
Sesampainya di rumah Adnan.
Aku pun membereskan barang-barang ku ke tempatnya.
"Asiyah..aku cuma mau kasih tau, di rumah kita ini ada bi Surti, ada pak Udin tukang kebun dan bisa jadi supir kamu juga, jadi kamu nggak usah khawatir ya, nanti kerjaan rumah ada Bu Surti yang kerjain" Ucap Adnan.
"Oke..beres-beres barang udah selesai, aku masak dulu yah, oh ya kamu mau dimasakin apa?" Tanya ku.
"Baru juga aku bilangin kalau kerjaan rumah ada bi Surti yang kerjain...Kita baru nyampe loh, kamu istirahat dulu kali, nanti biar bi Surti yang masak" Kata Adnan.
"O..jadi Abang nggak suka makan masakan aku" Ucap ku.
"Bukan...bukan gitu..maksudnya tuh kamu istirahat dulu, kan masak nya bisa besok-besok aja" Kata Adnan.
"Abang.., aku lapar nya sekarang, masa aku masak nya besok-besok sih" Ujar ku.
"Ya udah ,, terserah kamu aja deh," Ucap Adnan.
Aku pun menuju dapur, aku berusaha memasak masakan terbaikku untuk Adnan.
***
Akhirnya masakan ku pun siap.
"Bang Adnan..makan yuk.." Panggil ku.
"Iya..bentar..." Sahut Adnan.
Adnan pun datang.
"Wow...baunya enak nih" Ujar Adnan.
"Cobain dulu nih bang, di jamin enak" Ujar ku.
Belum sempat Adnan mencicipi, tiba-tiba bi Surti datang,
"Permisi...tuan Adnan..di depan ada yang cariin tuan Adnan" Ucap Bu Surti.
"Siapa bi" Tanya Adnan.
"Perempuan ..tuan Adnan, tapi saya nggak tau perempuan itu siapa" Kata bi Surti.
"Perempuan??" Tanya ku.
"Iya nyonya Asiyah" Jawab bi Surti.
Adnan pergi ke luar untuk melihatnya. aku pun mengikutinya.
Ternyata yang datang itu adalah seorang gadis cantik.
"Hai Bang Adnan, masih ingat sama aku kan" Ucap wanita itu.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sini" Tanya Adnan pada gadis itu.
"Emang nya nggak boleh ya" Ucap gadis itu.
"Maaf kamu siapa ya?" Tanya ku.
"Kenalin..Saya Risa, Adik bang Adnan" Ucap nya.
"Hah..Adik?" Tanya ku.
"Adik tiri kali, kamu kayaknya sok akrab bangat yah sama saya, saya kasih tau ya..bagi saya kalian bukan siapa-siapa dalam hidup saya" Gumam Adnan.
"Bagaimana pun juga papa aku, papa kamu juga" Ucap Risa.
"Kamu nggak tau malu ya, dengan percaya diri kamu berkata seperti itu sama saya, setelah apa yang sudah terjadi pada saya dan mama saya" Gumam Adnan.
"Terserah deh kamu mau bilang apa, aku ke sini cuma mau bilang, kalau papa sakit parah" Ucap Risa.
"Aku nggak peduli, mendingan sekarang juga kamu pergi dari rumah saya" Tegas Adnan.
"Oke aku bakal pergi, oh ya ini alamat baru kami, kami udah pindah ke Indonesia,kalau kamu mau jenguk papa, pasti dia bakal senang bangat, satu hal yang perlu kamu tau, papa selalu mikirin kamu" Ujar Risa.
Risa pun pergi.
"Bang...Kok aku nggak tau ya kalau kamu punya adik tiri" Tanya ku.
"Aku nggak punya Adik tiri, Aku kan udah pernah bilang sama kamu aku nggak pernah menganggap mereka ada, keluarga ku cuma bang Hasan" Ujar Adnan.
"Kita masuk dulu yok, kita bicara di dalam aja" Ajak ku.
"Bang Adnan..Aku tau Abang ini sudah banyak merasakan penderitaan semenjak di tinggal pergi sama papa Abang, aku juga tau selama ini Abang berjuang sendiri, tapi kan bagaimana pun juga dia tetaplah papa abang. Sekarang pasti dia berharap Ustadz Hasan dan Abang bisa memaafkannya" Ujar ku.
"Asiyah...kamu nggak ngerti gimana perasaan aku" Ujar Adnan.
"Ya udah ..mungkin saat ini pikiran Abang belum tenang, Abang tenangkan pikiran dulu ya, nanti kita bahas ini lagi, mendingan sekarang kita makan dulu yok, nanti kan Abang mau ke mesjid, ntar nggak sempat makan lagi" Ucap ku.
"Maaf ya siyah, kamu jadi ikut mikirin masalah keluarga ku" Ucap Adnan.
"Kok minta maaf sih, memang sudah seharusnya setiap masalah harus kita pikul bareng-bareng, ya udah kita makan yok" Ajak ku.
Kami pun melanjutkan makan.
***
Waktu Maghrib sebentar lagi tiba,
"Sayang..Abang ke mesjid dulu ya" Ucap Adnan.
"Hah..Sayang?? Abang lebai deh, di sini ada bi Surti malu ih, nggak usah panggil sayang-sayang deh," Ujar ku.
"Nggak papa bi Surti itu orangnya pengertian, iya kan bi Sur.." Ucap Adnan sambil menatap bi Surti yang baru saja lewat.
__ADS_1
"Iya tuan..Emang seharusnya begitu kok, biar romantis" Ucap bi Surti sambil senyam-senyum.
"Tuh kan dia pengertian, tenang aja" Ujar Adnan.
"Udah sana-sana berangkat ke mesjid, keburu azan loh" Suruh ku.
***
Seusai sholat isya, Bu Surti menemui ku di kamar.
"Nyonya Asiyah, Tuan Hasan dan keluarga nya datang, dan sekarang sudah ada di ruang tamu" Ucap bi Surti.
"Panggil saya Asiyah aja bi, nggak usah panggil nyonya" Ucap ku.
"Jangan nyonya siyah, saya nggak enak kalau langsung panggil nama" Ujar Bu Surti.
"Ya udah deh terserah bi Surti aja" Ujar ku.
Aku pun bergegas ke ruang tamu.
"Eh ada Ustadz Hasan, ada apa ustadz kok tumben malam-malam ke rumah" Tanya ku
"Adnannya mana siyah" Tanya ustadz Hasan.
"Belum balik dari mesjid, bentar lagi pasti datang, oh ya..ini ..siapa ustadz?" Tanya ku.
"Saya lupa kenalin istri dan anak saya sama kamu, kenalin..ini istri saya Zahra, dan ini anak saya Aziz" Ucap Ustadz Hasan.
"Halo kak Zahra, saya Asiyah istri bang Adnan,apa kabar kak" Sapa ku. "Kabar aku baik dek, kamu sendiri gimana," Tanya Kak Zahra
"Alhamdulillah baik kak, ini..Aziz kan, hai Aziz, kamu lucu banget yah,kenalin aku Tante Asiyah, Aziz bisa panggil aku Tante siyah" Ucap ku sambil mencubit pipinya yang imut itu.
"Ayok Salim Tante siyah nya sayang" Ucap Kak Zahra pada Aziz.
Aziz pun mencium tangan ku. "Aziz usianya berapa tahun sayang?" Tanya ku.
"Aku 6 tahun Tante" Jawab Aziz.
"Oh ya..kak Zahra sama ustadz Hasan mau minum apa, biar aku buatin" Tanya ku.
"Nggak usah repot-repot Asiyah" Ucap Ustadz Hasan.
"Nggak repot kok, gimana kalau teh atau kopi" Tanya ku.
"Ya udah kalau kamu maksa, teh aja dah" Canda ustadz Hasan.
Aku pun bergegas ke dapur untuk membuatkan teh.
"Nggak usah nyonya siyah, biar saya aja yang buatin" Ucap Bu Surti.
"Nggak papa bi, biar aku aja" Ucap ku.
__ADS_1
Bersambung,,
Jangan lupa like, vote, dan kasih bintang ya.. dukungan dari kamu adalah penyemangat author, atas segala kesalahan author mohon maaf, terimakasih ya..