
Khanza sudah di pindahkan keruangan, walau Khanza menolak dirawat namun untuk malam ini Khanza harus di rawat supaya dokter bisa memantau kondisi Khanza.
Dari tadi Khanza tetap tidak mau bicara dengan Arif, walau Arif sudah menunjukan senyum paling manis kearah Khanza, namun Khanza seolah menghindar.
Dan jadilah ia sekarang, duduk di sofa bersama dengan Pak Hadi, sementara Khanza sedang mengobrol dengan Bik Sri.
“Sabar ya ngadepin Khanza !!” ujar Pak Hadi.
Arif hanya mengangguk kan kepalanya, memang ia harua sabar menghadapi Khanza.
Banyak perbedaan antara Arif dan Khanza salah - satunya ialah umur yang terpaut jauh, wajar jika Khanza masih bersikap anak-anak seperti tadi.
“Harusnya Arif yang lebih banyak belajar lagi Yah, maaf kalau Arif belum bisa jadi suami yang baik untuk Khanza” ujar Arif
“Tidak perlu ada yang minta maaf, kalian berdua sama-sama belajar, Khanza belajar untuk menghargai kamu, dan kamu belajar untuk bisa mengalah sedikit kepada Khanza” jelas pak Hadi dengan tenang, tidak ada aura menakutkan dari pak Hadi walaupun Khanza seperti ini karena kesalahan Arif yang tak bisa mengontrol emosi.
Lama kelamaan Khanza sudah tak ada lagi suaranya, ia melihat keatas tempat tidur dimana Khanza sudah terlelap dengan damai.
“Sudah tidur Bi ??” tanya Arif ke Bik Sri yang dari tadi menjaga Khanza.
“Iya Den, mungkin efek obat makanya cepat tidur” jawab Bi Sri kemudian.
“Mungkin Bi” ujar Arif lagi.
“Kamu tidur aja duluan pasti capek kan karena siang tadi kerja, biar Ayah sama Sri yang menjaga Khanza” Sahut Pak Hadi.
“Terima kasih Yah, tapi Arif bisa menjaga Khanza, Ayah tidur aja” balas Arif merasa tak enak.
Jelas ia tak akan langsung mengiyakan ucapan pak Hadi, walau sebenarnya Arif begitu mengantuk di tambah lelah karena seharian bekerja, tapi Arif tetap tak enak hati jika membiarkan Pak Hadi bergadang menjaga Khanza sementara dirinya tidur dengan nyenyak.
Arif tetap memutuskan untuk tak tidur lagi, berharap ia tak akan sampai sakit karena terlalu lelah. Belum genap seminggu Khanza pulang dari rumah sakit dan malam ini Khanza kembali di rawat.
Namun ternyata matanya tak bisa di ajak kompromi, ketika jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, dan Ayah mertuanya serta bi Sri sudah terlelap, rasa ngantuk terus menghinggapinya.
Berulang kali ia menguap karena rasa ngantuk yang berat.
Arif mengalihkan dengan bermain ponsel, namun tak ada sesuatu yang menarik di aplikasi media sosialnya. Apa lagi teman-temannya sudah pada Off semua jadi tidak ada hal yang menyenangkan.
__ADS_1
Beralih bermain game, tapi sayang ia bukan lah pecinta Game, bahkan di ponselnya tidak ada satupun permainan.
Lalu apa yang mesti ia lakukan saat rasa kantuk terus menyerangnya seperti ini. Jika Arif memutuskan untuk tidur ia takut Khanza butuh sesuatu.
Namun harapan tentu tak sesuai dengan keinginan, karena nyatanya Arif tertidur saat jam 02 pagi. Sekuat tenaga Arif menahan rasa kantuk yang menyerang namun ternyata tak bisa.
******
Keesokan paginya samar-samar telinga Arif mendengar suara seseorang, walau masih mengantuk Arif tetap memaksakan untuk membuka mata, matanya dapat melihat seorang suster sedang memeriksa cairan infus milik Khanza.
“Jam berapa ini Sus ??” tanya Arif dengan suara serak.
“Jam 05 dok" jawab Suster tersebut.
Arif mangangguk lalu kemudian Suster itu keluar dari ruangan Khanza. Sebelum bangkit dari duduknya Arif menyempatkan mencium kening Khanza.
“Maafin Mas ya Sayang" bisik Arif.
Dengan pelan Arif berjalan lalu masuk ke kamar mandi, ia sengaja berjalan dengan pelan karena tidak ingin membangunkan Pak Hadi dan Bi Sri yang masih terlelap.
“Ayah mau sarapan apa biar nanti Arif belikan soal nya Arif mau pulang dulu sebentar, mau ganti baju” jelas Arif sembari bertanya.
“Kamu masuk kerja jam berapa ??” tanya Pak Hadi balik.
”Jam 08 Yah” jawab Arif.
“Kamu pulang aja dan bersiap, nanti biar Ayah cari sendiri sarapan nya” ujar Pak Hadi tak ingin merepotkan Arif.
“Tidak apa-apa Yah, biar sekalian Arif Carikan” ujar Arif tetap memaksakan diri.
“Baiklah kalau begitu, belikan saja nasi uduk” pinta Pak Hadi..
“Baik Yah”.
Setelah itu Arif keluar dari ruangan sang istri. Lalu berjalan menuju parkiran. Kepalanya masih terasa pusing mungkin karena ia tertidur hanya sebentar. Ia masih ingat semalam tidur jam 02 pagi lalu jam 05 pagi sudah bangun berarti Arif tertidur hanya 3 jam kurang lebih.
********
__ADS_1
Sementara itu.
Tepat jam 07 pagi Khanza terbangun, ia menatap sekelilingnya dan baru menyadari kalau semalam ia menginap di rumah sakit.
“Sudah bangun, mau minum gak Nak ??” tanya Bi Sri
”Mas Arif kemana Bu ??” Khanza balik bertanya.
“Arif pulang sebetar mau ganti baju katanya harus kerja jam 08 nanti” sahut Pak Hadi yang beranjak duduk di sofa.
“Khanza butuh sesuatu ?? Kalau iya katakan saja sama Ayah, nanti Ayah carikan” ujar Pak Hadi lagi.
“Tidak Yah”
Jelas tidak karena yang Khanza butuhkan adalah sang suami. Entah kenapa ia mendadak rindu dengan laki-laki itu. Harusnya ia tak bersikap kekanak-kanakan yang mengakibatkan dirinya menjadi drop seperti ini.
”Khanza boleh Ayah bicara sama kamu” ucap Pak Hadi yang kini sudah duduk di samping Khanza.
“Boleh Yah” jawab Khanza.
“Khanza harus bisa bersikap dewasa sekarang karena Khanza sudah punya suami, hargai keputusan Arif karena Arif adalah imam Khanza”
“Jika memang Arif belum menginginkan seorang anak Khanza jangan langsung marah, karena Arif ingin fokos dulu ke kesehatan Khanza, coba bayangkan jika Khanza hamil di saat kanker itu masih bersarang di tubuh Khanza, apa yang terjadi ?? Kemungkinan besar janin itu akan bermasalah apalagi Khanza harus mengkonsumsi obat-obatan dari dokter”
Air mata Khanza menetes mendengar ucapan dari Ayahnya. Kenapa tidak dari kemaren ia memikirkan hal itu.
Seketika rasa bersalah Khanza rasakan, ia begitu egois karena tak mengerti apa yang di khawatirkan suaminya.
"Mas Arif mana Yah ?" tanya Khanza dengan suara serak.
"Ada, dia sedang ada kerjaan nanti akan kesini"
Khanza menatap pintu ruangan yang masih tertutup, rasanya ia ingin segera bertemu dengan Arif. Memeluk tubuh suaminya itu dengan erat dan mengucapkan kata maaf berulang. Ia janji tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi.
Saat ini ia bukan lah anak manja lagi, ia sudah menjadi seorang istri.
"Maafkan aku mas !! maaf karena terlalu egois dan tidak mengerti kekhawatiran mas, maafkan aku" batin Khanza
__ADS_1