
Sehari sebelum berangkat ke Singapura, Arif terlebih dahulu meminta izin kepada pihak rumah sakit. Walau bagaimanapun ia hanya karyawan disana.
“Kan Lo dokter pribadi keluarga Abraham, minta izin aja langsung ke Tuan Kenan” usul Raka.
Arif tampak berpikir, ada benarnya juga ucapan Raka. Dia memang harus minta izin sama Kenan selain karena Kenan adalah pemilik rumah sakit tempat nya bekerja. Ia juga dokter pribadi keluarganya.
“Benar apa kata Lo, gue akan menemui Tuan Kenan dulu” ucap Arif.
“Pasti diizinkan. Tenang aja" ujar Raka.
Arif langsung menuju rumah Kenan.
Sebelumnya ia sudah menghubungi Kenan untuk meminta bertemu, dan Kenan menyarankan bertemu di rumah saja.
Sudah cukup lama ia tak mendatangi rumah ini, setelah ia menikah dan di sibukkan dengan pengobatan Khanza. Arif tidak punya waktu lagi untuk berkumpul dengan Kenan dan yang lain nya.
“Tumben ngajak ketemuan, ada apa ??” tanya Kenan setelah ia mengajak Arif keruang kerjanya.
“Gue mau izin Ken, gak tau sampai kapan” jawab Arif jujur.
“Izin ?? Mau kemana ??”
“Gue mau bawa istri gue ke Singapura untuk berobat, semoga disana ia bisa sembuh Ken, gue berharap banget dia sembuh apalagi sekarang Khanza sudah hamil” jelas Arif dengan raut wajah yang sedih.
Kenan menatap wajah Arif dengan seksama, tedapat banyak beban di pundaknya. Walau dirinya tak merasakan di posisi Arif tapi ia tahu bagaimana perasaan Arif saat ini.
Mengetahu istri yang paling di sayang sedang mengidap penyakit berbahaya tentu bukan lah hal yang harus di diamkan. Jika Kenan berada di posisi Arif mungkin saja ia akan melakukan apa saja.
“Gue izinkan, fokos lah ke pengobatan istri Lo, untuk urusan pekerjaan jangan jadi beban pikiran dulu” ucap Kenan dengan tegas.
“Makasih Ken, gue janji akan menambah Sif setelah pulang nanti” Arif tampak tersenyum bahagia. Walau dari awal ia tahu kalau Kenan pasti akan mengizinkan. Seburuk dan setegas apapun Kenan jika itu menyangkut tentang nyawa seseorang Kenan akan selalu memberi izin.
“Dan ini sebagai penolong gue. Gak banyak tapi semoga membantu pengobatan istri Lo, gue dan Alya hanya bisa berdoa disini” ucap Kenan sambil mentransfer uang yang jumlahnya cukup membuat Arif terkejut.
“Ken ini terlalu banyak” kata Arif sambil memandang nominal yang Kenan transfer ke rekening nya. Matanya mendadak berkaca-kaca.
“Lo udah sering bantu keluarga gue selama ini. Jadi anggap saja ini balasan karena kebaikan Lo. Dan satu lagi pakailah pesawat pribadi kami, gue akan mengurusnya besok kalian tinggal berangkat”
Entah harus bagaimana lagi Arif mengekpresikan kebahagiaan nya. Air matanya menetes dengan deras. Tanpa aba-aba Arif bangkit dan langsung memeluk tubuh Kenan. Walau ia tahu Kenan pasti akan melontarkan kata kasar kepadanya.
“Aseeemmm. Lo kenapa meluk gue, geli gue njiiir” Kenan mendorong tubuh Arif dengan kencang, sehingga Arif langsung mundur kebelakang.
“Gue cuman mau ngucapin terima kasih sama Lo Ken” ucap Arif sambil menyusut Air matanya menggunakan tangan.
“Tapi gak usah peluk-peluk juga, gimana kalau Alya lihat bisa salah paham dia”
Arif terkekeh melihat kegusaran Kenan.
__ADS_1
“Pulang sana !! Geli gue lihat muka Lo” ucap Kenan lagi.
Namun Arif kembali tergelak, tidak ada rasa tersinggung sama sekali karena memang ia sudah terbiasa mendengar kata-kata yang terucap di mulut Kenan.
“Ok gue pulang, mau di peluk lagi gak ?? Siapa tau Lo kangen sama gue karena akan lama gue tinggal” goda Arif lagi.
“Mana ada gue kangen sama Lo. iiihhhh najis gue kalau kangen sama Lo”
“Beneran gak akan kangen ??”
“Berisik, pulang gak Lo, kalau Lo gak pulang gue pecat Lo jadi dokter pribadi gue”
Mendengar ucapan Kenan, Arif langsung menciut, ia tahu Kenan tidak akan beneran memecatnya namun tetap saja Arif takut dengan kata-kata itu secara Kenan adalah orang terkaya di kota ini.
“Ok. Ok gue pulang. Jangan kangen ya Ken !!” Arif mencolek dagu Kenan sebentar lalu pergi dengan tawa menggelegar.
“Dokter Sialan” umpat Kenan kesal.
“Kenapa bisa Papa memperkerjakan dokter mesum seperti dia” ucap Kenan lagi.
********
Sementara itu.
Setelah berpamitan dengan Tuan Bayu dan juga Alya, Arif langsung pulang kerumah nya. Rasa bersyukur juga bahagia selalu ia rasakan.
“Sampai kapan pun gue gak akan lupa sama kebaikan keluarga Lo Ken. Bahkan gue rela jadi budak Lo seumur hidup” batin Arif.
Setelah sampai di rumah Arif langsung menemui istrinya. Di lihatnya Khanza sedang bersiap untuk berangkat besok. Ia memang meminta Khanza untuk membawa banyak pakaian karena mereka akan lama disana.
Sebelum Khanza sembuh total, Arif tidak akan pulang.
“Sudah selesai minta izinnya Mas ??" Tanya Khanza walau tangannya masih sibuk menyusun pakaian kedalam koper.
“Sudah sayang, malahan Mas dapat rezeki”
“Rezeki ?? Dari siapa Mas ??” tanya Khanza penasaran.
“Lihat ini” Arif menunjukan notif Bank dimana ada kiriman dari Kenan dengan jumlah yang sangat pantastis.
“Ya Allah, siapa yang mengirimnya Mas” tanya Khanza dengan kaget.
“Tuan Kenan” jawab Arif lagi.
“Banyak banget mas. Apa kita bisa mengembalikan nya”
“Ini bukan pinjaman sayang ini dikasih katanya untuk pengobatan kamu, malahan besok kita di antar pakai pesawat pribadi milik mereka”
__ADS_1
Khanza menggeleng tak percaya, ternyata keluarga Abraham sangat baik berbeda sekali dengan yang ia tau selama ini.
*********
Keesokan paginya Arif, Khanza dan juga Pak Hadi langsung berangkat ke Bandara.
Sementara Mama dan Papa Arif tidak ikut.
“Kalian hati-hati di jalan, jaga calon cucu Mama” ucap Mama Risa
“Iya Ma, doakan semoga Khanza cepat sembuh” jawab Arif.
Setelah itu Mama Risa memeluk Arif dan Khanza bergantian.
“Ayo berangkat” ajak Pak Hadi.
“Arif pamit Ma, Pa” ucap Arif sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya begitupun dengan Khanza.
Mereka semua berangkat dari rumah Arif, kemaren sore Pak Hadi sudah berada di rumah Arif karena memang dia ingin ikut untuk pengobatan putri nya.
Sesampainya di Bandara Mereka di sambut oleh Pras asisten pribadi Kenan.
“Yah, Khanza perkenalkan ini Pras Asisten Tuan Kenan” ucap Arif memperkenalkan pria tampan yang berdiri di depan nya
“Saya Hadi ayahnya Khanza” ucap Pak Hadi dengan sopan.
“Saya Pras” jawab Pras tanpa ekspresi.
“Saya di tugaskan oleh Tuan Kenan untuk mengurus keberangkatan kalian ke Singapura, dan itu pesawat nya sudah selesai dan siap berangkat” jelas Pras lagi.
“Kenan mana Pras ??” tanya Arif.
“Tuan Kenan tidak ikut dokter Arif, dia ada urusan yang lain. Tapi tuan Kenan menitip salam untuk kalian”
Arif menganggukkan kepalanya, ia tahu sahabat sekaligus atasannya itu sangat sibuk, apalagi Kenan adalah seorang CEO.
“Silahkan berangkat dokter Arif, pesawatnya sudah siap” ujar Pras.
“Ayo sayang” ajak Arif kepada Khanza
Khanza menggandeng tangan sang suami, sementara Pak Hadi membawakan koper Khanza.
Pras membantu menaikan barang-barang milik Arif dan yang lainnnya, di pesawat sudah ada seorang pilot dan 2 orang pramugari. Mata Khanza melebar saat melihat kemewahan pesawat itu. Sangat berbeda sekali dengan pesawat yang lain.
“Mau duduk dimana Sayang ??” tanya Arif.
“Di situ saja Mas” tunjuk Khanza pada dua kursi paling depan.
__ADS_1
“Baiklah ayo” ajak Arif.