Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 39


__ADS_3

Setelah mandi dan berganti pakaian, Arif kembali kerumah sakit dan sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.


Arif menemui istrinya terlebih dahulu tak lupa membawa pesan Ayah mertuanya.


“Ini Yah sarapan dulu” ucap Arif sambil memberikan nasi uduk 2 bungkus kepada Pak Hadi dan juga Bi Sri


“Makasih Nak” balas Pak Hadi menerima sarapan yang di belikan menantunya.


“Sama-sama Yah”


Khanza terus menatap sang suami, terlihat sekali kalau Arif begitu lelah, mungkin kurang istirahat karena harus mengurusinya di rumah sakit.


Seketika rasa amarah yang semalam memuncak menjadi rasa bersalah yang mendalam. Arif yang terus di perhatikan Khanza langsung mendekat.


Tak lupa Arif mencium kening Khanza dulu.


“Sudah minum obat belum dek ??” tanya Arif dengan nada lembut.


“Sudah Mas” jawab Khanza dengan mata berkaca-kaca.


Khanza langsung memeluk tubuh Arif dengan erat, ia menangis sesegukan di dada bidang sang suami.


“Maafin Khanza Mas, Khanza udah egois. Harusnya Khanza gak bersikap seperti ini sama Mas, Maafin Khanza masih sangat kekanakan” ucap Khanza dengan tangisnya.


“Sudah Sayang ,mas sudah memaafkan kamu. Maafin Mas juga ya semalam udah bentak kamu” balas Arif juga merasa bersalah.


Arif melapaskan pelukan istrinya, ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di pipi Khanza. Setelah itu Arif mencium wajah Khanza mulai dari kening, kedua kelopak mata, kedua pipi dan juga bibir Khanza, tidak peduli kalau disana ada Pak Hadi dan juga Bi Sri.


“Mas sayang banget sama kamu sayang” bisik Arif di telinga Khanza.


“Khanza juga sayang banget sama kamu Mas.” balas Khanza Juga.


Arif tersenyum menatap wajah sang istri “Mas kerja dulu ya, nanti Mas suruh dokter Raka ngecek kondisi kamu lagi kalau udah membaik Mas minta kamu pulang” ucap Arif.


“Iya Mas, hati-hati”


“Siap Sayang”


Khanza menarik punggung tangan Arif lalu mencium nya. Sejenak Arif tertegun dengan kelakuan Khanza namun dengan cepat Arif sadar dan tersenyum ke arah sang istri.


“Yah aku kerja dulu” Pamit Arif kepada Pak Hadi


“Bi tolong jagain Khanza” ucap Arif kepada Bi Sri.

__ADS_1


“Baik den” jawab Bi Sri.


Arif keluar dari ruangan Khanza tentu saja dengan perasaan bahagia, karena dirinya dan Khanza sudah berbaikan sehingga membuat hari- hari yang akan Arif jalani menjadi berwarna.


Dari ruangan Khanza, Arif sudah di sibukkan dengan pasien. Hari ini banyak sekali Pasien yang berobat, Arif memeriksa nya terlebih dahulu barulah ia merujuk pasien jika memang keadaan nya darurat.


************


1 bulan telah berlalu, keadaan Khanza sudah membaik. Khanza rajin mengkonsumsi obat yang di resepkan dokter. Keinginan Khanza untuk sembuh begitu besar sekarang.


Perjalanan rumah tangga nya dengan Arif juga semakin harmonis. Arif begitu perhatian kepada Khanza, tak pernah sekalipun Arif kembali membentak Khanza setelah kejadian waktu itu.


“Sayang hari ini Mama sama Papa mau datang” ucap Arif kepada Khanza yang sedang memasak untuk sarapan.


“Iya Mas” jawab Khanza


“Kamu baik-baik ya sama Mama, Mas akan pulang lebih dulu”ucap Arif sambil mengecup kening Khanza sebentar.


Khanza hanya membalas dengan senyuman, walau di hatinya ia begitu takut jika bertemu dengan ibu mertua nya, mengingat ucapan Mama Risa yang begitu menyakitkan.


“Jangan takut Za, walau bagaimanapun dia adalah ibu mertuamu” batin Khanza mencoba menyemangati dirinya sendiri.


“Ibu kenapa ?? Kok melamun ??” tanya Bi Asih.


“Baik Bu” jawab Bi Asih.


Khanza meninggalkan Bi Asih dan naik ke lantai atas untuk bersiap Mandi. Ia melihat suaminya sedang memakai Jas putih kedokteran nya. Dengan cepat Khanza membantu.


“Kamu jangan capek-capek ya dek, ingat kondisi kamu” omel Arif karena memang Khanza belum sembuh total.


“Iya Mas” jawab Khanza sambil merapihkan pakaian Arif.


“Jaga kesehatan terus ya, karena sebentar lagi Mas akan bawa kamu berobat ke Singapura, semoga disana kamu bisa sembuh total”.


“Amiin”


Namun tak di duga, Khanza menutup hidungnya karena aroma menyengat dari tubuh Arif. Khanza berlari kekamar mandi dan menuju wastafel untuk memuntahkan isi dalam perutnya yang ternyata hanya cairan berwarna kuning karena memang Khanza belum makan apa-apa.


“Sayang kamu kenapa ??” tanya Arif sambil memijit tengkuk Khanza.


“Mungkin karena efek obat Mas” jawab Khanza, walau sebenarnya dia tidak yakin kalau itu karena obat ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Khanza namun ia belum berani mengatakan nya kepada Arif karena takut itu hanya dugaan nya saja.


“Kamu istirahat dulu, jangan banyak gerak, Mas usahakan pulang cepat hari ini” ucap Arif sambil membantu memapah tubuh Khanza menuju tempat tidur.

__ADS_1


“Iya Sayang” jawab Khanza.


Khanza berbaring di atas ranjang tempat tidur.


“Mas berangkat dulu ya sayang, nanti mas minta No Asih untuk membawakan kamu makanan” ucap Arif.


“Iya Mas makasih”


Arif menyerahkan tangan nya untuk di cium Khanza. Itu sudah menjadi kebiasaan keduanya.


Setelah Arif berangkat bekerja, Khanza langsung meminta Bi Asih untuk membelikan nya testpack. Ia hanya ingin memastikan kalau dia tidak hamil.


“Tolong belikan Aku tespeck ya Bi, minta sama sopir untuk mengantar. Jangan kasih tau bapak tapi” ucap Khanza kepada Bi Asih.


“Baik Bu”


Bi Asih langsung berangkat menuju apotik terdekat


“Apapun hasilnya aku akan terima dengan ikhlas” batin Khanza.


******


“Ini Bu pesanan nya” ucap Bi Asih


“Makasih Bi” balas Khanza. Tangan nya mengambil 3 buah testpack yang barusan di belikan sama Bi Asih.


Khanza langsung masuk kekamar mandi. Tangan gemetar saat memegangi testpack tersebut.


Dengan sangat hati-hati Khanza mencelupkan testpack ke air mani nya.


Jantung Khanza berdegup kencang, matanya terpejam untuk menunggu hasil yang akan di tampilkan pada sebuah benda persegi panjang tersebut.


Cukup lama Khanza menunggu setelah hampir 10 menitan Khanza baru berani membuka matanya, dan begitu jelas terlihat 2 buah garis berwarna merah yang berada di Testpack tersebut.


“Ya Allah ini artinya aku hamil” gumam Khanza dengan suara bergetar menahan tangis.


Namun nyatanya air mata itu tak bisa Khanza hentikan. Dengan deras ia mengalir membasahi pipi Khanza.


“Apa Mas Arif akan menerima kehadiran dia ??”


“Sedangkan Mas Arif begitu takut kalau aku hamil. Bagaimana ini Ya Allah”


Khanza bingung harus bagaimana, antara sedih dan bahagia yang ia rasakan sekarang. Sebagai seorang wanita justru Khanza bahagia karena bisa mengandung itu berarti dirinya sempurna, namun saat mengingat kalau dirinya sedang mengidap kanker hati Khanza sedih.

__ADS_1


“Jika memang Mas Arif tidak setuju aku akan tetap mempertahankan kamu Nak” ucap Khanza sambil mengelus perut nya yang masih rata.


__ADS_2