
Khanza masih berusaha berpikir keras, kenapa dirinya bisa pingsan dan dibawah kesini. Lalu siapa kedua laki-laki yang membawanya tadi.
Ia menoleh saat mendengar suara orang berjalan, dimana Arif sedang berjalan kearahnya sambil membawa segelas air putih.
"Minum dulu !! kamu baru saja sadar dari pingsan" pinta Arif kemudian.
Tak membantah sedikitpun, Khanza langsung mengambil segelas air putih tersebut, ia sama sekali tak curiga kalau air yang ia minum sudah di beri obat tidur oleh Arif.
Arif terpaksa melakukan ini, ia ingin mengetahui semuanya. Jika memang Khanza masih hidup ia ingin kembali bersama. Apalagi ada putri mereka yang sangat membutuhkan sosok seorang Ibu.
"Makasih" ucap Khanza seraya menyerahkan gelas yang ia pegang.
"Sama-sama" jawab Arif tersenyum.
Suasana menjadi hening, Arif pura-pura menyibukkan diri bermain ponsel, sambil menunggu obat itu bereaksi.
Setelah lima belas menit, Khanza mulai merasa ngantuk. Ia kembali menyandarkan kepalanya di punggung sofa dan tanpa menunggu lama mata indah itu sudah terpejam.
"Gimana?" tanya Raka yang barusan muncul.
"Udah tidur Ka" Jawab Arif.
"Syukur deh kalau begitu, gue mau nyuruh Lo meriksa perutnya Khanza, jika Lo menemukan bekas operasi berarti dia beneran istri Lo"
Arif menatap Raka dengan seksama, ia sedikit ragu untuk melakukan itu, bagaimana kalau wanita yang sedang terlelap itu bukan istrinya maka itu berarti ia sudah melakukan pelecehan. Akan tetapi jika sebaliknya ?
Ha, entahlah yang jelas Arif saat ini di Landa kebingungan. Ia berharap semua ini akan cepat terjawab.
"Jangan ragu Rif ! ini juga demi kebaikan" kembali Raka berkata.
"Gue cuman takut Ka, bagaimana kalau dia bukan Khanza"
"Jika memang begitu dia gak bakalan tau Rif, kan dia tidur"
Akhirnya dengan berat hati Arif melakukannya, tapi sebelum itu ia meminta Raka pergi dulu, ia tidak ingin ada orang lain yang melihat perut Khanza apalagi jika memang benar kenyataannya kalau wanita itu istrinya.
Perlahan Arif mengangkat baju Khanza, detak jantungnya berdetak kencang, dan seketika matanya membulat saat matanya dengan jelas melihat bekas operasi yang ada disana.
Sebagai seorang dokter Arif tentu saja paham bekas operasi yang melekat di tubuh Khanza, itu adalah bekas operasi Caesar.
"Khanza ku" ucap Arif lirih.
Hingga tanpa terasa air matanya menetes dengan sendirinya. Ia membelai wajah Khanza yang masih tidur begitu pulas.
__ADS_1
"Kamu beneran masih hidup sayang, Alhamdulillah ya Allah, ternyata anakku masih punya Mama"
Dari kejauhan Raka yang melihat Arif kembali terisak langsung mendekat.
"Ada apa Rif ? kenapa Lo menangis ?" tanya Raka.
"Ternyata dia beneran Khanza, dia istri gue Ka" jawab Arif terbata-bata.
"Sudah ku duga, karena putrinya dokter Mahen itu sudah tiada"
Arif mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Raka lalu kembali berkata.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan ? menemui dokter Mahen atau langsung membawa Khanza pulang ke Indonesia ?"
"Bawa Khanza pulang ! pertemukan dia dengan Pak Hadi dan anak Lo, urusan dokter Mahen nanti saja setelah ingatan Khanza pulih"
"Baiklah, kalau gitu gue pesan tiket pesawat"
Kedua laki-laki itu sibuk menyiapkan kepulangan nya. Membawa Khanza bertemu dengan Pak Hadi dan berharap ingatannya akan cepat kembali.
"Aku akan memberi pelajaran padamu dokter Mahendra karena sudah memisahkan aku dan istriku " batin Arif sambil mengepalkan kedua tangannya.
Disebuah rumah sakit, tampak dokter Mahendra tak tenang selama melakukan pekerjaan. Ia gelisah dan pikirannya terus tertuju pada Khanza.
"Semoga Laras baik-baik saja" batin Mahen begitu Khawatir.
Usai melakukan operasi Mahen langsung keruangan nya, di sana ia bergegas mengambil ponsel lalu menghubungi Khanza. Perasaannya begitu Khawatir apalagi ia tahu kalau Raka dan Arif sedang berada di Singapura.
"Kenapa gak di jawab ?" ucap Mahen bertanya pada diri sendiri.
"Ayo Laras angkat teleponnya, jangan bikin Papa Khawatir"
Namun sepuluh kali panggilan tak ada satupun yang dijawab oleh Khanza, hingga akhirnya Mahen memutuskan untuk pulang dan berniat menyusul Khanza ke kampus jika putrinya tidak ada di rumah.
*******
Melihat ponsel Khanza yang terus bergetar Arif langsung bersitatap dengan Raka. Kedua laki-laki itu bingung harus bagaimana. Mengabaikan telepon Mahen atau mengangkatnya.
"Kalau di angkat dia akan tau kalau Khanza sama kita" ucap Raka kemudian.
"Udah biarin aja lagian kita bentar lagi sampai Bandara" sambung Raka lagi.
__ADS_1
Arif menyetujui, ia mengambil ponsel yang sudah tak berbunyi itu, lalu lantas menonaktifkan. Ia tidak ingin Mahen mengetahui kalau Khanza ada bersama nya.
"Dia adalah istriku, jadi aku akan membuatnya bersama ku" batin Arif.
Walau sebenarnya ia ingin sekali memberi pelajaran pada Mahen karena membuat Khanza seperti ini, tapi Arif masih ingin menyandarkan diri sampai ingatan Khanza kembali.
"Sampai kapan istri gue tidur Ka ?" tanya Arif.
"Besok pagi" jawab Raka enteng.
"Lama amat bro, ini masih sore"
"Kalau dia sadar sekarang dia akan kabur, Lo harus ingat kalau Khanza itu tidak ingat siapa dirinya. yang ia tahu kalau dirinya Laras anak dokter gila itu" ucap Raka kesal saat mengingat nama Mahendra.
Bantul juga apa yang di katakan Raka, saat ini Khanza bukanlah Khanza melainkan orang lain, jelas wanita itu akan berontak jika dirinya tau kalau akan dibawa ke Indonesia.
Tidak berapa lama mereka telah tiba di Bandara, Raka langsung membantu Arif menggendong Khanza. Raka juga sudah memberi tahu kepada petugas Bandara kalau Khanza sedang sakit dan akan di bawah pulang.
Raka terpaksa berbohong supaya tak banyak pertanyaan, dan nantinya akan menganggap mereka sebagai penculik.
"Alhamdulillah akhirnya pesawatnya berangkat" kata Arif saat pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas.
Raka membalas dengan senyuman, ia berjanji akan membantu Arif untuk memulihkan ingatan Khanza.
*********
Mahen begitu panik saat mengetahui kalau Khanza tidak ada di rumah. Dan ia baru saja dapat kabar kalau Khanza juga tidak ada di kampus.
"Kemana perginya Laras ?" batin Mahen penuh tanda tanya.
"Atau jangan-jangan...." Mahen tak berani meneruskan kata-katanya, ia menggeleng pelan supaya pikiran negatif itu terlepas dari dirinya.
Mahen tak ingin berpikir negatif dulu, mungkin saja saat ini Khanza sedang ada tugas kuliah.
"Semoga saja mereka tidak tau kalau Khanza masih hidup"
Namun Mahen tak bisa tenang, akhirnya ia memutuskan untuk melacak nomor telepon Khanza.
"Terakhir aktif Khanza sedang berada di dekat Bandara"
"Ngapain Khanza kesana ?"
Pertanyaan demi pertanyaan ada di benak Mahen, sesaat ia tersadar kalau Khanza di bawa seseorang. karena kalau bukan begitu tidak mungkin Khanza menuju Bandara.
__ADS_1
"Brengsek, berani kalian bermain-main dengan ku"