Istri Dari Penjara Suci

Istri Dari Penjara Suci
My Little Wife Fatimah


__ADS_3

baca juga *Mu little Wife Fatimah* ya,


menceritakan seorang gadis muda yang harus menikah dengan kakak sendiri. Dan seorang pemuda yang menjaga adiknya atas dasar cinta, karena ia tau bahwa gadis itu bukan adik kandungnya.


***


Hari pernikahan tiba, dimana ini adalah hari terberat dalam hidup Fatimah.


Dengan air mata bercucuran Fatimah mencium tangan Rahman setelah Akad.


Bagi Fatimah pernikahan ini adalah akhir dari kisah cintanya dengan Fatih.


***


Di kamar pengantin,,


"Puas? kamu telah merenggut kebahagiaan saya, selama ini aku menganggap mu kakak yang sangat aku sayangi," cetus Fatimah sambil menangis.


"Fatimah, ini jalan yang di beri Allah untuk kita," ucap Rahman dengan pelan.


"Sampai kapan pun aku tak bisa memperlakukan kakak ku sendiri sebagai suami," tegas Fatimah dengan tajam.


"Aku akan tunggu sampai kamu bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah suami mu," tutur Rahman menatap Fatimah.


***


Keesokan hari Ayah, bunda dan kak Sarah memberangkatkan Fatimah dan Rahman ke rumah yang baru di Beli Rahman untuk Fatimah.


"Bunda...memangnya Fatimah tidak diterima lagi di rumah ini?" Fatimah seolah putus asa.


"Astaghfirullah...nggak gitu sayang, kamu boleh kapan aja ke sini, Rahman sudah mempersiapkan rumah baru, lagi pula pengantin baru kan memang harus begitu," ucap bunda sambil tersenyum.


***


Di dalam mobil Fatimah tidak berbicara sedikit pun. ia hanya sibuk melihat HP nya. ia melihat chat WA Fatih yang isinya, " Selamat Fatimah, aku benar-benar kaget dengan berita pernikahan kamu, aku baru tahu kalau kak Rahman bukan kakak kandung kamu, semoga kamu menjadi istri yang baik, berbaktilah pada suami mu, aku akan tetap bahagia jika kamu bahagia"


Fatimah tak sanggup menahan air matanya membaca pesan dari Fatih.


"Sayang..kok kamu nangis," Rahman menghapus air mata Fatimah. Fatimah tak berbicara sepatah pun, ia menghempas tangan Rahman dari wajahnya.


Akhirnya sampailah di rumah baru milik Rahman dan Fatimah. Rahman dan Fatimah di sambut oleh Bi siti sebagai asisten rumah tangga yang menjaga rumah itu.

__ADS_1


Fatimah menyempatkan untuk membalas chat dari Fatih, "Demi Allah aku hanya mencintai mu Fatih, aku terpaksa menikah karena perintah orang tua angkat ku, aku berharap suatu saat kita ditakdirkan bersama,"


Fatimah tidak sengaja meletakkan HP nya di meja saat ia ke kamar mandi. Rahman yang penasaran dengan isi HP Fatimah mengambil HP itu.


Ia melihat seluruh chat Fatimah dengan Rahman. Rahman dengan sigap memblokir nomor Fatih.


Fatimah tiba-tiba muncul,"Ngapain kakak pegang HP saya?" Fatimah merebut HP itu dari tangan Rahman.


Fatimah menyadari bahwa Rahman memblokir nomor Fatih,"Apa maksud kakak mengutak-atik HP aku," ucap Fatimah dengan nada kesal.


"Aku nggak suka kalau kamu masih berkomunikasi dengan teman kamu yang namanya Fatih," tegas Rahman menatap Fatimah.


"Kak.. aku bukan boneka yang bisa kamu atur," cetus Fatimah dan pergi dari hadapan Rahman.


Bi Siti yang tak sengaja mendengar itu merasa heran, "Masih pengantin baru kok udah berhantam aja ya," batin Bi Siti.


***


Bi Siti sudah menghidangkan makan malam, Rahman sudah menunggu Fatimah di meja makan namun ia tak kunjung muncul.


Rahman menyusul Fatimah ke kamar. ia melihat Fatimah yang sibuk memindahkan barangnya ke kamar sebelah. "Kok di pindahin lagi sayang, aku udah seharian beresin itu loh," ucap Rahman menatap Fatimah.


"Di rumah ini ada banyak kamar, kenapa aku harus satu kamar sama kakak," cetus Fatimah dengan galaknya.


"Fatimah yang ku kenal tidak suka membangkang seperti ini," ucap Rahman pelan.


"Aku pastikan kakak menyesal menikah dengan ku," ucap Fatimah pelan tapi tajam.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Fatimah mengunci diri di kamar, padahal wajahnya sudah pucat karena tidak makan seharian.


Rahman mengetuk pintu bermaksud memberikan sepiring nasi pada Fatimah.


"Sayang..kamu makan dulu ya, kamu kan belum makan seharian, nanti kamu sakit loh," ucap Rahman sambil mengetuk pintu.


Fatimah tak memperdulikan itu ia menangis meratapi nasibnya. "Dulu kita bahagia kak, kamu selalu jagain aku sebagai adik kecilmu, dimana kak Rahman yang ku kenal dulu, yang ku anggap sebagai kakak yang ku sayangi, tapi sekarang nyatanya kakak malah memaksakan kehendak untuk menikah dengan adik sendiri," batin Fatimah yang tak henti menangis.


Fatimah sangat lapar namun gengsi untuk keluar kamar mengambil makanan. Waktu sudah tengah malam Fatimah mengira Rahman sudah tidur di kamarnya.


Fatimah mencoba membuka pintu kamar itu, ternyata Rahman masih bersandar di dekat pintu sambil memegang sepiring nasi.

__ADS_1


"Fatimah.. akhirnya kamu buka pintunya, kamu makan dulu ya, nanti kamu sakit loh sayang," ucap Rahman lembut.


"Nggak perlu," ucap Fatimah namun perutnya mengeluarkan bunyi.


"Tuh kan, mulut kamu memang berkata tidak, tapi perut nggak bisa di bohongi Fatimah," Rahman tersenyum.


Fatimah mengambil nasi itu dari tangan Rahman dan langsung mengunci diri di kamar.


"Di habisin ya Fatimah, seharian kamu nggak makan, kalau perlu apa-apa panggil aku aja ya sayang," suara Rahman dari luar.


"Sayang..sayang...sok romantis bangat sih, kak Rahman nggak mikir apa kalau dia itu terlalu tua untuk aku yang masih 18 tahun ini," batin Fatimah yang melahap habis makanan itu.


***


Rahman membangunkan Fatimah untuk sholat subuh sebelum ia pergi ke mesjid. "Fatimah...bangun sayang, ini udah subuh," ucap Rahman sambil mengetuk pintu kamar Fatimah.


"Iya..aku udah bangun kak, nggak usah seheboh itu," Fatimah bersuara dengan keras.


***


Rahman pulang dari mesjid, ia kembali menemui Fatimah di kamar, namun ia tidak mendapati Fatimah di situ.


Rahman mencari-cari Fatimah di sekeliling rumah namun Fatimah tidak ada.


"Bi Siti, Fatimah mana ya," tanya Rahman pada asisten rumah tangga itu.


"Tadi nyonya keluar rumah tuan, katanya sih ada urusan penting," jawab Bi Siti dengan menunduk.


"Bi..lain kali kalau Fatimah mau pergi tanpa sepengetahuan saya, jangan dibolehin ya," pinta Rahman pada bi Siti.


Rahman panik karena takut Fatimah akan pergi jauh atau lari dari rumah. Rahman mencoba menelpon namun HP Fatimah tidak aktif.


Rahman bergegas mencari Fatimah mengendarai mobilnya. ia begitu panik.


Seharian Rahman mencari Fatimah namun tak ada hasilnya. Tiba-tiba bi Siti menelpon, ia memberitahu bahwa Fatimah sudah kembali ke rumah.


Rahman buru-buru kembali ke rumah.


***


"Kenapa kamu keluar tanpa sepengetahuan aku Fatimah, aku ini suami kamu, apa kamu tidak tahu hukumnya seorang istri keluar rumah tanpa izin dari suaminya?" tegas Rahman yang mengkhawatirkan Fatimah.

__ADS_1


Fatimah tak membalas perkataan Rahman ia lanjut menyibukkan diri dengan Handphone nya.


Rahman ingin marah namun ia berusaha menenangkan diri karena memang Fatimah masih bersifat kekanak-kanakan.


__ADS_2