ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA
BUMIL YANG MEMBUAT LELAH


__ADS_3

Pagi ini Kelvin dan Elios sudah terburu-buru hendak pergi ke salah satu gudang milik Erik.


"Kelvin, Elios." Panggil Caroline yang baru keluar dari dapur. Dia berjalan menuju ruang tengah dengan membawa piring.


"Iya Nyonya." jawab Kelvin yang langsung berhenti.


"Aduh, alamat Ada apa lagi ini? kok perasaanku tidak enak banget ya." ucap lirih Elios saat melihat Caroline berjalan menuju tempat mereka berdiri.


"Iya Nyonya, ada apa?" tanya Kelvin.


"Kalian mau ke mana?" tanya Caroline.


"Kami mau ke gudang, Nyonya. Mau melihat beberapa barang yang katanya bermasalah." jawab Kelvin.


Caroline menganggukkan kepalanya berulang kali, sesaat kemudian wanita itu nampak tersenyum sembari mengelus perutnya. "Di mana bos kalian?" tanya Caroline karena tadi tidak melihat suaminya.


"Tuan Erik ada di ruang samping, nyonya." jawab Kelvin.


"Oh begitu ya." Caroline berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Kelvin. "Kenapa kalian diam saja, cepat kemari." minta Caroline.


Kelvin dan Elia saling menatap satu sama lain.


"Kok perasaanku nggak enak ya." ucap Kelvin.


"Alamat pasti ada sesuatu ini." jawab Elios.


"Sudah nggak usah berburuk sangka." Kelvin yang kemudian menarik tangan Elios. padahal dalam hati dia sendiri jantungnya sudah berdebar begitu kencang, bukan jantung berdebar kencang karena jatuh cinta namun dua pria itu memikirkan apa yang akan diperintahkan oleh Caroline.


"Sayang." Panggil Caroline.


Erik menatap sang istri yang sudah membawa dua piring besar kue. "Iya ada apa Sayang." jawab Erik.


"Sayang, perutku lapar." jawab Caroline.


"Kamu mau makan apa?" tanya Erik dengan begitu lembut.

__ADS_1


"Aku mau makan sesuatu." jawabnya. Caroline kemudian duduk di samping sang suami, matanya menatap Elios dan Kelvin yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kamu kan sudah membawa kue, kamu makan saja." dengan lembut Erik mengatakan itu. dia mengulurkan tangannya membelai rambut sang istri.


"Aku-aku memang lapar, tapi anak ini mau kamu yang makan kue ini sama mereka. Kalian berdua harus menghabiskan kue ini semuanya." jawab Caroline. dengan begitu entengnya dia mengatakan hal itu, dua piring kue itu bukanlah piring kecil melainkan ibarat bahasa Jawa itu ember bukan piring.


Erik tidak berani menjawab permintaan sang istri, dia malah menoleh menatap Kelvin dan Elios. "Sayang aku tadi kan sudah makan, perutku masih kenyang kok." ucap Elios.


"Aku tidak mau tahu, yang penting Kalian bertiga makan kue ini secepatnya. habiskan di depanku!" Caroline mulai marah. bibirnya mengerucut, matanya melotot bahkan alisnya sudah menyatu padu seperti sepasang suami istri.


Erik, Kelvin dan Elios nampak menelan ludah mereka masing-masing, serasa begitu berat kehidupan ini, tidak hamil sudah merepotkan malah sekarang hamil mengerjai 3 pria itu terus menerus.


"Tapi sayang..," ucap Caroline.


BRAKK!!


tiba-tiba Caroline mengebrak meja dengan sangat kasar, dia melotot menatap 3 pria yang ada di tempat itu. "Aku kan sudah bilang sekarang kalian makan kue ini secepatnya! bayiku ini mau kalian makan makanan ini. Masa kalian tidak mau memenuhi permintaannya sih!" bentak Caroline dengan nada suara yang sedikit menakutkan.


"Tapi Nyonya, itu makanan manis kami tidak suka makanan manis." Elios mencoba untuk menolong dirinya dan majikannya.


"Aku tidak mau tahu, sekarang aku minta kalian makan kue itu sekarang juga." ucap Caroline.


Senyum ditunjukkan oleh Caroline ketika suami dan dua anak buahnya makan kue manis itu di depannya. Mereka yang makan Caroline yang merasa kenyang.


"Sudah kan Nyonya, kami sudah memakannya." ucap Elios.


"Kamu kan baru habis 3 potong, habiskan semuanya." jawab Caroline.


"Tentu saja ketiga pria itu menarik nafasnya dengan begitu dalam kemudian menghembuskannya dengan begitu kasar. Begitu menyebalkan, bahkan benar-benar begitu membuat hati mereka keriting seperti tersengat aliran listrik.


"Sudah kubilang kan pasti kita akan mendapatkan sesuatu." ucap lirih Elios.


"Aku tidak suka kue manis ini, ini benar-benar menyebalkan." jawab lirih Kelvin.


"Kamu berani tidak bilang sama nyonya kalau perut kita sudah mulas?"

__ADS_1


"Aku tidak berani, Kamu lihat sendiri kan kedua alisnya itu sudah menyatu padu. Kalau lebih menyatu lagi bisa-bisa kita yang akan disatukan." jawab Kelvin.


"Haduh.. kenapa aku harus mempunyai majikan seperti dia, udah cerewet bawel menakutkan. Lihatlah sekarang kita dikerjain disuruh memakan kue sebanyak ini, kira-kira kita bisa selamat nggak?" tanya Elios dengan kata-kata yang dipelankan sepelan mungkin.


"Semoga saja kita baik-baik saja, semoga tidak terjadi sesuatu kepada kita setelah menghabiskan dua piring besar kue ini." dengan begitu pasrahnya Elios dan Kelvin memakan kue manis yang tidak mereka suka.


Sedangkan Erik dia makan kue perlahan-lahan, dia menggigit kue itu hanya di bagian tepi sedikit demi sedikit.


"Sayang, kamu tidak suka kue ini? Ini kue buatanku loh..," ucap Caroline dengan suara yang sedikit keras.


Erik tersenyum menatap sang istri. "Suka kok sayang, enak." jawab Erik dengan pasrah.


"Tuan mana berani melawan Nyonya, kalau dia berani pasti diusir lagi dari kamar." cibir Elios.


"Amit-amit kita punya istri seperti Nyonya, kalau kita punya istri seperti Nyonya bisa-bisa kehidupan kita berada di neraka." jawab Kelvin.


"Bukan saja di neraka, tapi intip neraka, kerak neraka bagian dasar terdalam dari neraka." tambah Elios dari dalam hati bahkan sepenuh hati.


"Pagi-pagi seperti ini disuruh makan kue manis, hidupku memang manis tapi kue ini terasa pahit sepahit Istriku yang hamil dengan semua permintaannya." guman Erik dalam hati yang mencoba untuk kabur namun tidak bisa.


"Masih ada satu piring cepat habiskan, perutku masih belum kenyang." Caroline terus memaksa tiga pria itu menghabiskan satu piring kue yang masih tersisa.


"Nyonya." panggil Vivi.


Mungkin Dewa dan Tuhan masih menyayangi tiga pria itu, di saat mereka dalam situasi yang sudah tidak berdaya Vivi datang bersama beberapa pelayan yang lain.


"Ada apa?" tanya Caroline.


"Kami sudah selesai merajut kaos kaki ini, nyonya.lalu kaos kaki ini dibuat apa?" tanya Vivi.


"Kalian pakai semuanya, mulai hari ini kalian pakai kaos kaki rajut itu. Setiap pagi aku mau lihat kalian memakainya atau tidak." jawab Caroline.


Erik dan yang lain menatap Vivi dan para pelayan yang lain datang dengan membawa kaos kaki pelangi.


"Jadi kami harus memakai kaos kaki ini, nyonya?" tanya Vivi dan yang lain.

__ADS_1


"Tentu saja, mulai besok kalian harus memakai kaos kaki itu. Tidak perduli Kalian mau atau tidak." jawab Caroline yang memaksa Vivi dan yang lain untuk memakai kaos kaki pelangi yang mereka rajut. Dalam hati mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh majikannya. wow masa mereka memakai kaos kaki itu, apa jadinya jika ada tamu yang melihat mereka.


**Bersambung**


__ADS_2