Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 58


__ADS_3

Keesokan harinya, Arif, Raka dan juga Khanza sudah tiba di Indonesia, rasa lega bercampur bahagia dapat Arif rasakan karena bisa membawa Khanza pulang.


Pak Hadi pasti akan sangat bahagia saat mengetahui kalau putri kesayangannya masih hidup.


"Ayo masuk !" ajak Raka saat sebuah mobil taksi sudah berhenti di depan mereka.


Arif mengangguk, ia masih menggendong Khanza karena sampai saat ini wanita cantik itu masih memejamkan matanya. Entah obat tidur jenis apa yang Raka berikan sehingga sang istri tidur begitu lama.


Sepanjang perjalanan pulang, Arif terus menatap wajah Khanza yang saat ini tidur di pangkuannya.


"Lo gak ngasih obat berbahaya kan sama istri gue ?" tanya Arif mulai khawatir.


Raka yang duduk di bangku depan pun menoleh "Ya enggak lah, tenang aja ! sekitar satu jam lagi istri Lo bakalan sadar" jawab Raka


"Lo udah nyiapin semuanya belum ? Lo jangan lupa ingatan istri Lo belum pulih jadi kemungkinan dia sadar nanti bakalan marah karena Lo bawa dia ke Indonesia"


Benar kata Raka, harusnya Arif menyiapkan semuanya. Khanza pasti akan mengajukan banyak pertanyaan kenapa dirinya membawa Khanza ke Indonesia. Apalagi nanti dengan kemunculan Pak Hadi sebagai ayah kandung Khanza.


"Jelasin pelan-pelan, semoga aja Khanza percaya dan ngerti apa yang Lo jelasin nanti" ucap Raka lagi.


"Iya Ka, semoga saja" balas Arif, terdengar nada khawatir dari intonasi yang ia ucapkan.


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah Pak Hadi. Sebelumnya Arif sudah menghubungi pak Hadi kalau dirinya berhasil membawa Khanza pulang.


"Masya Allah putriku" pekik pak Hadi saat menatap wajah Khanza yang masih terlelap, setetes air mata langsung begitu saja membasahi pipinya.


"Kamu beneran masih hidup nak" sambung pak Hadi lagi.


"Alhamdulillah yah, Khanza masih hidup" balas Arif.


"Ya sudah bawa ke kamar !"


"Iya Yah"


Arif membawa sang istri ke kamar, Pak Hadi dan Raka mengikuti. Raka sengaja belum pulang karena nanti ia akan membantu Arif menjelaskan pada Khanza apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang terjadi pada Khanza ?" tanya pak Hadi pada sang menantu.


"Panjang ceritanya yah" jawab Arif.


"Jelaskan semuanya, Ayah mau mendengar"


Dengan di bantu oleh Raka akhirnya Arif menjelaskan semuanya. Bahwa Khanza di sembunyikan oleh Mahendra.

__ADS_1


"Terus yang kita makamkan setahun yang lalu siapa ?"


"Arif juga gak tau Yah. Karena Arif belum mendengar penjelasan Dokter Mahendra"


Pak Hadi menghela napas panjang, di sisi lain ia merasa sedih karena saat ini putrinya tak mengingat dirinya. Tapi di sisi lain ia sangat bahagia karena Khanza putri kecilnya masih hidup.


Satu jam kemudian Khanza mulai sadarkan diri. Perlahan mata indah itu mulai terbuka.


"Dimana ini ?" ucap Khanza sambil menatap isi ruangan yang entah kenapa baginya tak asing.


"Kenapa aku merasa sudah pernah ke kamar ini ? tapi kapan ?" batin Khanza heran.


"Kamu sudah sadar ?"


Khanza langsung menatap ke sumber suara, ia kembali terperanjat kaget saat melihat Arif berjalan kearahnya sambil tersenyum.


"Ngapain kamu di kamar ini ?" tanya Khanza


"Tenang dulu ! mas akan jelasin semuanya" jawab Arif berharap Khanza jangan sampai ngamuk ataupun emosi.


Khanza merubah posisinya menjadi duduk, ia kembali di buat heran saat melihat Pak Hadi dan juga Raka.


Dimana dirinya sekarang ? kenapa ia di kelilingi tiga laki-laki. Begitu Yang ada di pikiran Khanza.


"Kamu di Indonesia, maaf kami terpaksa membawa kamu kesini" jawab Raka


Khanza membulatkan matanya, ia ingat betul larangan Mahendra kalau dirinya tidak boleh datang ke Indonesia, dan untuk alasannya Khanza tidak tahu.


"Kenapa kalian bawa aku kesini ? apa yang kalian rencanakan" Khanza mulai takut, tubuhnya bergetar dan air mata mulai menetes.


"Sayang tenang dulu, dengerin penjelasan Mas" ucap Arif dengan lembut. Sementara pak Hadi masih diam saja.


"Kamu itu istri mas, nama kamu Khanza. Dan ini Ayah kandung kamu. Kita sudah lama menikah bahkan kita sudah memiliki seorang anak yang sangat cantik" jelas Arif.


Tentu saja Khanza di buat kaget, bagaimana mungkin ada lelaki yang mengakui dirinya sebagai istri.


"Anda berbohong kan ? nama saya Laras bukan Khanza. Dan Papa ku namanya Mahendra" balas Khanza


"Ini Ayah nak, Ayah kandung Khanza. Ayah yang membesarkan Khanza dari bayi" akhirnya Pak Hadi membuka suara. Tapi semakin membuat Khanza tak terima.


Khanza bangkit, ia menatap ketiga lelaki itu dengan tajam. Hingga pandangannya tertuju pada foto-foto yang terpajang di dinding kamar itu. Dari foto dirinya yang masih berseragam SMA sampai waktu dirinya menikah.


"Tidak" teriak Khanza. Ia merasakan kepalanya sangat sakit.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa ?" tanya Arif khawatir.


"Jangan sentuh aku ! aku mau pulang ke Singapura"


Khanza berlari keluar kamar, masih memegangi kepalanya yang teramat sakit. Pak Hadi, Arif dan juga Raka mengejar karena takut terjadi apa-apa dengan Khanza.


"Khanza hati-hati" teriak Arif saat Khanza menuruni anak tangga dan masih memegangi kepalanya.


Belum selesai Arif mengatakan hal serupa, Khanza sudah jatuh terpeleset di tangga. Tubuhnya terguling dan beruntung tempat Khanza jatuh sudah tak terlalu tinggi.


"Khanza" teriak Arif dan Pak Hadi secara serempak.


-------------


Sementara itu, Mahendra baru saja mendapat kabar kalau Khanza di bawah ke Indonesia oleh anak buahnya.


Laki-laki paruh baya itu mengepal penuh rasa marah. Deru napasnya naik turun saking emosinya.


"Sialan ! kenapa aku sampai kecolongan seperti ini" ucap Mahendra marah. Ia melempar gelas yang ia pegang ke lantai sehingga hancur.


"Siapkan penerbangan, aku mau menyusul ke Indonesia" perintah Mahendra pada salah satu orang suruhan nya.


"Baik Bos"


"Dan pantau terus dimana anakku berada ! aku ingin membawanya pergi lagi"


"Akan saya laksanakan"


Mahendra duduk di sofa, ia menunggu sang anak buah menyiapkan penerbangan ke Indonesia. ia akan menculik Khanza lagi dan membawanya pergi yang jauh.


"Kalian pikir saya tidak bisa menemukan Khanza" gumam Mahendra "Saya akan membawa Khanza lagi pergi jauh. Dia putriku"


"Bos penerbangan sudah siap"


"Baik, ayo berangkat"


Mahendra dan anak buahnya pergi ke Bandara untuk berangkat ke Indonesia, entah apa yang akan terjadi nantinya.


Mahendra sangat menyayangi Khanza, jadi apapun akan ia lakukan supaya Khanza bersama nya lagi. Tak peduli dengan perasaan orang lain atau kondisi orang lain.


Khanza sangat mirip dengan Laras putrinya yang sudah lama tiada.


"Tunggu Papa nak ! Papa akan menyelamatkan kamu" batin Mahendra. Ia yakin disana Khanza akan keheranan karena di bawa oleh Arif. Ia yakin Khanza akan berontak dengan keras.

__ADS_1


Dan yang Mahendra takutkan, ingatan Khanza kembali jika ia datang terlambat.


__ADS_2