Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 32


__ADS_3

Arif.....


Melihat orang yang paling kita sayangi menderita tentu bukan lah hal yang menyenangkan. Apalagi orang tersebut adalah yang paling berarti dalam hidup kita.


Ia masih saja terus bersabar, mencoba untuk kuat dalam situasi seperti ini. Menutupi rasa rapuh yang mungkin sedang ia alami.


Iya dirinya harus kuat, ia adalah kepala keluarga, ia juga harus menunjukan kepada Khanza bahwa semua ini akan baik-baik saja.


Semalam ia dan dokter Raka sudah sudah berunding kalau Khanza akan melakukan Kemoterapi. Berharap kanker itu akan semakin kecil lalu hilang tanpa bekas.


“Kamu sudah siap sayang ?” tanya nya kepada Khanza.


“Iya Mas”


“Enggak takut Kan ??”


Khanza mengangguk dengan pelan. Setelah itu barulah ia dan dua perawat membawa Khanza kedalam ruangan khusus kemoterapi. Didalam sana ada banyak pasien yang lain yang akan melakukan Kemoterapi sama seperti Khanza.


Beruntung dirinya sudah mendaftarkan Khanza di urutan pertama, jadi Khanza langsung di tangani setelah mereka tiba di ruangan tersebut.


Tangan Khanza ia genggam begitu erat, memberikan kekuatan bahwa semua ini pasti bisa Khanza lewati.


---------------


Khanza...


Rasa sakit, mual dan juga tak berdaya sudah ia rasakan saat menjalani kemoterapi. Ingin rasanya ia menjerit untuk menghentikan proses tersebut.


Namun saat ingatan nya kembali menerawang kalau masih banyak yang harus ia lakukan akhirnya ia bersabar menahan setiap rasa yang sulit dijelaskan.


Apalagi saat mengingat wajah Mama mertua, membuat semangat nya untuk sembuh begitu besar. Ia ingin menunjukan kalau dirinya masih bisa sembuh dan menjadi istri yang baik untuk Arif.


Tapi kenapa rasa nya begitu menyakitkan, saat kinerja alat-alat untuk proses kemoterapi di lakukan.


Air matanya tak henti untuk menetes, menangisi nasib yang terkadang tak pernah berpihak dengan baik untuknya. Dari kecil ia sudah kehilangan sang Bunda lalu saat sudah dewasa tuhan malah memberikan dirinya cobaan seperti ini.


Tidak bisakah Tuhan memberi kan sedikit kebahagiaan untuknya. Apalagi sekarang ia baru saja merasakan menjadi seorang istri. Ia ingin tau bagaimana melayani suaminya, memberikan masakan yang ia masak. Lalu mencuci dan menyiapkan pakaian Arif. Ia ingin melakukan itu.


Setelah kemoterapi selesai. Ia kembali kedalam ruangan, dimana ada Ayah, Papa dan Mama mertuanya, Begitupun dengan Bik Sri.


“Alhamdulillah Pa, kemoterapi nya berjalan lancara” ucap Arif saat Papa bertanya.


“Alhamdulillah” sahut Ayah dan Bik Sri serempak.


“Apa yang kamu rasakan Nak ?? Apa ada yang sakit ??” tanya Ayah


“Khanza baik-baik saja Yah, Khanza hanya ingin tidur dan istirahat” jelasnya sambil tersenyum.


“Ya sudah kamu tidur aja Nak, Ayah akan jagain Khanza disini”


Matanya perlahan mulai tertutup, masuk kedalam mimpi dan sedikit melupakan rasa sakit dan pahitnya tentang kehidupan.


--------------

__ADS_1


Ayah Khanza....


Dari tadi ia berusaha untuk tak menangis. Wajah Khanza begitu pucat saat kembali dari Kemoterapi.


Setelah Khanza tertidur ia langsung terduduk dan membenamkan wajahnya di kedua lengan nya. Ia menangis, mengeluarkan rasa sesak yang begitu bertahkta.


“Sabar Yah, Khanza akan baik-baik saja” ucap Arif saat melihatnya menangis. Tepukan lembut dari Arif tak sedikit membuatnya tenang.


“Kenapa harus Khanza ?? Kenapa harus dia yang merasakan pahit nya kehidupan ?? Dari kecil ia sudah kehilangan kasih sayang seorang Bunda lalu setelah besar ia juga harus merasakan semua ini ??” tangisnya masih pecah apalagi mengatakan semua itu bibirnya bergetar.


Semuanya hening, tak ada yang bicara lagi. Ia masih saja betah menangis dengan kepala di benamkan di lengan. Sementara Khanza masih tertidur dengan damai.


-----------


Khanza......


Setelah satu bulan berada di rumah sakit, ia akhirnya bisa pulang walau keadaan nya masih lema.


Sejujurnya dokter Raka belum mengizinkan untuk dirinya pulang. Tapi ia ngotot, ia ingin menghirup udara luar dan berjanji akan selalu minum obat Dengan rutin dan akan rajin menjalani pengobatan.


“Mau pulang kerumah Ayah apa langsung pulang kerumah suami kamu Nak ??” tanya Ayah setelah mereka selesai beres-beres.


“Kerumah Ayah dulu, besok baru kerumah Mas Arif soalnya Khanza belum membereskan pakaian Khanza untuk dibawah”


“Ya sudah kalau begitu”


Ia masih terus memperhatikan kegiatan Bik Sri yang begitu cekatan membereskan barang-barangnya, Bik Sri memang begitu, itu yang membuatnya begitu menyayangi Perempuan paruh baya tersebut.


“Non Khanza ayo Ibu bantu naik ke kursi roda. Itu barangnya sudah siap untuk dibawah” ucap Bik Sri membuat ia terjaga dari lamunan sesaatnya.


“Iya Bu” jawabnya kemudian.


Bik Sri langsung membantunya untuk turun dari ranjang dan beralih duduk di atas kursi roda yang telah disediakan.


Memang suami nya tak bisa membantu karena sedang bekerja, ia pun tak memaksa karena masih ada Bik Sri dan juga Ayah yang akan membantunya. Sementara kedua mertuanya sudah pulang ke Bandung 1 Minggu yang lalu.


“Ayo Nak kita pulang” ujar Ayah kemudian.


“Iya Yah”


Kursi roda di dorong oleh Bik Sri sementara barang bawaan nya di bawah oleh Ayah. Saat akan keluar dari ruangan tiba-tiba suaminya datang. Membuat langkah mereka berhenti.


“Sudah selesai ??” tanya Arif sambil mensejajarkan badan ke arah nya.


“Iya Mas” jawabnya tersenyum.


“Senangnya yang mau pulang sampai gak mau nungguin suaminya lagi” Arif kembali menggodanya.


“Isss, apa Sih Mas!!”


“Hahaha, ya sudah hati-hati di jalan ya !! Maaf Mas gak bisa nganterin, nanti jam 02 mas udah pulang. Tungguin di rumah !!” ucap Arif sambil mengerlingkan sebelah mata kearahnya.


Membuat dirinya mencebikan bibirnya.

__ADS_1


Arif mengantar kan mereka sampai didepan Loby rumah sakit, lalu kembali kedalam karena ingin melanjutkan pekerjaan.


Ia hanya tersenyum menatap punggung tegap sang suami yang semakin menjauh.


------------


Arif.....


Entahlah ia harus senang apa sedih saat melihat sang istri sudah di perbolehkan pulang. Istrinya memang sudah boleh pulang namun kanker yang Khanza derita masih belum bisa di sembuhkan.


Entah harus berapa kali lagi Khanza akan menjalani kemoterapi.


“Gak berminat buat ngajakin istri Lo ke luar negeri ??” tanya Raka.


“Entahlah, kalau Khanza mau ya gue ok aja, Lo tau kan apapun akan gue lakukan untuk kesembuhan Khanza” jelasnya dengan raut wajah yang berubah sedih.


Raka hanya mengangguk kan kepala, mungkin Raka tau bagaimana perasaan nya saat ini.


Tepat jam 02 siang ia langsung bergegas untuk pulang. Rasanya sudah begitu merindukan tempat tidur yang nyaman. Karena selama hampir 1 bulan lebih ini ia menghabiskan tidurnya di rumah sakit menemani sang istri melawan kanker.


“Gue duluan Ka” teriak nya kepada Raka yang juga mau pulang.


“Iya, hati-hati” balas Raka juga berteriak.


Ia tak menganggapi lagi, ia langsung masuk kedalam mobil dan menjalankan nya.


Mengendarai dengan kecepatan sedang agar sampai dengan selamat.


Malam ini ia akan tidur kembali dirumah mertuanya. Tadi kata Khanza besok baru akan tidur di rumah nya. Ah rasanya sudah tidak sabar untuk mengajak Khanza dan memperlihatkan kamar mereka nantinya.


Tin--Tin--Tin.


Ia membunyikan klakson mobilnya. Supaya seorang satpam yang bekerja dirumah Khanza segera membuka kan gerbang.


“Makasih Pak”


“Sama-sama den”


Setelah itu ia langsung masuk kedalam rumah,. Tak ada orang di ruang keluarga makanya ia langsung menuju kamar Khanza.


Ceklek.


Perlahan ia membuka pintu kamar Khanza. Dilihatnya Khanza sedang tertidur pulas. Ia mendekat dan duduk di samping tempat tidur Khanza.


“Mas” gumam Khanza dengan suara serak.


“Hmmmm, kenapa bangun ?? Mas ganggu ya ??”


“Enggak kok, harusnya memang aku bangun soalnya harus nyambut kamu kalau pulang bekerja”


Ia tersenyum lalu sedikit memajukan wajahnya untuk mencium kening sang istri. Kemudian membisikan kata “I Love You" di telinga Khanza.


“Love you To” jawab Khanza.

__ADS_1


__ADS_2