
Setelah melakukan Fitting baju pengantin, Arif kembali mengantarkan Khanza pulang. Di dalam perjalanan Khanza melirik kedai bakso yang begitu ramai pengunjung. Terbesit di benaknya kalau Ia ingin merasakan bakso tersebut tapi Ia tak berani untuk mengatakan keinginan nya dengan Arif.
Khanza begitu takut kalau keinginan nya hanya akan menjadi kesedihan nya.
"Kamu mau makan bakso ??" tanya Arif seakan tau apa yang saat ini ada di pikiran Khanza.
"Eh" Tentu saja Khanza kaget lalu memandang wajah Arif yang saat ini tengah tersenyum manis dengan nya.
"Kalau ingin apa-apa tuh ngomong aja langsung, dari pada di pendam kan bikin nyesek" Ujar Arif sambil menyusuri pipi Khanza menggunakan jari telunjuknya.
Perlakuan Arif tentu saja membuat suasana hati Khanza menghangat. Tidak seperti tadi yang galau karena ingin makan bakso tapi tidak berani untuk mengungkapkan nya.
"Yuk turun !!" ajak Arif kemudian.
Sekarang Khanza membalas dengan senyum paling manis, ini sungguh membahagiakan karena Ia menemukan sosok laki-laki seperti Arif.
"Mau pesan apa Mas ??" tanya penjual bakso dengan ramahnya ketika Arif dan Khanza sudah masuk kedalam warung penjual bakso tersebut.
"Ada varian apa saja baksonya Pak ?" jawab Arif sambil bertanya.
"Ada bakso super, bakso telor, bakso urat sama bakso biasa" ucap penjual bakso menjelaskan bakso yang dia jual padahal disana ada buku menu tapi si penjual bakso lebih memilih mengatakan nya sendiri.
"Mau bakso yang mana dek ??" tanya Arif kepada Khanza yang masih berdiri disampingnya, Ia bahkan mendengar dengan jelas varian setiap bakso yang bapak itu tadi katakan.
"Bakso urat aja deh" jawab Khanza
"Enggan bakso super" tanya Arif lagi memastikan.
"Enggak . takut gak habis, kalau kamu mau kamu aja yang pesan nanti aku nyicip punya kamu aja" cibir Khanza.
"Siap kalau begitu" balas Arif, kemudian kembali mendekati mamang bakso untuk memesan apa yang Khanza katakan.
Khanza memilih duduk di kursi yang sudah di sediakan, sementara Arif masih memesan bakso sekaligus minuman nya.
Tidak lama kemudian Arif sudah menyusulnya dengan membawa nampan yang berisi dua mangkok bakso, membuat Khanza mengernyit bingung.
"Kok mas yang bawa ?" tanya Khanza sambil membantu Arif menghidangkan bakso di atas meja.
"Tidak apa-apa dek sekaligus nyari amal" Jawab Arif kemudian.
Namun Khanza kembali mencibir, matanya terus memperhatikan Arif yang dengan telaten menuangkan kecap dan saos kedalam mangkok bakso miliknya. Apalagi dengan sederet kalimat yang Arif ucapkan membuatnya tak berhenti mengu lum senyum.
Saos nya gak usah banyak-banyak karena ini tidak sehat.
Atau
Tidak usah pakai sambal juga gak bagus sama kesehatan kamu.
__ADS_1
Dan
Makan nya pelan-pelan biar tidak tersedak, lagian makan buru-buru juga gak baik.
Khanza masih mengu lum senyum saat Arif menggeser semangkok bakso di hadapan nya, membuat tatapan Khanza beralih ke bawah dimana semangkok bakso sudah siap Ia santap.
"Makasih" ucap Khanza.
"Sama-sama" jawab Arif yang kini Tenga meracik bakso miliknya.
Khanza menyendok kan kua bakso lalu memasukan nya kedalam mulut, Ia penasaran dengan rasa kua yang di racik oleh Arif sendiri dan rasanya sempurna. Sangat enak, manis nya pas serta aroma kuah nya yang mengguga selerah. Pantas saja jika warung bakso ini sangat ramai pengunjung.
Beberapa menit kemudian semangkok bakso yang mereka pesan sudah habis tak tersisa.
"Pak bungkusin 4 ya, mie nya di pisah"Teriak Arif begitu lantang.
"Ok Mas" jawab si penjual bakso
"Banyak amat emang buat siapa aja sih?" tanya Khanza bingung karena Arif memesan kembali baksonya.
"Ada deh" Jawab Arif sambil terkekeh.
Dan lagi-lagi Khanza mencibir, dengan jawaban Arif yang sedikit membuatnya kesal, Dia enggan untuk bertanya lagi lebih memilih untuk menghabiskan segelas es teh di hadapan nya.
"Buat ayah sama orang-orang yang ada di rumah kamu sayang" Jelas Arif yang tau kalau saat ini Khanza kesal dengannya.
*******************************
Setelah mengantar Khanza pulang kerumahnya dengan selamat, Arif langsung pamit pulang karena nanti malam Ia ada jadwal tugas di rumah sakit.
Masih teringat dengan jelas ucapan Pak Hadi saat Khanza menyerahkan plastik putih yang isinya 4 bungkus bakso yang Ia pesan tadi.
Wah bakso, ini mah kesukaan Ayah banget.
Kamu memang calon menantu idaman ku.
Jangan nunggu lama cepat halalkan anak ku.
Arif terus tersenyum sepanjang jalan menuju rumahnya. Hingga tak terasa kalau ia sudah sampai di depan gerbang. Disana Arif mengernyit karena mendapati kalau pintu rumahnya terbuka padahal seingat Arif pintu itu tertutup dengan rapat saat Ia akan pergi tadi pagi.
"Siapa yang buka ya ??" tanya Arif pada diri sendiri, lalu buru-buru keluar dari mobil karena ingin cepat tau siapa yang sudah masuk kedalam rumahnya.
Tapi Ia langsung tersenyum legah saat melihat wanita paruh baya sedang membersihkan rerumputan yang menumbuhi pinggiran bunga nya.
"Mama" seru Arif sambil melangkah mendekati sang Mama.
"Datang tuh salam dulu jangan teriak" omel Mama kemudian.
__ADS_1
Arif tersenyum kaku.
"Assalamualaikum mama ku sayang"
"walaikumsalam" jawab sang Mama.
Barulah Mama menerima uluran tangan Arif, dan menariknya kedalam pelukan.
"Mama kenapa gak ngasih kabar kalau mau kesini ??" tanya Arif setelah melepaskan diri dari pelukan Mama.
"Iya tidak apa-apa lagian kan Mama juga pegang kunci rumah kamu"
Arif hanya mengangguk, memang setelah acara lamaran kedua orang tuanya kembali ke Bandung, Walaupun Arif melarang tapi Papa tetap ingin pulang dulu dengan alasan-.
Kasian kebun tomat Papa gak ada yang jaga.
Atau.
Kan kamu nikah masih sebulanan lagi jadi Papa dan Mama pulang dulu, nanti kesini lagi.
Saat itu Arif hanya pasrah, karena jika sudah keinginan sang Papa Ia tak bisa menolak. Entah apa alasan nya Papa tak pernah betah tinggal di Jakarta.
"Sana masuk ganti baju terus makan. Tadi Mama buatkan makanan kesukaan kamu" ucap Mama kemudian.
"Makasih Ma" balas Arif senang, karena bisa merasakan kembali masakan sang Mama.
Arif masuk kedalam rumahnya, namun tidak lama Ia berhenti karena ada yang lupa Ia tanyakan kepada Mama.
"Papa mana Ma ??"
"Papa belum ikut katanya kasian sama kebun tomatnya. Lusa baru nyusul"
Setelah itu Arif kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah. Naik kelantai atas agar segera masuk kedalam kamarnya.
"Tidak lama lagi kita akan segera menikah Khanza" gumam Arif
Terhitung dari hari ini pernikahan mereka tinggal 2 minggu lagi. Tadi kata pihak undangan, pesanan mereka akan jadi dalam 2 hari.
*
*
*
*
BERSAMBUNG......................
__ADS_1
LIKE DAN KOMEN