
Khanza....
Ketika ia membuka mata, pandangan nya tertuju kepada sosok laki-laki yang sedang terlelap di samping ranjang nya. Dengan kedua tangan menjadi bantal.
“Kasihan kamu sayang, gara-gara aku sakit kamu jadi seperti ini. Rencana bulan madu kita menjadi gagal” ia mengusap kepala Arif dengan lembut.
“Maafin aku Mas”
Air matanya kembali menetes, kembali membasahi pipi nya yang sudah pucat.
Hingga gerakan lembut nya, membangunkan Arif.
Ia mencoba untuk tersenyum walau lelehan air mata masih membekas di pipinya.
“Kamu udah bangun sayang ??” tanya Arif dengan suara serak.
Ia mengangguk “Aku ganggu ya ??” ia balik bertanya.
“Hehe, iya enggak Dong sayang, emang udah saatnya bangun kok” ucap Arif dengan mengelus pipi nya menggunakan jari telunjuk.
“Tadi Ayah pulang dulu sebentar, Oh ya kamu makan dulu ya sayang, biar cepat sembuh”
“Tapi aku belum lapar Mas, nanti aja ya”
Arif menghela nafas sebentar kemudian kembali berkata “Katanya mau sembuh, kamu harus banyak makan biar cepat sembuh” bujuk Arif dengan kalimat yang begitu lembut.
Akhirnya mau tak mau ia mengangguk. Arif langsung mengambil kan satu mangkok makanan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Terlihat tidak enak memang tapi ia terpaksa menelan setiap suapan yang di berikan oleh suaminya.
Ia tak ingin Arif sedih, makanya ia menelan makanan tersebut dengan sekuat tenaga.
Namun hanya 5 suapan ia menyudahi makan nya, perutnya terasa sangat tidak enak, rasanya begitu mual dan ia sendiri pun tak tau apa karena makanan yang barusan ia telan.
“Sekali lagi ya sayang !!” Arif kembali membujuknya.
“Enggak Mas, Aku udah kenyang”
“Ya sudah, minum dulu tapi”
Ia langsung menerima segelas air minum yang di berikan sang suami. Meneguknya sampai habis tak tersisa. Setelah itu ia mengembalikan gelas nya ke Arif.
“15 menit lagi minum obat ya sayang” ucap Arif mengingatkan.
“Iya Mas” jawab nya pasrah.
Karena itulah yang akan ia konsumsi kedepan nya atau bahkan seumur hidup. Entahlah ia sendiri tak tau hanya bisa pasrah apapun yang tuhan takdir kan untuk nya.
Percuma mengeluh karena semua tidak akan membiarkan dirinya sehat, kanker itu akan terus menggerogoti dirinya.
“Mas kapan masuk kerja ??” tanya nya kemudian.
“Masih lama lah sayang, kan aku di kasih cuti buat bulan madu” jawab Arif sambil terkekeh.
“Kenapa memangnya ??” Lanjut Arif lagi.
__ADS_1
“Iya gak papa sayang, kirain kamu akan mulai bekerja, gak jadi ngambil cuti”
"Emang boleh ?" tanya Arif dengan menatap nya dengan serius.
“Ya terserah kamu aja, kan kamu yang mau kerja” jawabnya kesal.
Arif justru tergelak, membuat dirinya mengerucutkan bibir.
“Ya enggak Dong sayang, aku belum akan masuk kerja, nanti aja pas waktu yang telah di tentukan” ucap Arif kemudian.
Ia kemudian mengangguk, lalu membenamkan wajahnya di dada sang suami, tempat ternyaman yang saat ini ia butuhkan. Bukan hanya saat ini tapi selamanya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ada Papa dan Mama mertuanya yang baru kembali dan juga Ayah yang begitu ingin ia temui dan ia peluk.
“Ayah” ia langsung kembali terisak di dalam pelukan sang Ayah.
“Iya Nak, Khanza pasti bisa lewatin ini semua” ucap Ayah sambil menepuk bahunya dengan lembut.
“Iya Yah, Khanza akan kuat, karena disini ada Ayah, Mas Arif dan Mama, Papa”
“Iya sayang, Kami semua akan selalu ada untuk Khanza”.
Ia menarik diri untuk melepaskan pelukan nya dari sang Ayah.
---------------------
AYAH Khanza......
Mendengar kalau sang putri kembali mengidap kanker hati tentu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Alasan nya ia tak ingin di nilai buruk oleh kedua orang tua Arif, apalagi mengingat pernikahan Khanza dan Arif baru saja di lakukan. Bahkan belum genap seminggu. Ia tak ingin kedua orang tua Arif jadi berpikiran kalau dirinya ingin Arif cepat melamar Khanza karena Khanza sedang sakit.
Tabungan nya masih begitu cukup untuk pengobatan putri tersayang nya itu. Dan rencananya ia akan memberikan nya kepada Arif untuk keperluan pengobatan Khanza..
“Rif bisa bicara sebentar ??” tanya nya kepada sang menantu.
“Bisa Yah”.
Ia dan Arif keluar ruangan Khanza, mengobrol di depan supaya lebih enak. Karena kalau didalam ia takut kedua besan nya akan tersinggung.
“Ada apa Yah ??” tanya Arif.
“Ini” ia menyerahkan sebuah kartu tanpa batas.
“buat pengobatan Khanza” ucapnya serius.
“Tidak usah Yah, Arif ada tabungan untuk semua pengobatan Khanza. Jadi ayah tenang saja insya Allah semua itu cukup”
Namun ia tetap memaksa supaya Arif mau menerima kartu tersebut. “Simpan saja dulu, siapa tau nanti di butuhkan. Sandi nya tanggal lahir Khanza”
Dengan terpaksa Arif menerima kartu tersebut, memasukan kedalam dompet yang berada di dalam saku celana. Setelah memberikan itu ia kembali kedalam ruangan Khanza. Menemani sang putri supaya tetap kuat menerima cobaan ini.
----------
Mama Arif.
__ADS_1
Jujur ia sedikit syok ketika mendengar kalau menantunya mengidap kanker hati, dan bahkan sebelum Khanza menikah dengan putranya.
Ada rasa sedih, kecewa dan takut yang ada di dirinya. Apalagi melihat wajah Arif yang terlihat lelah. Di tambah acara resepsi yang sudah tersusun dengan mewah harus di relakan begitu saja karena keadaan Khanza yang jatuh pingsan.
Sudah banyak keluarga yang menanyakan tentang kesehatan Khanza, ada juga yang bertanya Khanza sakit apa. Namun ia hanya menjawab karena terlalu lelah.
Dan ada pula yang berasumsi kalau Khanza hamil duluan. Dan itu berhasil membuat emosi nya meluap namun sang suami dengan sigap menenangkan nya.
“Sudah Ma, jangan emosi” ucap Sang suami dengan lembut.
“Kesel aku Mas, kenapa sih mereka seenaknya bicara seperti itu, memangnya putra kita seperti itu”
Ketika ia kembali kerumah sakit, ia dapat melihat wajah Khanza yang masih pucat. Walau sudah minum obat yang di diresepkan dokter.
“Kasihan kamu Nak, menikah di usia sekarang malah dapat istri yang penyakitan” batinnya dengan menatap Khanza dan Arif bergantian.
-------------
Khanza...
Dari tadi saat kedatangan kedua mertuanya entah kenapa sikap Mama begitu berbeda. Tak ada lagi wajah ramah yang ia lihat.
Ada apa ini ?? Apa yang terjadi ?? Kenapa secepat ini Mama mertuanya berubah.
Ia terus bertanya-tanya..
“Ma, udah makan belum ??" Ia bertanya untuk mencairkan suasana.
“Sudah” jawab Mama cuek.
Ia mencoba tersenyum. Di ruangan itu hanya tinggal ia dan Mama sementara yang lain sedang melaksanakan sholat Ashar.
“Kalau Mama capek, gak usah bolak-balik kerumah sakit, Khanza gak papa kok”
Mama mendekat kearah nya. Menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.
“Jujur Mama nyesal merestui pernikahan kamu dan Arif”
Degggggg.
Ia langsung terdiam. Detak jantungnya berpacu dengan cepat.
“Apa maksud Mama ??”
“Jika dari awal saya tau kalau kamu penyakitan saya tidak akan membiarkan anak saya menikahi kamu”
“Arif itu menikah supaya bisa ada yang merawatnya, menyambutnya ketika pulang bekerja bukan seperti ini yang menjaga kamu yang terbaring tak bedaya disini”
Kata-kata Mama begitu menyakiti perasaan nya, air matanya sudah menetes dengan deras.
“Bukan ingin Khanza penyakitan seperti ini Ma. Khanza juga tidak ingin merasakan semua ini. Khanza ingin merawat suami Khanza seperti yang Mama bilang” ucapnya dengan terisak.
Namun justru Mama tak kembali mendengarkan apa yang dia ucapkan. Berjalan dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Mengabaikan dirinya yang masih terisak dengan tangisan yang memilukan.
__ADS_1
“Harusnya memang kita tidak menikah Mas.”