Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 40


__ADS_3

Setelah makan siang, Papa dan Mama mertua Khanza tiba di Jakarta. Dengan hormat Khanza menyambut kedatangan kedua mertuanya.


”Bagaimana kabar mu Nak ?? Sehat ??” tanya Papa mertuanya.


“Sehat Pa” jawab Khanza sopan.


Sementara Mama Risa hanya menatap Khanza dengan tajam. Entahlah kenapa Mama Risa begitu membenci Khanza setelah tau kalau Khanza sedang sakit.


“Apa kabar Ma” tanya Khanza dengan lembut.


Apapun yang Mama Risa perbuat Khanza harus tetap menghormati nya.


“Baik” jawab Mama Risa jutek.


Khanza tersenyum kecut melihat reaksi Mama Risa.


“Istirahat aja dulu Ma, Pa. Khanza akan masak untuk makan siang” ucap Khanza.


“Tidak perlu Nak, biar Bibi saja yang masak, kamu yang harus istirahat, Papa dengar sebulan yang lalu sakit kamu kambuh” ucap Papa.


“Iya Pa, tapi Khanza tidak apa-apa”


Mama Risa kembali menatap Khanza dengan kesal, namun Khanza tak peduli dengan tatapan mertuanya.


*********


Sementara itu.


Di rumah sakit Arif baru akan bersiap pulang, hari ini dia pulang lebih awal karena kedua orang tuanya baru tiba di rumah. Entah kenapa Papa dan Mamanya mendadak untuk ke Jakarta.


“Tumben pulang cepat ??” tanya Raka.


“Iya, Papa dan Mama gue datang dari Bandung”


Raka hanya mengangguk kan kepalanya.


“Gimana keadaan Khanza ?? Kapan kalian berangkat ke Singapura ??” tanya Raka lagi.


“Belum tau Ka, masih nunggu keputusan dari Khanza”


“Jangan lama-lama bro, takut nya kanker itu sudah menyebar”


Arif mengangguk, setelah itu Raka keluar dari ruangan Arif.


*****


Setelah sampai di rumah Arif melihat mamanya sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Arif langsung menyalami Mamanya.

__ADS_1


“Kenapa jam segini baru pulang biasanya jam 2 an ??” tanya Mama Risa heran.


“Gak papa Ma tadi Arif izin pulang” jawab Arif.


“Khanza mana Ma ??” tanya Arif lagi.


“Tau, paling ya tidur. Wanita penyakitan seperti itu bisa apa” ucap Mama Risa begitu menyakitkan perasaan Arif.


“Ma, kenapa sih ngomong nya gitu. Khanza juga gak mau Ma sakit seperti ini” jawab Arif kesal.


Namun Mama Risa tak peduli apa yang di katakan anaknya. Baginya sakit Khanza adalah sebuah musibah untuk keluarganya.


Melihat Mama Risa seperti itu Arif langsung meninggalkan Mama, ia naik keatas untuk menemui istrinya.


“Sayang, mas pulang”ucap Arif.


Arif tersenyum melihat istrinya sedang tertidur dengan nyenyak. Wajahnya begitu damai. Segera Arif mendekat dan mencium kening Khanza dengan lembut.


Khanza menggeliat, ia merasa terganggu karena sesuatu menyentuh keningnya.


“Mas udah pulang ??” tanya Khanza dengan suara serak.


“Mas ganggu ya ??” tanya Arif balik.


Khanza menggeleng sambil tersenyum, ia merabah wajah tampan suaminya.


“Apa sayang ??” tanya Arif.


“A--ku hamil Mas” ucap Khanza gugup.


Seketika Arif jadi terdiam, tatapan nya kosong. Otaknya masih mencerna apa yang di katakan oleh Khanza.


“Apa sayang, Ha--mil ??” tanya Arif


“Iya Mas” jawab Khanza sambil menyerahkan satu buah tespeck yang ia simpan di bawah bantal tempat tidurnya.


“Ya Allah. Kenapa semua ini harus terjadi” gumam Arif dengan tangan bergetar memegangi benda persegi panjang tersebut. Dimana dua buah garis berwarna merah begitu jelas ia lihat.


Sekarang Arif tidak tau apa yang harus ia lakukan. Anak yang ada dalam kandungan Khanza adalah darah daging nya sendiri. Jika ia meminta Khanza mengugurkan kandungan nya sama saja Arif akan menjadi pembunuh. Tapi jika Khanza meneruskan kehamilan nya itu semua akan berbahaya untuk Khanza.


“Kenapa kamu bisa hamil dek” ucap Arif frustasi.


“Kenapa apanya sih Mas ?? Kan Mas Arif yang melakukan nya sama Khanza, lagian kita ini adalah suami istri wajar kalau Khanza hamil”


“Tapi kondisi kamu tidak memungkinkan untuk mengandung Sayang”


Khanza terdiam, ia tak lagi menjawab ucapan sang suami.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan dek, padahal rencananya Mas akan membawa kamu ke Singapura Minggu ini untuk berobat.” jelas Arif.

__ADS_1


“Khanza juga gak tau”


Suasana kembali hening. Khanza menundukkan kepalanya sementara Arif begitu kebingungan.


Khawatir dan bingung menjadi satu.


Khawatir dengan kondisi kesehatan Khanza. Dan juga bingung bagaimana caranya agar Khanza dan anak yang di dalam kandungan nya sehat sampai lahir nanti.


“Kalau begini ceritanya, kita periksa dulu kerumah sakit. Semoga anak itu bisa bertahan dalam kondisi kamu seperti ini” ucap Arif memecahkan keheningan.


“Iya Mas” jawab Khanza pasrah.


**********


Arif dan Khanza langsung berangkat ke rumah sakit, sesampai di rumah sakit Arif langsung menyuruh Raka memeriksa keadaan Khanza.


“Khanza hamil ??” tanya Raka.


“Iya dok” jawab Khanza


Raka menatap Arif dengan


n tajam. Padahal dari awal Raka sudah memperingatkan supaya Khanza jangan hamil dulu selama pengobatan. Mereka harus fokus pada kesehatan Khanza.


“Sekarang apa yang harus di lakukan Ka ?? Gue bingung banget” ucap Arif frustasi.


“Sebelum ini terjadi gue udah bilang sama Lo jangan bikin Khanza hamil dulu. Tapi mana ?semua ini tetap terjadi kan ?? Bukan gue melarang kalian berdua punya anak tapi kalau Khanza hamil otomatis dokter yang menangani harus benar-benar teliti karena ada janin dalam rahim Khanza” jelas Raka menggebu-gebu.


“Gue juga gak tau Ka kenapa bisa terjadi seperti ini” jawab Arif.


Sementara Khanza hanya menunduk takut, karena semua ini adalah salahnya jika saja ia tak menjebak suaminya dulu mungkin masalah ini tidak akan terjadi. Namun karena keegoisan nya Arif harus bingung seperti ini.


“Ini bukan salah Mas Arif. Ini salah Khanza karena Khanza yang menjebak Mas Arif waktu itu” jelas Khanza kemudian.


“Menjebak ??” tanya Raka heran


.


“Iya Mas Arif dari dulu tidak pernah mau menggauli Khanza sampai akhirnya Khanza marah karena Khanza pikir Mas Arif tidak sayang sama Khanza. Sehingga aku memasukan obat perangsang di minuman Mas. Makanya Khanza bisa hamil.”


“Astaga” Raka mengusap wajahnya dengan gusar. Antara lucu dan juga kasian dengan pasangan yang berada di depan nya itu.


“Terus bagaimana sekarang Ka, gue bingung banget kalau gue nyuruh Khanza gugurkan anak itu sama aja gue udah jadi pembunuh, tapi kalau di lanjutkan gue takut kehilangan Khanza” tanya Arif.


“Khanza gak mau mengugurkan anak ini” sahut Khanza langsung.


“Kita periksa dulu keadaan Khanza, jika memang tidak apa-apa kita lanjutkan kehamilan Khanza tapi harus kita pantau terus kondisinya” ucap Raka memberikan solusi.


“Apapun yang terjadi aku ingin anak ini bertahan dok, lebih baik anak ini yang hidup dari pada Khanza. Karena percuma jika Khanza di pertahankan, Khanza akan tetap meninggal dengan kanker ini” jawab Khanza lagi.

__ADS_1


__ADS_2