Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 34


__ADS_3

Setelah sarapan Arif dan Khanza langsung pamit kepada Pak Hadi karena hari ini Khanza mulai menginap di rumah sang suami.


“Jaga diri baik-baik ya Nak, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah” ucap Pak Hadi mengelus rambut putrinya.


“Iya Ayah, Ayah juga jaga diri baik-baik. ” balas Khanza langsung memeluk erat tubuh Ayahnya.


“Pasti itu sayang”


Khanza juga berpamitan kepada Bik Sri. Wanita paruh baya yang telah membesarkan nya selama ini.


“Jaga diri baik-baik disana ya Non !!” ucap Bik Sri sambil menangis. Hingga membuat Khanza ikutan menangis.


“Iya Bu, tolong titip Ayah kalau ada apa-apa hubungin Khanza ya Bu !!” pesan Khanza kepada Bik Sri.


Sebenarnya bukan Pak Hadi yang mereka khawatirkan melainkan kondisi Khanza sendiri.


Namun Bik Sri tetap mengiyakan ucapan Khanza. Bik Sri tau sebagai anak Khanza juga terlihat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya.


“Titip Khanza ya Nak !! Jaga dia seperti Ayah menjaganya” ucap Pak Hadi kepada Arif.


“Iya Yah”


Setelah berpamitan Arif langsung memasukan barang-barang Khanza kedalam mobil dengan di bantu mang Ujang. Setelah itu barulah Arif membukakan pintu untuk sang istri.


“Khanza pamit Yah, Assalamualaikum” ucap Khanza sambil mencium punggung tangan Pak Hadi.


“Walaikumsalam Nak" balas Pak Hadi.


Mobil yang di tumpangi oleh Khanza dan Arif sudah berjalan, meninggalkan pekarangan rumah pak Hadi.


Sementara Pak Hadi masih saja berdiri bahkan enggan untuk beranjak. Matanya masih memandangi mobil Arif yang kian menjauh. Ada perasaan sedih didiri pak Hadi melihat anaknya sudah di bawah laki-laki lain.


Sebenarnya Pak Hadi tidak setuju jika Khanza akan tinggal berdua dengan Arif apalagi dengan kondisi Khanza yang seperti ini. Namun Pak Hadi kembali mengingat bahwa suami Khanza lebih berhak atas Khanza dibanding dengan dirinya walau pun ia adalah Ayah Kandung Khanza.


Yang bisa ia lakukan adalah mendoakan semoga putri semata wayangnya selalu diberi kesehatan oleh yang maha kuasa.


“Rumah akan terasa sepi kalau gak ada Non Khanza ya pak” ucap Bik Sri yang ternyata melakukan hal yang sama.


“Iya Sri, gak ada lagi yang akan membuat darah tinggi ku kambuh karena kenakalan nya”


“Baru saja Non Khanza pergi kok ya kayak udah sebulan lebih Non Khanza pergi dari rumah”


Pak Hadi tak lagi menanggapi ucapan Bik Sri. Ia langsung masuk kedalam rumah setelah memastikan bahwa mobil yang membawa putrinya benar-benar telah hilang dari pandangan.

__ADS_1


-------


Rumah minimalis dengan gaya yang mewah adalah rumah Baru Khanza. Arif langsung membawa Khanza masuk kedalam rumahnya.


Memperkenalkan isi rumah dan juga setiap kamar yang ada disana.


“Rumahnya bagus dan rapih sekali Mas. Khanza akan betah tinggal disini” ucap Khanza senang.


“Alhamdulillah kalau Adek betah disini. Mas senang dengarnya” balas Arif.


“Lihat kamar kita yuk !!” ajak Arif lagi.


Khanza mengangguk. Kamar Arif terletak dilantai kedua. Sama seperti saat dibawah tadi Khanza begitu takjub dengan keadaan kamar sang suami. Walaupun cat kamarnya hanya putih dan hitam saja tapi terlihat begitu mewah. Berbeda sekali dengan kamar nya di rumah Ayah yang bernuansa pink.


“Kalau mau disamakan seperti kamar Adek dirumah Ayah besok mas bawa tukang kesini” ujar Arif.


“Tidak usah mas. Begini Khanza suka kok” jawab Khanza kemudian.


“Oh baiklah kalau begitu” Arif berjalan mendekat kearah lemari.“Ini khusus untuk lemari pakaian Adek. Nanti soreh pembantu di rumah ini baru datang jadi nanti ada yang akan bantuin Adek beres-beres” jelas Arif


“Makasih ya Mas !!” Khanza langsung berhambur memeluk sang suami


--------


“Tapi aku gak ngantuk Mas” ucap Khanza.


“Biar Mas yang jagain, nanti lama kelamaan kamu juga akan ngantuk"


Khanza mengerucutkan bibirnya, kesal karena suaminya selalu menyuruhnya istirahat dan istirahat. Padahal dia sendiri belum ngantuk masih ingin menjelajahi isi rumah Arif sampai puas.


“Mas” panggil Khanza.


“Hmmmm”


“Mas sayang gak sama Khanza ??”


Mendengar pertanyaan dari Khanza membuat mata Arif yang hampir terpejam kembali terbuka lebar. Arif sedikit menjauhkan kepalanya agar bisa melihat wajah Khanza yang sangat menggemaskan.


“Sayang banget malah, kenapa kok tiba-tiba nanya gitu ??” tanya Arif dengan mengernyitkan keningnya.


“Enggak cuman mau tanya aja Mas” jawab Khanza.


“Oh”

__ADS_1


Khanza diam begitupun dengan Arif. Tak ada lagi yang bersuara di antara keduanya. Arif kembali memejamkan matanya sementara Khanza sibuk dengan memainkan kancing kemeja Arif.


Lama kelamaan terdengar dengkuran halus dari Arif. Khanza melihat wajah sang suami yang ternyata sudah tertidur dengan lelap. Ia tersenyum sambil memandangi wajah Arif yang tampan.


“Tetap mencintaiku ya Mas sampai mau memisahkan kita” gumam Khanza sambil menelusuri pipi Arif menggunakan jari telunjuknya.


Pikiran Khanza kembali dengan kejadian tadi pagi. Ketika ia meminta Arif untuk melayaninya.


“Bagaimana pun caranya aku harus bisa membuat Mas Arif kembali melakukan itu. Aku ingin hamil supaya Mama bisa kembali sayang sama aku” ucap Khanza dalam hati.


Khanza hanya ingin menjadi seorang ibu, merasakan bagaimana rasanya hamil, lalu melahirkan dan memberikan keturunan untuk Arif. Hanya keinginan sesederhana itu tapi Kenapa Arif begitu takut melakukan nya.


Apa karena sakit kanker yang Khanza derita. Sehingga Arif enggan untuk melakukan nya lagi ?? Entahlah Khanza sendiri tak tau.


Khanza bangun pelan-pelan lalu mengambil ponselnya. Ia akan meminta bantuan Sinta untuk membantunya bagaimana agar cepat hamil.


“Sin besok ada waktu gak ??”


Begitulah pesan singkat yang Khanza kirimkan kepada Sinta. Lama Khanza menunggu balasan dari Sinta. Dengan gelisah Khanza menunggu karena takut suaminya akan bangun.


Triiing.


Sebuah pesan masuk dari ponselnya. Khanza dengan cepat membukanya benar saja ada balasan dari Sinta.


“Ada Za, kenapa memangnya ??”


“Besok aku mau ketemu sama kamu Sin, bisa gak ??” Khanza kembali membalas pesan Sinta.


“Dimana ??” balas Sinta.


“Di tempat biasa aja Sin”


“Ok Za”


Khanza tersenyum senang karena Sinta mau menemui nya besok. Ia akan merencanakan bagaimana supaya Arif mau menidurinya lagi.


Lucu memang mereka yang sudah menjadi suami istri yang sah tapi kenapa saat akan melakukan itu Arif selalu menolak.


“Maafkan aku Mas kalau aku akan memaksa kamu supaya bisa melakukan itu. Aku ingin cepat hamil dan mengandung anak kamu” gumam Khanza sambil menatap Arif yang masih terlelap.


Bukan tanpa alasan Khanza melakukan semua ini, ia hanya ingin Arif bahagia jika memang nanti harus pergi untuk selama-lamanya. Setidaknya ada yang menggantikan dirinya untuk menemani Arif sampai tua.


Khanza menghela napas panjang, sebelum akhirnya mendekat dan mencium kening sang suami. Di dalam hati ia berbisik "Aku mencintaimu suamiku"

__ADS_1


__ADS_2