
Sebuah ruangan bernuansa Pink. Has seorang cewek. Sedang duduk dengan sangat Anggun perempuan dengan balutan kebaya brukat di atas kursi dengan menghadap ke kaca hias.
Setengah jam yang lalu dia baru saja di hias oleh perias yang sangat handal. Membuat pantulan dirinya terlihat sangat cantik.
“Anak Ayah cantik sekali” sebuah suara yang membuat dia terkejut. Lalu sesaat kemudian berbalik dimana sang Ayah sudah berdiri tak jauh darinya. Entah dari kapan Ayahnya sudah berada disana.
“Ayah” panggilnya pelan. Kemudian berdiri dan berjalan mendekati Ayahnya.
“Kamu cantik sekali Nak. Persis Ibu kamu waktu mudah” ucap Pak Hadi dengan suara tercekat.
Khanza sendiri tau bagaimana perasaan Ayahnya. Rasa Rindu yang sangat besar selalu merasuki hatinya. Begitupun dengan dirinya dia juga sangat menginginkan kasih sayang dan belayan sang Bunda. Tapi takdir berkata lain Ibunya telah tiada.
Sudut mata Khanza sudah mulai mengeluarkan air. Namun buru-buru dia menyekanya tidak ingin terlihat sedih karena akan memancing tangisan untuk ayah nya juga. Khanza harus kuat.
“Makasih Ayah”
“Sebentar lagi acara nya akan di mulai” ucap Pak Hadi sambil membelai kepala sang anak dengan gerakan lembut.
Khanza tersenyum. Namun di hatinya ada begitu banyak kesedihan. Karena jika dia menikah nanti pastinya dia akan keluar dari rumah itu dan meninggalkan sang Ayah sendiri. Begitu banyak yang sudah Khanza pikirkan.
Bagaimana Ayah nya nanti ??
Siapa yang akan merawat Ayah ??
Siapa yang akan menghibur Ayah lagi ??
Siapa yang akan menyambut Ayah saat baru pulang Dinas.
Atauuu.
Siapa juga yang akan memberi hormat kepada Ayah jika Ayah baru berangkat Dinas
Semua itu terus melintas di pikiran Khanza.
Namun dia ingin kembali menanyakan kepada Arif apakah dia mau di ajak tinggal bersama nya disana. Tinggal bersama dengan Ayah...
“Kenapa melamun ?? harusnya kamu tersenyum Nak !! karena sebentar lagi akan ada laki-laki yang akan melamar kamu” lanjut Pak Hadi lagi.
“Tidak Yah. Khanza hanya deg-deg kan”
Tidak sepenuh nya dia berbohong. Karena memang dia sedang deg-deg kan menanti pujaan hati yang setiap malam selalu mengganggu tidur lelapnya. Bagaimana di setiap mimpi indahnya seorang Arif datang sambil mengulurkan tangan nya untuk dia genggam. Manis sekali.
“Pak tamunya udah datang” suara Bik Sri terdengar di balik pintu.
__ADS_1
“Iya. Saya akan turun” sahut Pak Hadi.
“Ayah turun kebawah ya Nak !! kamu nanti di jemput sama Bik Sri” lanjutnya lagi kepada Khanza.
Khanza hanya mengangguk. Setelah Ayahnya pergi jantungnya kembali berdegup kencang. Dia mere mas kain yang ia kenakan karena terlalu gugup.
**********
“Cantik sekali mantu ku”
“Kamu pinter cari istri Rif, cantik”
Begitulah yang Arif dengar saat matanya melihat Khanza turun dengan di gandeng Bik Sri.
Telingahnya masih terus mendengar kata-kata kedua orang tuanya yang mengatakan kalau Khanza Cantik.
Memang begitu kenyataan nya. Khanza memang sangat cantik. Apalagi dengan Kebaya brukat yang dia gunakan membuat matanya tak berkedip.
“Ehhhmmmm” suara deheman Pak Hadi membuat dirinya langsung gugup seketika. Memalukan.
Khanza hanya tersenyum kaku karena melihat wajah Arif yang terlihat gugup. Dia duduk di sofa dengan di temani Bik Sri.
“Ini perkenalkan putri semata wayang saya. Namanya Khanza” ucap Pak Hadi memperkenalkan Khanza kepada kedua orang tua Arif.
“Khanza Tante”
“Khanza Om”
Begitulah yang dia ucapkan secara bergantian. Membuat Mama Arif tersenyum.
“Kamu cantik sekali. Anak saya pakai pelet apa sampai kamu mau sama dia ??” tanya Mama Risa langsung.
Khanza hanya tersenyum. Kemudian ekor matanya melirik kearah Arif yang berpenampilan sangat tampan dengan kemeja yang senada dengan rok yang ia pakai. Dia baru ingat kalau kemaren Khanza mengirim kemeja itu kerumahnya. Tak menyangkah kalau Arif akan memakainya seperti ini menjadikan mereka sepasang couple.
Khanza kembali duduk di tempat semula. Karena acara lamaran akan segera di mulai. Jangan tanyakan bagaimana degup jantung nya saat ini . Sudah pasti semakin berpacu kuat.
“Kedatangan kami sekeluarga kesini ingin melamar putri bapak yang bernama Aye---Aye.”
Papa menjedah ucapan nya karena merasa lupa nama lengkap sang calon mantu.
“Siapa tadi Rif ??” tanya nya kepada Arif yang sudah mencibir karena malu
“Ayesa Khanza Gunawan. Kan dari tadi udah di hapalin kenapa lupa lagi sih Pa ??” jawab Arif dengan berbisik karena takut di dengar oleh Pak Hadi dan juga Khanza.
__ADS_1
“Oh Iya Ayesa” ucap Papa Lantang.
“Ulang Mas” bisik Mama kemudian.
Papa mengangguk. Akhirnya dia mengulang kembali kata-kata lamaran nya.
“Kedatangan kami sekeluarga kesini ingin melamar putri bapak yang bernama Ayesa Khanza Gunawan. Untuk putra kami Arif Akbar Praja” ucap Papa dengan lantang.
“Anak saya tidak membawa apa-apa untuk dia berikan kepada Khanza. Dia bekerja sebagai dokter umum tapi dia sudah berjanji kepada saya dan istri saya kalau dia akan menjaga Khanza dengan sangat baik"
“Sekiranya Bapak dan Ibu serta Khanza menerima lamaran kami”
Ucapan Papa membuat semuanya terdiam. sementara Pak Hadi mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan nak Arif ??” tanya Pak Hadi.
Arif mengangguk. Dia memang sudah merangkai kata untuk acara ini. Kata indah yang dia tulis di setiap malam untuk dia ucapkan kepada Khanza dan di depan Ayahnya.
“Silahkan !!” ucap Pak Hadi lagi.
“Ayesa Khanza Gunawan. Mungkin pertemuan kita begitu singkat. Di sebuah ruangan bernuansa putih kita di pertemukan oleh yang maha kuasa. Namun sejak pertama aku bertemu dengan mu entah kenapa hatiku terus bergetar ada rasa yang sulit untuk di jelaskan. Awalnya aku takut untuk mengutarakan nya padamu. Takut kalau kamu akan menolak. Hingga di malam itu setelah kita pulang Ayah mu meminta ku untuk melamarmu.Entah itu sebuah anugera atau apa untuk ku namun yang jelas aku bahagia.
maka dengan ini Aku Arif Akbar Praja datang kesini untuk meminangmu. Ayesa Khanza Gunawan Mau kah engaku menjadi istriku” kata Kata Arif sangat menusuk relung hati Khanza.
“Semua jawaban akan saya serahkan dengan Khanza” ucap Pak Hadi setelah Arif selesai berbicara.
Semua mata tertuju kepada Khanza. Ada harapan yang begitu besar untuknya.
“Bissmillahirohmanirohim . Saya terima lamaran nya” ucap Khanza dengan tegas.
“Alhamdulillah” suara semua orang bahagia.
Arif tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Dia berikan kepada Mama untuk di pakaikan kepada Khanza.
Setelah itu barulah mereka akan menentukan tanggal dan hari pernikahan. kemudian menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Wajah Arif dan Khanza selalu terpancar kebahagiaan. karena tidak menyangka kalau sebentar lagi mereka akan segera menjadi suami istrii.
-
-
-
BERSAMBUNG.
__ADS_1