Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Membagikan Undangan


__ADS_3

Sinta masih memandangi surat undangan yang barusan di terimanya. Dengan mulut terbuka serta mata melotot membuat Khanza Meringis sambil menggigit bibir bawahnya.


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/I dalam acara pernikahan kami.


...AYESA KHANZA GUNAWAN...


...Putri pertama dari bapak Hadi Gunawan & Ibu Melati (Alm)...


...Dr. Arif Akbar Praja...


...Putra pertama dari bapak Raka Praja & Ibu Marisa....


...Yang Insya Allah akan di laksanakan pada :...


...Akad Nikah : Jum'at 29 mei 20**...


...Pukul : 14:00 Wib....


...Bertempat di Perumahan Puri Indah, Kembangan Jakarta barat....


...Resepsi : Sabtu, 30 Mei 20**...


...Pukul : 08:00 Wib...


...Bertempat Di Wisma RMK. Jl Puri Kencana Blok M4 No.1 Jakarta barat....


...Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/I berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai....


...Kami yang berbahagia....


...Khanza dan Arif...


“Ini serius Za ??” tanya Sinta masih dengan raut wajah keheranan.


“Kamu pacaran gak pernah, eh tiba-tiba langsung nikah aja” sambung Sinta lagi


“Mana gak pernah cerita lagi sama aku, tau-tau udah nyebar undangan”


“Aku ini sahabat kamu apa bukan sih”


Khanza terdiam. Telinga nya masih mendengar sederet kalimat yang di ucapkan Sinta. Ia tau kalau Sinta marah karena selama ini Ia merahasiakan masalah pernikahan nya dengan Arif.


“Kamu kenal dimana sama calon suami kamu Za ??” tanya Sinta lagi. Kini raut wajahnya sudah tak seperti tadi.


“Ceritanya panjang ” jawab Khanza sambil mendudukkan diri di sebelah Sinta.


“Pokoknya kamu harus ceritain semuanya sama aku !! jangan ada rahasia lagi”

__ADS_1


Lagi-lagi Khanza meringis, ucapan Sinta begitu menusuk relung hatinya.


"Aku kenal sama dia waktu aku di rawat di rumah sakit"


Khanza mulai menceritakan bagaimana awal nya ia bisa dekat dengan Arif. yang awalnya Ia begitu jengkel dengan lelaki itu tapi malah semakin lama Ia sendiri merasa nyaman. Menyebalkan memang.


"Oh jadi ceritanya dokter sama pasien ?? gimana ya caranya nyebutin. Dokter ku adalah jodohku Atau Pasien ku calon istriku" ujar Sinta dengan nada meledek membuat Khanza merasa malu.


"Apa sih" cibir Khanza.


"Hahahaha" Sinta justru tergelak karena puas meledek Khanza.


"Aku cuman mau ngucapin selamat aja sama kamu Za, semoga pernikahan kamu berjalan lancar sampai hari H." Kini Sinta bicara serius.


“Makasih Sin. Tolong kasih tau Mama sama Papa kamu ya !” balas Khanza yang sudah menatap Sinta dengan berkaca-kaca.


“Siap” kata Sinta sembari tersenyum haru.


Tak bisa di pungkiri bahwa keduanya merasakan kesedihan terutama Sinta. Karena setelah Khanza menikah otomatis kehidupan Khanza akan ada perubahan. Ia tidak bisa seenaknya untuk bertemu dengan Khanza karena ada sosok laki-laki yang akan Khanza sebut sebagai Suami.


Sinta bahkan tidak akan bisa menginap di rumah Khanza lagi. Ini menyedihkan. Sangat Menyedihkan. Mereka hanya akan bertemu di lingkungan kampus.


************


Dua hari sebelum hari pernikahan. Rumah Khanza sudah begitu ramai karena akad nikah akan di laksanakan di rumahnya sendiri berbeda dengan Acara resepsi.


Kerabat jauh sudah banyak yang datang. Menjadikan rumah Khanza begitu ramai apalagi dengan para anak kecil yang berlarian kesana kemari.


Khanza tersenyum “Mau keluar sebentar Tan.


Bosen di kamar terus” jawabnya sopan.


“Jangan lama-lama dan ingat jangan jauh-jauh karena saat ini kamu sedang di pingit”


Kata itulah yang Khanza tak suka. Pingit.


Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya nggak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba.


Tradisi ini wajib dilakukan oleh pengantin yang menikah dengan adat Jawa. Tetapi, banyak juga pengantin yang melakukan pingitan meski nggak menikah menggunakan adat ini. Teruntuk kamu yang sudah menikah, apa kalian melakukan tradisi pingitan ini sebelum acara besar kalian?


“Iya Tan” jawabnya lemah.


Tante Ira tersenyum. Kemudian Khanza melangkahkan kaki nya menuju keluar rumah. Tapi langkahnya terhenti saat melewati ruang tamu dimana sudah di dekorasi secantik mungkin. Lalu matanya fokus menatap foto Prewedding dirinya dan Arif.


Mendadak Khanza merasakan rindu kepada calon suaminya. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Langkah terlihat buru-buru tapi tetap menjawab pertanyaan Tante Ira.


“Enggak jadi keluarnya ??” tanya Tante Ira sambil berteriak karena Khanza sudah menaiki anak tangga.


“Tidak Tante. Sepertinya dikamar lebih baik”

__ADS_1


Tante Ira menggelengkan kepalanya sembari tersenyum simpul. Sebagai orang tua Ia tentu paham bagaimana perasaan sang keponakan nya saat ini. Tak lain dan tan bukan Rindu.


“Tante loh pernah mudah Za” gumam Tante Ira sambil terssnyum simpul. Kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang saat ini sedang memasak.


Sementara di kamar Khanza. Ia sedang melirik ponselnya yang sama sekali tak ada pesan dari calon suaminya. Tidak mungkin jika Arif pergi bekerja karena Arif sudah memberi tahunya kalau dia sudah mengambil cuti selama seminggu.


“Kemana sih ?? apa gak kangen sama aku” gumam Khanza masih menatap layar segi empat yang menyala dengan terang.


Hingga 1 detik 2 detik bahkan sampai 15 menit kemudian. Tak ada juga pesan dari Arif membuat Khanza menghela nafas kasar.


Benar-benar ya laki-laki itu gak peka sama sekali.


Maki Khanza dalam hati.


Akhirnya Khanza memutuskan untuk menghubungi Arif terlebih dahulu. Ini gak melanggar aturan kan ??


“Halo sayang” ucap Arif di seberang sana.


“Lagi apa sih ?? kok gak ada kabar ??” tanya Khanza dengan nada kesal.


Namun Arif justru terkekeh. Membuat Khanza semakin kesal saja.


“Sengaja biar makin rindu”


“Emang siapa yang bakalan rindu ??" cibir Khanza namun sesaat kemudian Ia tersenyum.


“Kamu gak rindu sama Mas Dek ??”


“Enggak !!”


“Hahahaha” Arif kembali tergelak dengan tawa sangat kencang.


“Berisik !!”


“Kamu lucu sayang. Katanya gak Rindu tapi gaya bicara mu menandakan kalau kamu begitu merindukan Mas”


Blasss.


Wajah Khanza bersemu merah. Ini tentu sangat memalukan. Tapi bodoh amatlah toh Arif juga bakalan jadi suaminya kan.


.


“*Mas juga sangat merindukan kamu Sayang.


Semua ini seperti tak akan terlewati Ingin sekali Mas melanggar perkataan Mama yang menyuruh Mas di pingit tapi Mas gak berani”


“Sabar ya 2 hari lagi kita akan bertemu*”


Kali ini Khanza tersenyum mendengar ucapan dari calon suaminya itu, ia berharap waktu akan cepat berlalu sehingga dirinya akan segera bertemu dengan Arif.

__ADS_1


Dua hari rasanya dua tahun untuk Khanza. Lebay memang.


__ADS_2