Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 50


__ADS_3

Ketika jasad Khanza yang sudah berbalut kain putih di masukkan kedalam liang lahat, Arif sama sekali tak meneteskan air mata, namun pandangan nya kosong. Papa selalau berada di samping Arif sementara Mama Risa berada di rumah untuk menjaga bayi kecil yang di titipkan Khanza.


Suara Adzan yang di kumandangkan Pak Hadi terdengar begitu memilukan, banyak para kerabat menangis histeris terutama Tante Ira yang barusan sampai.


Perlahan semua orang menutupi liang itu dengan tanah ketika Pak Hadi sudah selesai mengadzani dan naik keatas.


Lagi dan lagi Arif tak menunjukkan tangisan nya, pandangan nya menatap tanah merah yang mulai menutupi liang dengan sempurna.


Namun ketika liang itu tertutup dengan utuh barulah Tangisan Arif pecah. Ia terduduk di samping gundukan tanah merah itu.


“Khanzaaaaaa” teriak Arif dengan suara yang amat kencang.


“Kenapa kamu tega ninggalin Mas sayang ?? Kamu begitu jahat meninggalkan Mas sendiri. Bagaimana caranya Mas merawat anak kita, bagaimana caranya mendidik dia dengan baik” air mata Arif menetes dengan deras.


Melihat Arif seperti itu, semua orang ikut meneteskan air mata, tidak tega melihat Arif yang terlihat begitu menderita karena kehilangan Khanza.


“Tidak bisa kah kamu kembali sayang ?? Aku masih sangat membutuhkan kamu”


“Tolong kembali Khanza. Karena Mas belum ridho di tinggalkan oleh kamu, ini belum saatnya kamu pergi”


Pak Hadi mendekati menantunya, dengan lelehan air mata Pak Hadi mengangkat tubuh Arif yang masih bersimpuh di samping makan putrinya.


“Ikhlaskan Khanza nak !! Jangan menangisi dia dengan cara seperti ini kasian Khanza” ucap pak Hadi padahal dia sendiri pun begitu berat mengikhlaskan putrinya semata wayang nya itu.


Di susul dengan Bik Sri yang mendekat wanita paruh baya itu juga begitu terpukul dengan kehilangan Khanza. Ia yang sudah membesarkan Khanza dari kecil harus kehilangan dengan cara yang seperti ini.


“Gadis ibu yang cantik, kenapa secepat ini kamu pergi nak ?? Kenapa disaat semua orang membutuhkan kamu, malah kamu pergi sangat jauh meninggalkan semuanya tanpa mengucapkan satu katapun, hanya menitipkan seorang gadis kecil yang tidak tau siapa namanya” ucap Bi Sri dengan bibir bergetar, jari telunjuknya mengelus batu nisan yang bertuliskan Ayesa Khanza Gunawan.


Nama yang begitu cantik, namun takdir hidupnya yang seperti ini.


Begitu banyak yang kehilangan Khanza, begitu banyak yang terluka. Sulit bagi mereka untuk mengikhlaskan kepergian Khanza.


“Ibu janji akan merawat anak Khanza dengan baik” ucap Bi Sri lagi.


Arif masih bersimpuh di tempatnya, bahunya terguncang dengan kuat.


Semua orang satu persatu sudah meninggalkan area pemakaman, tinggal Arif dan juga Pak Hadi yang masih di tempat, rintik hujan sudah mulai turun.


“Ayo pulang Nak !” ajak Pak Hadi.


“Arif masih ingin disini Yah” jawab Arif.


“Sudah mau hujan Nak, lagian ada putri kamu yang harus kamu urus di rumah”

__ADS_1


Sekarang Arif baru ingat kalau di rumah ada putri kecilnya yang harus ia urus, putri kecilnya yang harus ia jaga, tak semestinya Arif bersikap seperti ini ,mungkin memang sudah takdirnya Khanza pergi.


Arif mencium batu nisan Khanza.


“Mas pulang dulu ya Sayang, nanti Mas kesini lagi” ucap Arif.Lalu beralih menghadap ke makam Melati ibu mertuanya


“Titip Khanza Bun” ujar Arif lagi.


********


Malam harinya kehebohan di rumah Arif terjadi, karena putri kecil Arif yang belum ia beri nama terus menangis dengan kencang, menyusu pun tidak mau sehingga Arif bingung bercampur khawatir.


“Bagaimana ini Ma, Arif khawatir kalau begini terus” tanya Arif.


“Coba sini Mama yang gendong” kata Mama Risa


Arif menyerahkan anak nya kepada sang Mama, tangisan bayi mungil itu masih menggelegar menenuhi seisi ruangan, seakan tau kalau seisi rumah itu sedang berduka.


“Sayang nya Nenek kenapa sih ? Kok nangis terus ?” Mama Risa mengajak cucunya mengobrol, sedikit mengayunkan tangan nya untuk menenangkan sang cucu.


Perlahan tangisan bayi itu berhenti, dengan segera Mama Risa memberikan susu yang langsung di sedot dengan kuat, mungkin lela karena terlalu lama menangis.


Arif menjadi lega melihat anaknya sudah berhenti menangis.


“Baik Ma”


Arif pergi kekamarnya, saat memasuki kamar itu terlihat sangat berbeda, tidak ada yang menyambutnya di pintu masuk seperti setahun yang lalu, tidak ada yang memberinya senyuman paling indah.


Semuanya terasa kosong, sepi bagai tak berpenghuni.


“Sayang lihatlah hasil kekejaman kamu yang dengan tega meninggalkan aku, kamar ini begitu sepi dan akan berantakan karena tidak ada lagi yang akan membereskan nya” Arif berbicara sambil memandangi foto Khanza.


Arif tertawa sumbang, meratapi nasib nya yang begitu buruk, dulu ia di tinggal nikah dan sekarang ia di tinggal sang istri selamanya.


---------


Sementara itu.


“Bagaimana keadaannya ??” tanya seorang dokter kepada perawat disana.


“Masih sama dok, keadaanya begitu lemah tapi detak jantungnya masih terus berdetak” jawab sang suster.


“Pantau terus, pastikan detak jantung itu terus berdetak, saya tidak mau dia pergi, akan aku Carikan pendonor hati untuknya”

__ADS_1


Dua orang Suster itu saling pandang, ia masih berpikir kenapa dokter nya bisa begitu memperhatikan kondisi wanita itu. Sampai rela membuat berita kebohongan kalau wanita itu sudah tiada.


“Dia siapanya dokter Mahendra ya ??” tanya Suster satunya.


“Entahlah yang jelas kita bekerja untuk menjaga nya tiap malam”jawab temannya.


Mahendra mendengar semua yang di katakan kedua suster tersebut ia tidak marah sama sekali, untuk alasan nya hanya Mahendra yang tau kenapa ia melakukan itu.


Mahendra duduk di ruangan nya, pandangan nya tertuju pada sosok gadis cantik dengan balutan gaun berwarna putih.


“Papa kangen sama kamu Nak” Mahendra meneteskan air matanya.


Jari telunjuknya mengelus foto tersebut, foto seorang perempuan cantik yang sangat mirip dengan Khanza. Mungkin inilah alasan Mahendra menyembunyikan Khanza dari keluarganya lalu menukar Khanza dengan seseorang yang telah meninggal.


Mahendra sudah merencanakan semua ini, beberapa bulan yang lalu saat ia pertama sekali bertemu Khanza, Mahendra sudah mulai merencanakan aksinya.


Ia mengoperasi plastik seorang jasad perempuan yang ia beli di negara lain, mengoperasi nya sehingga perempuan itu sangat mirip dengan Khanza. Sehingga saat Khanza melakukan operasi Mahendra menukarnya dengan bantuan dokter Chika.


Awalnya dokter Chika menolak karena ini sama saja melanggar etika kedokteran, namun Mahendra membayar Dokter Chika dengan harga yang fantastis hingga Akhirnya dokter Chika menyetujuinya.


“Maafkan Papa karena menukar Laras dengan orang lain, Papa belum bisa mengikhlaskan kepergian kamu Nak” Mahendra mulai terisak.


Sekarang yang Mahendra butuhkan adalah pendonor hati yang cocok untuk Khanza sehingga Khanza bisa sembuh total.


Sebenarnya penyakit Khanza belum terbilang berbahaya hanya mencari pendonor saja maka Khanza akan sembuh total. Hati sebelah Khanza sudah rusak.


Tidak berapa lama ponsel Mahendra berbunyi, dengan segera Mahendra menjawabnya.


“Bagaimana ?” tanya Mahendra pada orang di seberang sana.


“Halo Tuan, saya hanya mau menyampaikan kalau saya sudah menemukan pendonor hati yang pas seperti yang Tuan harapkan” ucap Seseorang di seberang sana.


“Bagus ! Besok bawa dia ke rumah sakit milik saya !” pinta Mahendra lagi.


“Baik Tuan”


Tuuuuut


Panggilan terputus. Mahendra tersenyum licik. Besok ia akan melakukan 2 kali operasi di tubuh Khanza, satu operasi hati Khanza dan satunya lagi operasi otak Khanza yang akan mengakibatkan Khanza lupa segala tentang masa lalunya, namun itu tidak akan bertahan lama karena jika kepala Khanza terkena benturan keras ingatan Khanza akan kembali.


-


-

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2