
"Bagaimana, dokter?" tanya Erik.
"Hemmm.., sebentar tuan." jawab dokter.
Dengan begitu penasaran Erik menunggu jawaban dari dokter. "Bagaimana, dokter?" tanya Erik kembali.
"Selamat tuan Erik, isteri anda mengandung." jawab dokter.
"Isteri saya mengandung apa, dokter?" saluran listrik belum menyambung di otak Erik.
"Heh?" dokter sedikit terkejut bahkan dia bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh suami si pasien.
"Maksud Tuan Erik apa ya?" tanya dokter kembali.
"Maksud saya, istri saya mengandung apa?"
Caroline benar-benar sangat kesal dengan pertanyaan dari sang suami. Apa maksud yang dikatakan oleh suaminya itu. "Mengandung apa maksudnya, sayang? otaknya itu lagi ditaruh di mana, dokter kan bilang kalau aku ini mengandung berarti aku itu sedang mengandung, mengandung bayimu." kesal Caroline yang kemudian bangun. Dia berjalan menuju sang suami setelah itu memberikan satu pukulan di pundak Erik.
"Hehh..," Erik menghela nafasnya.
"Iya, Tuan. Nyonya Caroline sudah mengandung, usia kandungannya sekarang berjalan 2 bulan." jawab dokter.
Seketika senyum Erik begitu mengembang, dia tidak akan pernah mengira hari ini akan tiba.
"Benarkah?"
Dua bola matanya membulat sempurna, senyumnya langsung terukir begitu lebar. Seketika Erik langsung berdiri memeluk sang istri.
Hari ini adalah hari yang begitu membahagiakan bagi Erik, dia akhirnya mendapatkan keinginan yang selalu dia dambakan. Dia ingin memiliki istrinya seutuhnya, mempunyai keluarga yang lengkap dengan semua yang dia miliki.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Caroline.
"Aku sangat bahagia, Sayang. aku sangat bahagia." jawab Erik.
__ADS_1
Kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca setelah mendapatkan kabar yang begitu membahagiakan.
Kabar menggembirakan itu membuat semua orang yang ada di mansion juga merasa bahagia, adapun kebahagiaan itu akan membuat beberapa orang sedikit kewalahan dengan sikap dari Caroline ketika dia hamil.
"Sayang." Panggil Caroline. bibirnya sudah mengerucut, wajahnya merajuk karena sesuatu.
"Ada apa Sayang? kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Erik.
"Sayang, aku mau makan sesuatu." jawab Caroline.
"Ini sudah malam, Sayang. memangnya kamu mau makan apa? akan aku belikan ya." dengan begitu lembut Erik bertanya kepada istrinya.
"Aku tidak mau, aku mau Elios yang membelikannya." jawab Caroline.
"Ya ampun, sayang. ini itu sudah malam, kasihan Elios, besok pagi kami harus berangkat ke perusahaan lain untuk melihat stok barang di sana." jawab Erik.
"Aku tidak mau, kalau aku tidak dibelikan Elios.. Aku tidak akan memakan. Terserah kamu makan saja, lagian aku juga tidak mau tidur sama kamu. Keluar dari kamarku!" kesal Caroline yang langsung meninggalkan suaminya.
"Ya ampun.. sebenarnya yang hamil ini isteri siapa sih? udah malam begini Aku disuruh keluyuran mencari makanan." Elios menggerutu sembari mencari kunci mobil.
Entah apa yang akan terjadi padanya, ini sudah pukul 02.00 pagi mau ke mana dia mencari makanan yang diinginkan oleh majikan wanitanya.
"Kamu mau ke mana Elios?" tanya Stella yang hendak ke dapur.
"Nyonya memintaku untuk mencari makanan, dia tidak mau orang lain yang membelikannya." jawab Elios.
Stella menganggukkan kepalanya.
Karena ini sudah malam dan dia tidak tahu mencari makanan yang dicari oleh majikannya itu. sesaat kemudian Elios menatap Stella.
"Ada apa?" tanya Stella.
"Tolong ya kamu temani aku, aku bingung mencari makanan itu di mana. ini sudah pukul 2 pagi Memangnya ada restoran yang buka?" Elios nampak menangkupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sebentar, aku akan mencari jaket dulu." jawab Stella yang kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mencari jaket.
Diajak oleh Elios pergi membuat Stella benar-benar merasa bahagia, dia tidak pernah mengira perasaan seperti itu begitu berharga. Caroline sendiri berada di kamarnya, dia terus mengomel panjang lebar karena Erik tidak mau menuruti permintaannya.
"Sayang, Elios sudah pergi membeli makanan itu." dengan sabar elios berbicara dengan sang istri yang berada di dalam kamar sedangkan dia di luar kamar.
Setelah mendengar itu Caroline keluar dari kamarnya Dia turun ke lantai bawah, berjalan menuju dapur untuk mengambil sesuatu.
"Kamu ingin mengambil sesuatu, sayang?" tanya Erik.
"Perutku lapar, kamu masakan aku sesuatu, Sayang. jika kamu tidak mau melakukannya aku akan mengunci pintu kamarku lagi." ujar Caroline yang kemudian duduk dengan begitu manis di salah satu kursi dapur.
Mendengar itu Erik langsung mengambil beberapa bahan makanan, membuat makanan apa saja yang bisa dia buat karena ini tidak ingin para pembantu yang membuat makanan untuknya. Dia meminta sang suami yang membuat untuknya, perlahan-lahan dengan begitu telaten Erik membuat makanan ala kadarnya yang penting makanan itu bisa dimakan dan bisa disajikan.
Sekitar 10 menit kemudian makanan yang dibuat oleh Erik sudah selesai, dia membuat sandwich semampu yang dia bisa.
Caroline tidak peduli, apa yang dibuat oleh suaminya yang penting dia makan, dia melahapnya, dia kenyang kemudian kembali ke kamar.
Sekitar 30 menit kemudian Elios baru kembali dari sebuah tempat untuk mencari makanan yang diminta oleh Caroline. butuh waktu sekitar 40 sampai 50 menit untuknya kembali. Namun sayangnya ketika dia memberikan makanan yang diminta oleh Caroline, malah sebuah pemandangan yang begitu mengiris hati Elios dia lihat.
"Nyonya ini makanannya." Elios memberikan makanan yang diminta oleh Caroline.
"Hampir satu jam aku menunggumu, Elios. aku sudah kelaparan, kamu ingin membunuhku ya?!" Caroline yang kemudian meninggalkan Elios.
Erik sedikit tersenyum kepada bawahannya itu. "Biar aku yang makan, Elios. kamu kembalilah tidur, ini sudah jam 03.00 pagi besok pagi kita harus segera berangkat kan." setelah mengambil makanan yang dibeli oleh Elios.. Erik kembali ke kamar bersama sang istri.
Sedangkan Elios sendiri dia terdiam dengan semua rasa kesal yang harus dia tahan. "Kamu lihat kan, Stella. nyonya ini benar-benar membuatku gila, dia meminta dibelikan makanan setelah dia dibelikan makanan eh malah sekarang dia sudah makan. Kenapa tidak dari tadi saja dia membuat makanan, Kenapa harus menyuruhku keluar dahulu?" panjang lebar Elios terus mengomel. dia benar-benar dibuat bingung, bukan hanya Elios. Kelvin, Vivi, Stella juga tidak luput dari apa yang dilakukan oleh wanita hamil itu.
"Kemarin aku sama Kak Vivi disuruh merajut, setelah kami selesai merajut malah Nyonya bilang itu pakaian untuk kami. Memangnya Kami sedang hamil?" ucap Stella yang membuat Elios ataupun dirinya sama-sama menghela nafas dengan begitu dalam.
"Semoga Nyonya cepat melahirkan, aku benar-benar dibuat pusing oleh wanita hamil yang satu ini." Elios yang kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Stella Dia sedikit tertunduk lesu karena tadi dia sebenarnya lapar malah disuruh keluar. untung saja tadi Elios membelikan dia makanan juga.
**Bersambung**
__ADS_1