
buat para pembaca kasih dukungan ya,, tambahkan ke favorit, dan kasih like nya supaya author semangat nulis nya
lanjutan,,
"Sebenarnya aku nggak rela kalau harus pisah sama bang Adnan, tapi aku juga nggak bisa ingkar janji sama kak Safira" Bisikku dalam hati
***
Malam itu aku diam-diam menelepon sahabat ku Balqis saat bang Adnan lagi di masjid sholat isya.
"Assalamualaikum Balqis,," Sapa ku. "Waalaikumussalam, siyah tumben malam-malam kamu nelpon pasti ada sesuatu ya" Kata Balqis.
"Iya nih aku lagi pengen curhat, " Lanjut ku.
" Curhat soal apa" Tanya Balqis. "Sebenarnya aku dan bang Adnan itu mau cerai , karena memang itu adalah perjanjian kami dari awal" Ucapku.
"Astagfirullah.. kenapa siyah..Kenapa kamu harus cerai sama bang Adnan, kamu harus tau ya siyah , setelah kamu cerai kamu akan jadi janda, dan pasti akan jadi bahan gunjingan orang-orang" Kata Balqis.
"Entahlah..aku juga khawatir dengan hal itu, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa" Jawab ku.
"Kalau kamu nyaman sama bang Adnan, kenapa kamu nggak terus terang aja" Kata Balqis.
" Aku nggak berani , kamu kan tau sendiri kak Safira itu cinta pertama bang Adnan, aku juga takut kak Safira akan sakit hati jika pernikahan ini di pertahankan" Lanjut ku.
"Tapi kalau nggak di pertahankan malah kamu yang akan sakit nantinya" Ujar Balqis.
"Terus..apa aku harus bicara sama bang Adnan untuk batalkan rencana perceraian itu, tapi gimana kalau dia malah marah" Tanya ku.
"Bismillah aja siyah,,kamu beranikan diri kamu untuk memperjuangkan rumah tangga kamu, kamu kan tau kalau Allah sangat benci dengan perceraian,lagian yang aku lihat Bang Adnan itu kayanya juga suka sama kamu" Ujar Balqis.
"Ya udah deh nanti aku coba bicara sama bang Adnan, makasih yah..udah semangatin aku, kamu emang sahabat yang setia dehh " Ucap ku.
__ADS_1
"Nggak usah ucap makasih segala kali, aku malah akan marah kalau kamu nggak ceritain hal sepenting ini" Tegas Balqis.
"Ya udah aku tutup telpon nya ya , Assalamualaikum" Ucap ku.
Malam itu aku menunggu bang Adnan pulang dari mesjid, namun sudah hampir jam 9 ia belum pulang juga. Tiba-tiba aku mendengar suara dari teras rumah, aku Segera melihat nya ,aku membuka sedikit tirai kaca jendela itu, ternyata ada kak Safira yang sedang berbicara dengan bang Adnan, Aku tak berani keluar, hanya bisa mendengarkan ucapan mereka.
"Adnan..aku mohon tolong lanjutkan pernikahan kita, apa kamu lupa dengan janji kita dulu, 3 tahun lalu, malam itu kamu janji suatu saat kamu akan menemui orang tuaku ,dan membicarakan pernikahan, tolong kamu tepati janji itu " Ujar Safira sambil menangis.
"Safira..kamu sendiri kan yang membatalkan pernikahan ,karena waktu itu aku lumpuh, dari kejadian itu aku sadar, kamu bukanlah wanita yang bisa mendampingiku" Jawab Adnan.
"Aku kan udah bilang, itu bukan kemauan ku, Adnan ..please..tolong maafin aku, jangan lupain janji kamu" Kata Safira.
Adnan terdiam sejenak,,,
"Adnan apa karena perempuan murahan itu kamu mau ninggalin aku, apa perempuan itu menggoda kamu, atau kamu udah sentuh dia??" Lanjut Safira.
Mendengar itu aku tak bisa menahan air mataku, hingga ku urungkan niat ku untuk membicarakan hal ini dengan Bang Adnan.
"Oke..mungkin emang kita tidak di takdir kan bersama karena perempuan itu, baiklah. lebih baik aku mati saja, aku akan minum racun ini" Ujar Kak Safira sambil menggenggam sebuah racun.
"Safira kamu udah gila yah, " Bentak Adnan.
Mendengar itu aku pun panik , langsung ku buka pintu itu ,dan keluar menemui mereka.
"Istighfar kak ...bunuh diri itu dosa besar..kita bisa bicarakan ini baik-baik, kakak tenang ya.." Ucap ku untuk menenangkannya.
"Percuma aku hidup, selamat ya Asiyah kamu berhasil menghancurkan harapan ku" Gumam kak Safira.
Aku pun menangis sejadi-jadinya, antara merasa bersalah dan rasa ingin mendebat nya, tapi aku berusaha sabar dan bersikap tenang, karena aku takut kak Safira akan mencelakakan dirinya sendiri.
"Baiklah,,kak Safira tenang ya , sekarang juga kami akan cerai, dan kamu bang Adnan, Silahkan ceraikan saya, saya juga ingin terlepas dari permasalahan asmara kalian berdua," Tegas ku.
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri kan Adnan ,siyah udah minta cerai.." Ujar Kak Safira.
Aku Segera masuk ke rumah meninggalkan mereka yang masih saja berdebat.
***
Aku ke kamar mengemasi barang-barang ku, entah kenapa air mata ku tak henti hentinya menetes.
Tiba-tiba Bang Adnan datang "Ikuti kata hati mu jangan membuat keputusan karena orang yang sama sekali tidak mempedulikan mu" Kata Adnan.
"Maksud Abang apa" Tanyaku. "aku cinta kamu Asiyah, bisakah kita tidak bercerai, bisakah kita mempertahankan rumah tangga ini, tolong kamu ikuti kata hati kamu, jangan cuma gara-gara Safira kamu ninggalin aku" Jawab Bang Adnan.
Aku terdiam sejenak mendengar kata-kata itu, aku juga bingung apakah ungkapan cinta itu tulus dari hatinya.
aku sempat berubah pikiran, tapi aku kembali mengingat kak Safira yang akan bunuh diri jika aku tidak bercerai dengan bang Adnan.
"Bang Adnan, maaf tapi aku harus pergi, aku mau melanjutkan pendidikan ku, masa depan ku masih panjang, mari kita jalani hidup kita masing-masing, lagi pula aku tau kok satu-satunya cinta Abang itu adalah kak Safira." Ucap ku.
"Dulu memang dia, tapi sekarang hanya ada kamu di hati aku siyah, " Tegas Adnan.
Jika pun benar bang Adnan mencintai ku ,aku tidak bisa apa-apa, aku hanya lah gadis dari keluarga sederhana. aku pun hanya bisa mengikhlaskannya untuk kak Safira.
***
Bang Adnan tampak kecewa, perceraian pun resmi terjadi, aku pun memegang status sebagai janda, hatiku sakit tapi mungkin itulah takdir hidup ku. Pahit yang ku rasa itu ku anggap sebagai pemotivasi untuk berjuang meraih masa depan yang cerah demi keluarga ku.
Aku pergi dari rumah itu tanpa permisi, hanya meninggalkan selembar surat yang isinya..
"Saat Abang membuka surat ini mungkin aku sudah pergi. Bang Adnan..aku minta maaf kalau selama ini aku jadi beban di hidup Abang. aku harap setelah aku pergi, Abang bisa menjalani hidup dengan tenang dan bahagia, pertemuan awal kita di penjara suci kini hanyalah sebuah cerita, anggap lah itu tidak pernah terjadi dalam hidup Abang. Tolong jaga kak Safira " .
Bis pun mulai berjalan , aku masih saja menangisi semuanya, aku kembali memutar ingatan ku di saat-saat bersama dengan dia, yang paling ku ingat adalah ketika ia mengayun ku di ayunan yang ada di taman dekat peternakan sapi itu.
__ADS_1
Bersambung,,