Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 60


__ADS_3

Sore itu bersama dengan Pak Hadi. Mahendra bermain bersama Kia. Anak perempuan yang cantik itu tampak sangat menggemaskan. Apalagi wangi tubuh Kia seperti ada ciri khas tersendiri.


Nanti malam Bi Sri dan juga Mama Risa akan mengadakan pengajian karena kepulangan Khanza, kedua wanita paruh baya itu mulai memasak untuk persiapan nanti malam.


Awalanya Mahendra ingin membantu dengan cara memesan saja, tapi Arif melarang katanya lebih baik masak karena lebih higienis. Dan Mahendra pun menyetujui.


Walau sudah berbuat jahat tapi Mahendra tetap di perlakukan baik oleh keluarga Khanza, dan itu yang membuat Mahendra malu.


Sementara di kamar, Arif terus memeluk tubuh sang istri dengan erat, mencurahkan kerinduannya selama setahun ini.


"Lepasin mas ! aku mau ngambil Kia sama Papa dan Ayah" pinta Khanza mulai merengek.


"Sebentar lagi sayang, mas masih rindu"


"Ya nanti kan bisa peluk lagi, aku juga kangen tau sama Kia, selama setahun ini aku gak tau bagaimana perkembangannya"


"Tenang saja, nanti kita bikin lagi"


Dan satu cubitan langsung Khanza berikan pada Arif, membuat laki-laki itu sadar bahwa istrinya memang telah kembali.


Arif melepaskan pelukannya, ia menatap wajah sang istri, lalu mendaratkan satu kecupan di kening Khanza.


"Jangan pernah tinggalin mas lagi ya" ucap Arif.


"Iya mas, biar Allah yang memisahkan"


"Itupun tidak boleh"


"His, bagaimana bisa tidak boleh sementara Allah yang mengatur umur manusia"


Arif terkekeh "ya sudah sana katanya mau ambil Kia"


Khanza mengangguk , ia berjalan meninggalkan Arif lalu menuju ruan tamu dimana Pak Hadi dan Mahendra sedang bermain dengan Kia.


Saat ini Kia belum mau terlalu dekat dengan Khanza, mungkin bagi bocah itu Khanza begitu asing. Tapi Arif selalu menyemangati istrinya supaya Khanza tidak sedih.


"Kia ayo sini sama Mama nak" ucap Khanza, ia merentangkan kedua tangannya hendak mengambil Kia.


Tapi justru Kia memalingkan wajahnya dan lebih menatap wajah pak Hadi.

__ADS_1


"Itu Mama nya Kia, jadi Main sama Mama dulu ya nanti sama Kakek lagi" ucap Pak Hadi.


Kia tertawa khas bayi dan membuat Mahendra begitu gemas. Tapi saat melihat Kia tak mau bersama Khanza rasa bersalah teramat besar Mahendra rasakan.


Seandainya waktu itu ia tak memisahkan Khanza dengan putrinya mungkin semua ini tidak terjadi. Ia menunduk menyembunyikan kesedihan.


"Papa kenapa ?" tanya Khanza.


Mahendra menggeleng "Tidak apa -apa nak"


"Jangan bohong sama Khanza ! cerita aja papa kenapa ?"


"Papa hanya merasa bersalah, seandainya Papa tidak melakukan kesalahan ini mungkin anak kamu tidak akan seperti ini"


"Ini sudah menjadi takdir Pa, Khanza sudah bilang berhenti meratapi apa yang telah berlalu. Kita fokus aja ke depan nya "


Begitu beruntung Mahendra bertemu dengan keluarga Khanza, ia tetap di perlakukan baik bahkan sangat baik walau telah membuat kesalahan besar.


"Papa jangan sedih lagi ! masalah Kia itu hanya butuh waktu, nanti lama kelamaan Kia pasti mengerti dan paham kalau aku adalah Mama nya"


Pak Hadi begitu beruntung dengan sikap dewasa Khanza, ternyata selama ini ia tak salah mendidik. Walau dulu pak Hadi kelabakan dengan sikap manja Khanza tapi akhirnya putrinya bisa menjadi sosok dewasa .


Khanza menurut ia kembali merentangkan kedua tangannya, dan ternyata benar Kia langsung mau bahkan Kia langsung menempelkan pipinya di dada Khanza.


---------


Acara pengajian malam itu berjalan lancar, para tetangga yang datang di buat kaget karena Khanza ternyata masih hidup.


Banyak juga yang bertanya ada apa sebenarnya, tapi sebagai kepala keluarga Pak Hadi menyimpan rapat-rapat apa yang telah terjadi. Ia hanya menjawab kalau terjadi kesalahan medis.


"Kami semua tidak menyangka Za kalau kamu masih hidup" ucap salah satu ibu-ibu saat Khanza hendak bersalaman.


"Alhamdulillah Bu, Allah masih memberikan Khanza kesempatan untuk hidup"


Ibu itu tersenyum, ia membelai wajah Khanza karena masih penasaran kalau itu beneran Khanza.


Tidak berapa lama Sinta sayang, wanita itu langsung berteriak histeris dan langsung memeluk Khanza dengan erat.


"Lo beneran masih hidup Za ? gue gak lagi mimpi kan ?"

__ADS_1


"Enggak Sin, gue masih hidup dan sekarang ada di hadapan Lo"


Sinta kembali memeluk Khanza "Ya Allah Za, gue senang banget tau hal ini, walau awalnya gue kaget saat dengar dari Ayah kalau kamu masih hidup"


Khanza terkekeh lalu melepaskan diri dari pelukan Sinta "Semuanya takdir Allah, mungkin garis hidup Khanza seperti ini"


"Apapun itu jadikan masalalu yang penting sekarang Lo baik-baik saja dan bisa jagain anak Lo yang lucu itu"


Dari kejauhan Mahendra yang melihat semua orang memperlakukan Khanza, begitu bahagia. Begitu banyak orang yang menyayangi Khanza bukan hanya dirinya.


Selama ini Mahendra belum bisa ikhlas menerima kepergian putrinya, jadi saat melihat Khanza untuk pertama kali obsesi nya untuk memilikinya Khanza dan menganggap Khanza sebagai Laras begitu besar.


--------


Keesokan paginya Arif membawa istrinya ke makam yang bertuliskan nama Khanza, Arif ingin menghapus nama itu karena menurut nya itu bukan hal yang baik.


Khanza masih hidup dan sedang bersamanya. Bahkan tadi malam ia bermain ranjang bersama Khanza.


"Di tempat ini mas menangis dek, setiap bulan mas datang bersama Kia untuk melepaskan rindu" ucap Arif mulai bercerita.


Khanza tak menjawab, ia mendengarkan apa yang suaminya ceritakan.


"Hari itu adalah hari yang paling menyakitkan untuk mas, bagaimana mas melihat orang yang mas cintai di masukkan kedalam sana. Apalagi saat mendengar Ayah Adzan rasanya mas ingin mengakhiri hidup mas saat itu juga"


Khanza terhenyak, begitu sayang Arif padanya. Sehingga berniat menyusul nya.


"Mas berteriak memanggil nama kamu, tapi sayang hanya belaian angin yang mas rasakan. Disana mas benar-benar terluka dek" tak terasa air mata Arif menetes, hingga tangan Khanza terulur untuk menghapusnya.


"Udah ya mas kita lupakan semuanya, yang penting kan sekarang Khanza masih hidup, Khanza masih bersama dengan mas dan juga Kia". jawab Khanza karena tak kuat melihat air mata suaminya.


Arif menggenggam tangan Khanza dengan erat "janji ya jangan tinggalin mas lagi, kamu juga harus janji untuk menemani mas sampai mas tua "


"Janji" balas Khanza


Arif memeluk istrinya dengan erat, di tempat dimana dulu ia sering menangis sendirian ataupun bersama Kia. Bahkan Arif pernah tidur di makam itu karena rindunya pada sang istri.


Tapi sekarang semuanya telah terjawab, istri yang ia rindukan sedang berdiri disampingnya dan baik-baik saja.


Kemaren hanya tinggal cerita untuk Arif dan Khansa, karena masa depan mereka masih panjang.

__ADS_1


---- TAMAT----


__ADS_2