Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 53


__ADS_3

Arif memasuki kamarnya setelah berbincang dengan Ayah mertuanya.


Seperti biasa Kamar itu akan selalu menyeruakan harum wangi khas tubuh Khanza, entah bagaimana caranya Bi Sri membuat kamar itu seperti masih di tempati Khanza.


Seprai bermotif hello Kitty berwarna pink menjadi ciri khas kamar Khanza. Arif tersenyum kecut saat menyadari rasa rindu nya semakin besar.


Arif mengelus seprai tersebut, halus dan juga lembut, di samping ranjang nya ada box bayi untuk Kia tertidur, sudah jarang terpakai karena memang Kia sering tidur bersama Arif di atas ranjang.


“Sampai kapan Sayang ? Sampai kapan rindu ini menggerogoti perasaan Mas”


“Tidak kah kamu kasian pada Mas, kenapa kamu tidak pernah lagi hadir di mimpi Mas. Mas ingin memelukmu walau hanya dalam mimpi”


Arif mulai terisak, jika sudah berada di kamar Khanza, ia akan menunjukan kelemahannya, rasanya sudah tidak tahan memendam rindu kepada seseorang yang sama sekali tidak bisa ia gapai.


------------


Sementara itu.


Khanza ataupun Laras masih liburan di negara Korea. Bersama teman-temannya.


Di kampus banyak sekali yang ingin menjadikan Laras kekasihnya,namun entah kenapa tak ada yang membuat hati Khanza bergetar, dan yang paling Laras tak mengerti ia merasa sudah terikat dengan seseorang namun entah siapa.


Setelah seminggu berada di Korea, kini Laras dan juga yang lain sudah kembali ke Singapura, Laras langsung di jemput oleh Mahendra.


“Bagaimana liburannya ?” tanya Mahendra.


“Seru dong Pa” jawab Laras antusias“Kapan-kapan Laras mau kesana bareng Papa” ucap Laras lagi.


Mahendra mengelus kepala Laras dengan gemas “Boleh, nanti kita kesana kalau kerjaan Papa tidak terlalu banyak”


“Janji” ucap Laras sambil menjulurkan jari kelingkingnya kepada Mahendra.


“Janji” Mahendra membalas dengan cara menautkan kelingking nya juga.


Mereka berjalan menuju parkiran Bandara, di hiasi dengan cerita lucu dari Laras. Namun dari kejauhan seseorang memperhatikan Mahendra yang berjalan berduaan dengan Laras.


Namun bukan tertuju pada Mahendra melainkan tertuju pada wanita cantik yang sedang tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


“Gue gak salah lihat kan ?”


“Apa itu Khanza ?”


“Terus kalau itu Khanza, yang dimakamin setahun yang lalu siapa”


Beribu pertanyaan yang terucap di bibir Raka, heran di campur bingung pastinya.


Namun mata telanjangnya begitu jelas melihat seorang wanita yang begitu mirip dengan Khanza, tapi yang ia tahu Khanza sudah meninggal.


Dengan cepat ia memotret wanita itu, dan waktu yang pas karena wanita itu menatap kearahnya, buru-buru Raka memasukan kembali ponselnya lalu pergi dari sana.


Raka mempir ke restoran cepat saji yang tidak jauh dari Bandara, ia langsung menghubungi nomor Arif setelah sebelumnya memesan minuman.


“Halo ada apa Ka” ucap seorang di seberang sana tanpa basa-basi.


“Gue lihat Khanza” ucap Raka langsung.


Tiba-tiba suasan hening namun sedetik kemudian terdengar suara Arif yang pecah karena tawa, bahkan Raka harus menjauhkan ponselnya untuk menghindari tawa orang di seberang sana, yang berhasil menekan gendang telinganya sehingga menimbulkan rasa sakit.


“Lo kalau lagi berhalusinasi jangan ngebayanhin bini orang dong” suara di seberang sana terdengar begitu menyebalkan. Sialan memang.


“Udah-udah, Lo jangan banyak omong dulu, mungkin karena Lo baru turun dari pesawat makanya mata Lo mendadak berkunang-kunang”


Tuuut.


Raka langsung mematikan sambungan telepon sangat percuma menjelaskan semuanya karena Arif tidak akan percaya, dan mungkin ia akan di katakan sedang gila oleh Arif.


Namun sejurus kemudian senyum simpul berhasil terbit di sudut bibirnya, karena melihat hasil jepretan nya tadi, beruntung memang ia sempat memfoto wanita yang begitu mirip dengan Khanza.


Setelah berhasil mengirimkan foto tersebut, tidak sampai 3 menit Arif kembali menelponnya.


“Lo dapat foto itu dari mana ?”


“Lo lagi gak ngerjain gue Kan ?”


“Itu bukan editan Lo ?”

__ADS_1


Raka bahkan mendengus kesal saat tak ada cela untuk dirinya menjawab pertanyaan Arif yang sangat tergesa-gesa. Raka bahkan memijit pangkal hidungnya karena tiba-tiba kepala nya mendadak pusing.


“Makanya dengerin gue dulu” pinta Raka, berusaha bersikap sabar.


“Cepetan !” timpal Arif lagi.


“Tadi pas gue turun di pesawat, gue gak sengaja lihat Mahendra dan orang yang sangat mirip dengan Khanza, Lo bisa lihat sendiri kan di fotonya, gila men mirip banget, gue bahkan sampai lupa kalau Khanza udah meninggal”


Raka menjelaskan semuanya, tak ada yang ia tinggalkan.


---------


Khanza bukan nya tidak tau kalau ada seorang pria yang memotret dirinya, tapi ia tak ingin ambil pusing mungkin karena ia begitu cantik hingga ada laki-laki yang mau mengambil fotonya.


Baginya itu sudah biasa ia terima, di kampus juga banyak laki laki yang secara diam-diam mengambil fotonya.


Setelah meletakkan tas kedalam kamar, Khanza langsung memasuki kamar mandi, berendam sebentar dengan air hangat yang sudah di beri aroma terapi mungkin bisa meredakan rasa penatnya sehabis perjalanan jauh.


--------


Arif terus memandangi foto yang di kirimkan oleh Raka, wanita itu begitu mirip dengan Khanza.


“Aku harus kesana untuk memastikan kalau Raka tidak berbohong”


“Tapi bagaimana dengan Kia ?”.


“Alasan apa yang harus aku katakan pada Ayah, Mama dan Papa ?”


Tapi ia kembali berpikir bagaimana jika ia salah orang, karena menurut pengetahuannya di dunia ini begitu banyak orang yang berwajah mirip, namun foto wanita itu bukan hanya mirip tapi Arif merasa itu adalah Khanza, istrinya yang sudah ia rindukan.


“Apa arti semua ini Ya Allah ? Kenapa ada wanita yang begitu mirip dengan Khanza” Arif termenung sebentar namun matanya tak luput dari foto wanita yang di tampilkan oleh layar ponsel.


Jika memang itu Khanza, lalu siapa yang ia makamkan setahun yang lalu. Entahlah semuanya terasa membingungkan.


Dan foto yang Arif dapat dari Raka berhasil membuat dirinya tidak bisa tidur malam harinya, matanya menyalang tak ingin menutup padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sudah hampir tengah malam atau memang sudah karena suara kendaraan sudah sedikit berkurang, hanya suara jangkrik yang saling bersahutan di luar kamarnya.


Ketika pukul 01 malam Arif juga tak bisa tidur, foto wanita yang begitu mirip dengan Khanza selalu terlintas di ingatan nya. Hingga ia memutuskan untuk mengerjakan sholat tahajud, memohon petunjuk kepada Allah.

__ADS_1


Berharap ia segera mendapatkan jawaban atas apa yang baru ia terima tadi. Jika memang istrinya masih hidup ia pasti akan sangat bahagia, namun menurut Arif rasanya itu tidak mungkin, karena ia sendiri yang memakamkan istrinya.


__ADS_2