ia melakukannya maka dia bodoh.
"Lihat saja, suatu saat jika aku sudah bisa menundukkan Tuan Erik, maka kalian semua akan aku pecat, kalian semua akan aku buang." angan-angan Freya yang terlalu tinggi.
Caroline berdiri tidak jauh dari tempat manajer dan Freya berbicara, dia melipat kedua tangannya di dada.
"Ada apa Nyonya?" tanya Stella.
"Wanita seperti itu harusnya dibungkus kemudian dibuang ke sungai Amazon biar dia tidak ada yang menemukan, kalau perlu sih langsung di lahap sama ikan piranha. mulutnya bergerigi, lebar.. 1 kali hap ludes semuanya." ucap Caroline sambil tersenyum.
"Memangnya dia bersikap seperti apa?" tanya Caroline yang begitu penasaran.
"Nyonya tidak tahu sih, kalau dia datang dia tuh bersikap menjadi nyonya besar, dia selalu memerintah kami. Mencicipi makanan yang mau dimakan oleh Tuan Erik, setelah itu meminta kami semua melapor padanya." jawab Stella.
"Heh.., pantas saja dia sekarang setengah gila, angan-angannya terlalu tinggi sih.. mungkin kemarin dia jatuh dari lantai 100 ke lantai dasar, makanya otaknya setengah miring."
"Memang ada otak setengah miring, nyonya?".
"Ya Ada, itu buktinya dia otaknya setengah miring. Kalau waras sih yang nggak mungkin dia melakukannya."
"Kok seram ya, nyonya. Coba aja dia aku bawa ke Belanda, aku minta dia naik ke pagar belakang rumah Setelah dia sampai di atas Aku mau dorong dia. Setelah itu biar dimakan sama buaya buaya buntung itu."
"Memangnya di Belanda ada banyak buaya, nyonya?"
Setelah mendengar pertanyaan dari Stella Caroline malah menceritakan kejadian pertama kali dia dibawa oleh Erik ke sana. niat hati ingin melarikan diri lewat tembok pagar belakang rumah, setelah sampai di atas malah ada kolam buaya yang menantinya.
__ADS_1
"Hahaha.., Apa benar nyonya?" Stella malah tertawa terbahak-bahak.
"Diam." ucap Caroline yang membuat Stella langsung diam.
Setelah melihat Freya Caroline menemui sang suami, mereka harus segera pulang karena waktu sudah mulai sore.
"Apa kamu capek, sayang?" tanya Erik.
"Tentu saja capek sekali, Memangnya kamu tidak capek, sayang?"
Caroline memeluk erat tangan sang suami.
"Ya tentu saja aku capek, Aku mau segera istirahat membaringkan diriku di ranjang yang nyaman."
"Kita makan dulu, kalau langsung tidur malam-malam nanti kelaparan." jawab Caroline yang membuat Erik tersenyum.
"Tuan." Panggil Freya saat melihat Erik hendak keluar dari hotel.
"Ada apa Freya?" tanya Erik.
"Tuan, bolehkah saya menumpang di mobil tuan?" niat sekali Freya melakukan itu. dia berharap bisa merenggangkan hubungan Erik dan Caroline.
"Kamu cari kendaraan sendiri, kendaraanku sudah penuh, lagi pula aku tidak menerima penumpang asing." jawab Erik langsung pergi.
Kata-kata yang begitu menusuk itu tidak membuat Freya patah semangat, semakin Erik menolaknya semakin Freya begitu menginginkan Erik.
"Oh ya Freya, kalau kamu mau kamu bisa menumpang kok." ucap Caroline.
"Benarkah nyonya?" Freya begitu bersemangat.
"Iya, kamu menumpang di mobil para pengawal." jawab Caroline yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Freya.
**Bersambung**
__ADS_1