
Hari ini pekerjaan Arif sangat berantakan. Berulang kali dia salah dalam melihat data pasien. Terkadang membuat Suster yang membantunya juga ikut salah.
Pikiran nya kacau karena pertengkaran nya dengan Khanza tadi pagi, juga permintaan Khanza yang ingin hamil padahal dirinya belum setuju.
Sekarang apa yang mesti ia lakukan, jika benar ****** yang ia keluarkan tadi malam di rahim Khanza akan langsung berubah menjadi janin otomatis Khanza sudah hamil. Dan bagaimana dengan kesehatan Khanza ?? Bagaimana dengan pengobatan Khanza.
“Aaahhhhh” teriak Arif sampai membuat Suster kaget di buatnya.
“Dokter Arif kenapa ??” tanya Suster Lala.
“Tolong keluar sebentar saya ingin sendiri dulu”
“Baik dok”
Setelah kepergian Suster Lala, Arif duduk di kursi kebesaran nya. Dengan menyandarkan punggung nya di kursi serta kepala menghadap ke atas.
“Kenapa kamu tidak mengerti sama kondisi Mas Sayang ??”
“Mas lakukan ini untuk kesehatan kamu”
“Aahhhh“
Arif frustasi, kepala nya terasa ingin pecah karena masalah ini.
Bagaimana cara nya menjelaskan kepada Khanza supaya Khanza tidak marah dengan semua ini. Jujur jika Khanza hamil Arif masih tidak setuju.
Apalagi rencananya Arif akan membawa Khanza ke Singapura untuk berobat.
Tok--tok--tok..
Suara ketokan pintu membuat Arif langsung membenahi tempat duduk nya.
“Masuk” titah Arif dengan tegas.
Suara pintu di dorong dari luar.
“Ada apa Ka ??” tanya Arif saat melihat Raka masuk keruangan nya.
“Lo kenapa suntuk amat ??” bukan menjawab pertanyaan Arif, Raka malah mengajukan pertanyaan.
“Pusing” jawab Arif asal.
“Kenapa ?? Lagi ada masalah ??” tanya Raka lagi, sekarang ia sudah duduk berhadapan dengan Arif.
“Mumpung pasien belum banyak kalau Lo mau cerita gue siap mendengarkan” ucap Raka lagi.
Arif menghela nafa sebentar lalu kemudian barulah ia menceritakan semuanya, bagaimana semalam ia di jebak oleh istrinya sendiri dan pagi tadi ia dan Khanza bertengkar.
“Gue tau Ka, Khanza sangat ingin hamil sementara gue masih memikirkan bagaimana caranya supaya dia sembuh” ucap Arif
“Kalau masalah itu gue bingung Rif, tapi memang jika Khanza hamil itu akan mempersulit tim dokter untuk menyembuhkan Khanza soalnya obat yang harus Khanza konsumsi harus aman untuk ibu hamil” jelas Raka.
“Makanya itu gue bingung Ka, tapi Khanza gak ngertiin gue, dia gak mau ikutan KB dan jika apa yang gue lakuin semalam jadi Khanza akan mempertahankan nya”
Arif dan Raka sama-sama bingung bagaimana caranya supaya Khanza menunda dulu masa kehamilan nya sampai Kanker yang di derita Khanza benar-benar sembuh total. Karena jika Khanza hamil dalam kondisi seperti ini jelas akan mempengaruhi kehamilan Khanza juga.
“Tapi semoga saja itu belum jadi janin Ka” ucap Arif sungguh-sungguh.
“Kita kan gak tau Rif, bisa jadi ini masa subur istri Lo”
__ADS_1
Mendengar hal itu Arif semakin pusing, ia begitu berharap apa yang terjadi semalam tidak akan membuatnya menjadi seorang Ayah..
Bukan ia tak mau, hanya saja saat ini kesehatan Khanza yang utama.
*******
Akhirnya dengan segala rintangan nya akhirnya Arif bisa pulang kerumah. Walau perasaan nya masih kesal namun Arif tetap menunjukkan wajah bahagia di depan istrinya.
“Nonton apa sayang ??” tanya Arif saat melihat Khanza sedang duduk bersila di atas sofa sambil menonton televisi.
“Tuh lihat sendiri !!” titah Khanza masih sangat cuek.
Arif tersenyum “Masih marah sama Mas ??” tanya Arif sambil ingin membelai kepala sang istri, namun Khanza justru langsung menghindar.
“Jangan sentuh aku !! Kan kamu gak mau hamil anak aku” ujar Khanza kembali mengungkit masalah tadi pagi
“Udah sayang jangan bahas itu lagi” ucap Arif
Khanza hanya melirik ke arah Arif sekilas lalu kemudian kembali menatap kelayar televisi.
“Kalau kamu gak mau aku mengandung anak kamu, ngapain kamu nikahin aku Mas ??” tanya Khanza
“Kan aku udah bilang jangan bahas masalah ini lagi Za, harus berapa kali sih Mas jelasin sama kamu”bentak Arif kemudian.
Khanza terhenyak kaget mendengar bentakan dari sang suami. Matanya mulai memanas dan berkaca-kaca sungguh Khanza begitu rapuh saat dirinya di bentak.
Tanpa ucapan apa-apa lagi Khanza beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan Arif seorang diri.
“Khanza !! Kamu mau kemana ??” tanya Arif
Namun Khanza tak lagi menggubris ucapan Arif.
Brakkk.
Khanza menutup pintu kamar dengan keras sehingga menimbulkan suara yang kencang. Arif bahkan langsung mengelus dadanya saat mendengar suara pintu yang di tutup oleh Khanza sangat kencang.
“Sayang, maafkan Mas !! Mas gak bermaksud untuk membentak kamu” ucap Arif berusaha membuka pintu kamar Khanza, namun ternyata di kunci dari dalam.
Tok--tok--tok..
Arif kembali mengetok pintu kamar Khanza.
“Sayang buka pintunya !! Kita bicarakan ini baik-baik” ujar Arif
“Pergi kamu Mas !! Khanza gak mau ngomong sama kamu” ucap Khanza di dalam kamar.
“Maafin Mas Sayang !! Maaf, mas tau mas salah !! Tapi kita bisa bicarakan ini baik-baik” Arif kembali berkata selembut mungkin.
“Pergi !!” teriak Khanza lagi.
Arif mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh ia tak tau harus berbuat apa. Bagaimana caranya ia membujuk sang istri supaya mau berbicara dengan nya.
Arif kembali menempelkan telinganya, namun ternyata sudah sunyi sudah tak terdengar suara Khanza menangis di dalam sana.
“Sayang !!” panggil Arif sambil kembali mengetok pintu.
Hening tak ada jawaban dari Khanza. Membuat Arif langsung panik.
“Khanza, sayang kamu baik-baik saja kan ??”
__ADS_1
Tok--tok--tok
“Khanza Sayang, buka pintu nya”
Namun berulang kali Arif mengetok pintu kamar, Khanza tak kunjung membukanya hingga akhirnya Arif berlari kebawah untuk mengambil kunci cadangan.
Setelah mendapat kan kunci cadangan, Arif kembali ke atas untuk membuka pintu.
Ceklek.
Betapa terkejut nya Arif saat melihat Khanza tergeletak di atas lantai.
“Astaghfirullah, Khanza” teriak Arif panik.
Arif langsung mengangkat tubuh Khanza untuk di bawah kerumah sakit. Ia begitu panik saat melihat Khanza sudah tergeletak tak berdaya.
“Sayang bertahan ya !! Mas akan bawa kamu kerumah sakit” ujar Arif.
Arif langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap ia akan cepat sampai di rumah sakit. Sungguh ia begitu takut kalau terjadi sesuatu dengan Khanza.
“Sus tolong istri saya !!” teriak Arif.
2 orang suster mendekat sambil membawa brankar, Arif langsung menidurkan Khanza di atasnya lalu membantu mendorong brankar tersebut ke ruangan IGD.
“Tolong suruh dokter Raka yang memeriksa !!" Pinta Arif kemudian.
“Baik dok”
Sambil menunggu Raka memeriksa keadaan Khanza. Arif langsung menghubungi Pak Hadi untuk memberi tahukan kalau saat ini Khanza kembali masuk rumah sakit.
Arif duduk di bangku panjang dengan perasaan khawatir dan takut. Sementara Khanza masih di tangani oleh Raka di dalam.
“Semoga istri ku tidak apa-apa ya Allah” doa Arif dalam hati.
Tidak berapa lama Pak Hadi dan Bik Sri sampai di rumah sakit. Nafas keduanya terengah-engah mungkin karena berlari dari parkiran.
“Apa yang terjadi dengan Khanza ??” tanya pak Hadi langsung.
“Arif tidak tau Yah, tadi Khanza marah sama Arif terus Khanza ngurung diri di kamar.” jelas Arif.
“Kenapa bisa Khanza marah sama kamu ?? Apa yang telah kamu lakukan ??” tanya Pak Hadi lagi.
“Khanza ingin hamil Yah sementara Arif belum mengizinkan karena Arif masih fokus ke kesehatan Khanza, namun Khanza malah berpikir yang lain dia pikir kalau Arif tidak mau Khanza hamil anak Arif. Khanza marah dan mengurung diri dikamar”
“Astaga, Khanza memang begitu apapun yang dia inginkan harus terwujud, kalau enggak ya dia akan marah” ujar Pak Hadi mengingatkan sikap putrinya.
Tiba-tiba dokter Raka selesai memeriksa khanza dengan cepat Arif bertanya.
“Bagaimana keadaan istri ku Ka ??” tanya Arif.
“Istri kamu hanya banyak pikiran, tubuhnya terlalu lemah. Saya sarankan jangan membuat Khanza stres karena akan berdampak buruk kepada kesehatan Khanza” jelas Raka.
“Baik Ka kedepan nya aku akan menjaga supaya Khanza tidak setres lagi”
“Saya udah meresepkan obat, nanti kalau Khanza udah sadar kamu kasih ya !! Semoga istri kamu cepat sembuh” ujar Raka lagi. Kali ini ia tak memakai Lo-Gue karena ada Ayahnya Khanza.
“Makasih Ka” ujar Arif.
“Sama-sama”
__ADS_1
Setelah kepergian Raka. Arif dan pak Hadi masuk kedalam ruangan IGD untuk melihat keadaan Khanza. Dan ternyata Khanza belum sadarkan diri